
Kedua teman baru Nadia yang duduk bersebrangan dengan mereka makan dengan kepala tertunduk karena merasa sungkan. Nadia pun menghela nafas dalam. Susah-susah ia mencoba berbaur dengan pegawai yang lain karena walaupun ia telah bekerja selama satu bulan lebih di perusahaan Alex, hanya suaminya lah yang Nadia kenal dengan baik karena hanya Alex yang selalu berinteraksi dengannya.
Dan sekarang ia makan siang pun Alex masih membuntutinya padahal tadi Nadia sudah menjelaskan tentang ancamannya. "Alex kamu ngapain sih disini ?" bisik Nadia. Suaranya terdengar sedikit kesal karena Alex tak memberikannya ruang.
"Apa ?" Alex balik bertanya seolah tak paham.
"Kan aku udah bilang kita hanya bertemu pagi dan so....," belum juga Nadia menyelesaikan kalimatnya, duduklah asisten pribadi Alex. Siapa lagi jika bukan Heru.
"Saya boleh duduk disini ya ?" tanya Heru pada teman baru Nadia yang masih makan dalam diam. Kedua perempuan itu mengangkat wajah mereka dan menatap tak percaya pada Heru yang juga bergabung dengan meja mereka.
Seperti Alex, Heru pun jarang sekali makan di kantin kantor bahkan nyaris tak pernah. Dengan gajinya sebagai orang kepercayaan Alex, dan bonus besar yang selalu didapatkannya membuat Heru mampu untuk makan siang di cafe-cafe ternama di kota Jakarta.
Heru meletakkan nampan berisi banyak jenis makanan tepat di hadapan Alex. Seolah-olah keduanya memang berniat untuk makan bersama.
"Apa ?" tanya Alex lagi pada Nadia yang kini melihat pada Heru dan Alex secara bergantian. "Kita emang mau makan siang di kantin dan kebetulan meja kamu mempunyai banyak ruang kosong, so.... tak masalah kan kalau kita berbagi meja ?" lanjut Alex menambahkan. Seolah-olah yang ia lakukan dengan Heru adalah murni untuk makan siang di sana. Membuat Nadia tak lagi bisa berkata-kata.
Alex tentunya sadar jika istrinya itu akan protes padanya karena membuntutinya makan siang dan Alex tak sebodoh itu. Ia pun sengaja makan siang di sana dengan asistennya.
Padahal yang sebenarnya terjadi yaitu Alex segera memanggil asistennya itu untuk menemaninya makan siang di kantin setelah mengetahui jika istrinya dengan kedua teman barunya akan menikmati makan siang di sana.
Heru yang baru saja akan pergi kencan makan siang dengan buruannya yang baru di salah satu cafe ternama harus membatalkan itu semua karena Alex mengajaknya makan siang di kantin kantor. Agar Heru bersedia menemaninya, Alex pun memberikan ancaman serta sogokkan.
"Kalau kamu memang gak bisa temenin saya makan siang gak apa-apa, saya mengerti pastinya kamu telah mempunyai janji yang tak bisa dilewatkan tapi apa bisa carikan saya asisten baru yang memiliki waktu yang lebih fleksibel ? sehingga dia bisa ada ketika saya membutuhkannya," itulah ancaman halus yang Alex berikan pada asistennya hingga Heru pun membatalkan rencana kencan makan siangnya. Padahal perempuan ini adalah pengganti Nadia yang Heru kagumi sebelumnya, namun lelaki itu langsung mundur saat tahu jika Nadia adalah istri bossnya.
"Bonus kamu, akan saya naikkan jumlahnya dan akan Joy transfer Minggu ini juga kalau kinerja kamu meningkat," dan inilah sogokkan halus yang Alex tawarkan pada asistennya itu hingga ia tak berani lagi menolak.
Dan di sinilah Heru sekarang makan siang dengan Alex setelah ancaman dan sogokkan yang ditawarkan bossnya.
Kedua teman baru Nadia menatap tak percaya 2 orang lelaki yang menjadi incaran di perusahaannya duduk bersama dalam satu meja. Alex dan Heru asik dalam pembicaraan mereka seolah tak peduli pada Nadia dan teman barunya.
