In Love

In Love
Makan Malam



Happy reading ❤️


"Tunggu aku, jangan pergi kemanapun." Kata Alex memperingatkan sebelum ia pergi menuju pintu.


Alex membuka pintu apartemennya dengan perlahan. "Kejutan !" Ucap seorang wanita dengan senyuman dari bibirnya yang merah.


Alex tercengang untuk sesaat, ia menelan salivanya sendiri membuat wanita yang berdiri di hadapannya pun merasa keheranan.


"Sayang, kamu datang ?" Tanya Alex kemudian.


"Sayang ?" Lirih Nadia seraya menolehkan kepala ke arah pintu. Sebenarnya tanpa harus melihat pun ia tahu siapa yang datang.


"Aku cemburu," Nadia tersenyum muak mengingat kata-kata yang belum lama suaminya itu ucapkan padanya.


Baru saja Nadia merasa melambung tinggi ke awan karena perkataan Alex seolah memiliki rasa yang sama dengannya namun kini dirinya kembali dihempaskan ke dasar bumi dengan kerasnya.


"Kamu gak nyuruh aku masuk ?" Lola menerobos tubuh Alex yang menghalanginya di pintu.


Lola menghentikan langkahnya ketika melihat Nadia yang berdiri terdiam membeku di tempatnya.


"Siapa dia, Alex ?" Tanya Lola.


"Mmm, itu...," Rahang Alex mengeras tak dapat menjawabnya.  Ia terlihat salah tingkah saat ini. Menatap Nadia dan Lola secara bergantian tanpa mampu berkata-kata.


"Siapa dia ?" Tanya Lola lagi dengan raut wajah yang telah berubah marah.


"Dia is..,"


"Aku sepupunya Alex," potong Nadia cepat dan seketika Alex melihat ke arahnya dengan tak percaya.


Nadia tahu Alex sedang kebingungan dan tak bisa menjawab pertanyaan kekasihnya jadi ia memilih maju untuk menjawab dengan mengesampingkan segala rasa sakitnya.


"Aku Nadia, sepupunya Alex dari pihak mamanya. Kamu pasti Lola, Alex banyak bercerita tentang kamu," ucap Nadia dengan suara bergetar menahan tangis. Dadanya sesak dan tangannya gemetar ketika ia mengulurkannya untuk bersalaman.


"Nadia, stop...," Lirih Alex hampir tak terdengar.


"Senang akhirnya kita bisa bertemu," kata Nadia lagi. Ia tak mempedulikan apa yang Alex katakan.


"Benarkah ini Alex ?" Tanya Lola seraya memandang wajah kekasihnya yang terlihat salah tingkah.


"Tentu saja benar, aku tinggal disini," bukannya Alex yang menjawab tapi masih Nadia yang menjawab.


"Hah ? Kalian tinggal bersama ?" Lola berkerut dahi tak suka.


"Iya kami tinggal bersama dan tidur di kamar yang terpisah tentu saja. Kamu bisa melihat kedalam jika tak percaya," jawab Nadia seraya menunjukkan kamarnya.


"Apa karena ini kamu gak pernah ngajak aku ke apartemenmu , Alex ?"


"Hahahahah iya, karena aku adalah mata-mata mamanya," lagi-lagi Nadia yang menjawab karena Alex hanya mampu terdiam dengan bibirnya yang kelu.


"Tapi tak semudah itu aku percaya," seru Lola seraya melihat Nadia dari kepala hingga ujung kakinya.


"Sudahlah, lagian ngapain kamu kesini ?" Pada akhirnya Alex membuka mulutnya untuk bertanya.


"Apa aku salah karena ingin memberikan kejutan pada kekasihku sendiri ? Tapi ternyata aku yang mendapatkan sebuah kejutan," jawab Lola dengan tersenyum miring penuh penghinaan pada Nadia.


"Sudah ku katakan aku hanya sepupu Alex, bahkan aku udah punya pacar," sahut Nadia. Dalam hati ia begitu merasa nelangsa, ia yang menjadi istri sah Alex namun saat ini dirinya yang merasa menjadi seorang wanita perusak hubungan orang lain.


"Pacar ???" Tanya Alex gusar. "Kamu punya pacar ?" Alex mengulang pertanyaannya dengan rasa tak percaya.


"Hu'um, aku udah besar Alex. Tentu saja aku punya," jawab Nadia.


