In Love

In Love
Tak Sanggup Lagi



Selamat membaca ❤️


Nadia menarik nafas dalam-dalam dengan keduanya telapak tangan saling meremas karena rasa gugup yang menyelimuti dirinya saat ini.


Ia duduk di sofa di ruang keluarga, Nadia edarkan pandangannya mengamati rumah orang tua Alex dengan seksama. Dapat ia bayangkan dengan jelas bagaimana pertama kali datang ke rumah ini adalah ketika Alex mengerjainya di kolam renang apartemennya dulu.


Sore itu ia datang dengan perut yang sangat lapar. Seharusnya hari itu Alex mengajaknya nonton dan makan sebagai pendekatan,  tapi si bocah tengik itu malah mengerjainya dengan membawa Nadia ke apartemennya dan membuatnya tenggelam di kolam renang.


Waktu itu mama Alex memasak banyak sekali jenis makanan untuk menyambut kedatangannya dengan Alex. Semua menikmati makan malam sambil bercerita kecuali Nadia yang asik dengan makanan di atas piringnya beserta kerupuk yang ia kunyah dengan suara nyaring


'krauk krauk krauk,'  seketika semua mata tertuju padanya dan Alex berdecak kagum melihatnya waktu itu.


"Ya Tuhan," des*h Nadia lirih. Ia tersenyum dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Mengusap pipinya yang basah, baru membayangkannya saja sudah membuat Nadia begitu merasa sedih.


Kemudian ia edarkan pandangannya menuju tangga, di ujung tangga itu kamar Alex berada. Ia ingat pertama kali Alex memeluknya begitu intim dan hampir saja menciumnya tapi lagi-lagi lelaki itu mempermainkannya. Nadia ingat bagaimana tubuhnya gemetar karena dekapan tangan Alex. Sebisa mungkin Nadia berpura-pura kuat padahal dadanya bergemuruh karena debaran jantung yang menggila.


Sejak saat itu si bocah tengik selalu berada di kepalanya, tapi nyatanya tak hanya berasa dalam kepala Nadia saja. Bocah tengik itu dengan lancangnya memasuki hati dan menetap di sana walaupun beberapa kali membuat patah hati tapi ia tetap tinggal di sana dan tak tergantikan.


Lagi-lagi Nadia mengusap pipinya yang basah karena membayangkan bagaimana pertama kali ia bersama Alex.


"Maaf membuat kamu menunggu," ucap mama Alex yang datang dengan sebuah nampan berisikan satu cangkir teh hangat dan cookies coklat buatannya sendiri.


"Eh gak pa-pa, Ma. Padahal gak usah repot-repot," sahut Nadia sungkan.


"Tadi pagi mama sengaja bikin kue buat kamu tadinya mau mama titip Alex nanti sore tapi ternyata kamu datang siang ini,"


Nadia yang mendengar itu tersenyum penuh arti. Ia selalu merasa disayangi oleh mama Alex dan itu membuatnya merasa bahagia.


"Aku minum ya, Ma," Nadia mengangkat cangkir dan menyesap isinya dengan perlahan. Debaran jantungnya kian menggila ketika ia ingat apa tujuannya datang ke rumah mama Alex siang ini.


Dengan tangan yang gemetar ia mengambil sesuatu dalam tasnya. Selembar kertas berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan tertera uang sejumlah 300 juta rupiah tertulis di sana.


"A-aku datang untuk menyerahkan ini," ucap Nadia sembari meletakkan cek itu di atas meja dan menyerahkannya dengan perlahan pada mama Alex.


"Apa ini ?" Tanya mama Alex berkerut alis tak paham.


"I-ini cek yang berisikan uang untuk mengganti uang mama yang ibu pinjam. Untuk membayar biaya operasi jantung ayah beberapa tahun yang lalu," jawab Nadia terbata.


"A-apa ? Ba-bagaimana kamu tahu ?" Tanya mama Alex beruntun, raut wajahnya berubah karena rasa terkejut.


"A-apa ibumu yang mengatakannya dan menyuruh kamu membayarnya ?" Tanya mama Alex masih dengan raut wajah tak percaya.


"Bukan ibu yang menyuruhku," jawab Nadia.


"Sumpah demi Tuhan, mama tak pernah menganggapnya sebagai hutang-piutang. Mama hanya ingin membantu ibu mu karena mama sangat menyayanginya seperti saudara kandung sendiri dan kini kamu pun sudah menjadi anak mama maka perkara uang ini sudah tak berarti lagi," jelas mama Alex dengan mata berkaca-kaca.


"Mama maaf... Bukan ibu yang menyuruhku, bahkan ibu tidak tahu apa yang aku lakukan saat ini. Dulu aku tak sengaja mendengar percakapan kalian mengenai hal ini dan sekarang saya memiliki sejumlah uang untuk mengganti uang mama,"


Mama Alex terdiam, yang ia lakukan adalah menatap Nadia lekat-lekat. Menantunya itu beberapa kali mengusap pipinya yang basah.


"Apa kamu bersedia menikah dengan Alex karena merasa berhutang budi atas bantuan mama ?" Tanya mama Alex takut-takut dan Nadia mengangguk kepalanya pelan.


