In Love

In Love
Tamu



Happy reading ❤️


Nadia membalikkan tubuhnya menghadapi Alex yang menahan kepergiannya. "Bereskan urusanmu dengan dia sekarang juga, jika kamu masih ingin bersamaku seperti yang kamu ucapkan semalam," ucap Nadia seraya menunjuk dada Alex dengan penuh rasa emosi.


Untuk pertama kalinya Nadia memperlihatkan rasa marah yang meledak-ledak. Ia bicara dengan nada suara meninggi dan menunjuk dada suaminya dengan keras hingga tubuh Alex tergerak ke arah belakang.


Setelah itu ia berjalan meninggalkan Alex yang berdiri terpaku, namun suaminya itu berjalan mengikuti dan menahan lengannya untuk tak pergi. "Nad, tunggu ! Jangan pergi dengan keadaan marah seperti ini," tahan Alex. Tapi lagi-lagi Nadia menepis kasar cekalan tangan suaminya.


Dengan tak sabaran Nadia memijit tombol lift yang akan membawanya ke lantai bawah. "Nadia, tunggu... Aku ambil kunci mobilku dulu. Ayolah jangan pergi seperti ini," bujuk Alex.


Nadia tak menjawab, juga tak menanggapi. Yang ia lakukan adalah terus berdiri menunggu pintu lift itu terbuka dan sesuai dengan yang diharapkannya tak lama pintu itu terbuka dengan cukup banyak orang di dalamnya.


Dengan tergesa Nadia memasukinya kemudian di susul oleh Alex tapi kemudian bunyi tanda peringatan banyaknya pengguna lift berbunyi menandakan sudah mencapai batas maksimal hingga Alex tak bisa memasukinya.


"F*ck !!" Maki Alex kesal dan ia pun terpaksa keluar.


"Nad....," Ucapnya pelan menatap penuh harap agar isterinya itu keluar dari lift tersebut namun Nadia balas menatapnya datar hingga wajahnya menghilang di balik pintu lift yang kini tertutup rapat.


Alex memandang pintu yang tertutup rapat itu dengan perasaan kecewa, sakit dan takut.


Takut jika Nadia memilih untuk pergi meninggalkannya. Ia pun menarik nafas dalam dan kembali ke apartemennya di mana Laura ada di sana menunggunya.


Alex memasuki apartemen namun tak menemukan wanita itu. Ternyata Lola sedang berada di dapur menyediakan sarapan untuknya.


"Ah kamu udah kembali ? Aku siapin telur omelette dan segelas susu hangat," ucap Lola seolah tak terjadi apa-apa.


Lagi-lagi Alex tersenyum muak. "Susu ? Sejak kapan aku suka minum susu?" Tanya Alex.


"Ini bagus buat kesehatan, kamu," kata Lola beralasan.


"Lola, duduk ! Kita harus bicara," titah Alex sembari menunjuk sebuah kursi dan wanita itu pun menurutinya.


"Dengar, sejak hari ini berhentilah mencari dan menemui aku," ucap Alex dengan jelasnya. Ia berdiri di hadapan Lola dengan terhalang meja makan.


Lola terdiam, ia tak menjawab pernyataan yang Alex ucapkan. Lola tahu ini semua ada kaitannya dengan wanita yang bernama Nadia karena sejak mereka pertama kali bertemu dalam acara makan malam pun Alex sudah menunjukkan bahasa tubuh yang berbeda.


Namun Lola memilih untuk membutakan mata, menulikan telinga dan membisukan mulutnya. Ia tak bisa kehilangan seorang Alex saat ini karena Lola benar-benar membutuhkannya untuk bertahan hidup.


"Nadia itu...,"


"Cukup Alex ! Aku akan menahan diri untuk tidak menemuimu, maaf telah merusak suasana pagi mu," potong Lola cepat. Ia tak mau mendengarkan apapun lagi dari mulut Alex apalagi tentang Nadia.


"Aku akan pulang, tapi kamu tahu aku ada di mana jika membutuhkan," lanjutnya lagi.


"Aku gak akan menemuimu lagi," sahut Alex.


"Aku pulang," kata Lola. Ia kembali tak menanggapi apa yang Alex ucapkan. Yang Lola lakukan adalah berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati Alek, kemudian ia menjinjitkan kakinya dan meraih pipi Alex untuk memberikan kecupan di sana.


"Stop Lola, jangan seperti ini. Aku dan..,"


"Berhenti bicara Alex ! Apapun itu aku tak akan mau mendengarnya ! Aku gak akan pernah pergi dari hidupmu walaupun kamu mengusir aku dengan cara apapun, aku akan terus kembali padamu karena kita memang ditakdirkan untuk bersama. Ingat Alex yang kamu cintai itu adalah aku !"


"Aku bukan Alex yang dulu," ucap Alex dengan mata hitamnya yang berkilat karena marah.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Lola melihat pandangan mata Alex yang seperti ini. Bahkan ketika pertama kali bertemu setelah ia tinggalkan pun Alex masih menatapnya sayu.


"Aku pergi..." Ucap Lola seraya menepuk halus dada Alex. Ia tak ingin berdebat lebih lama karena sudah tahu arah pembicaraan Alex saat ini dan Lola tak mau itu. Dirinya belum siap untuk kehilangan Alex.


"Lola !!" Hardik Alex, namun wanita yang dulu menjadi kekasihnya itu tak bergeming. Ia terus berjalan keluar dari unit apartemennya.


"Siaallll," umpat Alex seraya melemparkan sepiring omelette yang dibuatkan Lola hingga bunyi pecahannya terdengar nyaring.


