
Happy reading ❤️
Derit suara pintu yang dibuka secara perlahan pun terdengar. "Maaf aku pulang terlambat," ucap Alex yang kini melangkahkan kakinya memasuki kamar sederhana milik istrinya.
Nadia melihatnya tak percaya, bibirnya sedikit terbuka namun ia tak sanggup untuk berucap kata. Walaupun jarak Jakarta-Bogor tidak terlalu jauh tapi dengan kondisi lalu lintas yang cukup padat dan juga kemacetan yang menjadi hal biasa setiap harinya, cukup membuat tubuh menjadi lelah. "Kamu pulang ?" Gumam Nadia pelan, tapi Alex masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Tentu saja aku pulang," jawab Alex sembari membuka kancing kemeja bagian tangannya satu persatu secara bergiliran namun matanya terus menatapi wajah cantik istrinya yang polos tanpa polesan make up itu.
"Kamu adalah tempat aku pulang," lanjut Alex lagi sembari tersenyum manis pada istrinya.
"Ta-tapi tempat tidur disini kecil, tidak seperti milikmu. Kamu gak akan leluasa bergerak," tutur Nadia sembari mengusap halus permukaan ranjangnya seolah menunjukkan pada Alex apa yang baru saja ia ucapkan.
Alex memperhatikan ranjang itu, ranjang yang jika ditiduri 2 orang akan langsung terasa penuh apalagi dengan tubuh Alex yang tinggi tegap seperti ini.
Tapi bukankah itu lebih baik ? Dengan begitu ia bisa menempel pada Nadia. Sudah terbayang dalam kepala Alex apa yang akan ia lakukan jika tidur seranjang dengan istrinya itu.
Alex akan memeluknya erat dan menghirup rakus aroma tubuh sang istri yang kini menjadi candunya. Ia juga akan memberikan banyak ciuman si puncak kepala Nadia dan mungkin juga akan mencuri sebuah kecupan di bibirnya.
Jika Nadia tidak menolak ( dan itulah yang sebenarnya Alex harapkan saat ini) ia akan memagut bibir Nadia dengan lembut untuk menyatakan rasa rindunya.
Sungguh ia merindukan Nadia dan segala sesuatu tentangnya. Alex juga tak munafik, ia sangat merindukan tubuhnya melebur sempurna dengan sang istri. Dapat Alex ingat dengan jelas bagaimana nikmatnya ketika ketegangannya melesak masuk me dalam kehangatan tubuh Nadia yang lembab dan basah. Seketika inti tubuh Alex berkedut-kedut tatkala ia membayangkan itu semua, ia pun menatapi pangkal pahanya sendiri dengan pandangan mata sendu seolah ingin mengatakan pada anacondanya untuk bersabar karena ia belum bisa melakukan aksinya.
"Alex ?" Tanya Nadia pelan sembari melihat wajah Alex yang tertunduk lesu.
Mendengar namanya dipanggil, Alex pun segera mengangkat wajahnya dan tersenyum canggung. "A-aku lupa bawa celana pendek untuk ganti. Tadi pulang kantor langsung menuju kemari karena ingin segera melihat keadaanmu," jawab Alex beralasan tapi memang benar itulah yang terjadi.
"Oh, kamu bisa pinjam baju ayah atau Dimas adikku," sahut Nadia dan ia pun berdiri untuk segera mengambilkan baju ganti untuk suaminya.
"Mmm, baju Dimas aja deh. Aku rasa badan adikmu tak begitu jauh bedanya sama aku,"
Nadia mengangguk paham, lalu ia pun pergi keluar dari kamar untuk mencari adiknya.
Lama berselang, Nadia pun kembali dengan satu stel celana pendek berwarna abu-abu muda dan kaos putih polos yang akan Alex gunakan untuk tidur.
Alex pun berdiri dan menyambutnya, ia mengambil satu stel pakaian itu dari genggaman tangan Nadia dan ia pun melucuti pakaiannya sendiri.
