In Love

In Love
Setelah Makan Malam



Happy reading ❤️


"Sayang, kamu mau apa lagi?" Tanya Edo memecah keheningan.


Alex langsung menghentikan makannya dan meletakkan garpu serta pisaunya dengan kasar


"Oke that's it !! Cukup sudah !" Ucap Alex seraya menatap tajam mata Nadia.


Semua menghentikan makan malam mereka dan menatap Alex penuh tanda tanya. Tapi yang ditatapi seolah tak peduli, ia terus memandangi istrinya yang kini terlihat kebingungan.


"Ayo kita pulang, Nadia !" Kata Alex dengan jelasnya.


"Hah ? Tapi aku lagi makan," jawab Nadia.


"Sudah terlalu larut, besok kamu harus bekerja begitu juga aku," ucap Alex lagi dan ia pun berdiri.


"Alex, kamu baru makan sedikit," kata Lola yang terheran.


"I'm full," ( aku kenyang ) jawab Alex bohong.


"Nadia ayo !" Ajak Alex lagi.


"Nadia tadi pergi sama aku, maka aku juga yang akan mengantarkannya pulang. Lagian ini baru pukul 9 malam," sahut Edo.


"Tapi dia tinggal denganku, jadi dia adalah tanggung jawabku," sahut Alex dengan menatap Edo dingin.


"Nadia bukan anak kecil lagi. Dia bisa memutuskan untuk pulang dengan siapa," lanjut Edo tak mau kalah.


"Sebaiknya kamu gak ikut campur," kata Alex memperingatkan. Sedangkan Nadia juga Lola memperhatikan keduanya dengan terheran.


"Lalu aku bagaimana, Alex ?" Tanya Lola seraya meletakkan sendoknya.


Alex menolehkan kepala  dan ia pun tersadar jika Lola juga berada di dekatnya. Karena sedari tadi kepalanya hanya di penuhi Nadia seorang.


Cukup lama Alex terdiam tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya hingga akhirnya Nadia yang bersuara.


"Kamu antarkan Lola saja, aku akan pulang dengan Edo," ucap Nadia pada akhirnya.


Alex kembali menolehkan kepalanya pada sang istri dengan tangan terkepal menahan rasa cemburu yang siap meledak.


"Kita pulang sekarang, Nadia !" Ucap Alex penuh penekanan.


Bukannya Nadia yang bersiap untuk pulang namun Lola lah yang melakukan itu. Ia membenahi tas yang dibawanya dan segera berdiri mengikuti yang Alex lakukan.


"Ayo kita pulang," ajak Lola dengan lebih lembut dari sebelumnya.


Rahang Alex mengeras karena Nadia tak mau menuruti juga.


"Ayo sebaiknya kita pulang juga agar kakak sepupumu tak khawatir," ucap Edo seraya mengeluarkan sebuah kartu kredit hitam dari dalam dompetnya dan segera memanggil pelayan untuk meminta bon pemesanan.


Apa yang Edo lakukan tentu tak luput dari perhatian Alex. Setelah melihat kartu yang Edo miliki, Alex yakin lelaki yang mengaku sebagai kekasih Nadia ini bukanlah orang sembarangan.


Seorang pelayan datang dengan sebuah nampan dengan nota bon di atasnya. Edo hendak mengambilnya namun tangan Alex merebutnya lebih cepat. Dan ia pun segera mengambil bon itu dan membayarnya.


"Saya tak ingin berhutang apapun pada Anda," ucap Alex lebih formal dari sebelumnya.


"Sudahlah, ayo kita pulang." Lola memeluk lengan Alex dan mengajaknya keluar. Sedangkan Nadia masih tak bergeming dengan terus duduk di kursinya.


Alex memohon dengan matanya agar Nadia mau ikut pulang dengannya tapi tentu saja Nadia tak mau jika harus duduk berdekatan dengan Alex juga kekasihnya.


Sudah terbayangkan bagaimana sakitnya melihat kemesraan Alex dengan kekasihnya. Hingga Nadia memilih untuk berdiam diri dan tak mengikuti keinginan suaminya.


"Ayo, tunggu apa lagi ? Katanya mau pulang ?" Tanya Lola sembari menarik lengan Alex.


Alex tersenyum penuh rasa kecewa pada istrinya itu dan ia pun pergi keluar tanpa berpamitan pada Edo. Sedangkan Lola terus mengikuti Alex di belakangnya dan ia pun pergi tanpa berpamitan pada yang lainnya.


***


Saat ini Alex mengemudikan kendaraannya dengan lambat dan hanya suara radio yang terdengar diantara keduanya karena mereka tak saling bicara sejak pergi meninggalkan cafe itu.


Diluar hujan turun dengan lebatnya dan udara terasa begitu dingin namun suasana dalam mobil terasa lebih dingin lagi karena sunyi menyelimuti keduanya


Tatapan mata Alex fokus pada jalanan. Bibirnya terkatup rapat dan raut wajahnya memperlihatkan rasa kecewa juga sedih di waktu yang bersamaan.


Sedangkan Lola, ia segera memalingkan wajahnya setelah melihat bagaimana kondisi Alex saat ini. Dia memilih untuk melihat jalanan yang terlewati dengan kepalanya yang penuh pikiran tentang hidupnya yang telah lalu juga yang sedang dijalaninya saat ini.


Lola sadar jika saat ini adalah bagian dimulainya sebuah akhir cerita cintanya dengan Alex.


Lelaki yang dari dulu memujanya telah berpaling pada wanita lain yang diakuinya sebagai sepupu. Lola tahu, tapi sayangnya Alex tak menyadari perasaannya sendiri.