"Hmmm, bagus kalau begitu. Kita bisa makan malam bersama malam ini," sahut Lola dan ia pun berjalan menelusuri apartemen Alex dan menelisik setiap sudut ruangan. Ia tersenyum puas ketika melihat kamar Nadia yang memang terpisah.


Alex meraih lengan Nadia dengan kasar ketika kekasihnya itu pergi untuk melihat-lihat isi apartemennya.


"Pacar ? Kamu punya pacar ?" Desis Alex dengan mata hitamnya yang berkilat karena rasa marah dan cemburu yang ia rasakan secara bersamaan.


"Lepas !!" Nadia menepis cekalan tangan Alex dengan kasar.


"Jelaskan padaku, Nadia !" Desis Alex lagi dengan cekalan tangannya yang semakin erat mencengkeram lengan Nadia hingga istrinya itu merasa kesakitan. Bahkan ia tak peduli jika Lola melihat atau mendengar apa yang dirinya lakukan saat ini.


"Lepas Alex ! Kamu menyakiti aku," lirih Nadia hampir tak terdengar.


"Pacar Nadia ? Pacar ?? Apa kamu gila ? Wanita macam apa kamu ini ?" Tanya Alex dengan menatap mata Nadia tajam dan penuh amarah.


"Lalu kamu ini lelaki macam apa ?" Nadia balik bertanya dengan wajahnya yang memerah karena menahan rasa marah juga tangis dalam bersamaan. Rahang Alex mengeras, bibirnya terkatup rapat. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang Nadia lontarkan.


"Apa kita bisa pergi untuk makan malam sekarang ?" Tanya Lola dan akhirnya Alex pun melepaskan cekalan tangannya.


"Aku cape, bisa kah kita pergi lain hari ?" Tanya Alex. Ia sungguh tak sudi bertemu dengan lelaki yang Nadia akui sebagai kekasih.


"Bagaimana kalau kita makan malam disini, aku dan sepupumu yang akan memasak dan kamu ( Nadia ) bisa undang pacarmu untuk datang kesini," Lola masih bersikukuh untuk makan malam bersama karena sesungguhnya ia hanya ingin tahu kebenaran yang telah Nadia ucapkan.


"Bo... boleh," jawab Nadia dan ia segera mengirimkan pesan yang teramat panjang pada Edo. Ia menjelaskan situasinya saat ini dengan sejujurnya dan meminta lelaki itu untuk berpura-pura sebagai kekasihnya sekali ini saja.


Beruntung bagi Nadia karena Edo langsung membaca pesan yang ia kirimkan dan setuju untuk membantu.


"Boleh, dia mau datang," sahut Nadia setelah beberapa saat.


Alex yang mendengar itu langsung menyambar kunci mobilnya dan berjalan keluar tanpa melihat 2 wanita yang kini berdiri saling berhadapan itu.


"Alex tunggu, kamu mau kemana ?" Tanya Lola seraya berjalan tergesa mengikuti langkah Alex.


"Kita makan di luar," jawab Alex dengan malasnya.


Lola segera menggandeng tangan kekasihnya itu dan Alex hanya diam, tak melarang juga tak membalas genggaman tangan wanitanya.


Nadia menatap keduanya dengan dada berdebar dan hati yang terasa begitu ngilu. Bohong jika ia tak merasa cemburu melihat lelaki yang dicintainya berjalan dengan wanita lain yang adalah kekasihnya.


"Hu'um... maafkan aku, Edo," ucap Nadia lirih.


"Jadi... Be... Begini ceritanya...,"


"Ssstt, gak usah cerita sekarang," potong Edo seraya mengusap pipi Nadia yang basah dengan jempolnya.


"Ayo kita pergi," ajak Edo dan bagai anak kucing pada induknya Nadia pun menuruti.


Keduanya telah sampai di lantai dasar dimana mobil Edo dan Alex sama-sama terparkir.


Alex sudah duduk di balik kemudinya dengan wajah yang masih ditekuk terbungkus emosi. Tak sekalipun ia melihat ke arah Nadia yang sedang berjalan beriringan dengan lelaki yang tadi dilihatnya.


"Aku pakai mobil Edo aja ya," ucap Nadia yang kemudian disahuti oleh Lola karena Alex tak sekalipun melihat ke arahnya seolah Nadia tak ada disana.


"Oke, sampai ketemu di cafe xxx ya," kata Lola yang duduk tepat di sebelah Alex.


