In Love

In Love
Ketakutan Terbesar



Nadia yang tengah terduduk di ruang tamu berdiri lalu berjalan tergesa ke arah pintu, ia mendengar suara-suara dari arah luar apartemennya. "Itu pasti Alex !" batinnya berkata. Senyum mengembang di wajahnya, hatinya berbunga-bunga, sungguh ia merasa sangat merindukan suaminya itu padahal setiap hari bertemu.


Tapi memang sore ini Alex tidak datang ke kantor tempat Nadia bekerja dikarenakan ia ada urusan yang harus dikerjakan. Nadia pahami itu, beberapa waktu terakhir ini Alex yang sangat sibuk masih harus menemaninya menjalani sidang, bahkan setiap hari juga menyempatkan diri untuk mengantar-jemput dirinya ke kantor tapi hanya sore ini tak datang membuat Nadia merasakan rindu yang tak tertahankan.


'Ceklek' bunyi gagang pintu yang digerakkan, tak lama pintu pun terbuka dan muncullah sosok yang sangat Nadia rindukan, siapa lagi jika bukan Alex.


"Aleeexx... kangen.. !!!" Nadia menghambur pada suaminya itu dan Alex segera menangkap tubuh istrinya dan mengangkatnya bagai koala dan menutup pintu apartemen dengan kakinya. Nadia bellitkan kedua kakinya di pinggang Alex agar makin lekat perpaduan tubuh mereka.


"Kangen ?" tanya Alex sambil mengulum senyum, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dari wajahnya. Bagai De Javu, ingatan Alex kembali ke momen ia menjemput Nadia di Bandung setelah perpisahan singkat mereka waktu lalu. Nadia pun melakukan hal yang sama, berhambur ke pelukannya seperti ini.


Perpisahan singkat namun sangat menyiksanya dengan luar biasa. Alex masih ingat bagaimana frustasinya ia waktu itu, ia menggeleng kepalanya pelan untuk melupakan masa paling pahit dalam hidupnya dan memilih untuk menikmati momen di saat ini ketika Nadia menyerahkan diri pada pelukannya dan mengucapkan banyak kata rindu.


"Iya aku kangen... kangen...kangen... kangen... kamu," ucap Nadia lirih dengan dahi menyatu dan ujung hidung keduanya yang saling bersentuhan pelan, mata mereka terkunci dan saling menatap penuh cinta satu sama lain.


Alex semakin melebarkan senyumnya, ia juga menguatkan dekapan tangannya pada tubuh Nadia yang masih memeluknya bagai koala. "Aku juga kangen kamu, maaf hari ini membuatmu harus pulang dengan supir," sahut Alex, seketika wajahnya berubah sendu penuh sesal.


"Tak apa, aku ngerti... aku hanya kangen kamu aja," Nadia berucap dengan senyuman manis, mengisyaratkan Alex bahwa ia tak marah atau kecewa tapi hanya merasa rindu saja.


Dada Alex menghangat dan berbunga-bunga, ia sangat menyukai jika Nadia bermanja atau menunjukkan jika ia membutuhkan dirinya seperti ini karena dengan begitu Alex merasa dicintai.


Mata hitam Alex tatapi wajah cantik istrinya tanpa jeda, "terimakasih karena sudah mau mengerti dan asal kamu tahu, aku juga kangen kamu. I always think about you. ( aku selalu memikirkan kamu)," sahut Alex lirih dan ia pun meraih bibir Nadia dengan bibirnya lalu mengulumnya rasa-rasa. Keduanya memejamkan mata, menikmati sesapan lembut yang saling berbalas di bibir mereka. Suara decapan khas orang berciuman terdengar memenuhi ruangan itu.


"Turunkan aku, kamu pasti capek," lirih Nadia di atas bibir Alex yang basah karenanya. "Aku gak capek, aku masih sangat kuat jika kamu mau yang lainnya," timpal Alex penuh maksud dan Nadia yang sangat paham maksud perkataan Alex terkekeh geli mendengarnya.


