
Nadia tengah bersiap pergi ke kantor dengan tergesa, saat ini ia sedang mengancingkan kemejanya satu persatu dan bagian tubuh bawahnya hanya tertutup kain berbentuk segitiga berwarna hitam saja yang berhiaskan banyak bunga daisy putih.
Alex memperhatikannya sambil duduk menyender di kepala ranjang, ia bertelanjang dada sedangkan tubuh bawahnya yang polos ditutupi oleh bedcover hingga yang sekarang terlihat adalah guratan otot di perutnya yang kotak-kotak. Ia pandangi istrinya itu dengan mata teduhnya dan sungguh bagi Alex, saat ini Nadia terlihat sangat menggemaskan. Rambutnya masih basah dan wajah polos tanpa polesan makeup.
Setelah melakukan kewajibannya di waktu subuh, Alex dan Nadia kembali bergelut manja di atas ranjang. Meluapkan rasa rindu dan cinta yang tak ada habisnya dan berusaha untuk saling memuaskan satu sama lain dengan setiap sentuhan juga belaian yang saling mereka berikan hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit dan Nadia yang harus kembali bersuci akan sangat terlambat untuk tiba di kantornya.
"Aku sangat terlambat," keluh Nadia sembari mulai mengenakan celana kerjanya yang berbentuk palazzo, yaitu celana yang memiliki bentuk seperti kulot namun memiliki bentuk lebih kecil di bagian atasnya hingga Nadia bisa dengan mudah mengenakannya.
Tapi...
Celana itu juga sangat mudah untuk Alex lepaskan. "Aleexx..."aku sudah sangat terlambat," rengek Nadia terdengar manja. Saat ini ia sedang berada di atas pangkuan Alex karena lelaki itu menarik tubuhnya dan mendekapnya erat, sedangkan tangan yang lain menarik celana palazzo yang Nadia kenakan dengan satu tarikan tangan dan terlepas lah dengan sempurna
"Aleeexxx, stop... aku benar-benar sudah terlambat," rengek Nadia lagi, karena Alex semakin mengeratkan pelukannya dengan kedua tangan. Tak hanya itu Alex juga mencium gemas wajahnya bertubi-tubi hingga istrinya itu merasa kegelian.
"Aku lebih suka seperti ini daripada kamu pergi bekerja, tinggallah di ranjang satu hari ini saja," bujuk Alex.
"Aku baru pindah kesini satu Minggu yang lalu dan kini harus bolos ? bagaimana kata-kata orang nanti ?" sahut Nadia, sepertinya saat ini dia tengah lupa jika Alex salah satu pemegang saham di perusahaan tempat dirinya bekerja.
"Apa kamu tak tahu, Sayang ? perusahaan mu sudah menjadi milikku sebagian," bisik Alex di tengkuk Nadia hingga membuat tubuh istrinya itu meremang karena nafas Alex yang hangat menerpa kulitnya.
Nadia menggeliatkan tubuhnya karena geli dan mengigit bibir bawahnya ketika ia sadar jika Alex telah membeli saham perusahaannya beberapa waktu lalu.
"Ya... Tuhan....," gumam Nadia pelan.
Alex menghentikan cumbuannya dan menyampirkan dagunya di bahu sang istri. "kenapa ?" tanya Alex.
"Tak menyangka jika semalam aku tidur dengan salah satu pemegang saham... Aku ditiduri boss ku," jawab Nadia dengan suaranya yang terdengar menggoda.
"uuuuhhhhh," erang Alex sembari menarik nafas dalam. karena apa yang Nadia ucapkan sungguh menyulut hasratnya.
"Nakaalll....," bisik Alex lirih tepat di telinga Nadia dan kini tangannya telah membelai bagian paha dalam sang istri yang terduduk di atas pangkuannya. "Tapi aku suka....," lanjut Alex masih dengan berbisik lirih.
Nadia menggeliatkan tubuhnya gelisah, karena bisikkan Alex begitu seduktif dan belaian di pahanya kian intens saja. Ia tahu pembicaraan ini akan berakhir seperti apa. Tak hanya Alex saja yang meluapkan rasa rindunya, tapi Nadia juga. Dan mereka melampiaskannya dengan cara yang sama.
Nadia memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan-sentuhan halus seringan bulu yang Alex berikan dengan jemarinya, dan ia juga nikmati setiap endusan dari hidung mancung Alex yang tengah menghirup dengan rakus aroma tubuhnya.
