In Love

In Love
Pikiran Buruk



Alex pun menolehkan kepalanya dan mendapati Nadia yang berdiri dengan tatapan mata kosong dan air mata berhamburan. "sayang...," ucap Alex seraya kembali meraih jemari Nadia dalam genggamannya.


"Le-lepaskan aku, Alex," ucap Nadia terbata. Ia menepis genggaman tangan Alex pada jemarinya.


"Sayang ?" Alex berkerut alis tak suka.


Dada Nadia terasa sesak, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya yang limbung. Terdengar suara derit kursi yang Nadia tabrak dengan tidak sengaja karena ia berjalan mundur dan merasakan tubuhnya kehilangan keseimbangannya.


"Duduklah dulu," pinta Alex seraya menahan lengan Nadia dan menuntun istrinya itu agar terduduk kembali di atas kursi tapi lagi-lagi Nadia menolaknya. "Aku baik-baik saja, sebaiknya kita segera pergi," ucap Nadia. Nada suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.


Alex mengepalkan tangannya karena kesal juga marah. Ia merasakan itu bukan pada Nadia tapi pada Lola yang sudah menjadikan istrinya kembali mengingat trauma yang susah payah untuk dilupakannya.


"Tunggu," ucap Alex seraya menahan lengan Nadia agar tidak pergi dulu dan kali ini istrinya itu menurutinya. Alex berjalan menjauhi dan berbicara dengan pengacaranya, entah apa yang Alex bicarakan namun mimik wajahnya terlihat serius dan emosional. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya terlihat dingin. Beberapa kali ia melihat pada Nadia tanpa menyunggingkan senyumnya seperti yang biasa Alex lakukan dan begitu juga Nadia, ia hanya terdiam terpaku dengan bibir terkatup rapat dan tatapan mata kosong ke sembarang arah. Yang Nadia inginkan saat ini adalah pergi menjauh dari tempat itu secepat mungkin.


"Ayo kita pulang," Ajak Alex yang tanpa Nadia sadari telah berada di sebelahnya. Nadia tak mengiyakan ataupun menganggukkan kepala, ia hanya menuruti Alex dengan berjalan di belakang lelaki itu tanpa bersuara.


Keduanya berjalan beriringan tanpa adanya tautan jemari. Hanya sunyi yang menemani mereka saat ini. Bagaikan petir di siang bolong, hal yang sangat tak diinginkan Nadia terjadi secara mengejutkan. Belum juga Nadia pulih dari luka itu tapi Lola sudah kembali membukanya dan menaburkan cuka diatasnya. Ngilu di hati yang saat ini Nadia rasakan.


Tak hanya Nadia yang merasa kesakitan tapi Alex pun merasakan hal yang sama. Jika Nadia terkejut, begitu pun Alex. Tak hanya karena apa yang Lola katakan, namun penolakan Nadia pun membuatnya lebih terkejut lagi.


Alex mengerti dan paham jika kehilangan calon bayi mereka yang disebabkan oleh Lola adalah pukulan berat bagi Nadia dan itulah yang menyebabkan keduanya terpisah beberapa waktu lalu.


"Berikan kunci mobilnya pada saya ! biar saya yang menyetir sendiri, dan untuk kalian mobil kantor akan segera datang menjemput," ucap Alex pada supir pribadinya karena tadi pagi mereka pergi bersamaan dengan sang pengacara menggunakan mobil Alex.


Sang supir langsung memberikan kuncinya tanpa banyak bicara, ia tahu jika Alex sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


Alex raih kunci itu dan segera memijit tombol pembuka pintu otomatis. "Masuk," titah Alex pada Nadia seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Nadia turuti perintah suaminya, "saya duluan ya, terimakasih atas bantuannya di hari ini," pamit Nadia pada pengacara Alex dan juga supir pribadinya.


"Sama-sama... suatu kehormatan bisa membantu Anda," sahut pengacara Alex sambil menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan pada Nadia.


Sedangkan Alex, sudah berada di kursi pengemudi dan mulai menyalakan mesin mobil. Tak lama menunggu Alex pun menjalankan mobilnya. Nadia buang pandangannya ke arah luar dan melihat pak Adi juga Dian yang sama-sama memasuki mobil dan kembali ke kantor mereka. Terlalu syok dengan apa yang terjadi di persidangan tadi membuat Nadia lupa pada kedua rekan kerjanya itu. Bahkan ia tak sempat mengucapkan kata terimakasih.


