In Love

In Love
Terlambat Datang



Happy reading ❤️


"Hah...hah....hah...," Nafas Nadia menderu terengah-engah. Rambutnya yang panjang menjuntai menutupi wajahnya yang tertunduk sedangkan di belakang sana Alex terus menghujamkan ketegangannya dengan memejamkan mata dan sesekali menampar halus serta meremas gemas bok*ng istrinya yang menelungkupkan badan dan bertumpu pada kedua lutut serta tangannya.


"Ahhh f*ck !" Racau Alex karena cengkraman inti tubuh Nadia yang membuatnya tergila-gila.


Tak tahan lagi, ia pun menarik rambut panjang Nadia hingga istrinya itu menengadah ke atas.


Alex condongkan tubuhnya dan berusaha meraih bibir Nadia dan mengulumnya lembut ketika ia mendapatkannya tanpa menghentikan hujamannya.


"Alexhhh, a.. aku...," Lirih Nadia hampir tak terdengar.


"A... Aku juga sayanghh," bisik Alex dan ia pun menghentakkan pinggulnya dengan keras dan mendorongnya dalam ketika pelepasannya tiba.


Nadia tak tahan lagi, dengan lututnya yang gemetar ia ambruk di atas ranjang dengan tubuh Alex yang menindihnya.


"Hah..hah...hah..," keduanya saling berebut udara dengan nafas tersengal.


"You're amazing," (kamu sangat luar biasa). Kata Alex sembari mengatur nafasnya dan dengan perlahan ia pun memisahkan diri.


"Peluk aku," sahut Nadia yang kini tidur meringkuk menghadap suaminya. Ia menahan lengan Alex yang hendak turun dari ranjang.


Alex yang mendengar itu mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri. Ia mengabulkan yang Nadia inginkan dengan memeluk tubuhnya yang masih polos dan basah karena keringat.


"Aku hanya mau ke kamar mandi," ucap Alex seraya mencium puncak kepala Nadia dengan gemas.


"5 menit, peluk aku 5 menit saja," jawab Nadia sembari memejamkan mata menikmati pelukan suaminya. Ia menghirup dalam aroma tubuh Alex yang begitu khas, jemarinya memberikan rabaan halus di atas perut Alex yang liat. Dengan begitu ia merasa memiliki Alex meskipun itu hanya tubuhnya, bukan hatinya apalagi rasa cintanya.


Seiring kebersamaan mereka, cinta Nadia semakin dalam walaupun ia tak tahu apa yang Alex rasakan dalam hatinya. Namun Alex pulang kepadanya pun cukup membuat Nadia bahagia saat ini.


"Sudah, kamu boleh pergi," kata Nadia seraya menguraikan pelukannya.


"What ? Kamu cuma pengen meluk doang ?" Tanya Alex gemas.


"Hu'um, emang kamu kira apa ?" Nadia balik bertanya.


"Aku kira kamu mau minta nambah," jawab Alex terkekeh dan Nadia pun mencubitnya gemas.


"Tunggu, aku siapkan air buat mandi kita,"


"Kita ?" Tanya Nadia berkerut alis.


"Iya kita," jawab Alex. Ia pun mencium bibir Nadia mesra sebelum benar-benar pergi meninggalkan istrinya di atas ranjang mereka.


Nadia menatap tubuh Alex yang masih polos, tato di punggungnya mengingatkan bagaimana ia pertama kali dibawa ke apartemen ini. Ia dulu pernah merasakan takut akan tato itu karena lelaki seperti Alex bukanlah tipenya.


Tapi lihatlah... Kini Nadia sangat menyukainya. Bahkan ingin terus melihatnya lagi dan lagi.


Kini Nadia tidur terlentang dengan kedua tangan sebagai bantalannya. Tubuhnya yang polos ia tutupi dengan bedcover. Ia menatap kosong langit-langit diatasnya.


Hatinya selalu merasa tak puas, di dalam dadanya selalu menginginkan lebih setiap kali mereka selesai berc*nta. Nadia ingin memiliki hati Alex juga, bukan hanya tubuhnya saja. Terlalu larut dalam pikirannya hingga tak terasa air bening jatuh di sudut matanya.


