In Love

In Love
Insyekur



"Mmm mungkin satu atau dua hari... Atau satu dua Minggu. Aku tak tahu... Dan jangan khawatir aku bisa pergi ke dokter sendirian,"


"A-apa ???" Tanya Alex dengan wajahnya yang berubah pias. Ia merasa tersambar petir untuk yang kedua kalinya.


"Sayang... Jangan bercanda. Dan sungguh candaanmu ini tak lucu," sahut Alex. Suaranya bergetar saat mengatakan itu. Apa yang Nadia inginkan sangatlah sulit untuk Alex terima.


Nadia menghela nafasnya dalam. Alex sungguh keras kepala."Aku sedang tidak bercanda Alex," ucapnya dengan nada kesal


"Dan aku tidak bisa mengabulkannya," potong Alex cepat.


"Terserah ! Tapi aku benar-benar tak ingin denganmu !!" Sahut Nadia. Suaranya meninggi saat mengatakan itu hingga membuat Alex merasakan petir kembali menggelegar di atas kepalanya.


***


Sudah hampir satu Minggu berlalu sejak Nadia putuskan butuh waktu untuk sendirian dan ia benar-benar melakukannya. Ia sangat menghindari Alex.


Mereka masih tidur di atas ranjang yang sama dengan dua guling yang memisahkan jarak di antara keduanya. Pernah Nadia dengan sengaja tidur di kamar Nadine untuk berusaha menjauhi suaminya itu, namun rencananya gagal karena pada tengah malam Alex memindahkannya dengan alasan ia tak bisa tidur sendirian.


Seringkali Alex bertanya kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga Nadia berubah drastis seperti itu tapi sang istri tak bisa menjelaskannya. Tiba-tiba saja ia tak suka semua tentang suaminya itu.


Walaupun sakit, tapi Alex mengalah. Pada akhirnya ia biarkan Nadia dengan keinginannya namun dengan syarat tak boleh tidur di kamar yang terpisah.


Nadia pun setuju. Ia akan tidur lebih cepat dan bangun lebih awal untuk menghindari suaminya itu. Nadia juga pergi ke kantornya dengan menggunakan mobil sendiri dan sesampainya di sana, Nadia akan mengunci ruang kerjanya rapat-rapat hingga Alex tak bisa seenaknya masuk ke dalam. Ia akan membiarkan Alex berdiri di luar pintu meskipun lelaki itu mengetuknya berulang kali.


Bila Alex memanggilnya karena suatu pekerjaan, Nadia akan meminta asistennya untuk memberikan pada Alex apa yang lelaki itu inginkan. Kesibukan keduanya yang luar biasa membuat Nadia belum sempat memeriksakan dirinya pada dokter. Dan sejauh ini ia merasa lebih baik asal jangan ada Alex di sekitarnya.


Sudah memasuki hari ke 7. Alex sudah benar-benar merasa tersiksa. Ia bangun lebih awal, dan segera meleset ke kamar untuk membersihkan diri.


Dari semalam Alex sudah bertekad untuk mengambil tindakan. Mau tak mau, Nadia harus mau menerimanya. Setelah selesai membersihkan diri Alex kembali ke atas ranjang.


Tanpa aba-aba, Alex merangkak naik, mensejajarkan tubuhnya dan menindih tubuh Nadia rasa-rasa. Ia sembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri dan menghirup aroma tubuhnya dengan rakus.


Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Nadia membolakan matanya dengan sempurna. "Alex, apa yang kamu lakukan ?" Tanya Nadia seraya berusaha mendorong tubuh suaminya yang kini sedang menindihnya.


"Aku kangen kamu, aku udah cuci muka dan gosok gigi jadi please jangan tolak aku lagi," Alex memenjarakan tubuh Nadia di bawah tubuh kekarnya. Dan sungguh Alex sangat menyukai tubuh hangat istrinya di pagi hari.


Semakin Alex tenggelamkan kepalanya, semakin Nadia berontak untuk melepaskan diri. Sekuat tenaga ia dorong tubuh kekar Alex dari atas tubuhnya hingga lelaki itu pun berguling ke sisi ranjang yang kosong.