"Mesoom," ucap Nadia sambil memelototkan kedua matanya. Ia pun berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Alex yang erat. "Aku udah masak banyak, kamu sebaiknya ganti baju dan makan malam dulu, setelah itu baru kita bisa ehem ehem," lanjut Nadia. Ia menaik turunkan alisnya ketika mengatakan itu, menggoda Alex yang kini tertawa melihatnya.


"Baiklah bawel !" sahut Alex sembari mencuri ciuman dari bibir istrinya sebelum benar-benar menurunkan tubuh Nadia dari pangkuannya. "Ayo ikut," ajak Alex seraya menarik tangan Nadia dan menyeretnya ke dalam kamar.


"Mau ngapain ?? aku bilang makan dulu !! aku gak mau ya nanti kita makan tengah malam kaya kemarin-kemarin," rengek Nadia mengingatkan karena Alex mengurungnya di kamar dalam waktu yang tak sebentar dan keduanya keluar kamar dengan tubuh yang lunglai diakibatkan tenaga yang terkuras.


"Dasar mesoom !" balas Alex. "temani aku ganti baju, gak ngapa-ngapain," lanjutnya lagi sambil tertawa geli melihat wajah Nadia yang bersemu merah.


Nadia menuruti dengan mencebikkan bibirnya kesal. Bagaimana bisa Alex menuduhnya seperti itu? padahal tak hanya ia yang selalu berpikiran ke arah sana jika hanya berduaan saja dengan Alex.


Alex pun sama seperti dirinya. Topik apapun yang dibicarakan pasti akan berakhir dengan pergumulan di atas ranjang. Hingga pernah suatu waktu Nadia mengusulkan untuk berbicara hal penting di tempat umum seperti cafe atau taman karena apapun permasalahan yang mereka bahas akan berakhir dengan pergulatan penuh peluh. Meskipun Alex merasa geli dengan usulan Nadia tapi ia menyetujuinya karena itu memang benar adanya.


***


"Ini," ucap Alex seraya memberikan sebuah amplop putih berisikan selembar surat pada istrinya. Saat ini keduanya tengah duduk di ruang makan dengan saling berhadapan. Baru saja keduanya menyelesaikan makan malam mereka yang tepat waktu tak seperti malam-malam sebelumnya.


"Apa ini ?" tanya Nadia. Amplop putih itu kosong di permukaannya, tak tertulis nama yang ditujukan.


Alex terdiam untuk beberapa saat, tak langsung menjawab pertanyaan istrinya itu. Ia memilih kata yang tepat untuk menyampaikan maksud surat itu. Alex tak mau media merasa syok dengan apa yang akan dibukanya.


"sayang...," ucap Alex pelan membuka perkataannya. "emmm... surat itu aku dapatkan dari pengacara aku, lelaki yang bernama Niki itu yang menuliskan surat di dalamnya," lanjut Alex dan itu sontak membuat Nadia menjatuhkan amplop itu ke atas meja. Tangannya gemetar dan wajah Nadia memucat seketika.


"Ta-tapi bukan berarti dengan begitu ia bebas dari kejahatannya bukan ?" tanya Nadia terbata.


"Ia hanya ingin meminta maaf agar nanti di persidangan kamu tak merasa begitu takut padanya. walaupun kamu memang memaafkannya tetapi laki-laki itu akan tetap mendapatkan hukumannya sesuai dengan proses hukum yang berjalan. Ia tak akan bebas begitu saja," jawab Alex.


"tapi jika kamu tidak mau membacanya, its oke. Tak masalah. lakukan apapun yang membuat dirimu nyaman, aku akan selalu mendukung dan menemanimu," lanjut Alex kemudian.


Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Ia tatapi amplop putih itu di atas meja tanpa berani menyentuhnya apalagi membuka isinya. Nadia terus mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.