Nadia sebenarnya curiga, tapi pada akhirnya ia membiarkan Alex untuk menikmati makan siang si sebelahnya. Nadia pun kembali fokus pada makanan yang ada di hadapannya dan ia berdiri untuk mencari sesuatu guna membuka bungkus plastik kerupuknya tapi Alex yang masih asik mengobrol dengan Heru meraih kerupuk Nadia yang terletak di atas meja dan merobek plastik itu dengan giginya lalu mengeluarkan isinya dan meletakkannya di atas piring Nadia. Ia lakukan itu tanpa menolehkan kepalanya sama sekali pada sang istri. Alex masih terlibat obrolan serius dengan asistennya.
Nadia terpukau dengan apa yang Alex lakukan untuknya, hal kecil dan sederhana tapi itu membuat ia merasa dicintai. Ternyata tak hanya Nadia yang memperhatikan apa yang Alex lakukan tapi Heru dan juga kedua teman barunya. Mereka akhirnya paham mengapa Alex begitu posesif pada Nadia ternyata karena cintanya yang besar.
***
"hahhhhhh," desah iri teman baru Nadia yang bernama Reva. "Ibu Nadia beruntung banget sih dicintai oleh pak Henry dengan begitu dalamnya sampai-sampai hal kecil pun tak luput dari perhatiannya," lanjutnya lagi. Kini ketiganya tengah menaiki lift untuk membawa mereka kembali ke lantai tempat ketiganya bekerja.
Tapi kini Nadia bisa tersenyum lega karena Alex membalas rasa cintanya dengan sama besarnya. Setelah menyelesaikan makan siangnya tadi, Alex lebih dulu berpamitan karena ada janji temu dengan calon kliennya. "Saya duluan," ucap Alex berpamitan dan disusul oleh Heru kemudian. Nadia bersyukur karena Alex tak berbuat macam-macam ketika mereka makan bersama dalam satu meja yang sama.
Nadia pun kembali ke ruangannya setelah istirahat makan siang dan melaksanakan kewajiban ibadahnya. Ia juga bernafas lega saat bisa mengerjakan tugasnya dengan lancar tanpa hambatan karena Alex tak lagi datang menggangunya.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tiba waktunya untuk pulang. Nadia matikan laptopnya yang berada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas khusus. Lalu ia merapikan mejanya sebelum ia melangkahkan kakinya untuk pulang. "Ah kacamata !" gumam Nadia pelan. Ia ingat jika Alex akan mengajaknya kerja di rumah, Nadia pun kembali ke mejanya dan mengambil kacamata yang hampir tertinggal.
Setelah yakin tak ada lagi barang yang tertinggal, Nadia pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
"sudah siap ?" tanya Alex yang ketika pintu itu terbuka. Ternyata ia telah berdiri tegak di sana menunggu Nadia membuka pintu.
"Alex ?" tanya Nadia.
"Seperti yang kamu bilang, aku boleh mendatangimu ketika sore hari untuk pulang bersama. Dan disinilah aku sekarang, Ayo !" ucap Alex seraya meraih jemari Nadia dalam genggamannya. Nadia pun tersenyum dan membalas genggaman tangan suaminya.
"Kacamata ?" tanya Alex untuk mengingatkan.
"Udah aku bawa di dalam tas, emangnya kita mau ngerjain proposal yang mana ?" tanya Nadia tapi Alex tak menjawabnya.
Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Walaupun banyak mata memperhatikan tapi Alex tak melepaskannya, bahkan ia mengganti genggaman tangan itu dengan rangkulan di bahu istrinya saat mereka memasuki lift bersama. Alex tak malu-malu untuk memperlihatkan rasa cintanya yang besar pada Nadia.
***
"Hah...hah... hah..." nafas Nadia menderu terengah-engah. Kacamata yang ia kenakan telah mengembun karena hawa panas yang menguar dari nafas dan juga tubuhnya. Saat ini Alex tengah menghujamkan ketegangannya dalam dan menghentaknya tanpa jeda.
Iya memang benar Alex mengajaknya kerja lembur di malam hari tapi ternyata kerja lembur versi Alex sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa yaa vote dengan poin karena ada hadiah pulsa atau e-money.
terimakasih ♥️