
Waktu bagai berlari, cepat sekali berganti. Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan dan bulan pun terus bergulir menjadi tahun. Hari ini tepat Alex dan Nadia merayakan hari jadi ke 3 mereka.
Tahun lalu keduanya telah memeriksakan diri dan berucap syukur karena baik Alex mau pun Nadia tak memiliki masalah apapun tentang kesuburan mereka. Hanya saja Tuhan belum juga menitipkan buah hati dalam rumah tangga keduanya, tapi itu tak membuat perasaan cinta Alex berkurang pada istrinya. Begitu juga Nadia yang semakin mencintai Alex suaminya.
Seperti yang Alex janjikan dulu bahwa mereka akan menghadapi apapun bersama, Alex pun menepati janjinya. Ia selalu mendukung dan menemani istrinya untuk melakukan program kehamilan. Bahkan ia menuruti saran dokter agar tidak melakukan kegiatan favoritnya terlalu sering, padahal itu merupakan hal yang cukup berat bagi Alex karena tubuh Nadia adalah candunya tapi Alex bersabar akan hal itu.
Nadia pun berusaha bersabar dan berlapang dada, ia tak lagi berlarut-larut memikirkannya dan setelah proyek besar Alex rampung dengan bantuannya tentu saja. ia pun mulai mengurangi volume pekerjaannya dan Alex sangat menyetujuinya.
Begitulah kehidupan tak selamanya berjalan sesuai keinginan. Alex dan Nadia sudah bersama dalam cinta, dengan keuangan yang semakin mapan seiring keberhasilan Alex dalam bisnisnya bersama perusahaan raksasa Asia dan tentunya Nadia ikut serta membantunya. Tapi gelak tawa anak mereka belum terdengar juga.
Karena kesuksesannya, kini Alex sudah memiliki gedung kantornya sendiri. Seperti yang ia impikan gedung 5 lantai bergaya minimalis modern telah berdiri kokoh dan siap digunakan. Hari ini adalah hari dimana gedung itu resmi dibuka. Ia dan Nadia akan menggunting pita bersama, seperti yang pernah Alex janjikan dulu.
Alex telah bersiap dengan setelan jas terbaiknya, sedangkan Nadia saat ini sedang didandani oleh salah satu MUA ternama di kota Jakarta. Alex yang tak sabaran segera menemui istrinya yang masih dirias di dalam kamarnya. "Oh wow," decak kagum tak bisa Alex tahan dari mulutnya begitu ia melihat istrinya di cermin. Nadia selalu bisa membuatnya terpesona.
"Apa ?" tanya Nadia melalui pantulan cermin. Ia tersenyum malu-malu ketika mengatakan hal itu.
"Kamu selalu terlihat cantik dan semakin cantik saja," puji Alex tanpa bisa menyembunyikan rasa kagumnya dengan matanya yang menatap sayu.
Seperti yang Alex pernah katakan waktu itu, ia tak kan pernah bisa berhenti untuk jatuh cinta pada Nadia dan itulah yang terjadi. Alex selalu merasakan jatuh cinta pada Nadia lagi dan lagi. "i always in love with you," (aku selalu mencintaimu) ucap Alex pelan agar Nadia bisa membaca gerak bibirnya melalui pantulan cermin, bahkan ia membuat bentuk cinta dengan jemarinya dan itu membuat Nadia tersenyum merona, Alex selalu bisa membuatnya merasa terbang ke awan karena rasa euforia penuh cinta padahal sudah tiga tahun mereka hidup bersama tapi tetap saja keduanya selalu merasa saling kasmaran satu sama lain.
***
Alex selalu merengkuh pinggang Nadia jika sedikit saja istrinya itu bergerak menjauh darinya. Baru saja keduanya meresmikan gedung baru milik Alex yang di hadiri banyak tamu undangan yang terdiri dari kolega, keluarga, teman dekat, kerabat bahkan ke 5 sahabat Nadia pun hadir dalam pesta itu.
Saat ini Alex sedang mendapatkan ucapan selamat dari pada koleganya dan selama ia melakukan itu Nadia harus terus berada di sisinya. Satu tangan Alex melingkar di belakang tubuh istrinya, untuk memastikan Nadia tak menjauh darinya. Ya, Alexander Henry Salim masih saja posesif pada istrinya itu.