Alex yang melihat itu merasa sangat prihatin, tak terbayangkan bagaimana tersiksanya Nadia saat kejadian itu terjadi dan Alex merasakan ngilu di dalam hati karena ia merasa gagal dalam melindungi istrinya itu. "sebaiknya aku simpan kembali surat itu," ucap Alex seraya mengulurkan tangannya untuk meraih amplop putih yang masih Nadia tatapi di atas meja.


"Jangan !" ucap Nadia ketika Alex hendak mengambil amplop putih itu. "Berikan aku waktu untuk menenangkan diri sebelum membacanya," sahut Nadia dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.


"Are you sure ?" ( apa kamu yakin? ) tanya Alex memastikan.


Nadia pun mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan yang Alex lontarkan. "baiklah, tapi aku akan menemanimu ketika membacanya," ucap Alex sambil terus memperhatikan. lagi-lagi Nadia mengangguk pelan sebagai jawaban.


cukup lama Nadia berdiam diri sehingga Ia memutuskan untuk membuka amplop putih itu dengan tangannya yang gemetar. "pelan-pelan saja, jangan dipaksakan," ucap Alex yang masih bertahan menemani istrinya di sana.


Nadia menuruti apa yang Alex katakan ia membukanya pelan dan menelan ludahnya paksa sebelum ia membacanya. Alex terus perhatikan wajah Nadia yang menegang, air mata tak bisa ditahan lagi dari wajah istrinya. Alex pun berdiri dan berjalan memutar meja untuk bisa duduk bersebelahan dengan sang istri dan merangkulnya pelan. "Apa kamu baik-baik saja ? apa mau berhenti membacanya ?" tanya Alex memastikan tapi Nadia menggelengkan kepala pertanda ia masih ingin membacanya. "Baiklah," ucap Alex tanpa melepaskan rangkulan tangannya.


Sebenarnya Alex telah membaca isi surat itu berulang kali memastikan tak ada kata-kata yang dapat menyakiti atau membangkitkan rasa trauma Nadia kembali. isi surat itu hanya sebatas permintaan maaf dari lelaki yang bernama Niki sehingga alex pun berani memberikannya kepada Nadia.


Nadia menghela nafas lega setelah ia selesai membaca surat itu sebanyak dua kali. Walaupun ia masih merasa trauma namun setelah membacanya Nadia yakin bisa menghadapi ketakutan terbesarnya di persidangan nanti yaitu bertemu lelaki yang hampir menyakitinya.


***


Waktu terus berlalu dan hari pun berganti. Hari persidangan di mana Nadia harus bertemu dengan lelaki bernama Nicky pun tiba dan seperti waktu yang lalu Alex dengan setia terus menemani. "Tenanglah ada aku, aku akan selalu di sini menemanimu," bisik Alex seraya menggenggam erat jemari Nadia di bawah meja.


Lelaki bernama Niki itu pun datang bersama pengacaranya, ia tersenyum simpul lalu menundukkan kepala pada Nadia. Ia tertunduk malu dengan penuh penyesalan. Sedangkan Nadia segera memalingkan muka setelah pandangan mata mereka bertemu. Bayangan kejadian di waktu lalu kembali berputar di kepalanya.


Alex menyadari itu tentu saja, ia rangkul pundak Nadia yang menegang untuk menenangkannya. "kamu seseorang yang sangat berani kamu, pasti bisa menghadapinya," bisik Alex.


Nadia tolehkan kepala dan melihat pada Alex. Bisa ia lihat dengan jelas kekhawatiran di wajah suaminya itu. "Aku akan baik-baik saja karena kamu di sisiku," ucap Nadia tanpa ragu.


Alex tersenyum lega mendengarnya. "kita akan hadapi ini bersama, dan aku yakin Tuhan akan memberikan pertolongannya pada kita berdua," ucap Alex dan Nadia menganggukkan kepala menyetujuinya.


to be continued ♥️


thanks for reading


jangan lupa like dan komen ya


yuk semangat ikut event pemberian hadiahnya.