In Love

In Love
Forever To Go



"One year down, forever to go," ( satu tahun kita telah lalui dan menuju selamanya bersama) ucap Alex lirih sambil terus memandangi istrinya penuh puja. Sudah terbayangkan dalam benaknya bagaimana mengarungi indahnya hidup bersama wanita yang ia cinta untuk selamanya.


Alex dalam puncak bahagianya, ia merasa beruntung bertemu dengan belahan jiwanya. Alex merasa dicintai, tak lagi kesepian. Matanya memburam karena air mata ketika memikirkan itu semua. Ia mengusap mata dengan jempol dan telunjuknya mencoba menghilangkan air bening yang tergenang di pelupuk mata.


Tak lama bel pintu kembali berbunyi dan ternyata papanya yang datang dengan beberapa kotak kado di tangannya. Hal yang tak Alex sangka, karena hubungannya dengan sang papa tak se-mesra dengan ibunya. Alex sudah keluar rumah ketika usia 18 tahun dan hidup terpisah. Hal yang lumrah bagi orang-orang yang tinggal di luar sana. Tapi mamanya tak pernah melepaskannya begitu saja, ia selalu memberikan dukungan dalam bentuk apapun pada anak semata wayangnya itu.


"Alex," peluk sang papa yang berpostur tinggi besar itu. "Selamat untukmu," lanjutnya lagi dan Alex membalas pelukan papanya. Lagi-lagi dadanya menghangat karena bahagia.


Alex menutup pintu setelah ayahnya masuk. "Oh... terimakasih," terdengar suara istrinya yang terkejut dari arah dapur. Dapat Alex tebak jiga papanya memberikan kado itu untuk Nadia.


Alex merogoh ponsel dari saku celananya dan menggulir layar mencari nama kontak seseorang. "Jangan sampai ada detail yang terlewat," tulis Alex dalam pesan singkatnya.


Setelah menanti dan tunggu dalam waktu yang cukup lama akhirnya mereka duduk bersama di meja makan dan bersiap menikmati makan siang mereka. Mama Alex memasak banyak makanan kesukaan anak kesayangannya itu. Alex duduk bersebelahan dengan Nadia, di bawah meja Alex selalu meletakkan satu tangannya di atas paha Nadia dan tak jarang meremasnya gemas hingga Nadia selalu menolehkan kepala dan mendelikkan mata pada suaminya.


"Alex apa kamu tak ingin memberikan kata sambutan ?" tanya papanya sebelum menikmati makan siang mereka.


Alex pun berdiri dan menyentuhkan jemarinya dengan milik Nadia sebelum ia mulai berbicara. "Terimakasih untuk semua yang telah datang untuk makan siang bersama dan merayakan hari jadi kami yang pertama. Ini sangat berarti bagiku," ucap Alex memulai pidatonya.


"Dan untuk wanita yang paling aku cintai di dunia ini, Nadia Wirahma...," lanjut Alex diiringi siulan dan tepuk tangan. "Satu tahun kita telah lalui bersama dalam suka dan duka. Apa yang telah kita lalui membuatku sadar bahwa kamulah satu-satunya wanita yang aku cinta dan karena rasa cintamu lah yang telah merubahku menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Satu tahun kita lalui, dan selamanya kita akan selalu bergandengan tangan dalam cinta," lanjut Alex seraya mengangkat tangan Nadia dan menciumnya.


Jantung Nadia berkerja ekstra saat ini karena dadanya berdebar hebat setelah mendengar pernyataan cinta Alex padanya. Ia pun berdiri mendekati sang suami, "aku pun sangat mencintaimu, Alex," ucap Nadia lirih dan ia pun memeluk erat tubuh Alex dan suaminya itu memberikan balasan yang sama. Ingin Alex mencium istrinya itu dan mengulum bibirnya rasa-rasa tapi ia tahu banyak pasang mata yang tengah mengamatinya saat ini.


Keduanya pun kembali duduk dan menikmati makan siang mereka. "Bagaimana dengan sidangnya ?" tanya ayah Nadia.


"Semua berjalan lancar, semoga segera selesai," jawab Alex. "Ayah jangan khawatir, ada Alex yang selalu menemani aku," potong Nadia.


"Maafkan ayah yang tak pernah hadir, dan kamu pasti mengerti alasannya," lanjut ayah Nadia sembari mengelus dadanya. Mengisyaratkan jika karena penyakit jantungnya ia tak bisa hadir disana.


