
Happy reading ❤️
"Hah ?" Gumam Nadia seraya menelan salivanya.
"Aku tak tahu apa ini, tapi aku hanya menginginkan kamu Nadia, dan setiap melihatmu dekat dengan lelaki lain membuatku gila karena cemburu. Aneh bukan ?" Tanya Alex. Mata hitamnya yang berkilat menatap dalam pada Nadia yang terlihat sangat terkejut saat ini.
"Setelah Lola, banyak wanita datang dan pergi dalam hidupku. Tapi tak ada satupun yang pakai hati. Mereka hanya menemani ketika aku merasa sepi, tapi aku akan langsung mundur jika mereka meminta lebih dalam hubungan itu," lanjut Alex kemudian.
"Apa karena itu kamu mengajukan syarat dalam pernikahan kita ? Tidak melibatkan perasaan apapun didalamnya karena kita terikat dalam pernikahan dan kamu tak bisa lari dari ini," tanya Nadia dan Alex mengangguk pelan membenarkan.
"Sudah lama aku tak merasakan marah, cemburu bahkan rindu pada wanita manapun tapi kini semua aku rasakan lagi... Dan itu padamu...," Kata Alex dengan jelasnya.
"Bercanda mu gak lucu, Alex." Nadia tersenyum samar sembari menahan tangisnya ketika mengatakan itu. Dadanya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Aku marah ketika Bimo memberikan kamu mug. Aku menjatuhkannya ke dalam tempat sampah, karena aku tak suka kamu sangat menyukai barang pemberian mantan mu. Aku berpikir jika kamu masih mencintainya,"
"Hah ?" Nadia membelalakkan matanya tak percaya.
"Aku cemburu ketika melihat Bimo memelukmu erat, aku cemburu ketika dia memanggil namamu Adin, aku cemburu ketika kamu bawa Edo sebagai pacar, aku cemburu melihatmu dekat dengan lelaki lain meskipun mereka itu hanya sebatas teman. Ingin rasanya aku berteriak pada mereka jika kamu hanya milikku seorang," lanjut Alex lebih serius dari sebelumnya.
"A-Alex aku....,"
"Aku merasa kehilangan ketika kamu pergi ke pulau seribu, begitu juga ketika aku di Surabaya kemarin. Ingin rasanya cepat pulang hanya untuk bisa melihat wajahmu, atau hanya berbicara denganmu. Bukankah itu sebuah rasa rindu ?"
"Stop Alex... Jangan lanjutkan" Sahut Nadia pelan. Ia tak sanggup lagi mendengar segala ucapan Alex karena takut lelaki itu mengangkat perasaannya dan kemudian menjatuhkannya lagi.
"Semalam aku berbohong karena tak ingin kamu tahu kalau aku menemui Lola. Aku takut kamu akan pergi menjauh karena tahu aku bertemu dengannya. Aku marah ketika kamu bertanya kemana aku mau pergi karena sebenarnya aku tak ingin berbohong tapi aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya," Alex masih terus berbicara meskipun Nadia telah melarangnya.
"La-lalu a-apa yang kamu lakukan semalam ? Kamu pergi dalam waktu yang lama," tanya Nadia terbata. Ia takut dengan jawaban yang akan Alex berikan.
"Semalam Lola menangis ketika aku datang karena ia sudah tak betah tinggal di tempat kostnya. Ia membutuhkan tempat yang sangat menjaga privasinya,"
"Kost ?" Potong Nadia terkejut karena setahunya wanita itu tinggal di kawasan apartemen elite.
"Iya, aku memindahkannya dari apartemen ke tempat kost biasa,"
"Kenapa ?" Tanya Nadia ingin tahu.
"Apa yang pernah kamu ucapkan menyadarkan aku. Apa benar Lola pernah mencintaiku seperti yang dia bilang. Jika iya seharusnya ia mencintaiku dalam kondisi apapun," jawab Alex.
"A-aku bicara apa sama kamu ?" Tanya Nadia. Ia merasa tak enak pada Alex sekarang ini.
"Seseorang yang mencintai kita seharusnya bertahan dalam kondisi apapun dan berjuang bersama bukannya pergi meninggalkan, lalu kembali saat mereka butuh,"
Nadia menelan salivanya, ia tak menyangka apa yang pernah diucapkannya dulu ternyata mempengaruhi Alex. "Maaf Alex, aku tak bermaksud seperti itu. Bukan maksudku untuk ikut campur dan dalam hubunganmu, itu hanya luapan emosiku," sahut Nadia.
