
Happy reading ❤️
Suara lantunan ayat-ayat suci terdengar samar-samar dari pengeras suara mesjid. Jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Hari masih gelap, udara masih terasa dingin sebagain besar orang masih betah bergelung di dalam selimut namun tak sedikit yang telah membuka matanya dan bersiap menyambut hari. Seperti Nadia, kedua matanya telah terbuka sempurna walaupun pagi ini ia masih belum bisa melaksanakan ibadah paginya.
Nadia rasakan belitan tangan kekar melingkar di atas perutnya, mendekapnya erat dan begitu posesif. "Kamu adalah tempat aku pulang." Kata-kata yang Alex ucapkan terus terngiang dalam kepalanya bagaikan lagu pavorit yang sering Nadia putar berulang-ulang karena saking sukanya bahkan lelaki itu menghiasi mimpi Nadia tadi malam.
Ia ingat, semalam ketika Alex mengatakan itu hatinya meleleh seketika. Rasa hangat memenuhi dadanya, darahnya berdesir dan tubuhnya meremang. Alex selalu bisa membuatnya mabuk kepayang.
Namun lagi-lagi kenyataan bahwa cinta yang mereka jalani selama ini selalu saja dihiasi rintangan dan berakhir dengan sesuatu yang menyakitkan membuat hati Nadia mencelos seketika.
Nadia mengubah posisi tidurnya hingga kini ia berhadapan dengan Alex yang masih memejamkan matanya. Alis tegas, hidung mancung dan bibirnya yang yang tipis namun penuh itu mampu membuat lutut Nadia lemas bagai tak bertulang ketika ia membayangkan bagaimana Alex mengulum bibirnya. "Sungguh bibirmu mengandung obat karena begitu membuatku kecanduan," lirih Nadia sangat pelan sembari menyentuh halus bibir Alex yang terkatup rapat.
Dekapan Alex terasa hangat namun Nadia merasa ini adalah sesuatu yang tidak benar. Saat ini Alex memang memeluknya erat namun ia tak tahu apalagi yang akan terjadi nanti. Kehilangan buah cinta mereka karena campur tangan orang lain yang tak ingin melihatnya bahagia dengan Alex adalah pukulan yang sangat berat bagi Nadia.
Nadia telah melalui semuanya. Dimulai dengan perjuangannya yang tidak mudah dalam mendapatkan cinta Alex. Bagaikan naik rollercoaster, lelaki itu selalu melenakannya berulang kali namun juga mematahkan hati Nadia sama banyaknya. Setelah akhirnya cinta mereka bersatu, kini ada pihak lain yang menguji cintanya. Nadia berpikir seolah dunia memang menentang cintanya.
"Seandainya kita berpisah, kamu akan jadi satu-satunya lelaki yang paling aku cintai," pikir Nadia dalam hatinya.
Baru memikirkannya saja sudah membuat Nadia merasakan ngilu dalam hatinya hingga tanpa ia sadar air bening telah terjatuh di ujung matanya.
"Alex...," Lirih Nadia membangunkan suaminya.
"Alex...," Kali ini menggoyangkan halus tangan Alex yang tengah mendekapnya erat.
"Mmm," Alex bergumam tak jelas.
"Sudah mau subuh," bisik Nadia dan Alex pun mulai membuka matanya perlahan.
Senyuman menghiasi wajah Alex yang tampan walaupun masih dengan tampilan muka bantal has bangun tidur.
"Kok ketawa ?" Tanya Nadia terheran.
"Aku senang ketika membuka mata kamulah yang pertama aku lihat," jawab Alex dengan suaranya yang serak.
Nadia tersenyum canggung, dan segera mengangkat belitan tangan Alex dari tubuhnya. "ayo sholat dulu, aku siapkan sarapan. Kamu harus berangkat lebih pagi untuk kerja," sahut Nadia mengingatkan.
"Ah iya," ucap Alex ketika sadar kini dirinya berada di Bogor bukan lagi di apartemennya.
"Aku keluar ya, handuknya aku simpan di atas meja," ucap Nadia lagi.
"Oke, terimakasih sayang," sahut Alex dan lagi-lagi Nadia tersenyum canggung karenanya lalu ia pergi meninggalkan Alex yang masih terduduk di atas ranjang.