Sedikit saja Nadia bergerak menjauh maka Alex akan langsung merengkuh pinggangnya, agar istrinya itu kembali mendekat hingga lawan bicaranya pun tersenyum melihatnya.
Sedangkan Nadia, ia ingin segera menemui para sahabatnya yang sudah berkumpul di salah satu sudut gedung. "Maaf," ucap Alex pada lawan bicaranya. Ia menghentikan sejenak pembicaraan mereka karena Alex harus mengatakan sesuatu pada istrinya yang sudah tak sabaran untuk pergi dari sisinya.
"Sayang, bisa tunggu sebentar ? kita akan menemui mereka bersama-sama," bisik Alex.
"Ya ampun, aku hanya ingin menyapa mereka," jawab Nadia sama-sama berbisik.
"Ya, tentu saja tapi kita akan melakukannya bersama," sahut Alex. Mata hitamnya meredup ketika mengatakan itu membuat Nadia mengangguk patuh. Tatapan Alex bagaikan mantra bagi Nadia hingga ia akan selalu menurutinya.
"Good girl," sahut Alex. Jika saja tak ada siapapun disana tentu saja Alex akan langsung menyambar bibir istrinya dan memberikan luma-tan memabukkan karena ia sangat suka ketika Nadia patuh padanya.
***
"Hah...hah...hah....," nafas Alex tersenggal karena saat ini ia sedang berlari kecil di lorong rumah sakit ternama di kota Jakarta. Beberapa menit yang lalu ia di beri kabar oleh Dian yang dulunya anak magang tapi kini ia sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan Alex dan bekerja sebagai asisten pribadi Nadia.
Dian mengatakan jika Nadia merasa pusing dan terjatuh pingsan di kantornya. Alex yang sedang mengecek lokasi proyek langsung meninggalkan tempat itu dan pergi ke rumah sakit secepat yang ia bisa. Dadanya bergemuruh karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya, Nadia.
"Hah...hah.. Saya.. hah.. Alexander Henry hah... hah... suami Nadia Wirahma yang tadi di bawa kesini karena pingsan," ucap Alex terengah-engah pada seorang dokter yang sepertinya pernah Alex lihat sebelumnya.
"Tarik nafas yang dalam dan tenanglah," ucap dokter itu terlihat dingin seperti sebelumnya.
"saya... Nadia...," ucap Alex dengan wajahnya yang memerah.
"Saya katakan tenang dulu," ucap dokter itu kembali mengingatkan. "Memang benar istri anda tadi dibawa kesini tapi saya menyarankannya untuk diperiksa lebih lanjut di..."
"Bagian obgyn ," potong Alex.
"Bagaimana anda tahu ?" tanya dokter itu terheran.
Bagai Dejavu, Alex pun pernah mengalami hal ini sekitar 2 tahun yang lalu. Waktu itu Nadia baru saja pulang dinas kerja bersama Heru dan hubungan mereka sedang buruk-buruknya. Sang istri dilarikan ke rumah sakit ini, rumah sakit "Mulia" dan diperiksa oleh dokter yang sama.
"Dokter Gibran ?" tanya Alex dan dokter itu mengangguk membenarkan."Mari saya antarkan karena...,"
"Letak poli kandungan tak jauh dari kantor anda," lanjut Alex dan dokter itu pun semakin terheran.
"Sepertinya anda sudah tahu, tapi tak apa mari saya antarkan karena saya harus kembali ke ruangan saya," ucap dokter Gibran sambil tersenyum ramah tak seperti sebelumnya.
Benar-benar bagai Dejavu karena dokter itu pun menghubungi seseorang yang Alex tebak adalah istrinya karena nada suara dan lantunan kata yang ia ucapkan begitu berbeda. Bila benar Dejavu, Alex berharap Nadia pun kembali mengandung seperti saat itu.
"Tempatnya sedikit bergeser ke arah timur anda tinggal belok sedikit saja," ucap dokter Gibran sembari menunjukkan arah.