Alex menyalakan mesin mobil dan menjalankannya dengan kasar hingga bunyi decitan ban terdengar memekikkan telinga.


Nadia menarik nafas dalam melihat apa yang Alex lakukan. Ia tahu Alex sedang sangat marah saat ini. Tapi satu hal yang tak dirinya mengerti. Bukankah seharusnya Alex merasa senang karena Nadia telah menyelematkannya hingga Lola tak curiga dengan hubungan mereka.


"Ayo," ajak Edo.


Nadia pun masuk ke dalam mobil mewah teman barunya itu.


"Maaf," lirih Nadia.


"Its oke, kebetulan aku juga belum makan malam," sahut Edo berusaha menenangkan Nadia yang terlihat sangat tegang.


***


Edo memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Alex yang terparkir dan mengajak Nadia untuk keluar.


"Semua akan baik-baik saja, aku janji," bujuk Edo.


Nadia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Meskipun ia dan Edo baru saja saling mengenal namun Nadia yakin jika Edo adalah lelaki yang baik.


Alex dan Lola telah menunggu dengan duduk di kursi yang letaknya sedikit menjorok kedalam hingga tak banyak berbaur dengan yang lain.


Edo menggeserkan kursi dan mempersilahkan Nadia untuk duduk.


"Terimakasih," ucap Nadia seraya tersenyum pada Edo.


"Sama-sama,' jawab Edo dan ia pun duduk tepat disebelah wanita yang kini berpura-pura menjadi kekasihnya.


Alex yang duduk tepat di hadapan keduanya menatap tajam dengan bibir terkatup rapat.


"Mmm, Edo ini Alex sepupu aku dan Lola temannya," kata Nadia memperkenalkan.


"Aku kekasih Alex," ralat Lola.


Dan seperti sebelumnya Alex hanya diam tak mengiyakan dan tak juga menyangkal.


"Sayang kamu mau pesan apa ? Kamu paling suka pasta kan ?" Tanya Lola dengan nada suaranya yang dibuat manja.


"Steak, Alex paling suka steak lada hitam," ucap Nadia spontan.


"Eh, sorry," lanjut Nadia ketika ia sadar seharusnya tak mengatakan hal itu. Ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Oh ya ? Bukannya kamu suka pasta ?" Tanya Lola memastikan.


"Dari dulu aku suka steak," jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.


"Oh.. maaf," kata Lola sedikit malu karena lagi-lagi ia tak ingat mengenai hal yang berkaitan dengan Alex.


"Kamu sendiri mau apa ?" Tanya Edo lembut pada Nadia yang saat ini terlihat sangat gugup karena pandangan mata Alex seolah mengulitinya hidup-hidup.


"Aku mau ramen atau sushi aja" jawab Nadia.


"Kalau begitu aku pesan yang sama dengan kamu," kata Edo lagi. Saat ini Edo terlihat sangat perhatian pada Nadia dan Alex sangat membencinya.


Cukup lama mereka menunggu pesanan dan selama itu terjadi mereka saling berbicara untuk lebih saling mengenal namun tidak dengan Alex, lelaki itu hanya diam mengamati.


"Terimakasih," ucap semuanya hampir bersamaan kecuali Alex yang masih menikmati aksi bisu nya.


Mereka pun mulai menikmati makan malamnya dalam hening karena sikap Alex yang tidak bersahabat.


'srak srak srak,' suara daging yang dipotong dengan kasar terdengar begitu jelas. Bahkan bunyi pisau yang beradu dengan piring pun terdengar begitu kerasnya.


Edo mengangkat kepalanya dan melihat yang sedang Alex lakukan saat ini. Ia pun tersenyum miring ketika mendapatkan sebuah ide untuk mengerjai Alex.


"Maafkan aku karena melakukan ini," bisik Edo pada Nadia.


"Hah ?" Nadia berkerut alis tak paham.


"Sayang, kamu mau apa lagi?" Tanya Edo memecah keheningan.


Alex langsung menghentikan makannya dan  meletakkan garpu serta pisaunya dengan kasar


"Oke that's it !! Cukup sudah !" Ucap Alex seraya menatap tajam mata Nadia.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘😘


Yang nunggu Nadia pergi sabar yaaa...


Dan seperti biasa aku menulis sesuai alurku... Jadi mon maap jika ada yang tak sepaham 😘😘