In Love

In Love
Bonchap 1



Happy reading ♥️


"Masih sibuk ?" tanya seseorang yang duduk tepat dihadapan Nadia. Ia duduk bertumpang kaki dan terus memperhatikan Nadia yang tengah fokus pada layar laptopnya dengan jari-jarinya yang bergerak lincah di atas keyboard.


"Hu'um," jawab Nadia membenarkan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar karena sungguh ia sedang banyak yang harus dilakukan.


"Masih banyak ?" tanyanya lagi


"Iya begitulah..." jawab Nadia sembari mengangkat wajahnya dan menatap lekat-lekat lawan bicaranya saat in. " because my boss is such pain in the as* ( karena atasanku orangnya menyebalkan ) Dia memberiku banyak tugas yang katanya harus selesai hari ini, tapi dari tadi dia malah duduk di depanku sambil terus memperhatikan. Bahkan sempat-sempatnya dia mengajak aku untuk berc*nta di atas sofa itu,"lanjutnya lagi sembari menunjukkan sofa dengan matanya. Tawa Alex pecah seketika saat ia mendapatkan jawaban istrinya.


"Tentu saja aku menolaknya karena ini masih jam 10 pagi dan ia pun sudah mendapatkan jatahnya tadi malam," lanjut Nadia dengan menunjukkan wajah kesalnya, ia memicingkan mata dan melihat Alex dengan ujung matanya. Tawa Alex pun makin nyaring terdengar.


Ya...


Alex lah yang duduk tepat di hadapan Nadia saat ini, sudah hampir satu jam ia berada di sana hanya untuk memperhatikan isterinya bekerja padahal ia pun mempunyai setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan tapi ia malah bermain-main di ruangan istrinya itu. Bukan hal yang aneh lagi sebenarnya karena tak satu atau dua kali Alex melakukan itu.


Sekarang keduanya telah menempati kantor Alex yang baru dan bekerja dalam ruangan yang terpisah namun masih dalam satu lantai. Padahal letaknya cukup jauh, tapi Alex lebih sering berada di ruangan isterinya daripada di ruang kerjanya sendiri.


Seperti beberapa hari yang lalu, pagi itu Joy si sekertaris begitu panik mencari Alex karena klien utama Alex telah datang untuk menemuinya namun hingga hampir pukul 9 pagi Alex belum menampakkan batang hidungnya.


Berkali-kali Joy hubungi bos-nya itu melalui panggilan telepon namun ternyata Alex mematikan dayanya. Padahal Alex adalah seseorang yang disiplin soal pekerjaan, biasanya ia akan datang satu jam sebelum janji temu dengan kliennya untuk memastikan semua berkas yang diperlukan sudah lengkap dan sempurna.


Tapi pagi itu Alex tak kunjung datang dan itu membuat Joy cemas luar biasa. Setelah tak berhasil menghubungi Alex lewat ponselnya, Joy pun mendatangi ruangan Nadia dan memasukinya tanpa mengetuk pintu dulu karena pintu ruangan itu tak tertutup sempurna.


"astaga, maaf...," ucap Joy. Ia langsung menundukkan kepala saat melihat bos yang dicarinya tengah memagut bibir istrinya mesra.


Alex dan Nadia pun memisahkan tautan bibir mereka dengan wajah Alex terlihat kecewa. "Joy, biasa kan ketuk pintu dulu sebelum memasuki ruang kerja isteriku," ucap Alex terdengar dingin.


"Maaf, saya panik mencari Anda karena Mr. Lee telah datang dan kini sedang menunggu anda," jawab Joy tanpa berani mengangkat wajahnya.


Melihat Joy yang begitu merasa bersalah membuat Nadia begitu kesal. Bukan kesal pada joy tentu saja, tapi pada Alex yang ternyata berjalan membuntutinya. Nadia kira Alex langsung berjalan menuju ruangannya ketika mereka keluar dari lift secara bersamaan namun nyatanya Alex mengikuti langkah Nadia masuk ke dalam ruangan istrinya itu padahal Alex sudah bercerita dari tadi malam jika ia akan melakukan pertemuan penting dengan petinggi perusahaan raksasa Asia untuk kembali melakukan kerjasama.


"Joy sebaiknya ruangan ku ini menggunakan kunci ganda dengan sesuatu yang menggunakan password untuk memasukinya," ucap Nadia pada sekertaris pribadi suaminya itu.


"Hu'um... setuju... jadi orang tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan ini. Hanya aku saja yang bebas melakukan itu," sahut Alex menyetujui.


Nadia tercengang sembari menahan tawanya, "justru biar kamu gak masuk ke sini dan kerja di ruangan kamu sendiri," sahut Nadia dan itu membuat Alex kesal dengan mencebikkan bibirnya.


Mereka sudah menikah selama 3 tahun, tapi Alex benar-benar menepati janjinya. Ia mencintai Nadia dengan menggebu seolah pasangan baru. Tanpa malu-malu Alex selalu menunjukkan rasa cintanya yang besar.