"Alex dan Nadia adalah 2 orang yang telah dewasa, pastinya mereka bisa mengatasinya," kali ini papa Alex yang berucap dan Alex hanya mengangguk saja.


Semuanya menikmati makan siang dalam suasana yang hangat saling berbicara tentang banyak hal. Alex sadar jika Nadia lah yang menjadi lem bagi semuanya dan ia bersyukur akan hal itu.


"Kadonya dibuka, Nadia," ucap mama Alex setelah semuanya telah menyelesaikan makan siang mereka. "Ayah dan ibu tak membawa kado," bisik ibunya kini merasa tak enak hati. "cukup do'a ayah dan ibu saja dan itulah yang selalu aku inginkan," jawab Nadia dengan sama berbisik dan apa yang Nadia ucapkan adalah hal yang sesungguhnya.


Alex berdiri memperhatikan, yang lainnya duduk santai di atas sofa dan terdengar Nadia yang memekik bahagia ketika ia membuka kado dan mendapatkan sebuah kunci mobil berlogo "H" dengan pita berwarna merah muda. "Ini hadiah dari mama papa, khusus untukmu. Alex sudah punya jadi tak usah mama belikan lagi," ucap mama Alex sembari mendelikkan matanya pada sang anak dan Alex tertawa melihatnya. Tak hanya itu saja, Nadia juga mendapat kado berupa paket untuk memanjakan diri di sebuah spa ternama dari ibu mertuanya.


"mobilnya sudah berada di bawah loh, tadi papa Alex yang bawa," ucap mama Alex dan yang mendengar itu begitu antusias termasuk Nadia. Bagai anak kecil yang mendapatkan sebuah hadiah Nadia dan kedua adiknya begitu antusias untuk melihatnya. Ia menarik tangan Alex tak sabaran untuk ikut dengannya ke lantai dasar dan melihat mobilnya.


"Oh... My.... God....," pekik Nadia ketika ia melihat sebuah mobil putih berlogo H keluaran terbaru. Itu adalah hadiah dari ibu mertuanya. Nadia berjalan memutari dan menyentuhkan jemarinya pelan di mobil barunya. Nadia tahu jika ibu mertuanya itu ingin mengembalikan uang 300 juta yang Nadia berikan dengan cara lain. Malah ia mengembalikannya dengan jumlah yang lebih besar lebih dari dua kali lipatnya.


Alex mendekati sang istri dan merangkul pundaknya pelan. "Kamu suka" tanya Alex. "Hu'um bagus sekali," jawab Nadia sambil berkaca-kaca.


"Hadiah dari aku makan malam saja ya," ucap Alex seraya mencium pelipis Nadia. "cukup rasa cintamu saja, aku tak membutuhkan yang lainnya," jawab Nadia sembari membelitkan tangannya, memeluk tubuh Alex.


Menjelang sore seluruh anggota keluarganya sudah berpamitan pulang padahal Nadia telah menahan mereka untuk tinggal lebih lama tapi semuanya bersikeras untuk pergi seolah ingin meninggalkan Alex dan Nadia berdua saja.


***


"Sayang, aku harus pergi ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Nanti supir akan menjemputmu untuk makan malam romantis kita," Alex mengatakan itu sembari mengenakan sepatunya membuat Nadia mencebikkan bibirnya tak ingin ditinggalkan sendirian saja. "Gak mau," rengek Nadia.


"Kita akan bertemu di sana sebentar lagi, berdandan lah yang cantik," ucap Alex seraya mengecup bibir Nadia sebelum ia pergi.


***


"Kurasa ini sudah cukup," Nadia memberikan sentuhan terakhir pada riasan wajahnya dan bercermin memastikan jika ia sudah terlihat cantik karena ia ingin tampil sempurna di hadapan Alex malam ini.


Dengan gaun malam berwarna hitam yang begitu sempurna membelit tubuh rampingnya Nadia pergi menuju tempat di mana Alex telah menunggu.


"Terimakasih," ucap Nadia pada supir pribadi dan juga orang kepercayaan Alex yang membukakan pintu mobil untuknya. Nadia mengulum senyum ketika ia mencium wangi parfum Alex dalam mobil, rasa rindunya pun kian membuncah.


