
Happy reading ❤️
"Aku jatuh cinta sama kamu, ku mohon jadilah kekasihku... aku akan menjadikanmu ratu, aku tak akan membuatmu patah hati seperti Alex," Edo mendekatkan dirinya ketika mengatakan itu. Bahkan ia membawa jemari Nadia dalam genggamannya.
"E.. Edo ?" Nadia mengerutkan keningnya karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Aku serius dengan apa yang aku ucapkan. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Kamu ingat ? Waktu itu kamu berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemen menunggu Alex pulang dan aku mengira bahwa kamu adalah wanita tak baik yang hendak menemui kliennya. Sejak saat itu aku selalu memikirkanmu." Jelas Edo tampak sangat serius saat mengatakannya.
"Aku patah hati ketika tahu kamu sudah menikah tapi perasaan itu kembali lagi setelah tahu jika suamimu ternyata belum move on dari masa lalunya, meskipun begitu aku tak punya keberanian untuk mendekati mu. Tapi sekarang... Melihatmu sedih seperti ini membuat ku yakin untuk maju dan mendapatkan mu." lanjut Edo.
Nadia dengarkan dengan seksama apa yang Edo utarakan, ia balas pandangi wajah yang sedang menatapnya itu. "Mungkin yang kamu rasakan padaku hanya sebatas rasa simpati bukan jatuh cinta," sanggah Nadia terhadap perasaan yang Edo ungkapkan.
"Jika ini hanya sebatas rasa simpati, kenapa aku selalu teringat padamu ? Kenapa aku merasa begitu kehilangan ketika tak melihat kehadiranmu di apartemen ini ? Dan ikut merasakan sakit hati ketika kamu bersedih seperti ini" Tanya Edo beruntun, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya dan tatapan matanya kian dalam saja.
Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menelan paksa ludahnya, "Maaf Edo, aku tak....,"
"Jangan jawab sekarang, pikirkan lagi... Kamu bilang akan pindah ke Bandung bukan ? Berarti kamu lebih memilih pekerjaanmu daripada Alex." Potong Edo cepat.
"Tapi bukan berarti..,"
"Biarkan aku jadi pengganti Alex, aku akan mencintaimu lebih dari yang dia lakukan. Jika kamu mau, aku akan pindah ke Bandung untuk bisa bersamamu," sahut Edo. Tak sekalipun ia memberikan Nadia kesempatan untuk berbicara.
"Edo...," Lirih Nadia dengan mata berkaca-kaca.
Edo seorang laki-laki yang baik, tapi mengapa semua terasa tak benar bagi Nadia.
"Jangan jawab sekarang, aku ingin kamu memikirkannya dulu dan beri aku jawaban ketika kamu sudah merasa yakin. Aku akan menunggu jawabanmu selama apapun itu," ucap Edo tak terbantahkan.
Merasa begitu sulit untuk berbicara dengan Edo akhirnya Nadia pun menurutinya."Baiklah akan aku pikirkan," jawab Nadia. Ia berusaha menenangkan lelaki yang terlihat begitu gelisah di hadapannya.
***
Nadia berjalan gontai menuju kamar apartemennya. Tak lama setelah pernyataan cinta Edo, ia memutuskan untuk pergi. Belum juga masalahnya selesai, kini masalah baru muncul lagi.
Pernyataan cinta Edo bukanlah sesuatu yang pernah Nadia bayangkan. Edo memang lelaki yang baik, tampan juga mapan tapi sayangnya hati Nadia tak pernah terpaut padanya.
Nadia masukkan nomor acak kunci apartemen yang merupakan tanggal pernikahannya dengan Alex. Ia pun tersenyum samar karenanya.
Pintu pun terbuka, Nadia pun melangkahkan kakinya memasuki apartemen yang sudah 2 Minggu ia tinggalkan. Menyimpan sepatutnya di atas rak dan berjalan menuju dapur.
Langkahnya terhenti ketika melihat lelaki yang beberapa malam ini tidak pulang ke sisinya, lelaki yang selalu memenuhi kepala juga hatinya, lelaki yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar menggila seperti sekarang ini, lelaki yang hanya dengan melihatnya saja bergetar seluruh dunia Nadia. Siapa lagi jika bukan Alex, suaminya.
Alex berdiri masih dengan pakaian kerjanya. Kain kemeja putihnya ia gulung sebatas siku, dan di tangannya terdapat beberapa lembar kertas yang sedang ia baca dengan kepala tertunduk. Terlalu fokus pada bacaannya membuat Alex tak sadar akan kehadiran istrinya.
Nadia tertegun dan memperhatikan. Ia menarik nafas dalam, kemudian tersenyum samar. "Mana mungkin aku bisa menerima pernyataan cinta dari laki-laki lain jika seluruh hati dan dunia ku telah penuh oleh dirimu seorang," batin Nadia dalam hatinya dan matanya mengembun ketika ia memikirkan itu semua.
"Kamu jahat, Alex. Kamu ambil semua rasa cintaku tanpa tersisa," lirih Nadia sembari mengerjapkan matanya berusaha menghilangkan bulir air bening yang hampir terjatuh.
"A-Alex...," Sapa Nadia dengan suaranya yang parau menahan tangisnya.
Alex langsung menolehkan kepalanya dan menatap tak percaya pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
"Sayang....," Ucap Alex seraya berjalan mendekati.
"Kenapa gak bilang mau pulang ? Kan aku bisa menjemputmu," lanjut Alex. Ia langsung meraih pinggang Nadia untuk padu dengan tubuhnya dan tangan yang lain menahan punggung sang istri agar kian rekat tubuh mereka.
