
"Setelah hukuman mu disini berakhir, hukuman mu di negara-negara lain telah menunggu dan aku pastikan kamu tak akan pernah kembali ke Indonesia, kamu akan membusuk selamanya di dalam tahanan karena semua kejatahan mu," Alex berucap dengan menekankan semua kata agar Lola dapat mencernanya dengan baik.
Lola yang mendengar itu menggelengkan kepalanya berulang kali. Wajahnya terlihat basah karena air mata yang tiada berhenti membasahi.
"Dan untuk anakmu, aku harap ia menemukan keluarga yang baik dan tulus sayang padanya tidak seperti kamu dan kekasih mu," ujar Alex dingin.
"Kamu adalah wanita iblis yang tak punya perasaan, pantas saja kamu tak merasakan empati ketika aku dan Nadia kehilangan calon buah hati kami karena kamu sendiri pun begitu kejam terhadap anakmu," Alex berucap penuh tekanan agar Lola bisa mencerna setiap ucapannya dengan baik.
Lola kembali menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengingkari apa yang terjadi padanya. Karena terlalu mementingkan dirinya sendiri dan menghalalkan segera cara untuk mendapatkannya, pada akhirnya Lola kehilangan segalanya.
"Tidak... katakan semua ini bohong, Alex...." ucap Lola. Bibirnya bergetar ketika ia mengatakan itu semua.
"Oh ya, satu lagi...," lanjut Alex sedikit ragu, tapi Lola yang mendengar itu terlihat kian takut saja. Ia yakin ada hal buruk lainnya yang akan Alex sampaikan.
"Kekasihmu lari dan kini menjadi seorang buronan. Banyak yang meyakini jika ia lari untuk mengejar mu." Apa yang Lola takutkan akhirnya menjadi kenyataan, masih ada berita buruk lainnya yang harus ia terima.
Tongkat penyangga yang membantunya untuk berjalan terjatuh hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di atas lantai, tubuh Lola gemetar begitu juga bibirnya yang kini terbuka untuk berbicara.
"A-Alex, bantu aku... ku mohon tolong aku... kita pernah saling mencintai dan aku yakin kamu masih cinta aku, jadi keluarkan aku dari sini dan kita akan hidup bahagia bersama. Kali ini aku tak akan lagi mengkhianati cintamu," ucap Lola sembari mencondongkan tubuhnya mendekati Alex yang duduk di hadapannya. Membuat 2 orang petugas polisi berusaha menahan Lola agar tidak Lebih mendekati Alex dan kembali duduk di atas kursinya.
"Lepaskan !!! teriak Lola histeris.
"Sadarlah Alex, akulah yang kamu cintai. Bukan pelacur kecilmu, Nadia," lanjut Lola, masih ia berteriak dengan histeris dan Alex pun begitu geram mendengarnya.
Suara derit kursi yang di gerakkan dengan tergesa terdengar begitu jelas, Alex berdiri dari tempatnya duduk dengan wajah memerah karena geram pada wanita yang berada di hadapannya.
Tatapan mata dingin dan menusuk Alex layangkan pada wanita yang dulu menjadi kekasihnya itu. Dengan susah payah Lola berdiri menyambut Alex yang berjalan setengah memutar meja untuk mendekatinya.
"Selamatkan aku dari lelaki gila itu, Alex. Dia pasti akan datang untuk mencari ku dan membunuh aku," ucap Lola dengan suaranya yang kini terdengar lirih. Ia menatap Alex penuh mohon, berharap Alex mau memberinya belas kasih.
Tapi apa yang Lola harapkan tak menjadi kenyataan. "Tahukah kamu, Lola ? aku sangat muak juga jijik padamu. Kesalahan terbesar ku adalah masuk perangkap wanita jal*ng seperti mu," ucap Alex seraya mendekatkan wajahnya pada Lola, mata hitam Alex berkilat amarah dan ia siap untuk meledakkan emosinya yang tertahan.
