
Happy reading ❤️
Hari ini hari pertama Nadia masuk kerja setelah ia menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Rasanya begitu berbeda, ia ingin segera pulang dan bertemu dengan kekasih hatinya.
Siang tadi Alex masih mengirimkan makan siang. Tak lagi bernama Nadia si bawel atau nama aneh lainnya. Namun disana tercantum nama 'Nadia Wirahma 😘' . Nadia tersenyum geli ketika ingat itu semuanya.
Tak hanya itu, untuk pertama kalinya Alex melakukan panggilan video hanya untuk memastikan Nadia menghabiskan makan siangnya. Padahal ia tahu suaminya itu sangat sibuk.
Alex mengatakan jika tadinya ia akan mengajak Nadia makan siang namun karena ada keterlambatan meeting membuat Alex tak bisa melakukannya.
Meksipun kecewa tapi Nadia berusaha paham. Ia sudah merasa cukup bahagia hanya dengan perhatian manis yang Alex berikan padanya walaupun kata cinta belum saling terucap dari keduanya.
Nadia takut jika ia mengakui rasa cintanya maka ia harus mundur karena ingat perjanjian pernikahannya yang Alex buat dulu agar tak melibatkan perasaan di dalamnya, tapi bagaimana bisa dia tak semakin jatuh cinta jika Alex terus bersikap manis dan membuatnya terjebak dalam perasaannya sendiri.
Di tempat lain, Alex duduk termenung memikirkan apa yang telah terjadi. Ia sendiri tak yakin dengan apa yang dirasakannya.
Karena Nadia, kini ia banyak melupakan Lola. Karena Nadia kini ia merasakan lebih hidup dari sebelumnya, karena Nadia kini ia merasakan lagi apa itu rasa cemburu, takut kehilangan dan indahnya sebuah kebersamaan.
"Apa ini cinta ?" Gumam Alex bermonolog.
Ia pun menggelengkan kepala, menjawab pertanyaannya sendiri. Ia masih membentengi diri dari perasaan itu karena takut kembali merasakan sakit yang sama. Terlalu mencintai hingga akhirnya ia sakit sendiri.
Tapi Nadia yang dulu memilihnya, wanita itu yang mengajaknya menikah maka ia akan pastikan Nadia untuk terikat padanya untuk selamanya. Tak ada seorangpun yang boleh memilikinya.
***
Pukul lima lebih sepuluh menit sore Nadia sudah bergerak gelisah di tempat duduknya, ia menatap ponselnya berkali-kali hanya untuk memastikan sebuah pesan yang ia tunggu.
"Cieee yang mau dijemput, Ayank," bisik Meta menggoda temannya itu.
Nadia telah menceritakan semuanya pada Meta juga Alina. Bahwa kini ia telah menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Tentu saja kedua sahabatnya itu ikut berbahagia dan mendoakan semoga itu menjadi awal yang baik bagi hubungan keduanya. Hanya pada sahabat lelakinya Nadia tak mengatakan hal itu karena ia merasa malu.
"Isshhhh," decak Nadia kesal karena Meta terus menggodanya.
"Kok dia belum ngasih kabar ya ? Apa Alex gak jadi jemput aku ? Kemana dia ?" Tanya Nadia beruntun penuh rasa cemas.
"Yaelah, Nad... Ini waktunya jam pulang kantor paling Alex kena macet. Kamu tenang aja. Coba telepon buat mastiin dia jemput enggaknya," jawab Meta memastikan.
Baru saja Nadia hendak menggulir layar mencari nama Alex namun sedetik kemudian layar ponsel itu menyala dan menunjukkan nama Alex sedang memanggilnya.
"Panjang umur si Ayank," ledek Meta dan dibalas sebuah cubitan oleh Nadia.
Meta mengaduh kesakitan sedangkan Nadia menerima panggilan itu.
"Ha..halo,"
"Aku udah di depan kantor kamu," jawab Alex cepat.
"Ummm ok, aku turun sekarang. Alex bisakah kamu majukan mobilnya sedikit jangan terlalu depan kantor,"
"Kenapa ?" Tanya Alex terdengar keheranan.
"Gak pa-pa," jawab Nadia singkat.
"Oh ok," sahut Alex dan ia pun menutup panggilan teleponnya.
"Aku pulang ya pak suami udah jemput," bisik Nadia malu-malu. Ia tak mau seorangpun mendengarnya.
Wajahnya merona dan senyum terkembang dengan sempurna. Meta tahu jika Nadia benar-benar sedang merasakan jatuh cinta.
Bahkan sebelum pergi untuk menemui suaminya, Nadia kembali merapikan rambutnya dan menyemprotkan parfum beraroma lembut di setiap titik nadinya dan memasukkan sebuah permen beraroma mint kedalam mulutnya. Itu adalah hal yang jarang sekali ia lakukan. Tapi saat ini ia ingin tampil sempurna di hadapan lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta.
"Hati-hati, Sayang," sahut Meta yang saat ini harus ikut briefing di bagian divisinya. Karena biasanya ia dan Nadia akan keluar bersama dari kantor itu.