"Tapi kenapa kamu harus membeli saham perusahaan tempatku bekerja ? Alex, kamu kan tahu aku sangat menyukai pekerjaan aku," tanya Nadia. Kini ia merasa cemas jika Alex akan melarangnya bekerja dan berdiam diri di apartemennya.
"Kamu kan tahu jika aku suka dengan apa yang aku lakukan, aku bukan tipe yang wanita yang berdiam diri di rumah dan memilih perabotan atau mencoba resep masakan baru," lanjut Nadia. Kini ia menggeser tubuhnya dari pangkuan Alex dan duduk saling berhadapan.
"Jangan khawatir, aku tak pernah keberatan jika kamu ingin bekerja dan aku sangat percaya padamu," jawab Alex sembari merapikan rambut Nadia yang menutupi dahi.
"Tentu saja kamu harus percaya, walaupun aku banyak bertemu para lelaki tapi hanya kamu yang aku cinta," sahut Nadia.
Alex yang mendengar itu mengulum senyumnya dan dadanya menghangat seketika, sungguh ia sangat suka jika Nadia mengucapkan kata-kata cinta padanya.
"Anggaplah ini sebagai bukti cintaku padamu, Sayang," timpal Alex.
"What ?" gumam Nadia pelan.
"Maaf jika ini akan membuatmu mengingat masa sulit kita, tapi ketika kamu mengalami hal buruk yang terjadi waktu lalu membuatku berpikir bagaimana cara terbaik untuk melindungi kamu dan ini salah satunya. Dengan masuk ke dalam perusahaan mu, aku bisa ikut andil dalam menentukan jadwal kerja dan dinas mu. Tapi jangan berpikir bahwa aku melakukan ini untuk mengontrolmu, aku hanya ingin memastikan jika kamu aman dan baik-baik saja," jelas Alex perlahan.
"Tapi tentunya kamu memerlukan uang yang tak sedikit untuk melakukan itu," ucap Nadia. Ia merasa pengorbanan Alex terlalu berlebihan.
"Mmm... aku menghentikan sementara pembangunan kantor ku,"
"Aleeexxhhh...," cicit Nadia yang kini merasa bersalah.
"Dan semua tak hanya menggunakan uang, aku menjadikan perusahaanmu sebagai rekanan dalam banyak perjanjian kerjasama, terutama dengan perusahaan besar Asia itu," jawab Alex lagi.
"Alex, kenapa kamu lakukan itu ? seharusnya kamu akan mendapatkan profit yang banyak jika tak mengajak perusahaan lain. Seharusnya...,"
"Akan aku lakukan walaupun aku harus banyak kehilangan karena kamulah yang terpenting untukku, Nadia," lanjut Alex lagi tanpa memberikan kesempatan pada Nadia untuk berbicara.
Alex merubah duduknya menjadi bersila, masih dengan bedcover yang menutupi bagian bawah tubuhnya yang polos, ia bergerak mencondongkan tubuhnya dan mengangkat dagu Nadia dengan jempolnya agar ia bisa menatap mata Nadia dengan dalam. "Dengarkan aku...," titah Alex dan Nadia pun mengangguk patuh.
"Aku sangat mencintaimu dan mungkin ke depannya kamu akan sangat bosan mendengarnya karena aku akan sering mengatakan kata-kata cinta itu. Aku lakukan itu karena itulah yang aku rasakan padamu, " ucap Alex dengan jelasnya.
"Aku mencintaimu bukan karena kamu pernah mengandung anakku, bukan juga karena kamu wanita pilihan Mama. Aku mencintaimu dari hati meskipun kamu mengandung anakku atau tidak. Aku mencintaimu karena kamulah yang membuat aku bahagia dan menjadikan hidupku lebih berarti. Kamu seperti oksigen untukku, maka aku akan mati tanpamu," lanjut Alex. Mata hitamnya menatap sayu pada Nadia yang kini merasakan panas di wajahnya dan menahan buram di matanya karena air bening yang tergenang telah siap untuk ditumpahkan.
"Aku sangat mencintaimu, sungguh... akan aku lakukan apapun agar bisa dekat denganmu dan ku harap kamu mengerti apa yang aku utarakan," lanjut Alex dan Nadia pun menganggukkan kepala dengan wajahnya yang mulai basah
"Seperti janjiku waktu lalu, aku akan menemukanmu dan membawamu pulang. Sebagai pemegang saham aku akan meminta perusahaanmu untuk kembali memindahkan kamu ke Jakarta," lanjut Alex dan lagi-lagi Nadia menganggukkan kepalanya tanpa mampu bersuara.