Bukannya tak ingin membereskan masalahnya dengan Lola, namun menurutnya ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan saat ini. Ia pun menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi.


***


Nadia baru saja mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerja, laptop yang ia nyalakan masih memuat beberapa aplikasi dan belum siap pakai namun seseorang dari bagian resepsionis sudah mendatanginya.


"Mbak, ada tamu," ucapnya dengan jelas.


"Hah ? Tamu ? Mau ketemu aku ?" Tanya Nadia beruntun. Baru kali ini ia mendapatkan seorang tamu secara tiba-tiba karena biasanya seseorang yang akan bertemu dengannya akan terlebih dulu membuat janji temu.


"Oh oke," Nadia pun berdiri dan keluar dari bilik kerjanya. Ia berjalan lebih dulu menuju lobi kantor diikuti oleh petugas resepsionis itu di belakangnya.


Terlihat seorang lelaki dengan balutan jas berwarna hitam berdiri membelakanginya, tubuhnya yang tinggi tegap dan potongan rambutnya membuat Nadia tahu siapa yang saat ini datang menemuinya.


Tak hanya itu, sedikit tanda kemerahan yang tertutup kain kerah kemeja juga mengingatkan Nadia pada kegiatan panas semalam. Karena dirinya lah yang memberikan tanda itu dengan sesapan bibirnya.


Belum juga Nadia berbicara namun Alex lebih dulu memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.


"Nadia," ucap Alex sedikit terkejut mendapati sang istri sudah berdiri di belakangnya.


"Ngapain disini ?" Tanya Nadia sedikit canggung.


"Aku gak mau kamu pergi masih dengan keadaan marah," jawab Alex dan itu membuat petugas resepsionis melihat ke arah mereka dengan tatapan mata bingung.


"Mmm maksud saya pak Henry ada keperluan apa hingga harus datang kesini ?" Tanya Nadia lagi ketika ia sadar tak ada seorangpun yang mengetahui status mereka yang sebenarnya.


"Saya datang untuk bertemu kamu. Bisa luangkan waktu sebentar ?" Ucap Alex lebih formal dari sebelumnya.


"Saya sedang sibuk, sebaiknya anda pergi saja," jawab Nadia dan tentu saja Alex tak suka dengan apa yang Nadia ucapkan.


"Tak bisa, kita harus bicara sekarang juga. Atau kalau perlu saya akan meminta pada atasan kamu," sahut Alex menimpali.


"Kamu gak akan berani," ucap Nadia lirih dan ia tersenyum miring ketika mengatakan itu.


Alex tersenyum meremehkan pada istrinya dan langsung merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya. Ia menggulir layar untuk mencari nama seseorang dan kemudian menghubunginya.


"Halo, selamat pagi. Pak Harun Wijaya ?" Ucap Alex sambil tersenyum miring. Bukan manager Nadia yang ia hubungi namun langsung pada pimpinan perusahaanya.


Nadia pun menelan salivanya sendiri dan tak lama seorang utusan dari pimpinannya itu datang untuk menyambut kedatangan Alex.


Dan di sinilah mereka, di ruang rapat kantor tempat Nadia bekerja bersama pak Adi sang manager dan juga pak Harun sang pemimpin perusahaan.


"Selamat datang pak Henry, ini suatu kejutan yang luar biasa," ucap pak Harun seraya menjabat tangan Alex dengan eratnya.


"Ah iya, kedatangan saya untuk mempercepat proses kerjasama kita. Oleh karena itu saya ingin segera pergi ke lokasi di Jogjakarta dan Semarang dengan ibu Nadia tentunya karena beliau adalah pilot projeknya," kata Alex tanpa basa-basi.


Tentu saja perkataan Alex disambut dengan sangat baik dan penuh semangat oleh pimpinan Nadia.


"Tentu pak Henry, kapan rencananya pergi ke 2 tempat tersebut ?"


"Lebih cepat lebih baik, berangkat besok akan sangat sempurna," jawab Alex.


"Ma-maaf... Saya tak bisa pergi besok karena belum selesai mengerjakan proposalnya," sahut Nadia.


"Tidak masalah, kita bisa melakukanya bersama-sama. Dan hari ini saya ingin mengajak ibu Nadia untuk menyiapkan proposalnya di tempat kerja saya,"


"Hah ?" Tanya pak Adi sang manager. Ia terkejut dan curiga.


"Tenang saja, nanti akan diberitahukan hasilnya dengan transparansi. Anda jangan takut," jawab Alex.


Lama berbicara akhirnya mereka pun setuju jika Nadia ikut bersama Alex untuk mengurusi perihal kerjasama.


Meski kesal dan tahu ini hanya akal-akalan Alex saja namun akhirnya Nadia menuruti. Ia kembali pada bilik kerjanya dan membawa banyak berkas serta tasnya. Masih dengan wajah yang ditekuk Nadia memasuki mobil Alex.


Alex tersenyum puas dan mencondongkan tubuhnya mendekati sang istri dan ia pun menarik dagu Nadia dengan jempolnya agar ia bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Tanpa sabaran Alex memagut bibir ranum Nadia dan mengulumnya lembut.


"Kamu gak akan bisa ninggalin aku, Nadia. Aku akan kejar ke manapun kamu pergi. Jadi jangan pernah pergi begitu saja dariku," ucap Alex ketika tautan bibir mereka terpisah.


To be continued ❤️


Terimakasih yang udah baca ♥️


Mumpung Senin kita vote yuuuu...


Hadiah juga boleh 😚


Makasih yaaa 😘