
Alex tatapi pintu yang telah tertutup rapat dengan sempurna. Beberapa menit lalu Nadia meninggalkannya karena luka hati yang tak bisa ia tahan lagi. Alex tersenyum samar menyadari kebodohannya sendiri, ia amati pintu apartemennya dan ingat jika nomor acak yang digunakannya dulu adalah tanggal ulang tahun mantan kekasihnya, Lola.
Alex baru menggantinya ketika Lola berhasil memasuki apartemennya tanpa susah payah yaitu dengan menebak tanggal ulang tahunnya sendiri padahal waktu itu ia dan Nadia telah tidur bersama dan ternyata istrinya itu sudah jatuh cinta padanya.
Hal kecil yang ternyata menyakiti hati sang istri dan Nadia terus bertahan hanya karena rasa cintanya. Sekarang ketika ia memutuskan pergi, Alex tak bisa menyalahkannya.
"Maafkan aku, Sayang." Alex berucap lirih. "Aku bersalah padamu, tapi aku janji akan perbaiki semua dan membawamu kembali," lanjut Alex.
Ia membalikkan tubuhnya dan melihat sekeliling apartemennya yang kini terasa sunyi senyap karena tak ada Nadia di sana.
Alex berjalan menuju kamarnya, ia harus bergegas untuk pergi ke kantornya dan menyelesaikan semua pekerjaan dan juga urusan pribadinya.
"Halo, Joy ? bisa tolong kirimkan supir untukku ?" tanya Alex. Saat ini ia sedang menghubungi sekertaris pribadinya sembari memandangi pantulan wajahnya di cermin yang terlihat begitu kacau.
"Oke, terimakasih," sahut Alex saat sang sekretaris menjawab jika seseorang akan menjemputnya beberapa menit lagi.
Alex keluar dari kamarnya setelah merapikan dirinya untuk yang kedua kali karena momen menyedihkan yang belum lama Alex lalui membuatnya terlihat berantakan. Matanya memerah, pakaiannya kusut dan wajahnya terlihat begitu sendu.
Ada sebuah benda yang berwarna biru terang yang menjadi pusat perhatiannya saat ia melewati dapur dan Alex pun menghampirinya. Ia meraih benda itu yang ternyata sebuah mug bertuliskan namanya 'Alex' dengan corak yang hampir sama dengan milik Nadia.
Alex mengulum senyum ketika ia ingat bagaimana dirinya sangat cemburu karena gelas mug milik Nadia hingga ia menjatuhkannya ke dalam tempat sampah. Tapi ternyata gelas itu memiliki pasangannya, yaitu yang bertuliskan namanya.
"Jangan khawatir, pasanganmu akan segera kembali," gumam Alex seolah memberikan penghiburan pada gelas mug miliknya padahal kata-kata itu ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Ia letakkan kembali mug itu di tempatnya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu sebagai sarapannya tapi apapun yang Alex lihat tak ada satupun yang menggugah selera makannya. Alex tidak tertarik pada roti ataupun sereal yang tersimpan rapi di lemari dapurnya. Ia lebih memilih untuk berjalan menuju mini barnya yang sudah sangat lama tak pernah Alex sentuh lagi.
Suara batu es yang berjatuhan ke dalam gelas terdengar begitu jelasnya. Disusul oleh suara air yang mengalir memenuhi gelas tersebut. Warnanya hitam pekat dan berbuih. Telah berbulan-bulan Alex tak menyentuhnya, semenjak seseorang yang tinggal dengannya tak menyukai jika Alex meminumnya.
Gelas itu hampir saja menyentuh bibirnya namun Alex mengurungkannya ketika ia ingat apa yang Nadia katakan, "Aku gak mau jadi janda dalam waktu yang cepat," Nadia tahu sekali efek samping yang buruk dari minuman berbuih itu bisa mengancam kesehatan Alex.
Mengingat itu semua Alex pun mengurungkan niatnya dan berjalan menuju dapur, lalu ia menuang semua isi gelas itu kedalam wastafel dan menyiramnya.
"Aku gak akan minum ini lagi demi kamu," ucap Alex sambil membayangkan wajah sang istri dan ia pun tersenyum karenanya.
Alex tiba di kantornya dengan sangat terlambat, beberapa janji temu ia lewatkan begitu saja. Pagi ini keadaannya begitu kacau sepeninggal Nadia. Ingin ia melampiaskannya dengan meluapkan emosi namun ia ingat harus berjuang mendapatkan kembali sang istri.
"Jadwal anda hari ini bertemu dengan pak Yohan dari PT. XYZ guna membicarakan rencana kerjasama...,"
"Batalkan dulu semua urusan bisnis hari ini. Tolong telepon pengacaraku untuk datang kemari dan hubungi beberapa orang ini untuk menghadap," potong Alex. Ia akan berusaha untuk menyelesaikan masalah tentang Lola terlebih dahulu.
