
Happy reading ❤️
Hari ini adalah hari Sabtu, Nadia memilih untuk kerja lembur di kantornya. Bukan hanya karena sibuk tapi juga guna menghilangkan Alex dari kepalanya karena ia tahu hari ini pun suaminya itu libur dan sudah bisa Nadia tebak jika lelaki itu akan menghabiskan waktu dengan kekasihnya, tak lagi menghabiskan akhir pekan dengannya seperti dulu.
Nadia mengenakan celana skinny jeans dan kemeja hitam yang sempurna membelit tubuhnya. Tak lupa tas selempang kecil untuk membawa ponsel juga dompetnya.
Ia membuka pintu dengan perlahan karena tak ingin membangunkan Alex yang tertidur di kamar sebelah.
"Oh Gosh," gumam Nadia seraya menjatuhkan ponselnya karena ternyata Alex telah bangun dan sedang duduk di ruang makan dengan secangkir kopi di hadapannya.
Bagaikan tak bertemu bertahun-tahun lamanya, mata keduanya saling memandang dan terkunci hingga Nadia yang lebih dulu mengakhirinya karena detak jantungnya yang menggila dan Alex masih saja tak mengalihkan pandangannya.
"Kamu mau kemana ?" Tanya Alex pada Nadia yang berjalan melewatinya begitu saja.
"Mmm.. a-aku mau lembur di kantor," jawab Nadia terbata.
"Kamu udah sembuh ?" Tanya Alex lagi.
"Udah," jawab Nadia singkat.
"Syukurlah...Hari ini mama mengajak kita makan malam bersama dalam rangka merayakan ulang tahun aku. Nanti sore aku jemput kamu ke kantor ya ?"
"Aku gak tahu selesai jam berapa, kamu bisa ajak temanmu itu jika aku gak bisa datang," jawab Nadia dengan hatinya yang kembali terasa perih.
"Kamulah istriku, bukan dia," sahut Alex dengan suara meninggi.
Tiba-tiba suasana menjadi canggung diantara keduanya. Pandangan mata mereka bertemu dan terkunci untuk sesaat tanpa ada sepatah katapun terucap.
"Pokoknya gak mau tahu, aku jemput kamu nanti sore," kata Alex memecahkan keheningan dan Nadia tak bisa menolaknya.
"Baiklah, aku pergi ya," Nadia berpamitan dan pergi meninggalkan apartemen Alex dengan perasaan tak menentu.
Setelah kepergian Nadia, Alex kembali duduk dan memikirkan apa yang telah terjadi semalam. Laura mendatanginya ke kantor karena Alex tak juga menemuinya. Kesibukan menjadi alasan Alex dan itu benar adanya.
Wanita itu menuntut perhatian dari Alex, sepertinya fasilitas mewah saja tak cukup untuk menyenangkan hatinya. Dan semalam Alex menurutinya dengan membawa Lola makan malam romantis di hotel bintang lima.
Alex mengantarkan kekasihnya itu kembali ke apartemennya, keduanya mulai saling melepaskan rindu dengan ciuman panas yang saling menuntut dan tentu saja keduanya menginginkan lebih dari hanya sekedar ciuman namun ucapan Lola membawa Alex ke alam sadarnya.
"Alex, kenapa kamu tak bawa aku ke tempat tinggal mu ?" Tanya Lola.
Butuh waktu beberapa saat bagi Alex untuk menjawab, tak mungkin baginya mengatakan jika ia telah menikah.
"Mmm karena apartemenku tak semewah yang kamu tempati saat ini," jawab Alex beralasan.
"Kalau begitu kamu saja yang pindah kesini," bujuk Lola dengan manja.
"Ngh... Tempat kerjaku lebih dekat dari sana," Alex kembali mencari alasan.
"Sepertinya kamu memang gak mau dekat denganku lagi," ucap Lola dengan nada kecewa. Ia pun bangkit dari atas tubuh Alex dan merapikan bajunya yang tersingkap.
"Bukan begitu," sahut Alex seraya mendudukkan tubuhnya kembali.
"Tapi akhir pekan besok kamu bisa kan temani aku ?" Tanya Lola lagi.
"Maaf sayang, hari Minggu pagi aku harus pergi ke Semarang untuk melihat proyek di sana. Dan besok malam Mama mengundangku makan malam,"
"Mama mu disini ? Di Indonesia ?" Tanya Lola sedikit cemas. Karena sedari dulu Mama Alex kurang menyukainya.
"Hu'um, mama mengundangku makan malam untuk merayakan ulangtahunku, jadi aku harus datang ke sana dan maaf aku tak bisa mengajakmu. Belum saatnya, ku mohon mengertilah,"
Lola terdiam sejenak seraya berpikir. "Baiklah, besok malam setelah pulang dari rumah orangtuamu datanglah kemari kita rayakan ulang tahunmu berdua, aku akan memberimu kado spesial. Tak terasa besok usiamu menginjak 28 tahun. Rasanya baru kemarin kita berusia 20an,"
Alex tersenyum samar mendengar yang Lola ucapkan. Kekasihnya itu memang tak pernah mengingat tanggal lahirnya. "Hari ulang tahunku telah lewat beberapa hari yang lalu,"
"Oh ya ? Bukannya besok ? A... Aku kan gak mungkin lupa," ucap Lola sedikit gugup.
"Salah, dari dulu kamu memang tak pernah ingat," sahut Alex. Menyadari jika wanita yang sangat dicintainya ternyata tak begitu perhatian dengannya. Berbeda dengan Nadia yang susah payah menyiapkan pesta kejutan untuknya tapi ia malah merusaknya karena euforia kedatangan Lola waktu itu.
