In Love

In Love
Perasaan Aneh



'Drrrtttt drrttt drrtt' pukul setengah lima pagi ponsel Nadia bergetar untuk yang ke tiga kalinya, menandakan ia harus segera bangun dan bersiap melaksanakan ibadah paginya.


Nadia pun meraih ponselnya yang terletak di kepala ranjang tidurnya, menggulir layar agar mati suara juga getarannya padahal tadi pun ia sudah melakukannya.


Akhir pekan kemarin sungguh membuatnya lelah hingga membuatnya malas untuk bangun di hari Senin ini. Tak hanya tubuhnya yang merasa lelah tapi juga hati dan pikirannya karena hubungannya dengan Alex belum juga menemukan titik terang.


Jika sesuai janji, Nadia seharusnya melayangkan gugatannya atau setidaknya datang menuju pengadilan agama hari Jum'at lalu tapi nyatanya Tuhan mempunyai rencana lain.


Ada yang berbeda juga dengan dirinya, semakin ia memikirkan untuk berpisah semakin ia sadar jika dirinya sangat membutuhkan Alex dalam hidupnya.


Walaupun saat ini mereka tinggal berjauhan, tapi bayangan Alex tak pernah sekalipun meninggalkan kepalanya. "My only love," ( satu-satunya cintaku ) lirih Nadia sembari memejamkan mata, menikmati rasa rindunya yang kian menyiksa karena bayangan Alex kembali hadir dalam kepalanya. Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan, berusaha menenangkan diri.


"Aarrrggggghhhh," erang Nadia seraya meregangkan tubuhnya dan duduk di tepian ranjang. Matanya menelisik isi kamar sederhana yang jadi tempat tinggalnya selama lebih dari satu Minggu terakhir ini.


Ia menolehkan kepalanya menatapi ranjang yang tadi ia tiduri. Tak ada Alex di sana yang bisa memeluknya erat. "Huuufffttt," malas-malas Nadia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersuci.


pukul 7 pagi Nadia sudah terlihat rapih dengan pakaian kerjanya. Celana straight pants ( Celana yang berbentuk lurus dan berukuran sama dari lutut hingga mata kaki ) berwana hitam pekat membalut kakinya dengan sempurna hingga terlihat begitu jenjang. Ia mengenakan blouse berwana abu-abu muda di balik blazer yang warnanya senada dengan celana, tak lupa juga Stiletto berwarna hitam hingga tampilannya terlihat sempurna.


Nadia merias wajahnya tipis-tipis untuk menutupi rasa lelahnya dan menyemprotkan parfum beraroma vanila di setiap titik nadinya. "Ayo kita berangkat kerja," ucap Nadia pada pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Tak lupa juga Nadia kembali memainkan liontin nya yang berbentuk cincin dan terukir nama Alex di dalamnya. Kali ini ia tak akan lagi menyembunyikan cincin itu di balik blouse kerjanya. Nadia akan membiarkan semua orang tahu jika dirinya telah cinta mati pada Alex seorang saja dan akan selalu begitu hingga para lelaki tak usah lagi datang menggodanya.


Nadia keluar dari kamar dan melihat piring yang digunakannya untuk sarapan belum juga ia bersihkan, diatasnya masih terdapat potongan besar roti tawar yang ditumpuk dua dengan selai coklat di dalamnya. Tadi ia hanya mengigit roti isi itu sebanyak dua kali saja. Ia merasa sudah cukup kenyang walaupun makanan yang masuk ke dalam mulutnya hanya sedikit saja.


"Patah hati adalah cara diet paling efektif," gumam Nadia sambil tertawa geli. Tanpa merapikannya terlebih dahulu, Nadia memilih untuk segera pergi ke kantornya dengan meraih tas kerjanya di atas meja.


Lagi-lagi ia memilih untuk berjalan kaki, berusaha untuk menghabiskan waktu dan membunuh sepi. Jalanan mulai ramai dengan pejalan kaki, ia amati orang-orang di sekitarnya yang berlalu lalang. Tersenyum masam ketika Nadia melihat sepasang kekasih yang bergandengan tangan.


"Aku pun dulu begitu sama Alex," gumam Nadia sambil mengulum senyumnya.


Cepat-cepat Nadia tolehkan kepala untuk tak lagi melihatnya agar pikiran tentang Alex enyah dari kepalanya. Cukup lama Nadia berjalan, sekitar lima belas menit lamanya. Ia pun tiba di kantornya.


Nadia memicingkan mata, melihat gedung tinggi di hadapannya. Tempat kerjanya saat ini. "Selamat pagi," ucap Nadia pada petugas keamanan yang membukakan pintu untuknya.


"Selamat pagi," jawab lelaki berseragam cokelat itu sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan dan Nadia tersenyum menanggapinya sambil lalu.


Ia berdiri di depan pintu lift , lagi-lagi memainkan cincin nya yang tergantung di leher dengan jemarinya sambil menunggu pintu lift terbuka.


"Selamat pagi, Bu," ucap beberapa orang baik laki-laki ataupun perempuan yang kebetulan satu kantor dengannya, namun anehnya mereka seolah segan untuk berdiri satu baris dengannya.


"Pagi," sahut Nadia dengan senyuman manisnya, ia berusaha untuk ramah karena kini ia menjadi 'orang baru' di kantornya itu.