Nadia menundukkan kepala, menjaga matanya untuk tak melihat Alex melakukan hal itu. "Kamu udah lihat aku telanj*ng berkali-kali, dan sekarang malu melihatku berganti baju ?" Tanya Alex sambil terkekeh geli.
"Bu-bukan begitu," jawab Nadia terbata. Pipinya merona merah seketika.
Alex meletakkan pakaian kerjanya di sebuah kursi yang terdapat di kamar itu. Semua nampak sederhana, hanya ada ranjang, lemari 2 pintu berukuran tak terlalu besar, meja untuk Nadia bekerja dan sebuah kursi kayu.
Diatas meja tergantung rak yang di dalamnya terdapat banyak photo Nadia dan ke 5 sahabatnya, ada photo Bimo juga tentu saja. Alex yang melihat itu merasakan cemburu tapi ia berusaha untuk mengerti karena lelaki itu memang berteman dekat dengan istrinya.
"Mau makan ?" Tanya Nadia pada Alex yang sibuk memperhatikan koleksi photonya.
"Mmm, tak usah. Aku sudah makan dengan temanku tadi," jawab Alex.
"Oooh," sahut Nadia. Ingin rasanya Nadia bertanya dengan siapa Alex pergi makan malam karena biasanya suaminya itu selalu makan di rumah tapi ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Udah ngantuk ?" Tanya Alex seraya membalikkan tubuhnya hingga kini ia menghadap sang istri.
Walaupun ia mengenakan baju adik Nadia yang ukurannya cukup besar namun pada kenyataannya, otot-otot tubuhnya yang liat dan kekar tak berlebihan itu tercetak sempurna seolah meronta untuk di bebaskan hingga membuat Nadia menjadi salah tingkah.
Alex yang melihat itu sungguh merasa gemas, ia pun menyusul sang isteri naik ke atas ranjang dan langsung mendekapnya erat.
Apa yang ia lakukan membuat tubuh Nadia menegang dan melakukan penolakan dengan melepaskan belitan tangan Alex pelan. "Ma-maaf," lirih Nadia dengan bibir bergetar seolah ketakutan. Ia tak sanggup mendapatkan sebuah pelukan atau sentuhan padahal Alex adalah suaminya. Bayangan kejadian beberapa hari lalu dimana seorang lelaki asing hendak melakukan tindakan jahat padanya masih membuat Nadia trauma.
Meskipun hati Alex terasa ngilu karena penolakan istrinya namun ia berusaha untuk mengerti, Nadia pasti masih sangat trauma dengan apa yang dilaluinya beberapa hari ke belakang di mana seorang pria asing mencoba untuk tidur secara paksa dengannya.
"Maafin aku yang tak bisa menahan diri untuk memelukmu," lanjut Alex seraya merapikan rambut Nadia yang menghalangi dahi dan Nadia pun menganggukkan kepalanya pelan.
Hening dan juga rasa canggung kini menyelimuti keduanya. "Tidurlah, aku akan menemanimu tidur tanpa melakukan apapun," ucap Alex pada akhirnya memecahkan kesunyian diantara keduanya.
"Selamat malam," tutur Nadia dan ia pun membalikkan tubuhnya membelakangi Alex yang terus memandangi punggungnya tanpa henti.
Alex merasa sedih, kecewa, marah dengan apa yang terjadi pada Nadia hingga istrinya itu mengalami trauma seperti sekarang ini. Ia marah pada dirinya sendiri karena telah merasa gagal dalam menjaga wanita yang sangat dicintainya.
***
Suara jarum jam yang bergerak di setiap detiknya terdengar begitu jelas. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi, perut Nadia bergerak pelan kembang kempis karena nafasnya yang teratur. Ia sudah tertidur pulas.
Sedangkan Alex, ia tak bisa memejamkan matanya untuk tidur meskipun hanya sesaat. Bukan karena tempat tidurnya yang pas-pasan, bukan karena ini pertama kali ia menginap di rumah mertuanya, bukan juga karena ia menginginkan untuk melakukan kegiatan panas bersama sang istri. Bukan karena itu semua.