"Ah Nadia...," Gumam Alex yang kini merasa bersalah karena tak menghargai apa yang dilakukan istrinya itu untuknya.
"Hmm siapa ?" Tanya Lola.
"Hmm ? Bukan siapa-siapa... Dan aku harus pulang karena besok pagi ada sesuatu yang harus aku lakukan," ucap Alex seraya berdiri dan merapikan pakaian serta celananya yang sedikit berantakan.
"Kamu marah karena aku lupa ?" Tanya Lola. Ia melihat air muka Alex yang sedikit berubah.
"Nggak marah," jawab Alex seraya mencium pipi Lola dan ia pun pergi meninggalkan apartemen wanita yang entah apa statusnya bagi Alex saat ini.
Kini wanita itu kembali padanya sesuai dengan apa yang diinginkan, tapi kenapa rasanya tak se-antusias dulu.
"Ah gila," gumam Alex dengan meraup wajahnya.
***
Alex menjemput Nadia lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Istrinya itu dengan cepat memasuki mobil mewah Alex karena tak mau teman kantor yang lain melihatnya bersama lelaki kaya karena pasti akan menjadi bahan pembicaraan dan Nadia tak suka itu.
"Kita langsung ke rumah Mama?" Tanya Nadia.
"Hu'um," jawab Alex yang sedang fokus pada jalanan.
"Apa gak beli kue dulu ? Masa datang gak bawa apa-apa. Mama suka kue apa ?"
"Mama suka kue basah tradisional gitu," Jawab Alex.
"Kalau begitu antar aku ke jalan xxx ada toko yang jual kue seperti itu," sahut Nadia antusias dan Alex pun menurutinya.
Nadia membawa nampan dan juga alat capit makanan. Dengan antusias ia memilih makanan dan beberapa kali bertanya pada Alex apa yang mamanya sukai.
Alex memperhatikan istrinya itu dengan seksama, dalam hatinya ia merasa senang karena Nadia begitu perhatian pada mamanya, wanita yang paling Alex sayangi di dunia ini.
"Kamu gak nanya aku sukanya apa ?" Bisik Alex pada Nadia yang sibuk memilih kue.
"Mmm... Nanti kalau aku belikan gak kamu gak mau makan lagi. Kan sayang jadi dibuang," jawab Nadia sembari menyindir hidangan untuk ulang tahun Alex beberapa waktu lalu.
"Kamu yang terburu-buru membuang steak dan kuenya padahal kan masih bisa dimakan," protes Alex.
"Mana lagi yang mama kamu suka?" Tanya Nadia mengalihkan pembicaraan.
Alex memandang wajah Nadia dengan kesal. Istrinya itu masih saja mengingat kejadian waktu lalu padahal dirinya telah meminta maaf.
***
"Nad, maafin aku karena waktu itu. Maaf karena tak menghargai kerja kerasmu," ucap Alex ketika mereka telah berada di dalam mobil.
"Mmm, its oke... Aku yang salah kok. Salah karena terlalu berlebihan menyambut hari ulang tahunmu padahal kita hanya sebatas teman dan kamu pun tentunya memiliki rencana sendiri. Maafin aku yang telah lancang melakukan itu semua," jawab Nadia dengan senyum yang dipaksakan.
Alex yang tengah memegang setir menolehkan kepalanya. Entah kenapa ia tak suka dengan apa yang baru saja Nadia ucapkan. "Sebatas teman," kata-kata yang kini mengganggu pikirannya.
"Sebatas teman ?" Tanya Alex pada akhirnya. Ia tak lagi kuasa menahan rasa yang mengganjal dalam dadanya.
"Ah maaf, teman serumah maksud ku," ralat Nadia tapi Alex masih tak suka dengan jawaban istrinya.
Sepanjang perjalanan tak ada lagi perkataan yang keluar dari mulut keduanya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Nadia yang sibuk menenangkan diri karena duduk berdampingan dalam satu mobil dengan Alex ternyata tak baik untuk jantungnya.
Sedangkan Alex terus terngiang kata-kata Nadia tentang sebatas teman, walaupun itu memang kenyataannya namun mengapa Alex merasa tak rela.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya mereka tiba di rumah orang tua Alex. Banyak mobil yang sudah terparkir, sepertinya mama Alex mengundang beberapa saudara terdekatnya.
"Ayo," ajak Alex seraya meraih jemari Nadia pada genggamannya. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan itu.
Nadia tersentak, dengan refleks ia menepis tautan jemari suaminya.
"Kenapa ?" Tanya Alex dengan mengerutkan keningnya. Ia tak suka dengan penolakan istrinya.
"Mmm, ngapain ?" Nadia balik bertanya.
"Biar orang-orang mengira kita suami istri yang sebenarnya," jawab Alex.
"Mmmm, gak usah begitu. Aku bawa kue dengan dua tangan aja jadi tak ada satupun yang curiga," sahut Nadia seraya membawa kue yang ia beli dengan kedua tangannya dan berjalan mendahului Alex.
Bukannya ia tak mau menggenggam tangan Alex, tentu saja Nadia sangat ingin. Namun ia tak mau Alex merasakan tangannya yang gemetar dan dingin karena rasa gugup yang terus menyelimuti dirinya. Ia tak mau Alex tahu jika jantungnya berdisko ria hanya karena Alex menggenggam tangannya.
Sedangkan Alex menatap punggung Nadia yang berjalan menjauhi dengan tatapan mata dingin. Lagi-lagi ia tak suka dengan penolakan sang istri.
To be continued ❤️
Makasih yang udah baca
Jangan lupa like dan komen ya..
Mumpung Senin vote yuuukkk 😘😘😘