Waktu menunjukkan hampir pukul 12 siang, udara di luar sangat menyengat karena matahari bersinar dengan cerahnya. Tapi yang terjadi di dalam mobil Alex adalah yang sebaliknya, hawa terasa dingin sekali. Bukan karena hembusan udara melalui AC tapi karena atmosfer diantara keduanya yang mendingin begitu saja setelah kejadian tadi seolah awan hitam menyelimuti tubuh mereka.


Alex mengetuk-ngetuk setir mobil dengan jemarinya menunggu lampu lalu lintas berganti hijau, sedangkan Nadia masih membuang pandangannya ke arah luar jendela, menatapi apa saja yang dilaluinya.


Alex terdiam sesaat, tak langsung menjawab keinginan istrinya itu. Ia tahu Nadia sedang ingin sendirian tapi sayangnya Alex tak suka itu."Kita akan makan siang, lalu pulang ke apartemen," sahut Alex tak terbantahkan.


"Masih banyak waktu untuk bekerja, setelah makan siang aku kembali ke kantor," sahut Nadia beralasan. Padahal yang sebenarnya terjadi saat ini adalah ia ingin melupakan yang terjadi di persidangan tadi dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Nadia tahu jika ia terus bersama Alex, ia akan selalu mengingat apa yang Lola katakan.


Mata hitam Alex masih tertuju pada jalanan, bibirnya terkatup rapat tanpa bersuara, kedua tangannya mencengkram erat setir mobil. Di jalanan yang cukup sepi, tanpa aba-aba apapun Alex segera menepikan mobilnya dan memberhentikannya dengan sempurna.


"Aku bilang, kita kembali ke apartemen," ucap Alex tak ingin dibantah.


"Alex, aku....,"


"Akan aku kabulkan apapun yang kamu inginkan, Nadia ! tapi tidak, jika yang kamu inginkan itu adalah untuk menyendiri karena aku tak akan membiarkanmu sendirian di saat seperti ini. Aku juga yg tak mau kamu dan segala pikiran burukmu membuat hubungan kita kembali memburuk" potong Alex cepat.


Nadia tak menjawab, ia hanya terdiam membisu menahan panas dan buram di matanya yang siap ia tumpahkan.


Alex buka sabuk pengaman yang ia kenakan dan mencondongkan tubuhnya mendekati sang istri. "Dengarkan aku, Nadia" pinta Alex penuh mohon. "Aku pun terpukul dengan apa yang terjadi di persidangan tadi. Jika kamu merasa sakit hati, aku pun merasakan hal yang sama di dalam sini," lanjut Alex seraya memukul-mukul dadanya sendiri dengan penuh emosi. Melihat yang Alex lakukan membuat Nadia tak dapat lagi menahan tangisnya.


"Tapi aku mohon padamu... jangan menjadikan masalah ini sebagai pemacu hubungan kita kembali menjauh. Bukankah kita berjanji untuk selalu bersama dalam menghadapi apapun yang terjadi ? bukankah kita akan bergandengan tangan dan melalui masa bahagia dan sulit bersama ?" tanya Alex beruntun. Alex sangat ketakutan jika Nadia kembali meninggalkannya.


"A-Alex aku....," ucap Nadia terbata. Lidahnya mendadak kelu tak bisa mengatakan apapun karena rasa sakit yang ia rasakan.


"Maaf Nadia, tapi aku tak akan membiarkanmu sendirian dengan segala pikiran buruk yang bisa meracunimu. Mau tak mau, suka tidak suka kita akan pulang ke apartemen dan berbagi rasa sakit ini bersama sehingga kamu tak lagi menanggungnya sendiri," ucap Alex sembari mengenakan kembali sabuk pengamannya dan memacukan mobilnya secepat yang ia bisa.


to be continued ♥️


terimakasih yang masih setia baca ♥️


jangan lupa like, komen dan hadiah ya


mumpung Senin yuk vote novel ini.


Untuk yang ikhlas saja ya.