In Love

In Love
Masih Di Akhir Pekan



"Alex ? Sayang ?" tanya Nadia berulang karena yang ditanyai masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Alex masih terkejut karena pria muda yang menurutnya tampan itu ternyata adik dari mantan kekasih istrinya dan apakah tak seorang pun yang sadar jika ada gadis muda yang sepertinya sedang di mabuk cinta ?


"Mmm... kalau tidak bisa tak apa-apa, sebaiknya aku segera pulang saja," ucap Elang sembari mulai membalikkan tubuhnya untuk beranjak pergi.


"Tunggu, El," sahut Nadia menahan lengan Elang agar menunggu sebentar lagi. "Sayang, bolehkah aku menghubungi Bimo untuk mengabarkan jika adiknya berada di sini ?" untuk ke tiga kalinya Nadia bertanya pada Alex dan kali ini ia menggoyangkan lengan Alex agar suaminya itu tersadar dari lamunannya.


"What ? sure... kamu tentu boleh hubungi Bimo," jawab Alex dengan senyuman canggung di wajahnya. Dalam hatinya ia berdecak kesal karena rasa cemburu mulai merambat masuk dan menyelimuti perasaannya.


"oke, terimakasih karena sudah mengerti," bisik Nadia dan Alex hanya mengangguk saja.


"El, ini suami aku, Alex," ucap Nadia memperkenalkan Alex sebagai suaminya. Elang tersenyum samar dan menyalami Alex sembari memperkenalkan dirinya sendiri, sementara itu Nadia menghubungi Bimo dengan ponselnya dihadapan banyak orang.


"Kelas berapa ?" tanya Alex basa-basi, padahal yang sebenarnya terjadi ia tengah mencuri dengar istrinya yang tengah menghubungi Bimo saat ini.


"12," jawab Elang singkat.


"Oh sebentar lagi kuliah ya ? mau ambil jurusan apa ?" tanya Alex lagi.


"Teknik geologi," jawab Elang tanpa basa-basi. Ada perbedaan yang begitu mencolok antara Elang dan Bimo.


Jika Bimo begitu ramah dan mudah berbaur dalam sebuah pembicaraan, berbeda dengan Elang. Ia lebih irit bicara dan tak pandai berbasa-basi tapi walaupun begitu Alex memahaminya. Elang masih terlalu muda tentu saja pria itu belum terlalu berpengalaman bagaimana harus bersikap dengan orang-orang dewasa yang penuh basa-basi.


"Wow, jurusan yang bagus. Sudah tahu perguruan tinggi mana yang akan kamu pilih ?" tanya Alex lagi.


"Institut Teknologi Bandung," jawab Elang singkat seperti sebelumnya.


"hebat ! semoga kamu diterima di sana," sahut Alex dan Elang hanya mengangguk saja. Sedangkan Nayla terus memperhatikan dengan bibir sedikit terbuka membuat Alex yang melihatnya ingin tertawa namun ia tahan.


"Hooh Bim, Elang di rumah aku habis anterin Nay. Dia mau pulang sekarang juga kok, tapi karena ini hari Sabtu sore mungkin Elang akan sedikit terlambat," ucap Nadia pada Bimo melalui panggilan telepon.


Elang menarik nafas lega ketika Nadia bisa menghubungi kakaknya. "El, kamu lagi di hukum ?" tanya Nadia ketika panggilan itu terputus.


Elang melirik sekilas pada Nayla sebelum ia menjawab, "Tidak," jawab Elang singkat. "Tapi kata Bimo, kamu," ucap Nadia sedikit ragu.


"Aku pamit izin pulang ya, Mbak," potong Elang. Ia berpamitan pada Nadia dan Alex sedangkan pada Nayla, seperti sebelumnya Elang mengabaikannya dan itu membuat Nayla tertunduk lesu.


"Oke, baiklah. Hati-hati, El," ucap Nadia dan Elang pun berjalan menuju motor nya yang terparkir tepat di depan rumah Nadia. Ia kembali mengenakan masker hitamnya lalu memasangkan helm warna senada di kepalanya.


"Brooommm, brooommm," Alex sampai berdiri untuk melihat tunggangan anak SMA itu yang ternyata sebuah motor besar yang hampir sama dengan miliknya.


"woow," decak Alex. Ia yakin jika orang tua Elang adalah orang berada karena butuh uang yang tak sedikit untuk membeli jenis motor seperti itu.


"Dari dulu Bimo dan Nadia bersahabat, hingga ibu dan keluarganya saling mengenal dengan baik terlebih lagi Nayla pun bersahabat dengan adik Bimo yang paling kecil, Amel. Sudah dari Sekolah Menengah Pertama Nay dan Amel bersahabat jadi makin erat pertemanan kami sebagai orang tua. Oleh karena itu kami dan keluarga Bimo masih saling berhubungan," jelas ibu Nadia pada Alex. Ia tak mau menantunya itu menjadi salah paham.


