
"Nad, Nadia !!" Teriak Alex penuh semangat ketika ia baru saja memasuki unit apartemennya. Nadia yang sedang berada di dapur langsung berjalan ke arah Alex dengan wajah kebingungan.
"Awww," pekik Nadia. Tiba-tiba tubuhnya berada di udara karena Alex mengangkatnya tinggi-tinggi dan memutarnya.
"OMG... Alex aku pusing," protes Nadia dan Alex pun menurunkannya.
Alex membiarkan Nadia untuk berdiri tegak kemudian ia pun menundukkan wajahnya "terima 'cup' kasih 'cup' kamu 'cup' memang 'cup' luar 'cup' biasa 'cup'."
Alex mengucapkan terimakasih pada istrinya itu seraya mencium di kedua pipinya secara bergantian di setiap kata yang ia ucapkan dan dengan pelan tak terburu-buru membuat Nadia limbung bak orang linglung, dadanya berdebar kencang dan darahnya berdesir di seluruh tubuh, lututnya terasa lemas dan ia tak mampu untuk berucap kata.
"Nad ?" Tanya Alex memastikan istrinya itu masih dalam keadaan sadar.
"Ada apa ?" Nadia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menggapai kesadarannya.
"Hasil perhitungan yang kamu berikan kemarin memberikan hasil yang sempurna. Klien aku sangat puas dengan hasilnya. Terimakasih... Kamu memang yang terbaik."
"Oh ya ? Ka.. kalau begitu aku ikut seneng dengernya," sahut Nadia terbata. Saat ini dadanya masih berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Ayo ganti baju, aku traktir makan di luar. Pakai jaket yang tebal kita pakai motor karena jalanan agak macet. Oke ?" Alex pun berlalu menuju kamarnya untuk berganti baju meninggalkan Nadia yang masih merasakan gemetar di seluruh tubuhnya. Ia segera mendudukkan dirinya di atas sofa ketika Alex pergi.
"Ya Tuhan... Hai hati... Tenanglah... Kita harus kerja sama... Jangan berdebar seperti ini," ucap Nadia pada dirinya sendiri. Ia mengelus dadanya berulangkali karena debaran yang tak juga kembali normal.
"Nadia cepetan !" Teriak Alex dari arah kamar.
Nadia pun segera berlari ke kamarnya dan berdiri di depan cermin untuk bersiap. Bukannya mulai memoles make up yang ia lakukan adalah meraba kedua pipinya yang baru saja mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari lelaki yang telah merebut hatinya.
"Apakah aku lagi bermimpi ? Ya Tuhan... Apakah ini sebuah tanda jika aku boleh jatuh cinta pada Alex ?" Batin Nadia dalam hatinya.
Terdengar ketukan di pintu dan suara Alex setelahnya. "Nad, aku tunggu di bawah ya, jangan lupa pakai jaket."
"I... Iya... A.. aku turun ke lantai bawah 10 menit lagi." Jawab Nadia terbata.
"Oke," sahut Alex singkat dan setelah itu tak terdengar lagi suaranya.
Nadia segara berganti baju dan membuka gelungan rambutnya. Dengan ragu memoleskan bedak di pipinya. Ia tak mau jejak ciuman Alex terhapus begitu saja. Tapi bagaimana lagi, terpaksa harus ia lakukan karena tak mungkin pergi dengan wajah glowing alami karena kulit berminyak.
Ia membayangkan bagaimana Alex mengecup pipinya secara bergantian dengan lembut dan perlahan. Sedangkan kedua tangan Alex menahan pundaknya agar tak berontak.
"Yang tadi itu nyata kan ?" Tanya Nadia pada dirinya sendiri. Tak ingin hanyut dalam pikirannya ia pun segera merapikan riasannya dengan merapikan alis, mengaplikasikan eyeliner hitam serta maskara dan lipcream mate berwarna pink natural. Tak lupa juga menguncir kuda rambutnya yang panjang. Ia ingin Alex melihatnya tampil cantik malam ini.