"Tenang pak Henry," ucap pengacara Alex seraya berdiri dan mendekati Alex untuk menenangkannya.
"Kamu akan selalu mencintai aku, Alex. Mungkin Tuhan mengambil lagi anakmu dari kandungan Nadia agar kamu bisa kembali padaku. Begitu juga aku yang kehilangan anakku agar bisa kembali padamu. Jika itu benar aku akan rela menerima semuanya, asal kita kembali bersama," ucap Lola tanpa rasa bersalah.
Alex yang mendengar itu merasa geram luar biasa dan tak lagi bisa mengendalikan rasa amarah yang kini menguasai dirinya. Alex satukan tangannya dan meremas leher Lola kuat hingga tubuh wanita itu terangkat ke udara.
"Aku tak akan pernah kembali padamu," teriak Alex tepat di wajah Lola yang memerah karena kesulitan bernapas. Kakinya yang terangkat menendang-nendang, berusaha untuk berontak.
Sontak saja itu membuat panik seluruh orang yang berasa dalam ruangan. Pengacara Alex dan salah satu petugas polisi menahan tubuh Alex agar ia segera melepaskan cengkraman tangannya dari leher Lola.
Sedangkan 2 petugas lainnya menahan tubuh Lola dan berusaha melepaskannya dari cengkraman tangan Alex. "Lepaskan Pak Henry, anda bisa membunuhnya," ucap salah seorang yang berada disana. Ia mengingatkan Alex agar melepaskan cekikan nya di leher Lola.
Tubuh Alex yang tengah diliputi rasa emosi begitu kuat hingga dua orang yang menahannya tak kuasa untuk menarik tubuh Alex agar menjauhi Lola.
Wajah Lola mulai membiru karena kurangnya pasukan oksigen. Cengkraman tangan Alex yang meremas lehernya kian kuat hingga Lola pun merasa kian lemas.
"Lepaskan Pak Henry, anda bisa membunuhnya," ucap petugas polisi yang menarik tubuh Alex.
"Hentikan Pak Henry... istri anda, Bu Nadia pasti akan bersedih jika mengetahui suaminya adalah seorang pembunuh dan anda akan terpisah darinya dalam waktu yang lama," kali ini pengacara Alex yang berbicara.
Mendengar kata istri dan mendengar nama Nadia disebutkan membuat Alex tersadar. Ia tak akan berbuat sesuatu yang membuatnya makin jauh dari wanita yang sangat ia cintai.
"Nadia, Sayang...," gumam Alex sembari menghempaskan tubuh Lola dengan kasar. Beruntung bagi Lola karena kedua petugas polisi menahan tubuhnya hingga ia tak terjatuh ke atas lantai.
'Uhuk uhuk uhuk' Lola terbatuk-batuk di atas meja dan berusaha menghirup oksigen dengan rakus, wajahnya yang membiru kini berangsur normal setelah ia mulai bisa bernafas.
"Sialllaannn kamu, Alex," geram Lola sambil terbatuk-batuk.
"kembalikan ia ke dalam selnya sebelum saya benar-benar membunuhnya," titah Alex seraya mengipas-ngipaskan tangannya seolah jijik karena telah menyentuh wanita yang dulu ia puja.
Kedua petugas polisi membantu Lola untuk berdiri dan akan membawa kembali wanita itu ke dalam sel tahanannya.
"Akan ku pastikan kekasihmu untuk menemukanmu di sini," bisik Alex pelan pada Lola.
Lola membulatkan matanya ketika mendengar ancaman Alex, sungguh ia merasa sangat ketakutan. "Dan kamu tahu, aku sangat bisa melakukan apa saja termasuk memberimu sebagai santapan kekasihmu itu. Aku yakin ia akan datang mencari mu dan melakukan hal yang sama ingin aku lakukan padamu," lanjut Alex masih dengan berbisik pada Lola yang kini kembali. gemetar.