"Ya Tuhan....," De*sah mama Alex tak percaya.


"Setelah melunasi hutang ini... Apa kamu berencana untuk berpisah dari Alex ?" Tanya mama Alex lagi dan Nadia pun kembali menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan, Nadia.... Mama tak pernah..,"


"Awalnya aku setuju menikah dengan Alex karena perkara hutang ini, tapi....," Nadia menjeda ucapannya seraya menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia berusaha menetralkan debaran jantungnya yang kian kencang.


"Apa ?" Gumam mama Alex pelan.


"Aku... Aku sangat mencintai Alex walaupun harus merasakan patah hati berkali-kali. Waktu mama mengatakan cobalah untuk mempunyai anak agar Alex berubah, meksipun ragu tapi aku menyetujuinya karena tanpa sadar aku sudah jatuh cinta pada Alex dan menginginkannya," lanjut Nadia lagi.


"Alex adalah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta, meskipun sakit tapi aku terus berusaha bertahan hingga akhirnya Alex pun membalas perasaanku. Tapi nyatanya kebahagiaan tak pernah berpihak pada kami," Lirih Nadia dengan air mata berhamburan.


"Dan yang paling membuatku patah hati adalah ketika kehilangan calon buah hati kami. Ketika aku mengetahui bahwa Lola lah yang bertanggung jawab di balik semua ini membuat aku hancur hingga rasanya tak lagi sanggup untuk tetap hidup bersama Alex. Aku tak siap dengan apa yang akan terjadi pada kami di masa depan nanti, sudah terlalu banyak rintangan yang dilalui dan kehilangan buah cinta kami adalah akhir dari segalanya. Maafkan aku, Mama... Aku tak sanggup lagi untuk hidup bersama Alex, aku tak sanggup lagi untuk merasakan patah hati...," Tangis Nadia pun pecah kembali seketika.


Mama Alex mendekatkan diri dan membawa Nadia pada pelukannya. Ia tahu jika menantunya itu dalam keadaan yang rapuh dan kehilangan. "Sayang," ucap mama Alex seraya membelai lembut rambut panjang Nadia.


"A-aku sangat mencintai Alex tapi aku tak sanggup lagi untuk hidup bersama dengannya," lirih Nadia diantara isakkan tangisannya.


"Mama sangat menyayangi Alex juga kamu. Tentu saja sebagai orang tua, mama berharap pernikahan kalian langgeng dan bahagia tapi mama juga tak bisa memaksakan kehendak,"


"Maafkan aku, Ma...,"


"Ssttt... Mama lah yang meminta maaf, maafkan mama dan juga ibumu yang telah menjodohkan kalian. Mama juga meminta maaf atas segala tindakan bodoh Alex yang telah membuatmu sakit hati," Keduanya berpelukan dan menangis bersamaan.  Saling berbicara dari hati ke hati, berusaha memahami tanpa menghakimi.


***


Siang sudah berubah sore ketika Nadia tiba di apartemen suaminya. Setelah pulang dari kediaman orang tua Alex, Nadia memutuskan untuk kembali ke apartemen dan membereskan semua barangnya sebelum ia pergi. Sedangkan adiknya kembali ke Bogor sesuai perintahnya.


Nadia baru saja memasuki lobi apartemen namun tiba-tiba seseorang yang tinggi tegap menghalangi langkahnya


"Nadia, aku kangen," ucap lelaki itu tanpa basa-basi.


"Ya Tuhan... Edo, bikin kaget saja !" Sahut Nadia sembari mengelus dadanya dan Edo yang melihat itu pun tertawa.


Disinilah keduanya duduk bersama di sebuah coffee shop yang berada di lantai dasar apartemen mereka.


Edo bersikeras mengajak Nadia untuk minum kopi bersama karena ia sangat kehilangan wanita yang tak ditemuinya selama 2 minggu terakhir ini.


"Jadi begitulah ceritanya," ucap Nadia mengakhiri cerita tentang kenapa ia menghilang selama 2 minggu terakhir ini. Ia mengatakan bagaimana sedihnya kehilangan calon buah hatinya walaupun tak semua kejadian ia katakan pada Edo.


"Ah pantas saja wajahmu terlihat begitu sedih," sahut Edo.


"Oh ya ?" Tanya Nadia sembari tertawa.


Edo amati lekat-lekat wajah Nadia yang terlihat sendu. Sungguh ia merasakan kehilangan wanita yang kini duduk dihadapannya.


"Nadia...," Ucap Edo takut-takut.


"Ya ?" Nadia balik bertanya sembari mengaduk kopi dalam cangkirnya dengan sebuah sendok kecil.


"Jadilah wanitaku... Aku tak akan membuatmu sedih seperti ini,"


Nadia yang mendengar itu menjatuhkan sendok yang ia pegang hingga terdengar bunyi dentingan yang cukup nyaring.


"What ?" Gumam Nadia tak percaya.


"Aku jatuh cinta sama kamu, ku mohon jadilah kekasihku... aku akan menjadikanmu ratu, aku tak akan membuatmu patah hati seperti Alex,"


To be continued ❤️


Thank you for reading ❤️