In Love

In Love
Akhir Pekan



Sabtu jam 1 siang Alex beserta Nadia sudah tiba di Bogor, di rumah orang tua Nadia. Ia menurunkan banyak barang bawaan dari bagasi mobil. Tadi pagi sebelum pergi ke Bogor, Alex bersikeras untuk berbelanja dahulu. Banyak jenis makanan yang Alex beli sebagai oleh-oleh untuk mertuanya juga untuk kedua adik iparnya.


Bahkan Nadia begitu terheran ketika Alex tahu hampir semua makanan yang disukai dan tak disukai oleh keluarganya. "Kok bisa tahu sih ?" tanya Nadia terheran. "Bisa dong, tak ada sesuatu pun yang tak bisa aku lakukan," jawab Alex dengan sombongnya. Ia mengatakan itu sembari mengenakan kacamata hitamnya hingga sempurna sudah aura besar kepalanya.


Nadia yang melihat itu hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal lalu mencubit pinggang Alex hingga suaminya itu mengaduh karena kesakitan. Sebenarnya cubitan Nadia tidaklah sekeras itu tapi Alex saja yang menanggapinya berlebihan.


"Sayang, sakit banget ! pokonya aku minta dicium sebagai obatnya," bisik Alex dan Nadia kembali mencubitnya.


"awww..," Alex kembali mengaduh padahal ia tak sesakit itu. "Selain bawel ternyata kamu juga galak," lanjut Alex sembari mengapit leher Nadia rasa-rasa dengan lengannya bagaikan sedang melakukan gulat di televisi. Nadia tak tinggal diam memberikan balasannya tentu saja.


Suara gaduh karena Alex dan Nadia tengah bergulat membuat Ibu Nadia segera membuka pintu dan cukup terkejut melihat anak dan menantunya tengah saling berpelukan (karena itu yang ibunya lihat saat ini, beliau tidak tahu jika Nadia dan Alex sebenarnya bukan melakukan hal itu ) dengan banyak kantong makanan yang tergeletak di atas lantai


Ibu Nadia tercengang, matanya membulat sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kalian ngapain ? gimana kalau para tetangga melihat kalian siang-siang seperti ini saling berpelukan ?" tanya ibu Nadia sambil mengedarkan pandangan berusaha mencari tahu jika ada CCTV ( tetangga ) yang mengawasi mereka.


Berbeda dengan orang tua Alex yang tinggal di perumahan elit Jakarta dan hidup secara individual. Orang tua Nadia tinggal si perumahan sederhana untuk kalangan menengah dimana mereka masih saling berbaur dengan para tetangganya.


"Gak pa-pa bu, kan kita udah jadi suami istri ini," jawab Nadia sambil terkekeh geli. Ia pun membereskan barang bawaan yang dibawanya dan dibantu oleh Alex.


"Ibu," sapa Alex seraya meraih tangan ibu Nadia dan menciumnya dan Nadia pun melakukan hal yang sama.


"Mereka sudah datang ?" tanya ayah Nadia yang berjalan dari dalam rumah dan menyambut kedatangan anak serta menantunya itu.


"Alex bawain makanan kesukaan ayah, sama madu murni yang pernah Alex ceritakan beberapa waktu lalu." ucap Alex sembari menyalami ayah mertuanya itu.


"Terimakasih, Nak." sahut ayah Nadia sambil menepuk-nepuk pundak Alex pelan. Lalu ia pun menghampiri Nadia yang hendak bersalaman dengannya.


"Kalian sehat ?" tanya ayah Nadia.


"Alhamdulillah kami sehat," jawab Alex seraya melayangkan pandangannya pada sang istri dan Nadia pun melakukan hal yang sama.


"ayo masuk," ajak ibu Nadia dan mereka pun menurutinya.


Semuanya berjalan menuju dapur. Alex dan ayah mertuanya duduk di kursi sedangkan Nadia dan ibunya berada di dapur membereskan semua makanan yang Nadia bawa.


"Nay dan Dimas kemana ?" tanya Alex ketika ia sadar hanya ada mertuanya saja di sana, kedua adik iparnya belum terlihat sama sekali.


"Dimas ada workshop di kampus, sedangkan Nayla sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Hanya ada ayah dan ibu saja di rumah," jelas ayah Nadia pada Alex yang kini mengangguk-angguk kepalanya paham.


"Mau makan siang atau beristirahat dulu ?" tawar ibu Nadia pada menantu kesayangannya itu. Bagaimana tidak di sebut kesayangan ? ibu Nadia telah memasak banyak makanan kesukaan Alex. Ada rendang, sambal goreng kentang, sop iga, dan yang lainnya padahal hari ini bukan hari lebaran. Itulah yang Nadia pikirkan ketika melihat banyaknya makanan yang ibunya siapkan.


"Saya istirahat sebentar ya bu, jalanan lumayan padat dari pagi," jawab Alex yang merasakan sedikit pegal di kakinya. Sejak Nadia kembali padanya, Alex sudah tak mengenakan jasa supir pribadi lagi.


"Baiklah, beristirahatlah di kamar Nadia," titah ibu Nadia dan tentu saja Alex menurutinya.


"Nad, temani suamimu," titah ibu Nadia lagi pada anaknya itu. Nadia yang sedang membereskan sesuatu di atas meja dapur menghentikan pekerjaannya dan menuruti sang ibu.