"Ayo, airnya sudah siap," kata Alex kini sudah berada di dekatnya lagi.


"Oohh oke," sahut Nadia seraya mengusap ujung matanya.


Alex yang melihat itu segera mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. "Hei, what's wrong ?" ( Ada apa ? ) Tanya Alex sedikit cemas.


"Mmm nothing," ( tak ada apa-apa )  jawab Nadia seraya mengusap pipinya yang basah.


"Apa aku telah menyakiti kamu ? Apa hentakanku tadi terlalu kencang ?" Tanya  Alex lagi.


Nadia tersenyum samar, bagaimana bisa Alex dikatakan menyakitinya ? Hentakannya memang kuat dan penuh tenaga tapi ia pun sangat menikmatinya. Beberapa kali Nadia melenguhkan nama Alex di setiap nikmat yang ia rasakan.


"Sudah aku bilang gak apa-apa, aku kangen ayah dan ibu saja," jawab Nadia beralasan.


"Mau ke Bogor ?" Tanya Alex lembut, namun Nadia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Terus maunya apa ?" Tanya Alex seraya merapikan rambut Nadia yang berada di dahi.


"Kamu," jawab Nadia dengan menatap dalam mata Alex yang hitam.


Alex tersenyum penuh maksud dan tanpa aba-aba ia pun memangku tubuh Nadia yang sama polosnya menuju kamar mandi.


"Bukan ini maksudku, Alex...," Ucap Nadia ketika Alex mulai mencumbunya lagi.


Namun semuanya terlambat karena Alex mulai menggiring kembali hasrat Nadia dan tak lama kamar mandi itu dipenuhi suara decapan dan lenguhan  khas percintaan.


***


Sore menjelang malam Alex dan Nadia tiba di rumah orang tua Alex. Mamanya mengundang mereka untuk makan malam bersama.


"Kamu pulang lebih cepat dari Surabaya ?" Tanya mamanya pada Alex.


"Iya ma, aku sekarang gak bisa jauh-jauh dari menantu mama," jawab Alex asal tapi Nadia yang mendengar itu merasakan debaran dalam hatinya.


"Dasar !" Sahut mama Alex sembari menampar halus bahu anaknya itu.


"Eh katanya perusahaan kalian mengadakan kerja sama. Benarkah ?" Tanya mama Alex lagi.


"Iya ma, dan kayanya ke depannya kita akan banyak terlibat kerjasama ," Jawab Alex dan Nadia begitu terkejut mendengarnya.


"Iya, kita akan bicarakan besok di kantor ku sembari menandatangani kontrak kerjasama untuk pekerjaan yang di Bali," jawab Alex.


Nadia tersenyum bahagia. Ia sangat senang karena pekerjaannya berhasil dan tak hanya itu ia pun akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Alex.


"Syukurlah bila begitu, mama tak akan khawatir dengan kalian lagi. Mama papa akan pulang ke Belanda Minggu depan,"


"Oh ya ? Kenapa ?" Tanya Alex seolah-olah berat berpisah dengan mamanya.


"Papamu telah terlalu lama meninggalkan bisnis di sana, lagian kamu udah ada Nadia kan jadi Mama tak usah khawatir lagi," jawab mama Alex.


"Hu'um, sekarang udah ada dia," kata Alex seraya memberikan sebuah kecupan di pipi Nadia hingga istrinya itu merona.


Ponsel dalam saku Alex berbunyi juga bergetar sehingga membuatnya mengeluarkan benda pipih itu. Tertera nama Laura ( Lola ) di layarnya.


Wanita itu memang terus menghubunginya sejak masih di Surabaya.


"Siapa ?" Tanya Nadia.


"Ehemm, ini rekan kerjaku yang di Surabaya," jawab Alex bohong. Tak mungkin mengatakan itu adalah dari Laura terlebih lagi ada mamanya di sana.