Setelah berkendara beberapa lama saatnya, mobil Alex berbelok memasuki suatu kawasan perumahan elit di kota Jakarta. "Pak, apa ini alamat yang benar ? saya dan Alex eh Henry akan makan malam," tanya Nadia.


"Iya benar, ibu jangan khawatir pak Herry telah menunggu di sana," jawab supir itu sembari melihat Nadia dari kaca spion di atasnya.


Nadia membuang tatapan matanya ke luar jendela menatapi jajaran rumah modern minimalis yang memanjakan mata dan membayangkan jika dirinya dan Alex tinggal di sana dengan anak-anak mereka. Bukan 1 atau 2 anak, Nadia menginginkan 3 dan ia yakin Alex akan menjadi seorang ayah yang baik.


Asyik dengan lamunannya membuat Nadia tak sadar jika ia sudah sampai di tempat yang dituju. Sebuah rumah dua tingkat dengan desain modern yang sangat mengagumkan. "Wooow," decak kagum keluar dari bibir Nadia yang setengah terbuka.


Dengan perlahan Nadia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah yang setengah terbuka, cahaya temaram terlihat mengintip dari baliknya. "Alex ?" tanya Nadia seraya membuka pintu itu dengan lebar namun tak ada seorang pun yang menjawabnya.


"Oh God...," desah Nadia saat ia melihat banyaknya kelopak bunga mawar merah dan lilin putih menghiasi jalannya menuju tempat Alex menunggu. Wangi bunga mawar menguar lembut diiringi lagu A Thousand Year yang mengalun merdu membuat suasana kian syahdu.



Tak hanya itu, ditempat tertentu yang bisa Nadia lihat dengan jangkauan matanya terdapat kartu berwarna merah muda dan bertuliskan 'untuk Nadia' Ia pun meraih dan membukanya dengan dada berdebar hebat. "Aku mencintaimu dari awal kita bertemu. Meskipun logikaku pernah meragu tapi dalam hati selalu yakin jika kamu akan menjadi cinta terakhirku," baca Nadia pelan dan ia pun meneruskan langkahnya mengikuti alur jalan yang di hiasi kelopak bunga mawar dan lilin putih itu.


Untuk kedua kalinya Nadia mendapati kartu yang bertuliskan namanya dan ia pun membukanya. "Aku mencintaimu karena kamu terlihat begitu sempurna, tapi ketika aku menemukan ketidaksempurnaanmu, aku pun semakin mencintaimu," Nadia meneteskan air matanya ketika membaca kartu kedua itu dan menggenggamnya bersama yang lain. Nadia pun kembali berjalan mengikuti kelopak mawar itu.


Di tangga Nadia kembali menemukan kartu yang ketiga dan masih tertulis namanya. Ia pun meraih dan membukanya. "Aku mencintaimu... Bagi dunia mungkin kamu hanya 'seseorang' tapi untukku, kamulah duniaku," Nadia menutup mulutnya ketika membaca itu dan lagi-lagi matanya memburam. Lalu ia pun menaiki tangga dengan perlahan yang ternyata di ujungnya terdapat sebuah pintu yang setengah terbuka



Di pintu kamar terdapat sebuah kartu yang menempel dan namanya tertulis di sana. Nadia mengulum senyum dan meraihnya. " Hari jadi kita telah tiba, maka aku akan selalu menengok ke 12 bulan yang lalu, dan menyadari bahwa aku telah melewati 12 bulan terbaik bersamamu. Kini saatnya kita bergandengan tangan melalui hidup kita dalam cinta untuk selamanya. Terimakasih sudah menerima aku dalam hidupmu dan menyempurnakan kekuranganku,"


"Ya Tuhan, Alex....," Nadia tersenyum dan meneteskan air mata secara bersamaan. Pintu kamar pun terbuka lebar karena Alex membukanya dari dalam. Ia berdiri dengan setelan terbaiknya, ingin terlihat sempurna di mata istrinya.


Alex ulurkan tangan dan Nadia meraihnya, "Happy anniversary, Sayang," ucap Alex pada wanita yang sangat ia cintai dengan sepenuh hati.



To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


This episode dedicated to kak ArdiannaPuz dan para reader setia IN LOVE.


May Allah SWT... bless you with so much joy, Love and happiness.. aamiin...


Semoga Allah SWT ... memberkati semuanya dengan begitu banyak sukacita, Cinta dan kebahagiaan.. aamiin...