"Oh, jadi sekarang Nayla yang bersahabat dengan Amel ?" tanya Alex dan Nayla pun menganggukkan kepala membenarkan.


"Beda 1 tahun dengan Elang ?" tanya Alex lagi. sebenarnya ia hanya berbasa-basi karena keadaan yang menjadi canggung. Apakah rasa cemburunya begitu kentara ? batin Alex dalam hati


"Seharusnya Elang 2 tingkat di atas Nayla tapi karena suatu hal ia harus tinggal kelas," kali ini Nadia yang menjawabnya.


"Oh...," Alex hanya ber-oh ria saja.


"Lagian Nay, kenapa minta diantar Elang ? kan kasihan," ucap Nadia dan itu membuat sang adik tersadar dari lamunannya.


"A-aku gak minta diantar pulang," jawab Nayla terbata. "Ketika aku keluar gerbang sekolah, kak El sudah berada di atas motornya dan menyuruhku naik. Aku udah nolak, tapi kak El bilang dia akan dimarahi kalau ketahuan membiarkan aku pulang sendiri," lanjut Nayla beralasan.


"Siapa yang marah ? Bimo ?" tanya Alex tanpa bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Terdengar dari nada suaranya yang kini berubah.


"Sudahlah, Elang memang suka mengantarkan Nayla pulang mungkin gak enak karena ibu dan orang tua mereka berteman baik," jawab ibu Nadia. Ia tahu perasaan Alex mulai terpengaruh oleh kehadiran Elang yang merupakan adik Bimo itu.


"Nad, bikinin Alex kopi biar agak segeran," saran ibu Nadia untuk mencairkan suasana yang menjadi canggung ini. Ia pun mengajak Nayla untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Alex serta Nadia berdua saja.


"Sayang, kamu mau kopi ?" tanya Nadia dengan lembut, ia berusaha membujuk Alex yang kini mulai merajuk. Alex tatapi wajah Nadia yang tengah menatapnya lembut, ia tahu jika istrinya sedang merasa bersalah saat ini.


Walaupun Alex tahu jika Nadia tidak bersalah, tapi ia masih merasa kesal. Sebisa mungkin Alex menjauhkan Nadia dari sahabat juga mantan kekasihnya dengan cara tak memberikan kesempatan pada Nadia untuk sekedar bertemu. Alex akan menghabiskan waktu Nadia hanya untuk dirinya namun ternyata masih ada jalan lain yang membuat mereka saling berhubungan.


"Sayang mau kopinya nggak ?" Nadia mengulangi pertanyaannya sambil berjalan mendekati Alex. "Atau mau aku temani mandi ?" tanyanya lagi kini ia memainkan jemarinya dengan membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas dada Alex. Ia menggigit bibir bawahnya seduktif ketika bertanya tentang hal itu.


Alex tundukan kepala, memperhatikan apa yang sedang istrinya lakukan. Walau geli tapi Alex tahan, Ia sangat suka jika Nadia bersikap manis seperti ini. Jika saja sekarang ini mereka berada di apartemen, Alex akan langsung meremas gemas bokong Nadia dan memangkunya bagai koala. Akan Alex lu-mat bibirnya dengan penuh tuntutan dan membawanya ke kamar tidur untuk Alex tindih rasa-rasa tubuhnya.


Nadia menengadahkan kepala, menatap mata hitam Alex sayu. "Apa sayang ?" tanyanya dengan bibir sedikit terbuka.


"Jangan siksa aku seperti ini," jawab Alex parau.


"Menyiksa bagaimana ? aku gak ngerti," jawab Nadia masih dengan matanya yang sayu.


"Ingin rasanya menghukummu lagi seperti tadi malam," ucap Alex yang sudah tak bisa menahan diri lagi. Ia dekap tubuh Nadia dengan kedua tangannya.


"Hukum aku, Sayang," tantang Nadia, tapi Alex hanya bisa mendesis frustasi karena sadar ia tak mungkin bisa melakukan 'hal itu' di rumah orang tua Nadia. Tak terbayangkan apa yang terjadi jika suara lenguhan mereka saling bersahutan satu sama lain pastinya akan membuat panik seisi rumah.