Bohong jika Lola tak sadar dengan perubahan sikap Alex, tapi ia mengesampingkan semua itu dan berpura-pura seolah semua baik-baik saja karena ia tak ingin Alex sadar dengan perasaannya dan meninggalkannya demi wanita lain.


Alex menepikan mobilnya di sebuah kawasan apartemen mewah yang kini ditinggali kekasihnya. Diluar sana langit masih saja menurunkan airnya walau tak sederas tadi.


"Maaf tak bisa mengantar mu sampai dalam," ucap Alex seraya menekan tombol kunci pintu otomatisnya hingga pintu mobil yang berada di sebelah Lola tak lagi terkunci.


Lola tahu jika Alex menginginkan dirinya untuk segera pergi dari mobilnya padahal hujan masih turun dan letak loby apartemennya cukup jauh.


Lola menuruti apa yang Alex inginkan. Tanpa berkata apapun lagi, ia turun dari mobil kekasihnya dengan tas tangan sebagai penutup kepalanya dari guyuran air hujan.


Dengan baju yang setengah basah Lola memasuki gedung apartemennya dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai di mana kamarnya berada.


Sesampainya di kamar, Lola mengganti bajunya yang basah. Pikirannya masih penuh dengan banyak hal yang sedang dialaminya saat ini.


Hal pertama yang Lola pikirkan saat ini adalah kenyataan jika Alex tak lagi mencintainya namun lelaki itu belum menyadarinya juga dan Lola sangat bersyukur karena itu.


Karena dengan begitu ia masih bisa menggantungkan hidupnya pada Alex untuk beberapa saat.


Tak hanya itu, ia juga memikirkan karirnya yang telah hancur karena sesuatu hal yang membuatnya melarikan diri dan terpaksa meninggalkan seseorang yang dicintainya di Amerika sana.


Lola mengambil ponsel dan menggulir layarnya. Ia tersenyum samar ketika melihat gambar seorang gadis kecil yang berusia mendekati 6 tahun.


"Mommy merindukanmu, Sayang," ucapnya lirih.


***


Di dalam mobil Edo, Nadia terdiam dan sesekali menyeka air matanya yang terus jatuh membasahi pipi.


Bohong jika ia merasa baik-baik saja. Melihat Alex dan kekasihnya membuat dirinya begitu patah hati.


Edo meliriknya dengan ujung mata dan segera mengambil selembar tissu dan menyerahkannya pada Nadia.


"Dasar bodoh," ucap Edo lirih namun Nadia masih bisa mendengarnya.


"Hah ?" Nadia berkerut alis tak paham.


"Kamu bodoh," jawab Edo.


Nadia pun menundukkan kepalanya saat mendengar itu.


"Kamu jatuh cinta pada suamimu sendiri kan ? Tapi dia memiliki wanita lain, begitu ?" Tanya Edo beruntun dan dijawab Nadia oleh 2 kali anggukan kepala.


"Jika kamu mencintainya dan tak rela suamimu dengan yang lain, seharusnya jangan menjawab jika kamu ini adalah sepupu Alex. Biarkan Alex yang menjawab dan menjelaskannya pada wanita itu tentang status kalian yang sebenarnya,"


Nadia terdiam untuk beberapa saat dan mengingat-ingat kejadian beberapa jam yang lalu ketika Lola datang.


"Alex terdiam tak bisa menjawab pertanyaan kekasihnya dan aku tak ingin terjadi keributan diantara mereka hingga aku terpaksa menjawab seperti itu," jelas Nadia.


"Padahal biarkan saja, biarkan Alex yang menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Karena dengan begitu Alex akan memikirkan perasaannya sendiri yang sebenarnya. Aku rasa Alex pun jatuh cinta padamu," ucap Edo tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Alex tak mungkin jatuh cinta padaku," sahut Nadia lirih.


"Melihat reaksinya tadi, aku yakin jika sebenarnya Alex pun memiliki perasaan yang sama denganmu namun ia masih belum yakin saja. Bisa terlihat dengan jelas rasa cemburunya," ucap Edo.


"Alex memang begitu... Sering kali ia membuatku merasa melayang namun tak lama ia akan menjatuhkanku dan membuatku patah hati,"


Edo terdiam mendengar apa yang Nadia ucapkan dan merasa kasihan padanya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Edo.


"Kali ini aku akan benar-benar melupakan Alex dengan cara membangun karir ku sendiri," jawab Nadia tanpa ragu.


"Jika begitu, maka berhentilah menangis. ingat big girl don't cry," kata Edo menyemangati.


Nadia mengusap pipinya sekali lagi dan ia pun tersenyum mendengar apa yang Edo ucapkan.


"Makasih ya Edo, aku berhutang banyak padamu,"


"Mmm... Cukup bayar hutangmu dengan secangkir kopi," sahut Edo.


"Haha, baiklah itu sangat mudah," ucap Nadia.


"Secangkir kopi di setiap akhir pekan," kata Edo lagi.


"Hah?"


"Iya mulai sekarang setiap weekend kamu harus traktir juga temenin aku minum kopi," jawab Edo.


"A..aku...,"


"Ya kita sudah sampai, ayo turun !"


Belum juga Nadia menjawab pernyataan yang Edo ucapkan namun ternyata ia telah sampai di apartemennya.


***


Alex masih dalam perjalanannya untuk pulang. Dalam kepalanya wajah Nadia selalu terbayang dan apa yang baru saja terjadi membuatnya terkejut.


Penolakan Nadia sangat mengganggu pikirannya dan sikapnya yang acuh membuat perasaan Alex tak karuan.


Semakin Nadia menolak, semakin besar keinginan Alex untuk mendapatkannya.


To be continued ❤️


Thank you for reading ❤️