Alex tatapi tubuh Nadia yang menghilang di balik pintu. Ia sadar jika sikap Nadia masih belum berubah. Seperti ada batasan tak kasat mata diantara mereka. Perubahan sikap Nadia memang membuat Alex tersiksa namun ia pun tahu jika berjauhan dengan Nadia pun Alex tak kan mampu.
Pagi ini Alex pergi kerja sangat awal karena ia harus pulang dulu ke apartemennya untuk berganti baju sebelum ia pergi ke kantor. Inginnya Alex adalah menemani sang istri namun kenyataan banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan membuat Alex harus pergi.
"Aku baik-baik saja sama ibu. Aku aman berada disini, kamu jangan khawatir," ucap Nadia ketika ia mengantarkan Alex hingga ke mobilnya.
Alex yang mendengar itu tersenyum lega namun di sisi lain dirinya merasa tertampar seolah Nadia merasa lebih aman jika berada dekat dengan kedua orangtuanya, bukan dengannya.
"Kamu jangan memaksakan diri untuk datang kemari, jadi sebaiknya kamu pulang ke apartemen saja,"lanjut Nadia dan Alex merasa tertampar untuk kedua kalinya karena merasa Nadia tak ingin berada dekat dengannya.
"Ya gampang lah, lihat nanti saja," sahut Alex berusaha bersikap tenang. Ia pun menundukkan kepalanya dan mengecup puncak kepala Nadia dalam. Ia sesapi aroma rambut Nadia dengan rakus seolah tak ingin berpisah.
"Baik-baik di rumah, aku akan hubungi kamu nanti," ucap Alex lagi sebelum ia m memasuki mobilnya.
Alex mendudukkan tubuhnya di kursi dan menarik nafas dalam sebelum ia menyalakan mesin mobilnya, perasaannya mendadak kacau tak karuan. "Aku cinta kamu, Nadia," gumamnya frustrasi.
Ia pun menyalakan mobilnya dan menurunkan kaca jendela untuk kembali berpamitan pada Nadia yang masih setia berdiri menunggunya untuk pergi.
"Aku pergi ya, Sayang. Love you,"
"Oke, hati-hati di jalan," sahut Nadia sambil melambaikan tangannya.
"Jangan katakan itu, Alex. Jangan katakan cinta padaku," ucap Nadia lirih seraya menatap mobil Alex yang bergerak kian menjauh.
***
Di kantor, Alex begitu sibuk. Tak hanya mengurusi pekerjaannya sendiri namun juga urusan tentang kasus Nadia yang kini menjadi pusat perhatiannya.
Seperti tadi pagi pihak perusahaan Nadia datang untuk ikut mengurusi kasus yang sedang dihadapi Nadia dan ingin mengambil alihnya namun Alex menolak, ia ingin mengurusi itu sendiri karena ada sangkut-paut dengan urusan pribadi dirinya.
Tak hanya perusahaan Nadia namun perusahaan YYY dimana Nicky bekerja pun datang menemui Alex dan duduk bersama untuk mencari jalan keluar namun lagi-lagi Alex ingin menangani masalah ini bersama orang-orang kepercayaannya. Alex ingin memberikan pelajaran pada Lola secara khusus tapi ia juga tak ingin mengotori tangannya.
Lola sungguh keterlaluan, ia sama sekali tak memiliki rasa empati hingga Nadia harus kehilangan buah hatinya.
***
Alex belum pulang atau mungkin tak akan pulang seperti sarannya tadi pagi. Nadia tersenyum samar, mentertawakan dirinya sendiri. Ia yang meminta Alex untuk tidak datang namun ia juga merasakan kehilangan.
Cinta memang serumit itu, kepala mengatakan untuk berjauhan tapi hati tak mampu melakukannya. Nadia pun mengusap pipinya yang basah karena tanpa ia sadari air bening telah jatuh di ujung matanya.
Samar-samar terdengar deru mesin mobil yang dimatikan, dalam hatinya berdebar cemas dan menebak-nebak siapa yang datang. Apakah Alex ? Atau kendaraan lain yang tak sengaja lewat. Tak ingin berharap lebih, Nadia pun menutup kedua telinganya dengan bantal.
Dirinya kembali tenang ketika tak ada suara-suara yang mengganggu pikirannya lagi tapi tetap saja bantal itu menutupi kepalanya. Hingga tanpa Nadia sadari seseorang memasuki kamarnya dan melepaskan bantal itu pelan.