***
Ia tak ingin seorangpun melihatnya memasuki mobil seorang Alexander Henry Salim karena tentunya itu akan menjadi bahan gosip apalagi kini ia tengah mengajukan proposal kerjasama padanya.
Setelah yakin tak ada yang melihat Nadia pun masuk dan mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Alex yang sumpah demi apapun sangat ia rindukan.
"Maaf aku terlambat, Sayang. jalanan mulai macet," ucap Alex seraya mencondongkan tubuhnya dan meraih dagu Nadia untuk mencium bibirnya. Wangi aroma mint menguar dari mulut Nadia membuat Alex semakin memperdalam ciumannya.
"Sayang?" Batin Nadia dalam hatinya, ia terus memikirkan kata itu sembari memejamkan mata menikmati pagutan bibir suaminya. Semua rasa rindunya terobati sudah. Ia membalas ciuman itu dengan sama mesranya. Cukup lama mereka melakukan itu hingga bunyi klakson mobil menyadarkan keduanya.
"Kita lanjutkan di apartemen nanti," ucap Alex dengan suaranya yang telah berubah berat dan ia pun mengusap bibir Nadia yang basah dengan jempolnya.
Tak lama Alex pun menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Mau makan di mana ?" Tanya Alex seraya menolehkan kepalanya menatap wajah Nadia yang terlihat begitu cantik di matanya.
"Makan malam ? Apa gak terlalu sore ?"
"Nggaklah, karena malam ini aku akan sangat sibuk. Jadi sebaiknya kita cari makan sebelum pulang," jawab Alex.
"Mmm makan nasi aja kalau begitu," jawab Nadia.
"Tempat biasa mau ?" Tanya Alex lagi dan dijawab oleh sebuah anggukan kepala oleh istrinya.
Selama perjalanan keduanya berbicara soal pekerjaan dan untuk beberapa hari ke depan pihak perusahaan Nadia akan diundang oleh perusahaan milik Alex guna menandatangani kontrak perjanjian kerja sama.
Nadia menutup mulutnya tak percaya, padahal ia dan Alex belum sempat mengecek lokasi di Bali.
"Apa kamu serius ?" Tanya Nadia masih dengan ketidakpercayaan nya.
"Hu'um tentu saja dan itu bukan karena kita telah tidur bersama tapi karena hasil kerjamu yang luar biasa. Orang-orangku sudah memeriksanya," jawab Alex.
"Selamat, Sayang. Kamu memang hebat," lanjut Alex seraya mengacak puncak kepala Nadia dengan gemas.
"Sayang ? Ini adalah kali kedua Alex mengatakannya. Tahukah Alex, itu sangat berbahaya untuk hatiku," batin Nadia dalam hati.
"Aku traktir makan malam sebagai tanda perayaan ya ?" Tanya Alex lagi dan Nadia kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban karena tiba-tiba saja ia tak mampu berkata-kata.
***
Makan malam di lalui dengan banyak cerita dan beberapa kali keduanya tertawa. Nadia bisa melupakan sejenak beban pekerjaannya, sedangkan Alex dapat melupakan tentang Lola yang hari ini harus keluar dari apartemen mewahnya. Tak ada rasa kasihan atau iba, rasa cintanya seolah menguap begitu saja.
Alex mendekatkan dirinya pada sang istri ketika seluruh makanannya telah habis ia nikmati. Ada yang sangat Alex sukai dari Nadia, ia akan mencium wangi khas tubuhnya hanya jika berdekatan seperti ini seolah wangi itu ditujukan untuk Alex saja tidak untuk yang lainnya.
Alex mencium belakang telinga Nadia dan itu membuat istrinya itu terkesiap.
"Alex kamu ngapain ?" Tanya Nadia dan darahnya berdesir panas seketika.
"Kamu cantik banget malam ini, Nad," bisik Alex dan ia pun meremas gemas paha istrinya di bawah meja.
Nadia membulatkan matanya dengan sempurna mendapatkan godaan seperti itu."Please jangan macam-macam, Alex. Kita lagi di tempat umum,"katanya mengingatkan.
Semakin Nadia protes semakin Alex suka menggodanya. Tak hanya remasan gemas di bawah meja namun suaminya juga berani mencuri kecupan dari bibirnya.
Alex yang menggoda namun dirinya juga yang akhirnya tersiksa. Dengan tergesa ia meraih tangan Nadia agar bisa segera pergi dari tempat itu.
Ia merengkuh pinggang Nadia agar padu dengan tubuhnya dan berbisik "Aku menginginkanmu lagi malam ini, Sayang," bisik Alex dengan suaranya yang telah berubah parau.
Nadia hanya wanita biasa yang sedang jatuh cinta. Ia merasa bahagia ketika Alex mengatakan kata-kata mesra dan terang-terangan mengatakan menginginkannya.
Ia mencubit gemas pinggang Alex, berusaha menjauh dan memasang wajah kesal padahal yang sebenarnya terjadi dalam hatinya, Nadia merasa luar biasa bahagia.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️