Di lantai basement di mana motor besarnya tersimpan Alex duduk diatasnya. Ia tengah memikirkan apa yang baru saja terjadi, bukan tanpa sadar ia memberikan ciuman bertubi-tubi itu. Niatnya hanya memberikan 2 ciuman namun ternyata ia menikmatinya. Nadia memang se- menggemaskan itu. Wangi tubuhnya yang khas juga membuat Alex tak bisa berhenti. Jika saja Nadia bereaksi tak diam mematung, dirinya yakin saat ini istrinya itu akan berada di dalam kuasa tubuhnya dan mendesahkan namanya seperti yang selalu Alex bayangkan selama beberapa bulan terakhir ini.
Namun Nadia diam membeku tak berekspresi, membuat Alex sadar jika istrinya terlalu terkejut dengan apa yang ia lakukan padanya.
Alex tersenyum samar mentertawakan kebodohannya sendiri
Nadia berjalan keluar dari lift menuju sang suami yang sedang menunggunya dan sumpah demi apapun kenapa Alex terlihat lebih tampan dari biasanya.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Nadia.
Alex yang sibuk dengan pikirannya pun kembali ke alam sadarnya. "Its ok, ayo naik." Ajak Alex menepuk jok belakangnya. Nadia pun mengenakan helm dan lagi-lagi Alex bersikap manis dengan membantunya.
Setelah Nadia naik dengan sempurna, Alex pun mulai menjalankan motornya keluar dari gedung apartemen menuju jalan raya.
"Pegangan," titah Alex sembari menolehkan kepalanya dan Nadia menurutinya dengan memeluk erat pinggang suaminya itu.
Di jalan yang lenggang, bila Alex tak sedang dalam kecepatan yang tinggi ia menyetir dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain memegang tangan Nadia yang melingkar di pinggangnya.
Hal sederhana yang membuat hati Nadia kembali berdebar lebih kencang.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya mereka sampai di tempat makan pavorit keduanya dan duduk di tempat biasanya. "Kamu boleh pesan apapun yang kamu mau," ucap Alex.
"Tentu saja aku akan pesan yang banyak," sahut Nadia dengan wajah jahilnya.
Alex pun menceritakan bagaimana proyeknya berjalan dengan baik dan hasil perhitungan Nadia yang ia gunakan menghasilkan sesuatu sempurna padahal perusahaan pun memiliki tenaga ahlinya namun Alex sebagai seseorang yang paham pun merasa ragu hingga meminta bantuan istrinya.
"Senang kalau ternyata aku bisa membantu," ucap Nadia sungguh-sungguh.
"Setelah ini ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu, ayo habiskan makananmu," sahut Alex masih dengan semangat yang menggebu.
Tanpa mereka sadari, keduanya merasa senang juga nyaman terhadap perasaan masing-masing. Baik Alex maupun Nadia sangat menikmati perjalanan yang merekatkan hati keduanya saat ini.
Tibalah mereka di sebuah kawasan ruko yang telah ditandai dengan keterangan sold yang artinya terjual. Ruko itu terletak di tempat yang cukup strategis.
"Ngapain kita kesini ?" Tanya Nadia terheran.
"Nad, aku pernah cerita pengen punya kantor sendiri kan ? Tadaaa..." Alex menunjuk tiga ruko yang berjejer dan berlantai 3 tersebut.
"Dari keuntungan yang aku dapat, aku bisa membelinya mungkin tak akan menjadi gedung mewah seperti pencakar langit. Tapi aku akan merenovasinya menjadi 5 atau 6 lantai dan akhirnya aku punya kantor aku sendiri tanpa harus menyewa lagi," jelas Alex penuh semangat.
Ia pun menceritakan mimpinya yang lain membuka cabang perusahaan di berbagai daerah yang lain dan melebarkan sayap bisnisnya. Nadia mendengarkan segala mimpi dan harapan Alex dengan tatapan takjub dan senyum bahagia.
"Ketika kantor ini diresmikan, kita berdua yang akan memotong pitanya. Karena kamu pun ikut andil di dalamnya," ucap Alex dan itu membuat Nadia tersentak.