Alex pun berdiri dan Nadia berjalan mendekatinya, keduanya berjalan berdampingan menuju kamar Nadia yang tak jauh letaknya dari dapur "Sayang, bagaimana jika ibumu tahu ? kalau kita tidak berpelukan di waktu siang saja tapi pagi, siang, sore, malam dan tengah malam lalu bersambung ke pagi lagi," tanya Alex sambil berbisik pada Nadia.


"Alex... please jangan mulai deh," ucap Nadia mengingatkan. Ia sudah hapal sekali arah pembicaraan ini akan mengarah ke mana..


"adonan ?" tanya Alex sambil kembali berbisik dan Nadia pun memelototkan matanya tak percaya.


"Kamu melotot begini aja cantik banget," ucap Alex sembari mencuri sebuah kecupan dari pipi Nadia dan membuat semburat merah muncul menghiasi wajah sang istri.


"Sudah ibu katakan mereka baik-baik saja, ayah jangan khawatir," ucap ibu Nadia sembari memijat pelan pundak suaminya yang terduduk di atas kursi.


"Ayah hanya takut jika berita yang ayah dengar itu benar," sahut ayah Nadia. Ia pun menyentuh halus tangan istrinya yang masih setia berada di atas pundaknya.


***


Pukul 4 sore Alex baru terbangun dari tidur siangnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan sang istri karena sebelumnya mereka tidur bersama dengan saling berpelukan. Terbangun tanpa Nadia di sisinya adalah hal yang tak Alex sukai.


Alex berjalan ke arah luar rumah karena terdengar suara beberapa orang yang mengobrol dari arah sana. Ternyata benar dugaannya, Nadia dan ibu mertuanya berada di teras rumah.


Dan tak hanya itu, adik iparnya yang bernama Nayla dan masih duduk di kelas 11 sudah pulang dari kegiatan ekstrakurikuler nya dan diantarkan seorang pria muda yang sangat tampan. Alex yang seorang lelaki pun mengakui jika pria yang ia lihat saat ini begitu tampan. Tubuhnya tinggi walaupun tak setegap dan kekar seperti dirinya. Kulitnya putih pucat dengan rambut coklat alami dan mata coklat karamel tanpa lensa kontak.


Alex perhatikan dengan seksama pria muda itu, usianya tak jauh berbeda dengan Nayla, adik iparnya. "Rasanya mirip seseorang tapi siapa?" batin Alex.


"Saya pamit pulang ya bu," ucap lelaki itu seraya membuka masker hitamnya. Ia mencium punggung tangan ibu Nadia. "Mbak, aku pulang ya," ia pun menyalami Nadia dengan mencium punggung tangannya juga." Salam buat mami dan papi ya," sahut Nadia.


Alex tersenyum geli melihat bagaimana adik iparnya itu menatapi pria yang mengantarnya pulang tanpa berkedip. Bibirnya setengah terbuka, dan menghela nafas dalam penuh kekecewaan ketika pria itu memilih untuk langsung pergi tanpa menghiraukan keberadaannya. Alex yakin jika Nayla sedang menjalani cinta bertepuk sebelah tangan.


"Elang baik banget, Nad. Beberapa kali anterin Nayla pulang sore. Hampir setiap pulang les atau kegiatan ekstrakurikuler sekolah pasti Elang yang anterin pulang," jelas sang ibu pada Nadia.


"Kalian pacaran ?" tanya Nadia pada Nayla dan pipinya merona seketika.


"Nggak lah, Mbak ! gak mungkin aku pacaran sama Elang ! Orang kaya Elang gak mungkin suka aku" jawab Nayla dengan panik. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan tak menyangka jika Alex ternyata sudah berada di ruang tamu dan mengetahui semua yang terjadi tadi.


"Eh kak Alex ?" tanya Nayla dengan mata berbinar. "Hadiah aku mana ?" todongnya sambil menyunggingkan senyum. Wajah sendunya kini berubah sumringah karena melihat kakak iparnya.


"Di dapur kayanya, Mbak Nadia yang simpan," jawab Alex.


Sadar ternyata Alex sudah berada di sana, Nadia pun menghampiri suaminya itu."Udah bangun ?" tanya Nadia dan Alex hanya menganggukkan kepala.


Baru saja mereka akan menutup pintu tapi pria muda tadi datang kembali. Alih-alih berbicara pada Nayla yang tadi ia antarkan pulang. Elang lebih memilih berbicara pada Nadia.


"Mbak, maaf bisakah mbak menghubungi kakakku ? katakan aku berada di sini dan akan segera sampai rumah dalam waktu 30 menit lagi. Ponselku tiba-tiba mati daya," ucapnya.


Nadia tak segera menjawabnya, yang ia lakukan adalah menatap Alex untuk sesaat. "Bolehkah aku menghubungi Bimo ? Ini Elang, adiknya," ucap Nadia takut-takut.


Alex tertegun untuk sejenak, ia balas menatap Nadia namun tak lama matanya kembali memandang Nayla yang terus menatapi pria muda itu tanpa berkedip untuk kedua kalinya. Sepertinya Nayla benar-benar sedang mengalami cinta rumit.


To be continued ♥️


thanks for reading ♥️


Bonus visual Elang aahhh




insyaallah ini projek novel baru entah satu novel dengan in love atau beda.