"Hei... kenapa kepalamu tertutup bantal?" Tanya Alex pelan. Ia tak ingin membuat Nadia terkejut karena mengira istrinya itu telah tertidur tapi ternyata mata Nadia masih terbuka.
"Mmm gak apa-apa," jawab Nadia sama pelannya.
"Maaf terlambat, aku banyak kerjaan," sahut Alex beralasan.
"Kan sudah aku bilang, kamu gak usah...,"
"Aku akan pulang dimana kamu berada, Nadia. Aku akan selalu pulang kepadamu," potong Alex cepat hingga Nadia tak bisa berkata-kata lagi.
"Nay..., Bangun..," Alex pun mengguncang halus tubuh adik iparnya itu pelan hingga Nayla pun membuka matanya.
"Kakak udah pulang, terimakasih banyak udah nemenin mbak Nadia. Besok lagi ya ?" Lanjut Alex dan Nayla yang kini mendudukkan tubuhnya pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau gitu aku pindah kamar ya," sahut Nayla sembari berjalan menuju pintu walaupun kantuk masih menggelayutinya.
"Kamu minta adikku buat jaga aku ?" Tanya Nadia sambil berkerut dahi.
"Ssttt.. jangan banyak tanya, ayo tidur lagi," sahut Alex sembari menaiki ranjang dan membawa Nadia dalam pelukannya. Kali ini ia telah berganti baju bahkan membawa sebuah koper yang berisikan segala keperluannya.
"Al....,"
"Sssttt, ayo tidur," potong Alex lagi sembari mendekap tubuh Nadia erat dan memberinya banyak ciuman di puncak kepala.
"Love you, Nadia... Im in love with you," gumam Alex pelan.
Kata-kata yang Alex ucapkan sungguh bagaikan sebuah mantra. Nadia merasa nyaman dalam dekapan lelaki itu dan kantuk mun mulai menghampirinya.
***
Hari-hari pun berlalu, Nadia masih tinggal di Bogor dan Alex masih dengan setia menemaninya. Walaupun Nadia masih saja menyarankan Alex untuk tinggal di apartemennya tapi ia tak menuruti keinginan istrinya itu.
Hari ini lelaki yang bernama Nicky sudah terlihat lebih bugar dan masih berada di rumah sakit dengan penjagaan super ketat.
Dan wanita yang bernama Lola masih saja melakukan bujuk rayu pada Alex. Meyakinkan lelaki itu bahwa cinta keduanya tak pernah hilang dan Lola lah cinta pertama juga terakhirnya hingga Alex yang merasa lelah pun setuju untuk bertemu dengannya di sebuah apartemen yang Lola sebutkan alamatnya.
"Jadi kamu masih berada di apartemen XY ?" Tanya Alex sembari memelankan suaranya seolah tak ingin terdengar karena saat ini ia sedang berada di ruang rawat inap Nicky ditemani beberapa orang bawahannya.
"Baiklah, tunggu aku Lola. Aku akan datang satu jam lagi," lanjut Alex lagi dan ia pun menutup panggilan itu.
"Sudah kukatakan wanita jal*ng itu dalang dari semua ini dan kamu masih tak percaya ? Jangan mau dibodohi olehnya," ucap Nicky gusar.
"Itu urusan gue, yang pasti lo akan dapat hukuman yang berat," ucap Alex sebelum ia pergi ruangan rawat inap lelaki bernama Nicky itu.
***
Lola memoles bibirnya dengan gincu berwarna merah menyala. Ia pun menarik buah dad*nya dengan kedua tangan agar menyembul sempurna di balik gaunnya yang ketat. Alex akan datang dan ia akan memuaskan lelaki itu agar mau kembali padanya.
Jika ia tak bisa melenyapkan Nicky maka membuat Alex kembali padanya adalah jalan lain yang Lola ambil.
Suara bel pintu berbunyi, Lola pun tersenyum karenanya. Ia menyemprotkan parfum beraroma sensual sebelum berjalan menuju pintu dan memastikan dadanya terekspos dengan sempurna.
Sambil mengulum senyum Lola membuka pintu apartemen dan mendapatkan seorang lelaki berdiri tegak di hadapannya.
"Aku datang, b!tch" gumam lelaki itu dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️
Mon maap telat update, kedua anakku lagi sakit. Minta doanya biar lekas sembuh ya 🙏
Sehat-sehat semua ❤️