"Dan Joy, katakan saya bersedia untuk diwawancara," lanjut Alex sebelum joy meninggalkan ruangannya.
Beberapa waktu lalu dirinya dihubungi oleh sebuah majalah bisnis ternama untuk melakukan wawancara terkait keberhasilannya melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan raksasa Asia. Ia diminta untuk menceritakan kisah suksesnya.
Pada awalnya Alex tak tertarik dengan tawaran itu karena ia tak begitu suka untuk muncul ke publik tapi ada sesuatu yang ingin disampaikannya saat ini hingga ia pun menyetujuinya.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya pengacara Alex dan beberapa orang kepercayaannya datang. Ia meminta penyelidikan lebih dalam yang bisa membuat Lola mendapatkan hukuman yang lebih berat.
"Apa saya harus pergi ke San Fransisco juga ?" tanya salah satu orang kepercayaan Alex.
"Lakukan apapun yang di perlukan," jawab Alex.
"Lalu bagaimana dengan rumor yang beredar di kantor istri anda ?" tanya yang lainnya.
"Usut juga sampai tuntas, siapapun yang menyakiti Nadia maka ia berurusan denganku," sahut Alex nampak sangat serius.
"Dan anda tolong hubungi kantor tempat Nadia bekerja, ada tawaran kerjasama yang ingin saya ajukan," kali ini Alex berucap pada pengacaranya.
Semua menganggukkan kepalanya paham dan mulai meninggalkan ruangan tempat Alex bekerja kecuali 2 orang lelaki yang sengaja berdiam diri.
"Dan kalian jaga istriku dengan sebaik mungkin, ingat jangan terlalu dekat karena ia masih trauma dengan orang asing. Laporkan padaku ketika ia sudah sampai rumah dinasnya," titah Alex tak terbantahkan.
Alex telah tahu dimana istrinya berada, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan Nadia dan memastikan ia dalam keadaan aman.
Waktu pun berlalu hingga malam pun tiba, Alex berjalan gontai memasuki apartemennya. Ia menekan nomor acak yang merupakan tanggal pernikahannya dengan Nadia dan melangkahkan kakinya ketika pintu apartemennya terbuka.
"Sayang, aku pulang," sahut Alex tanpa sadar. Ia nyalakan lampu dan kemudian tersadar jika Nadia tak ada di sana.
"Ya Tuhan, aku tak bisa mengeluarkan kamu dari kepalaku," keluh Alex seraya mencubit pangkal hidungnya dengan kedua jari, berusaha mengurangi rasa pening di kepalanya.
Alex edarkan pandangannya menelisik keadaan apartemennya yang begitu sunyi. Belum juga satu hari Nadia meninggalkannya tapi ia sudah begitu rapuh dan kesepian.
"Sayang, aku kangen kamu," ucapnya lagi dan kali ini pundaknya bergerak naik turun menandakan ia tengah menumpahkan air matanya yang sudah tak tertahankan.
***
Flashback beberapa jam yang lalu.
Nadia tiba di Bandung ketika hari masih terang walaupun ia terlambat banyak di hari pertamanya di kantor yang baru dengan jabatan yang baru.
Ia langsung masuk kantor sedangkan sang supir mengantarkan kedua kopernya ke rumah dinas yang disediakan untuknya. Posisinya yang kini sebagai manager membuat Nadia memiliki fasilitas rumah dinas dari kantornya. Walaupun sederhana tapi setidaknya Nadia tak usah susah payah mencari tempat tinggal dan menyewanya.
Nadia sudah terbiasa hidup sederhana jadi itu tak akan sulit baginya. Kesulitan yang kini tengah Nadia hadapi adalah hidup terpisah dengan lelaki yang sangat dicintainya.
Padahal ia yang memutuskan untuk berpisah namun Nadia sendiri yang merasa sangat tersiksa. Hatinya hancur dan dalam kepalanya Alex masih muncul menghantui.
"Selamat datang ibu Nadia," ucap salah satu karyawati yang datang menyambutnya.
Nadia yang mendengar itu tersentak dan tersenyum samar. Ia baru saja kembali tersadar dari lamunannya. Melamunkan Alex tentu saja.
"Terimakasih," sahut Nadia. Ia berusaha untuk bersikap ramah dan seolah-olah tak terjadi apapun padahal yang sebenarnya terjadi ia sedang merasakan hancur saat ini.
"Apa ibu baik-baik saja ?" tanya karyawati bernama Ina itu dan Nadia pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Jalanan agak macet, membuat saya sedikit merasa pusing," jawab Nadia beralasan.