Apalagi ketika Nadia mengandung anak mereka seperti sekarang ini. Perubahan pada fisik Nadia membuat Alex semakin menjadi-jadi. Ia sangat menyukai pipi istrinya yang semakin bulat juga bagian dada dan bokongnya yang semakin berisi membuat Alex semakin candu saja. Alex semakin tak bisa jauh dari istrinya itu.


Nadia pun merasakan hal yang sama, semakin Alex menunjukkan rasa cintanya semakin Nadia mencintai suaminya itu. Alex lah yang selalu menemaninya ketika Nadia merasakan morning sickness (Mual di pagi hari ) ia akan membantu Nadia tanpa rasa jijik hingga terkadang membuatnya terlambat datang ke kantor.


Tapi Alex dan Nadia nikmati setiap prosesnya, tiga tahun menanti membuat mereka tak banyak mengeluh tapi lebih banyak bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan. Setelah keduanya saling mencintai, ternyata Tuhan berencana lain menguji cinta mereka dengan kesabaran menanti buah hati.


"Yaankk masa aku gak boleh di sini ?" tanya Alex sedikit merajuk.


"Alex dimana ada bos terus-menerus berada di ruang pegawainya ?"


"Kamu kan 'pegawai plus' " jawab Alex tanpa rasa berdosa dan pecahlah tawa Joy seketika.


Nadia pun semakin bertanduk karena kesal, ia pun mengusir suaminya itu untuk segera menemui kliennya.


Alex keluar dari ruangan Nadia dengan langkah gontai seolah-olah tak bersemangat tapi begitu sampai di ruangan meeting ia langsung menegakkan tubuhnya dan menyalami kliennya dengan penuh wibawa.


Joy yang melihat itu merasa takjub luar biasa. Jika bersama Nadia, Alex akan bermanja layaknya kucing anggora tapi dengan klien atau saingan bisnisnya ia akan menunjukkan taring seperti seekor singa. Begitu juga dengan para karyawan, Alex tak banyak bicara dan terkesan dingin hingga bagi wanita manapun yang akan mencoba untuk mendekatinya hanya percuma saja karena Alex tak akan meliriknya.


Bagi para wanita yang melihat Nadia dari luarnya saja pasti akan menilai jika Nadia hanya seorang wanita yang beruntung mendapatkan lelaki seperti Alex. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana ia berjuang mendapatkan cinta suaminya itu.


Dan bagi Alex, ia merasa sebenarnya dirinya lah yang beruntung dalam hubungan cinta ini karena Nadia mau menerima juga mencintainya dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Nadia lah yang menunjukkan Alex bahwa cinta itu nyata.


"Udah yu, kita makan siang dulu," ajak Alex pada Nadia yang masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Tapi ini baru pukul 11," jawab Nadia sembari melirik jam tangan mewah pemberian suaminya itu.


"Gak apa-apa deh, aku lagi pengen makan mie ayam ini, Yank. Rasanya udah gak tahan lagi," sahut Alex sambil berdiri dan berjalan menuju tempat duduk istrinya.


"Kamu ngidam lagi ?" tanya Nadia.


Alex terdiam sejenak sebelum ia menjawab, entah apa yang terjadi tapi ia pun terkadang merasa mual di pagi hari dan juga merasakan ingin memakan sesuatu yang tak biasanya. Bahkan beberapa kali Alex mengorder makanan lewat aplikasi online hanya karena ia merasa 'ingin' saja.


"Kayanya gitu," jawab Alex.


Beberapa minggu lalu keduanya sempat memeriksakan kondisi Alex, dan dokter yang menanganinya mengatakan jika Alex kemungkinan besar mengalami kehamilan simpatik.


Ini terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung.


Jelas bagi Alex, stress bukanlah pemicunya tapi rasa cintanya yang besar pada Nadia membuat lelaki itu merasakan empati luar biasa hingga ia mengalami kehamilan simpatik tersebut.


Nadia menghela nafas panjang dan akhirnya ia pun menuruti keinginan suaminya itu karena Alex tak akan berhenti meminta jika Nadia belum juga melaksanakannya.


"Gitu dong, Yank," ucap Alex seraya meraih jemari Nadia dalam genggamannya.


"seudah mie ayam, beli gula-gula kapas juga ya," lanjut Alex sembari membayangkan apa saja yang ia inginkan.


"Aku yang hamil tapi kamu yang repot," sahut Nadia terkekeh geli.


"Eits.. kamu bisa hamil karena siapa ?" tanya Alex dengan tersenyum miring penuh kesombongan dan ia pun menunjukkan pangkal pahanya sendiri dengan matanya dan itu membuat Nadia kembali memutar bola matanya malas.


Tawa Alex pecah seketika, sungguh ia sangat suka menggoda istrinya itu. Tapi tawa itu berhenti dan Alex kembali memasang wajah dinginnya ketika ia keluar dari ruangan istrinya itu sambil bergandengan tangan.