Alex menatap kosong langit-langit diatasnya dengan kedua tangan sebagai bantalan tidurnya. Ia memikirkan harus melakukan apa agar istrinya bisa segera sembuh seperti sedia kala. Memang waktu yang akan menyembuhkan semuanya tapi Alex pun tak tega melihatnya seperti itu.
Seperti yang Alex janjikan pada sang mama namun lebih tepatnya ia melakukan itu untuk dirinya sendiri juga sang istri, Alex mulai menyelesaikan masalahnya satu persatu.
Tadi malam sebelum pulang, Alex mengundang bos Nadia dan juga managernya untuk makan malam bersama. Alex yang ditemani pengacaranya menjelaskan pada mereka tentang status dirinya yang sebenarnya yaitu sebagai suami Nadia untuk beberapa bulan terakhir ini.
Alex menceritakan semua, kapan ia menikah dan mengapa menutupinya. Ia bersyukur karena kedua orang atasan Nadia mau mengerti dan tak menilai buruk istrinya itu sebagai penyusup dikantornya. Alex nyatakan dengan jelas jika kerjasama yang dilakukan keduanya murni karena bisnis semata.
Ada yang membuat Alex terkejut luar biasa yaitu adanya gosip buruk yang tersebar di kantor istrinya. Rumor yang mengatakan jika Nadia rela melakukan apapun untuk karirnya dan Alex tak terima itu, hingga ia meminta untuk melakukan penyelidikan atas berita tersebut dan ia tak akan segan untuk menuntut siapapun yang telah menyakiti Nadia karena berita tak benar itu.
Kini Alex akhirnya mengerti mengapa sikap Nadia yang akhir-akhir ini berubah sendu dan lebih pendiam dari biasanya. Ternyata ia memikul beban yang cukup banyak hingga berpengaruh pada kehamilannya.
Mengenai Nicky, setelah mendapatkan perawatan terbaik selama 4 hari di rumah sakit akhirnya lelaki itu bisa membuka mulutnya walaupun masih dengan susah payah.
Ia menceritakan semuanya, kenapa dan bagaimana ia bisa melakukan hal jahat itu pada Nadia. Beberapa kali nama wanita yang sangat Alex kenali terucap dari mulut lelaki yang masih berhiaskan banyak luka lebam dan sobek itu. Ia menceritakan bagaimana Lola yang manipulatif memperalatnya untuk menghancurkan hubungan Alex dan Nadia.
Alex yang mendengar itu, merasa geram seketika. Beberapa kali orang menahan tubuh Alex agar tidak kembali memukulinya karena Alex masih saja dirundung rasa marah pada lelaki itu.
Tak hanya Alex, lelaki itu pun sama marahnya pada Lola. Beberapa kali ia memaki Lola dengan sebutan kata-kata kasar karena kini gara-gara apa yang Lola lakukan padanya karir Nicky hancur seketika.
"Kalau gue hancur, si jal*ng itu juga harus hancur," desis Nicky dengan matanya yang berkilat marah.
Begitu juga Alex, ia menginginkan wanita jahat dan tak tahu malu itu untuk mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan muka temboknya Lola masih saja memberikan perhatian dan itu membuat Alex jijik.
"Kasih gue kesempatan buat ketemu jal*ng itu dan memberinya pelajaran," desis Nicky memohon pada Alex secara diam-diam. Dan permintaan itu masih Alex pertimbangkan karena akan menyangkut dengan hukum.
Alex mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Nadia yang tidur memunggunginya. "Gara-gara aku, kamu jadi menderita begini," tutur Alex pelan seraya mengusap lembut lengan Nadia.
Kenyataan bahwa Lola lah yang mencelakai Nadia membuat Alex takut.
Ia takut Nadia menyalahkannya dan membuat istrinya itu semakin menjauhinya.
"Maafin aku, sayang...," Lirih Alex hampir tak terdengar.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️
Mumpung Senin vote yu 🥰 buat yang ikhlas aja ya...
Hadiah juga boleh 😍 terimakasih 🙏