"What's wrong with you ?" (Apa yang salah denganmu ?" Tanya Alex dengan suara meninggi. Ia tak terima Nadia terus berlaku seperti itu. Rasa kecewa yang luar biasa tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.


Nadia langsung berdiri dengan tubuh yang gemetar dan memeluk dirinya sendiri . "Maafkan aku, Alex... Maaf...," Lirihnya sembari menahan tangisnya.


"Kemana perginya cinta kamu untuk aku ?" Tanya Alex. Mata lelaki itu menatap sedih pada wanita yang berdiri tak jauh darinya.


Nadia menggelengkan kepalanya pelan. Tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


Alex tersenyum muak karenanya, ia tak bisa menyembunyikan rasa marah dan kecewanya. Lelaki itu bangkit dari ranjang. Ia berdiri dan melewati Nadia begitu saja bahkan ia sengaja menyentuhkan bahunya dengan kasar pada tubuh Nadia hingga istrinya itu hampir saja terjatuh tapi Alex tak peduli.


***


"Kata Bapak, beliau tak ingin diganggu oleh siapapun," ucap Joy si sekretaris pribadi Alex.


"Bahkan olehku ?" Tanya Nadia yang kini berdiri di depan pintu ruang kerja suaminya.


Joy tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya membenarkan. "Sepertinya pak Henry sedang banyak pekerjaan. Akan saya sampaikan jika ibu datang untuk bertemu,"


Nadia tak langsung pergi, ia tatapi daun pintu kokoh berwana hitam itu. Di baliknya duduk seorang lelaki yang berusaha ia hindari tapi juga Nadia inginkan di saat yang bersamaan. Semua terasa serba salah dan Nadia pun tak mengerti mengapa.


"Baiklah, aku kembali ke ruangan aku ya Joy. Terimakasih," Nadia membalikkan tubuhnya dan berjalan gontai menuju ruangannya sendiri.


Sedangkan Alex berdiam diri di dalam ruang kerjanya tanpa melakukan apapun. Ia berdiri menghadap kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang berada di bawahnya. Berpikir apa yang salah dengan dirinya dan Nadia. Alex benar-benar merasa sudah gila.



"Masuk !" Titah Alex saat ia mendengar pintu ruang kerjanya diketuk. Ia memang memanggil asisten pribadi dan sekretarisnya secara bersamaan.


"Anda memanggil kami ?" Tanya keduanya berbarengan.


Melihat orang-orang yang dibutuhkannya sudah datang Alex pun dudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Aku ingin pendapat yang jujur dari kalian berdua," ucap Alex dengan mimik wajahnya yang serius dan nada bicaranya pun terdengar ketus.


Joy sang sekretaris dan Heru si asisten pribadi terlihat tegang saat Alex berbicara pada keduanya. Semua disebabkan wajah Alex yang sangat tak bersahabat.


"Pendapat jujur kalian sangat menentukan karir kalian ke depannya. Aku tak suka orang-orang yang bermuka dua. Baik di depan tapi menusuk di belakang," lanjut Alex dengan tatapan dingin.


Keduanya pun menelan ludahnya paksa dengan dada berdebar kencang tak karuan. Menunggu pertanyaan yang akan Alex lontarkan pada mereka.


" Apa menurut kalian...," Alex menjeda ucapannya dengan sedikit rasa ragu.


Joy dan Heru menanti dan tunggu pertanyaan itu dengan rasa cemas karena takut kehilangan pekerjaan mereka.


"Apa.. menurut kalian aku ini ganteng ? Atau mungkin sudah berubah jelek hingga tak menarik lagi di mata wanita ?"


To be continued ♥️


Thanks for reading 🥰


Happy 5M pop Alex dan Nadia


Terimakasih banyak untuk para reader yang masih setia baca... Love kalian banyak-banyak ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Insyaallah 2 atau 3 episode lagi tamat (lagi) kok... Moga gak bosen yaaaa