"Tapi yang kamu ucapkan memang benar adanya. Itu membuatku berpikir apa benar Lola pernah mencintaiku seperti aku yang dulu sangat tergila-gila padanya ? Termasuk makan siang yang dia kirimkan, memang benar aku yang meminta padanya. Aku hanya ingin tahu sejauh mana Lola mengetahui tentang aku, karena seharusnya dia tahu jika dia benar-benar mencintaiku seperti yang dia katakan, tapi ternyata....,"
"Apa itu semacam tes baginya ? Untuk apa ? Apa kalau dia tahu semua tentang kamu, kalian akan kembali bersama ?" Tanya Nadia beruntun.
Deg !! Alex terdiam, ia tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Ketika Nadia bertanya apa Alex ingin kembali pada Lola ? Tiba-tiba rasa ingin kembali pada Lola sudah bukan itu.
"Alex ?"
"Hum ? Entahlah... Aku hanya ingin dia membuktikan ucapannya saja. Oleh karena itu semalam aku meyakinkan dia untuk tetap tinggal di tempat kost itu meskipun Lola meraung-raung menangis dan meminta dia untuk melakukan beberapa hal lainnya untuk membuktikan itu semua. Tapi demi Tuhan, aku tak menyentuhnya,"
"A-apa kamu masih mencintainya, Alex ? Apa kamu masih mencintai Lola ?" Tanya Nadia takut-takut.
"Bahkan aku sendiri sudah tidak tahu apa itu cinta... Wanita sial*n itu telah membuatku mati rasa selama bertahun-tahun," jawab Alex seraya menarik nafasnya dalam.
Kemudian hening diantara keduanya, namun pandangan mata mereka tak teralihkan. Alex masih menatap dalam Nadia dengan mata hitamnya yang berkilat sedangkan Nadia membalasnya dengan tatapan mata sayu yang mungkin sudah berubah merah karena menahan tangisnya.
"Aku pernah membaca buku tentang cinta," ucap Nadia pelan.
"Apa kamu ingin tahu ?" Tanya Nadia karena Alex terdiam membisu.
"Apa yang tertulis di sana ?" Alex balik bertanya.
"Ji-jika kamu mencintai seseorang karena wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang sempurna, maka sebenarnya yang kamu rasakan itu hanya sebuah obsesi untuk memilikinya,"
Alex terdiam dan meresapi apa yang tengah istrinya itu katakan dan ia pun tersenyum samar. "Lalu apa lagi ?"
"Jika kamu mencintai seseorang karena
"Lalu ?"
"Jika kamu mencintai seseorang karena uang dan kedudukannya. Rasa itu hanya sebatas tertarik bukan cinta,"
Alex tersenyum muak ketika mendengar itu, ia pun kembali menyesap minumannya yang berada di dalam gelas.
"Jika kamu mencintai seseorang karena dia mencintaimu, maka yang kamu rasakan hanya sebuah empati ( empati merupakan sebuah sikap di mana seseorang mampu merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati membuat seseorang merasa mampu berada dalam posisi orang lain )," lanjut Nadia dan Alex masih setia mendengarkan.
"Dan yang terakhir jika kamu mencintai seseorang tapi tak tahu apa alasannya. Kamu mencintainya begitu saja, maka itulah rasa cinta yang sebenarnya," ucap Nadia dengan begitu jelasnya membuat Alex menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi dan tersenyum penuh makna setelahnya, seolah-olah sadar akan sesuatu.
"Lalu cinta mana saja yang pernah kamu rasakan ?" Tanya Alex.
"Hum ? Aku ? Entahlah, Aku hanya berhubungan lama dengan Bimo seorang walaupun aku pernah 2 kali pacaran," jawab Nadia tapi itu tak membuat Alex puas.
"Pada Bimo apa yang kamu rasakan ?" Tanya Alex, ia mencondongkan tubuhnya ketika menanyakan itu. Rasa cemburu dan ingin tahu menguasai hatinya saat ini.