***


Waktu makan malam pun tiba. Mati-matian Alex menahan hasratnya karena godaan yang Nadia berikan sangat mempengaruhinya. "Sayang, janji ya kita akan melakukannya ketika pulang," bisik Alex entah untuk yang ke berapa kalinya, padahal Nadia sudah berkali-kali juga menyetujuinya. " Iya, bawel. Sepertinya julukan itu sekarang lebih cocok untukmu," jawab Nadia dengan sama berbisik karena kini semuanya telah duduk bersama di meja makan.


Apa yang Alex dan Nadia lakukan tak luput dari perhatian sang ayah. Dan ia pun kembali tersenyum lega seraya mengusap dadanya.


"Syukurlah jika hubungan kalian baik-baik saja," ucap ayah Nadia pada keduanya. sontak itu membuat Alex dan Nadia menolehkan kepala dan mengalihkan perhatiannya pada sang ayah.


"jujur saja sebenarnya beberapa minggu yang lalu ayah merasa sangat khawatir," lanjut ayah Nadia meneruskan ucapannya.


"khawatir? "tanya Nadia terheran


"iya sebagai orang tua ayah sangat mengkhawatirkan kalian berdua terlebih lagi setelah kejadian buruk yang menimpa kalian. walaupun saat itu kalian tinggal bersama di rumah ini, tapi bisa ayah lihat hubungan kalian yang kurang harmonis. lalu setelah itulah ayah mendapat kabar jika Nadia dipindah tugaskan ke Bandung dan kalian pun tinggal berpisah. apa itu benar ? dada ayah sangat sakit ketika mendengar berita itu. Ayah kira akan mendapatkan serangan jantung lagi," jelas ayah Nadia.


Nadia dan Alex langsung beradu pandang, keduanya tak bisa menutupi rasa terkejut dari pertanyaan sang ayah padahal Alex dan Nadia tak pernah menceritakan hal ini pada ayah Nadia.


"A... Ayah," jawab Nadia seraya menelan ludahnya paksa.


"Yang ayah dengar itu benar adanya," potong Alex.


"Ap-apa ?" tanya ayah Nadia terbata.


Kini semua mata tertuju pada Nadia dan juga Alex. Rasa gugup sudah menguasai tubuh Nadia hingga ia hanya bisa tertunduk lesu dengan kedua tangan saling meremas di bawah meja karena takut dengan reaksi kedua orangtuanya.


"Tapi.... semua sudah selesai. Kami baik-baik saja, bahkan hubungan kami lebih baik dari sebelumnya. Iya kan sayang ?" tanya Alex seraya menatap Nadia dan menggenggam tangannya di bawah meja.


"Saya sudah berbicara pada pihak perusahaan tempat Nadia bekerja dan meminta mereka untuk kembali memindahkannya ke Jakarta. Saya sangat bersyukur mereka mau mengerti dan kini Nadia sudah bekerja kembali di Jakarta, kami tak hidup terpisah lagi. Iya kan sayang ?" tanya Alex lagi.


"I-iya kami hidup terpisah karena aku dipindah tugaskan tapi kini aku sudah kembali ke Jakarta," jawab Nadia.


Ayah Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya dengan penuh kelegaan. Rasa khawatirnya menguap sudah. "syukurlah jika begitu, tak terbayangkan apa yang terjadi pada ayah jika kalian berpisah," ucap ayah Nadia seraya kembali mengusap dadanya. Orang tua mana yang tak akan patah hati jika anaknya mengalami perceraian. Bahkan ia akan merasakan lebih sakit hati dari si anak yang mengalaminya.


"Ayah tahu kalian menikah karena dijodohkan tapi ayah selalu berharap jika rumah tangga kalian akan langgeng sampai tua. Memang perjalanannya tak akan mudah tapi pasti ada hikmah di balik setiap kejadian,"


"Ayah jangan khawatir... Saya sangat mencintai Nadia, putri ayah. Saya akan mencintai dan menjaganya dengan sepenuh hati selamanya." ucap Alex tanpa ragu.


"Alex...," bisik Nadia lirih.


"aku pun sangat mencintaimu, bahagiamu yang utama bagiku," bisik Nadia. Matanya berkaca-kaca ketika mengatakan itu.


"Bahagia kita..., kita akan bahagia bersama...," ralat Alex dan Nadia pun menganggukkan kepala menyetujui.


"Lalu bagaimana dengan perkembangan kasus yang menimpa Nadia ?" tanya sang ayah.


"Semua berkas sudah dilimpahkan kepada kejaksaan, bila tak ada aral melintang persidangan akan dilaksanakan mulai Minggu depan," jawab Alex.


Tubuh Nadia menegang seketika, tak terbayangkan apa yang terjadi jika ia kembali bertemu dengan lelaki yang hampir saja merendahkannya.


to be continued ♥️


thanks for reading


yang suka jangan lupa like komen vote dan hadiah


terimakasih ♥️