"Hah ?"
"Ya, Nadia. Kita berdua yang akan melakukan itu dan kedua orang tua kita akan melihat keberhasilan kita dengan penuh rasa bahagia," ucap Alex lagi dengan penuh semangat. Nadia menatap Alex tak percaya
Mata Nadia mengembun, tapi segera ia menghapusnya. Dalam hatinya yang paling dalam dirinya semakin yakin untuk memberikan Alex sebuah kejutan di ulang tahunnya dan tak hanya itu, ia pun akan menyatakan perasaannya.
***
"Nad, Nadia kamu lagi sibuk ?" Tanya pak Adi sang manager. Nadia pun segera menggerakkan mouse di tangannya agar layar laptopnya tak menunjukkan hal sebenarnya yang ia lihat saat ini yaitu menonton cara memasak steak dengan mudah, bahkan Nadia mencatatnya dalam selembar kertas.
"Ah nggak pak, saya lagi periksa berkas," jawab Nadia dengan senyuman bersalahnya.
"Bisa ke ruangan aku sebentar ?"
"Baik pak," Nadia pun berdiri dan menuruti. Terlalu asik dengan resep masak hingga ia tak sadar atasannya itu ternyata sudah menghubungi ponselnya berkali-kali.
"Mati aku," sesal Nadia.
"Duduk Nad !" Nadia pun menurutinya.
"Kamu tahu ? Sebuah perusahaan yang sedang naik daun akan melelang beberapa proyek pekerjaan pada umum namun letaknya ada yang beberapa di luar kota. Dan perusahaan kita akan memberikan bonus yang tinggi serta kenaikan jabatan bagi siapa yang bisa memenangkan lelang tersebut karena perusahaan ini terkenal sangat pemilih dan perfeksionis padahal yang punya masih muda loh." Jelas pak Adi panjang lebar.
"Lalu kenapa bapak mengatakan semua ini pada saya ?" Tanya Nadia takut-takut.
"Karena kamu sangat berbakat dan memiliki potensi yang besar, Nadia. Sebelum Bagas yang kerja satu bagian sama kamu, saya lebih dulu menawarkan nya pada kamu karena tahu kemampuan yang kamu miliki. Saya yakin kamu bisa jadi pilot projek yang sempurna." Jawab pak Adi tanpa ragu.
"Apa reward nya pak ?" Tanya Nadia.
"Uang tunai dengan jumlah besar kamu bisa pergi ibadah ke tanah suci serta kenaikan pangkat, kalau yang ini kamu harus bersedia ditempatkan di mana saja. Beruntung kamu masih single hingga tak ada beban untuk berpindah." Nadia tersenyum salah tingkah dibuatnya karena tak ada seorangpun yang tahu ia sudah menikah kecuali Meta sahabatnya.
"Ma... Maaf pak... kayanya saya gak akan sanggup," Nadia menolak penawaran itu tanpa berpikir panjang karena beberapa hari ke depan ia akan menyatakan perasaan cintanya pada Alex dan tak ingin terlibat dalam proyek besar ini.
"Apa kamu gak mau memikirkannya dulu ?" Tanya pak Adi memastikan.
Nadia menganggukan kepalanya dengan mantap, ia dan Alex telah mempunyai mimpi yang lain.
***
'Tak tak tak' suara benturan sepatu heels terdengar cukup nyaring. Seorang wanita dengan menggunakan mantel dan kacamata hitam baru saja menaiki pesawat terbang yang akan membawanya dari San Fransisco menuju Indonesia. Ia menolehkan kepalanya berkali-kali takut orang lain mengikutinya. Hatinya terasa tenang ketika ia adalah orang terakhir yang menaiki pesawat.
To be continued ❤️
Maaciw udah baca
Jangan lupa like komen
Mumpung Senin vote dan hadiah yuuu biar aku makin semangat nulisnya.
Buat yang ikhlas saja yaaa...
Maaciw loooh 💗💗💗