"Saya Ina, saya yang akan menjadi asisten anda. Kebetulan pak Daniel yang merupakan pemimpin cabang sedang berada di luar kota jadi saya yang akan memperkenalkan anda pada pegawai yang lain," jelasnya lagi.
"terimakasih," sahut Nadia dan ia pun menjalani hari pertamanya di tempat baru.
Pukul tujuh malam Nadia telah sampai di rumah dinasnya. Yang pertama ia lakukan adalah mencari ponselnya dari dalam tas dan menggulir layarnya.
Ada banyak pesan yang masuk dan yang terbanyak adalah dari para sahabatnya yang memberikan banyak kata semangat.
Ada juga pesan dari sang ibu yang menanyakan keadaannya. Nadia menarik nafas dalam-dalam karena kedua orangtuanya belum tahu jika ia dipindah tugaskan ke Bandung untuk berpisah dengan Alex.
"Maafin aku, Ibu...," gumam Nadia sembari mengusap pipinya.
Tak ada satu pesan pun dari Alex dan Nadia pun berusaha untuk tak memikirkannya. Ia dan Alex sedang dalam masa perpisahan pastilah lelaki itu tak akan menghubunginya.
Alex memang mengatakan akan mencarinya, tapi Nadia tak akan berharap banyak. Saat ini ia hanya ingin sendiri dan menata hati. Meyakinkan dirinya apa yang sebenarnya ia inginkan dan jika pada akhirnya ia harus benar-benar berpisah dengan Alex, ia akan menerimanya dengan lapang dada.
Nadia edarkan pandangannya menelisik rumah dinas sederhana itu. Rumah yang terdiri 2 kamar tidur dan satu kamar mandi, beserta dapur dan ruang tamu. Semua terasa asing dan sepi baginya, separuh jiwanya masih tertinggal bersama Alex.
"Aku akan baik-baik saja," lirih Nadia dan ia pun segera membereskan semua barang yang ia bawa.
***
Suara kicau burung mulai terdengar, Nadia pun membuka matanya pelan. Rupanya pagi telah menyapa dan ia pun segera bangkit untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi kerja.
Nadia duduk di hadapan cermin dan memoleskan riasan natural untuk menutupi mata pandanya. Ia tersenyum pada bayangannya sendiri dan segera mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.
Ia pandangi sebuah cincin nikah bermatakan berlian dan bertuliskan 4 huruf saja "Alex," Nadia membacanya pelan. Ia masukan cincin itu kedalam untaian rantai emas yang ternyata sebuah kalung.
Nadia kenakan kalung berliontin kan cincin nikah bertuliskan nama Alex di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya ia mengenakan cincin nikah walaupun dengan cara yang salah. Seperti yang Nadia katakan jika ia akan terus mencintai Alex walaupun tak lagi bersama dan mengenakan cincin nikah seperti ini adalah cara Nadia untuk merasakan kehadiran Alex bersamanya.
***
Alex ulurkan tangannya mencoba menggapai seseorang yang selalu tertidur di sebelahnya. Mata Alex yang terpejam akhirnya terbuka ketika ia rasakan dingin di bagian ranjang yang biasa Nadia tiduri. Alex pun sadar jika Nadia sudah tak ada lagi di sisinya.
"Huuufffffttt," Alex dudukkan tubuhnya di atas ranjang sembari menarik nafas dalam. Menjambak pelan rambutnya dengan kedua tangan, ia merasa kesepian dan begitu frustasi saat ini.
Dengan langkah gontai Alex berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Semua begitu terasa sunyi, Alex pun segera bersiap untuk pergi ke kantor.
Setelah beberapa belas menit berlalu Alex pun telah siap untuk pergi namun langkahnya terhenti ketika ia ingat akan sesuatu. Alex pun berjalan kembali ke arah lemari dan membukanya. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci sebuah cincin emas berwarna putih dan terdapat ukiran 5 huruf di dalamnya.
"Nadia," baca Alex pelan. Ia ingat terakhir menggunakan cincin itu ketika Nadia pergi untuk acara kantor ke pulau seribu sedangkan Alex menghabiskan waktunya di klub malam.
Tapi cincin itu menyelamatkannya dari godaan wanita malam dan Alex pun tersenyum ketika mengingat itu semua.
Dengan tanpa ragu Alex kenakan cincin bertuliskan nama Nadia itu di jari manisnya. "Mulai hari ini aku akan selalu mengenakannya sebagai tanda jika aku sudah menjadi milikmu seorang. Aku hanya akan menjadi milikmu, Nadia... dan begitu pun kamu... hanya milikku seorang," gumam Alex seraya memandangi cincin pernikahannya.