"A-aku tahu kamu sangat sibuk," jawab Nadia sambil menelan ludahnya paksa. Dekapan tangan Alex yang begitu posesif membuatnya sulit untuk bernafas. Tubuhnya melemah hingga ia harus meremas kain kemeja Alex untuk berpegangan.
"Maafkan aku, Sayang," Ia menundukkan kepalanya, kini dahi keduanya saling menempel satu sama lain dan Alex menilik intens wajah Nadia yang telah memerah, menahan panas dan buram di matanya.
"I miss you..." Lirih Alex dengan suaranya yang berat, ia memejamkan matanya dan menyentuhkan ujung hidungnya pelan. "So much....," Lanjutnya lagi masih dengan mata terpejam dan suaranya yang lirih seolah menikmati pertemuan ini.
Nafasnya yang beraroma mint hangat menerpa wajah Nadia, debaran jantungnya yang lebih cepat juga bisa Nadia rasakan melalui tangannya yang ia letakkan di atas dada Alex.
"A-aku juga, aku sangat merindukanmu," sahut Nadia. Bibirnya bergetar ketika mengatakan kata-kata rindu itu, karena memang itulah yang ia rasakan saat ini.
Keduanya memejamkan mata, menikmati ciuman penuh rasa rindu yang membuncah. Nadia eratkan pegangannya karena tubuhnya yang limbung dan melemah bagaikan jelly, sedangkan Alex rengkuh pinggang Nadia agar kian padu tubuh mereka.
"I miss you, Baby. Miss you so much," lirih Alex tepat di atas bibir Nadia yang basah karena ulahnya.
"Maafkan aku tak pulang padamu karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, rencananya malam ini aku mau ke Bogor tapi pulang dulu ke apartemen untuk berganti baju," ucap Alex seolah menjelaskan mengapa ia sudah berada di apartemennya.
"Gak pa-pa, aku ngerti," sahut Nadia. Ia tersenyum pada Alex. Menunjukkan jika ia tak merasa marah ataupun keberatan
"Kok gak bilang dulu mau pulang ?" Tanya Alex tanpa melepaskan dekapannya.
"Ada yang harus aku selesaikan di kantor," jawab Nadia beralasan.
"Kamu mau mulai kerja lagi ?" Tanya Alex dengan dahi berkerut tak percaya.
"Hu'um, hari Senin aku mulai masuk kantor. Sudah terlalu lama cuti, tak enak dengan yang lain,"
"Kamu yakin ?" Tanya Alex, ia tak bisa menutupi rasa khawatirnya.
"Iya... Aku yakin, aku baik-baik saja," jawab Nadia.
"Sebelum masuk kerja, aku ingin menghabiskan waktuku denganmu," lanjut Nadia. Ia tatap mata hitam Alex dengan dalam.
Alex balas pandangi wajah Nadia yang sendu. Ia tersenyum karena ini kali pertama Nadia mengatakan secara gamblang jika ia ingin menghabiskan waktu bersamanya. Tentu saja Alex merasa bahagia mendengarnya.
"Maka seluruh waktuku adalah milikmu," sahut Alex. "Apa yang ingin kamu lakukan dalam 2 hari ini ?"
Nadia yang mendengar itu mengulum senyumnya, "aku ingin berenang di lantai bawah, makan di tempat biasa dan pergi jalan-jalan menggunakan motormu," jawab Nadia. Ia ingin melakukan hal-hal yang dulu sering mereka berdua lakukan.
"Baiklah, apa lagi ?" Tanya Alex.
"Aku ingin kamu pesankan aku makan siang beserta satu kantung besar kerupuk," jawab Nadia sembari membayangkan apa saja yang pernah Alex lakukan padanya dulu
"Seperti pertama kali aku mengirimkan makan siang ?" Tanya Alex terheran dan Nadia menganggukkan kepala.
"Baiklah, lalu ingin apa lagi ?" Alex pun menyetujuinya.
"Aku ingin nonton film di bioskop, dan ketika pulang nonton aku harap hujan turun,"
"Kenapa ingin hujan turun ?" Alex berkerut alis tak paham.
"Karena aku ingin kamu meletakkan tanganmu di atas kepalaku lagi," ucap Nadia sembari memperagakan apa yang ia inginkan yaitu meletakkan telapak tangan Alex yang besar di atas kepalanya.
"Seperti ini ?" Tanya Alex lagi sembari mengacak puncak kepala Nadia dengan lembut dan Nadia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ada-ada aja," sahut Alex sambil tertawa.
"Kalau aku... Aku ingin memelukmu semalaman ," ucap Alex. Ia memasukkan anak rambut Nadia kedalam daun telinganya ketika mengatakan itu.
"Ta-tapi... Ka-kata dokter....," Potong Nadia yang kini merasa cemas. Ia takut Alex meminta haknya sebagai suami karena ia tak mau berpisah dengan Alex dalam kemungkinan hamil lagi.
"Hanya memelukmu saja, jangan khawatir aku tak akan memintanya sekarang," jawab Alex sembari mengedipkan sebelah matanya, mengerti jika Nadia takut ia meminta haknya.
"Kalau begitu, peluk aku erat dalam 3 malam ini,"
"Kenapa hanya 3 malam saja ? Aku akan memelukmu erat di setiap malam," protes Alex.
Nadia tersenyum tanpa menanggapi, sekuat tenaga ia tahan rasa ngilu di hati. Waktunya bersama Alex tak lama lagi. Senin pagi ia akan pergi dari kehidupan lelaki itu untuk selamanya.
Sebelum pergi ia ingin membuat kenangan indah untuk terakhir kalinya hingga mereka bisa berpisah dengan baik dan damai walaupun Nadia tahu itu pasti akan sangat berat baginya, karena berpisah dengan lelaki yang paling dicintainya pasti akan sangat menyakitkan namun harus ia lakukan.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