'Ting' pintu lift pun terbuka lebar dan beberapa orang yang keluar dari lift itu mengangguk pelan pada Nadia seolah memberikan penghormatan mereka.


Nadia menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum samar. Ia merasa aneh dengan sikap orang-orang di sekitarnya pagi ini. Perasaan aneh itu belum juga hilang, ketika pintu lift terbuka orang-orang mempersilahkannya untuk keluar lebih dulu dari yang lainnya.


Dan untuk kesekian kalinya Nadia merasakan aneh dan tak mengerti kenapa mereka melakukan itu. Dirinya bukan petinggi perusahaan, ia hanya seseorang yang baru saja diangkat menjadi seorang manager.


Keanehan itu belum berhenti juga, setiap orang yang Nadia lalui sepanjang perjalanan menuju ruangannya kembali mengangguk pelan dan tersenyum canggung padanya seolah bertemu dengan seseorang yang sangat penting.


"Kenapa sih ?" Keluh Nadia yang kini merasa tak enak hati. Ia pun memasuki ruangannya, menyimpan tasnya di atas meja kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya.


Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan kurang lima menit padahal jam kerjanya di mulai pukul delapan pagi. Masih terlalu pagi untuk memulai kerja "Aku terlalu rajin," gumam Nadia pada dirinya sendiri sembari terkekeh geli.


Jika biasanya Daniel akan menyapanya terlebih dahulu sebelum ia memasuki ruangan kerjanya tapi pagi ini ia tak melakukannya lagi. Lelaki itu melalui ruangan Nadia begitu saja setelah penolakan Nadia beberapa waktu lalu dan Nadia bersyukur akan hal itu karena kini ia tak usah susah payah berpura-pura baik-baik saja jika lelaki itu mendekatinya.


Dengan sedikit canggung Ina meletakkan beberapa berkas di atas meja Nadia, "Apa Anda memerlukan yang lainnya ?" tanya Ina kian formal saja, padahal satu Minggu ini mereka bekerja bersama dan tak pernah Ina bersikap seperti ini.


"Ina, ada yang salah ?" alih-alih menjawab pertanyaan Ina, Nadia memilih untuk balik bertanya.


Ina yang mendengar itu mengerutkan keningnya karena tak paham. "Maaf Bu ?" Tanya Ina.


"Apa ini perasaan saya saja, atau orang-orang memang bersikap aneh pagi ini pada saya ?" tanya Nadia sembari menatap Ina yang berdiri tegak di hadapannya.


"Termasuk kamu," lanjut Nadia lagi.


Ina yang tengah berdiri, tersenyum canggung dan salah tingkah. Kedua jemarinya saling meremas karena gugup dan Nadia bisa melihatnya dengan jelas.


"Katakan padaku, ada apa ?" tanya Nadia penuh tuntutan dan kini ia makin penasaran dengan apa yang terjadi.


"A-apa ibu benar-benar nggak tahu ?" tanya Ina takut-takut.


Nadia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban karena ia memang tak mengetahuinya.


"Tunggu sebentar," ucap Ina sembari keluar dari ruang kerja Nadia.


Nadia menanti dan tunggu asistennya itu dalam cemas. Ia mengetuk-ngetuk mejanya pelan dengan ballpoint yang terletak di atasnya, berusaha menepis rasa khawatirnya.


Ina pun kembali dengan sebuah majalah di tangannya dan menyerahkannya pada Nadia. "Sebaiknya ibu baca majalah ini dan ibu juga bisa melihat wawancara nya secara langsung melalui website resmi majalah tersebut. Dalam 2 hari ini sudah di putar sebanyak 10 ribu kali," ucap Ina sembari kembali tersenyum canggung.


Nadia Meraih majalah itu dari Ina asistennya, dan terkejut luar biasa ketika melihat siapa yang menjadi sampulnya.


"A-Alex ?" gumam Nadia tak percaya dan ia pun menelan ludahnya paksa.


Nadia pandangi lekat-lekat wajah Alex yang tercetak di sampul majalah bisnis itu, tangannya gemetar karena tak percaya dan matanya mulai terasa buram karena air bening yang mulai menggenang di pelupuk mata.


"I-ini Alex ?" tanya Nadia lirih.


"Ya, itu suami anda. Alexander Henry Salim dan kini menjadi salah satu pemegang saham terbesar dari perusahaan ini," jawab Ina sembari mengulum senyum.


"A-apa ?" tanya Nadia dengan matanya yang membulat sempurna. Ia kian merasa tak percaya.


"Sebaiknya ibu baca saja majalahnya," sahut Ina dan ia pun berpamitan. Ina membiarkan Nadia untuk membaca majalah itu sendirian saja.


Nadia mengusap pipinya yang basah, sungguh ia sangat merindukan Alex dengan sangat. Dan pagi ini melihat wajah Alex di sampul majalah sedikit mengobati rasa rindunya itu.



"Pernikahan yang membawa saya dalam kesuksesan," baca Nadia pelan. Dengan tangan yang gemetar Nadia mulai membuka majalah itu.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen yaa...


Tadinya mau bikin part uwu tapi aku gak sanggup nulisnya.


insyaallah besok ya...