"Maaf, aku harus terima panggilan ini," lanjut Alex sembari berdiri dan berjalan keluar rumah. Ia menerima panggilan itu di dekat mobilnya yang terparkir membuat Nadia memperhatikan dengan penuh rasa curiga.


"Sayang, kenapa begitu sulit hanya untuk berbicara denganmu," keluh Lola di ujung telepon.


"Aku sibuk, benar-benar sibuk," jawab alex beralasan.


"Alex aku perlu bertemu denganmu," ucap Lola penuh paksaan.


"Aku masih di Surabaya," jawab Alex bohong.


"Bohong.... Aku tahu kamu sudah kembali ke Jakarta. Apa aku harus datang ke apartemenmu sekarang juga?"


"Darimana kamu tahu aku udah di Jakarta ?" Tanya Alex tanpa menjawab pertanyaan Lola.


"Tidak penting, sekarang aku harus pergi ke mana untuk bertemu denganmu ?"


"Aku gak bisa ketemu," sahut Alex cepat. Ia mengedarkan pandangannya seolah mencari tahu bila ada yang memperhatikannya.


"Kenapa ? Aku akan datang ke apartemen mu sekarang juga dan menunggumu pulang dengan telanj*ng,"


"Lola !!" Hardik Alex.


"Katakan kamu dimana atau akan aku lakukan apa yang tadi aku katakan. Tak peduli jika sepupumu Nadia melihatnya,"


"F*ck !!!!" Umpat Alex seraya memukul mobilnya sendiri.


"Tunggu, aku akan datang padamu," jawab Alex seraya menutup panggilan itu.


Nadia kembali memalingkan wajahnya ketika Alex berjalan menuju rumah. Bisa ia lihat dengan jelas wajah Alex yang berubah menegang.


"Nad, aku haru pergi sebentar. Orang suruhan klienku di Surabaya mengajak untuk bertemu," kata Alex. Ia berbohong tentu saja.


"Tapi makan malam sebentar lagi siap," timpal mama Alex.


"Sebentar kok Ma, sebelum makan malam dimulai aku udah di sini lagi." Jawab Alex.


Nadia tak menjawab ia juga tak melarang tapi dalam hatinya yang paling dalam ia merasa cemas luar biasa.


Cemas jika Alex kembali menemui Lola dan sumpah demi apapun Nadia merasa jika itu benar.


"Jangan melihatku seperti itu, Nadia. Aku benar-benar harus ketemu dengan rekan bisnisku," ucap Alex dengan sedikit nada meninggi karena ia rasakan Nadia tengah menatapnya penuh rasa menghakimi.


"Aku tak mengatakan juga tak melakukan apapun," sahut Nadia berusaha untuk tenang.


Alex menatap Nadia untuk sesaat dan segera menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Tanpa berkata apapun lagi ia berjalan keluar dan tak lama bunyi mobilnya terdengar meninggalkan rumah mamanya itu.


***


Waktu terus berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam dan makan malam pun telah selesai di lalui tanpa kedatangan Alex.


Ponsel lelaki itu pun mati daya tak bisa untuk dihubungi. Sudah lebih dari 3 jam ia pergi padahal janjinya hanya sebentar saja.


"Nad, istirahat di kamar Alex saja di atas. Mungkin Alex kena macet. Ini kan malam Minggu," ucap mama Alex berusaha menenangkan Nadia yang terlihat cemas.


"Iya ma gampang, kalau dalam 30 menit Alex tak kembali aku pulang ke apartemen saja sendiri," jawab Nadia.


"Gak usah, kalian menginap di sini saja," mama Alex bersikeras dan akhirnya Nadia pun mengalah.


***


Pukul 10 malam Alex datang dan langsung menuju kamarnya di lantai 2 karena kata sang mama, Nadia sudah beristirahat di kamarnya.


"Nad, aku pulang... Maaf aku terlambat," kata Alex seraya mengguncang halus tubuh Nadia yang terbaring.


Mati-matian Nadia berusaha menutup matanya dan berpura pura tidur karena air matanya akan berhamburan keluar jika ia membukanya.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