"Terimakasih," sahut Alex dan ia pun mengikuti arah yang ditunjukkan dokter itu dengan kembali berjalan tergesa.
Nadia sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan ketika Alex datang dan meninggalkan Dian di bangku tunggu. Alex pun segera memasuki kamar periksa setelah suster jaga mengizinkannya.
"Sayang, kemarilah..." Nadia melambaikan tangannya dan meminta Alex untuk mendekatinya. Bisa Alex lihat pipi Nadia yang basah karena sepertinya istrinya itu habis menangis.
"Apa semua baik-baik saja ?" tanya Alex cemas.
"Sayang... lihatlah," alih-alih menjawab pertanyaan Alex. Nadia yang dibantu oleh dokter kandungannya menunjukkan sesuatu yang berbentuk kacang yang nampak di layar. "Tahun depan kamu akan jadi Papa," ucap Nadia haru.
Mata Alex memburam basah tanpa ia minta, lidahnya terasa kelu seketika. "Be-benarkah ? Ba-bagaimana keadaannya ?" tanya Alex terbata-bata.
"Masih awal kehamilan tapi perkembangannya sesuai dengan umur kandungan. Saya kira dia sehat di dalam sana," jawab dokter Dewi tanpa ragu.
Alex genggam jemari Nadia untuk mendapatkan kekuatan, sungguh saat ini ia gemetar karena rasa bahagia yang luar biasa.
Dadanya menghangat penuh rasa cinta yang menggebu untuk Nadia juga untuk buah cinta mereka yang kini hadir kembali setelah beberapa waktu menanti.
"Im in Love with you, with our baby," bisik Alex seraya merendahkan tubuhnya agar bisa berbisik pada Nadia yang masih terbaring di atas ranjang pemeriksaan.
"Aku punya banyak cinta untuk kalian berdua, hanya untuk kalian," lanjut Alex yang kini tak bisa lagi menahan air bening di pelupuk matanya karena rasa haru bahagia.
Nadia mengangguk pelan, dan genggam jemari Alex dengan erat mengisyaratkan jika ia pun memiliki rasa yang sama. Nadia pun memiliki banyak cinta untuk Alex dan anak mereka.
"Im in Love with you, and i always will,"
( Aku jatuh cinta padamu, dan aku akan selalu melakukannya ) ucap Nadia seraya menarik tangan Alex dan mengecupnya.
-Tamat-
Maaf terlambat update... selalu saja merasa emosional ketika berada di akhir cerita. Jadi sedikit sulit untuk menulisnya. Padahal ini cerita receh dan paling banyak drama kwkwkwkkwkw.
Novel In Love ini didedikasikan untuk "Peak Fam" Bestie online tapi rasa saudara ♥️
Pacarku (Dina), Eva Gelista, Chusnul Adnan, Nadia,Vi_Via, Ama Dewi, Angel, Andrea, Aleya dan si bontot Indah.
Love you genks, and i always will ♥️🥰
Terimakasih banyak untuk para reader yang setia baca.
Terimakasih atas segala dukungan berupa like, komen, hadiah poin, vote juga koin yang telah kalian berikan.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan para reader semua berkali-kali lipat. aamiin.
Mohon maaf jika ada kata-kata atau episode yang kurang berkenan di hati para reader semua.
Juga mohon maaf jika ada komentar yang belum aku balas atau balasan komentar yang aku tuliskan menyakiti hati reader karena tak ada sedikitpun aku bermaksud seperti itu.
Jangan di hapus dulu dari favorit karena akan ada bonus chapter yang ditambahkan.
Jangan lupa Event In love with Peak Fam di Audio room Sang Penulis tanggal 5 juli 2022 mulai pukul 19.30. link room akan di bagikan di gc aku ya.
Pengumuman pemenang vote hadiah
pengumuman komentar terbaik
pengumuman 5 reader yang beruntung.
dan kuis seputar novel In Love.
Total hadiah Rp. 500k loh... so don't miss it
Much love for all the readers ♥️♥️♥️♥️♥️
sampai jumpa di novel aku yang lain.
insyaallah...
Salam sayang dari Alex dan Nadia.