"Aku sudah mengatur semuanya, aku akan meminta kamu yang menjadi pilot project seperti waktu lalu dan kita akan banyak melakukan dinas kerja bersama," ucap Alex sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang istri. Nadia yang melihat itu tertawa walaupun saat ini dirinya menangis karena rasa haru atas perjuangan Alex.
"Aku akan mendukung apapun yang membuatmu bahagia asal aku ada di sana untuk melindungi kamu," ucap Alex sembari kembali merapikan rambut Nadia dengan jemarinya. Lagi-lagi Nadia hanya mampu untuk menganggukkan kepala tanpa bersuara.
"Dan... aku akan sangat bahagia jika suatu waktu kamu bersedia untuk bekerja denganku di kantor yang sama, yaitu di tempatku,"
"Alexh....," gumam Nadia tak percaya.
"Aku tak memaksa, pikirkan saja dulu. Aku tahu kamu sangat mencintai pekerjaan mu dan aku pun akan menempatkan kamu di bagian yang sama jika kamu mau bekerja satu kantor denganku," lanjut Alex kemudian.
"Sebenarnya aku ingin menjadikan kamu sebagai asisten pribadi, pekerjaanmu juga ringan. Cukup duduk di pangkuan aku saja setiap harinya," Alex kembali menaik turunkan alisnya ketika mengatakan hal itu hingga membuat Nadia kembali tertawa.
"I will keep you stuck in my love forever," ( Aku akan membuatmu terjebak dalam cintaku selamanya ). Aku tak peduli jika itu terdengar gila. Tapi percayalah aku akan membuat kamu terjebak dalam cintaku untuk selamanya. Hanya kamu dan aku, kita akan terus bersama apapun yang terjadi. Walaupun kamu lari seperti sekarang, aku akan terus mengejarmu," ucap Alex memperingatkan. Wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Nadia tatapi wajah wajah Alex dengan seksama dan senyum bahagia tersungging di bibirnya. "I love being stuck in your love," ( aku suka terjebak dalam cintamu ). ucap Nadia dengan begitu jelasnya. Ia menerjang tubuh Alex hingga lelaki itu terbaring dan kini Nadia duduk di atasnya.
Nadia tundukan kepala, menatapi wajah Alex yang terbaring dibawahnya rambutnya yang panjang menjuntai menutupi wajah keduanya. Alex tersenyum, begitu pun Nadia.
"Kita akan bersama sampai tua, sampai kamu bosan melihat wajahku," ucap Nadia.
"Tak mungkin, aku tak akan pernah merasa bosan padamu. Aku akan terus mencintaimu," sahut Alex.
Dada Nadia berdegup hebat, ia semakin tundukkan wajahnya dan meraih Bibir Alex dengan bibirnya. Alex membalas ciuman itu sama inginnya, ia lu*mat bibir Nadia secara bergantian hingga tersulut hasrat sang istri.
Nadia gerakan pinggulnya perlahan, maju mundur penuh godaan pada bagian inti tubuh Alex yang tengah ia duduki dan kini menggeliat bangun. Walaupun masih tertutup kain bedcover dan juga celananya tapi bisa Nadia rasakan ketegangan bukti gairah Alex yang tak kecil itu bergesekan nikmat dengan miliknya.
"Nakal," gumam Alex parau.
Nadia terkekeh dan terus menggerakkan pinggulnya secara intens. Bibirnya tak berhenti menyesapi bibir Alex yang berada di bawahnya.
"Aku menginginkanmu lagi," ucap Alex sembari menahan erangannya.
"Tapi aku harus bekerja," jawab Nadia penuh goda. Bibirnya bersentuhan halus dengan milik Alex ketika ia mengatakan hal itu.
"Awww," pekik Nadia terkejut karena Alex dengan mudah menukar posisi mereka hingga kini Nadia berada di bawah tubuh Alex dalam hitungan detik saja.
"Sudah kukatakan, kamu terjebak denganku dan tak akan pernah bisa lari lagi," sahut Alex sembari membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan mengulumnya bergantian. Ia miringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman, sedangkan di bawah sana tangannya sibuk melepaskan kain penutup inti tubuh istrinya dan mengarahkan ketegangannya.
"eunghhhhh," erang keduanya setelah ketegangan Alex melesak masuk dengan sempurna. Percintaan babak ke sekian pun kembali di mulai.
To be continued ♥️
Jangan lupa like dan komen.
Terimakasih atas hadiah dan votenya.
Semoga rezeki reader semuanya berkah selalu.