"Mungkin aku hanya kagum karena Bimo begitu baik dan dia juga sangat menyayangi aku. Maka yang aku rasakan bisa jadi hanya sebatas mengagumi dan empati," jawab Nadia.
"Apa tak ada cinta yang sebenarnya diantara kalian ? Bukannya kalian berhubungan selama 7 tahun" Tanya Alex terheran.
"Apa kamu ingin tahu kenapa kami bisa putus dari hubungan yang lama itu ?" Nadia balik bertanya dan Alex mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Ketika hari jadi kami yang ke 7 semua berkumpul untuk merayakan karena aku dan Bimo jarang sekali untuk pergi berduaan. Mereka meminta kami untuk berciuman mesra karena mereka tak pernah melihat kami melakukan itu sebelumnya. Meskipun ragu namun akhirnya kami melakukan itu,"
"Kalian berciuman mesra ? Saling berpagut bibir dan membelai lidah ? Apa dia menyentuh tubuhmu juga ? Apa Bimo memelukmu erat?" Tanya Alex beruntun, rahangnya mengeras. Ia tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Tidak Alex, bukan seperti itu. Bukan seperti cara kita berciuman," jawab Nadia kesal. "Aku berciuman seperti itu hanya sama kamu saja," lanjut Nadia seraya memelototkan matanya. Alex yang mendengar itu langsung tersenyum lega.
"Kami berciuman hanya saling menempelkan bibir dan sahabat kami mengolok-olok karena merasa tak puas. Tentu saja aku dan Bimo tak menuruti mereka,"
"Jadi hanya begitu ? Hanya saling menempelkan bibir ?" Tanya Alex lagi.
"Emmm... Tidak juga,"
"Hah ? Lalu apa lagi yang kalian lakukan ? Apa kalian... ?"
"Ssttt jangan potong cerita aku Alex ! Ingat kesucianku pun kamu yang mendapatkannya !" Sahut Nadia kesal karena Alex begitu tak sabaran dan terlihat mulai emosi.
"See... Mendengar cerita mu saja aku udah sangat cemburu, Nadia."
"Setelah itu Bimo mengantarkan aku pulang. Di dalam mobil, dia kembali mencium bibirku dengan lebih mesra dari sebelumnya,"
"Hah ? Apa ? Apa yang kamu lakukan ?"
"Alex, dengerin dulu !! Setelah ciuman mesra itu kami tak bertemu lagi selama satu Minggu. Dan ternyata selama itu kami saling berpikir dan menyadari jika cinta yang kami miliki bukanlah cinta seperti itu. Bukan cinta yang penuh gair*h seperti layaknya laki-laki dan perempuan dewasa. Kami sadar hanya saling mencintai tak lebih dari sekedar sahabat atau saudara dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Lalu 2 bulan kemudian aku menikah denganmu," jelas Nadia.
"Dan setelah itu aku terjebak dalam cinta yang sebenarnya," batin Nadia dalam hati. Ia tak berani mengatakan yang sesungguhnya pada Alex.
"Lalu apa yang kamu rasakan pada Lola sekarang ? Jika kamu masih mencintainya, maka sebaiknya kita sudahi semua ini sebelum perasaan kita yang tak jelas ini semakin jauh. Seperti halnya kamu yang cemburu padaku, aku pun merasakan hal yang sama padamu, Alex. Aku cemburu dan sakit hati melihatmu dan Lola bersama," ucap Nadia yang kini tak bisa menahan air matanya.
"Sumpah demi Tuhan... Kini pada Lola, tak satupun jenis cinta yang kamu terangkan tadi aku rasakan padanya," jawab Alex tanpa ragu.
"Hah ?" Nadia berkerut alis tak paham.
"Tapi aku tahu apa yang aku rasakan padamu," lanjut Alex dengan tatapan mata yang tak bisa Nadia artikan.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Kalau suka ceritanya tolong bagikan pada teman, like, komen, kasih hadiah ma vote juga ya biar aku semangat nulisnya seperti kalian yang semangat nagih up nya wkwkwkkwkwk
Canda nagih 🤣🤣
Terimakasih ❤️❤️❤️
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah kata yang membuat hati para readers semua terluka.
Jika ada, percayalah saya tak bermaksud untuk melakukan itu...
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan limpahan pahala di bulan yang suci ini.
Mohon maaf lahir dan bathin yaa ❤️❤️