"Tidaakkkk, tidaaakkkkkkkkkkhhhh !!!!" teriak Lola histeris. Kedua petugas kepolisian menyeret paksa tubuh Lola agar keluar dari ruangan itu. Mereka tak peduli pada raungan Lola yang meminta untuk dilepaskan.
Rahang Alex mengeras dan matanya yang hitam berkilat menatap tajam tubuh Lola yang diseret keluar, rasa amarahnya belum surut juga. Yang Alex lakukan adalah meraba cincin pernikahan yang melingkar sempurna di jari manisnya.
"Seperti janjiku, aku akan membereskan semua masalah dengan Lola. Dia tak akan lagi menjadi penghalang cinta kita," batin Alex dalam hatinya.
"Tinggal beberapa masalah lagi yang harus kita selesaikan," ujar Alex pada pengacaranya.
"Tunggu aku, Sayang... sebentar lagi aku akan menjemputmu," gumam Alex lirih hampir tak terdengar. Ia bayangkan wajah Nadia ketika mengatakan itu semua.
***
Jum'at sore Nadia masih berjibaku dengan pekerjaannya yang tak kunjung usai. Padahal rencananya hari ini ia akan meminta izin cuti untuk mulai mengurusi perpisahannya bersama Alex.
Nadia menghela nafas dan menunda pekerjaannya untuk sesaat, ia membayangkan yang terjadi tadi malam.
Semalam kegelisahan melanda dirinya, ia tak bisa berhenti memikirkan apa yang harus dirinya lakukan. Bimbang antara terus bertahan atau rela berpisah dari Alex.
Sudah satu Minggu ini keduanya terpisah. Bukannya merasa lebih baik tapi Nadia semakin sadar jika ia sangat membutuhkan Alex dalam hidupnya. Alex bagaikan oksigen yang Nadia butuhkan untuk bernapas, karena tanpa lelaki itu Nadia rasakan hidupnya begitu hampa.
Buket bunga mawar putih yang Alex berikan beberapa waktu lalu pun telah layu tapi tetap ia menyimpannya di dalam kamar seolah tak ingin terpisah.
Semenjak Alex mengirimkan bunga itu, mereka tak lagi berhubungan. Meskipun begitu nama Alex tak pernah absen dari setiap doa yang Nadia lantunkan. Seperti janjinya pada Alex, ia akan terus mencintai dan mendoakan kebahagiaan lelaki itu.
"Mengapa cinta begitu rumit," keluh Nadia sembari memainkan cincin yang tergantung di lehernya dengan jemari. Ia melakukan itu agar merasakan kehadiran Alex di sisinya. Semakin Nadia berpikir untuk berpisah, semakin hatinya menolak untuk melakukan itu.
"Masih sibuk ?" tanya Daniel yang kini berdiri tepat di hadapannya. Larut dalam lamunannya membuat Nadia tak sadar akan kehadiran lelaki itu.
"Tadi pintu ruangan mu sedikit terbuka hingga saya beranikan diri untuk masuk sebelum anda persilahkan," terang Daniel kenapa ia berada di sana.
"Ah iya , tadi Ina datang membawa banyak berkas dan sepertinya ia lupa untuk menutupnya dengan sempurna," sahut Nadia.
"Gak apa-apa kan saya datang menganggu ?" tanya Daniel lagi dan Nadia hanya tersenyum menanggapinya.
Daniel amati banyaknya berkas yang menumpuk di meja managernya yang baru. Ia pun tak mengerti, tadi pagi banyak tugas yang dikirimkan dari Jakarta padahal kini Nadia adalah bawahannya namun ia tak bisa protes ketika yang mengirimkan tugas-tugas itu adalah ayahnya sendiri.
"Ada acara akhir pekan ini ?" tanya Daniel.
"Sepertinya saya akan berkencan dengan berkas-berkas ini," jawab Nadia sambil tertawa dan menunjukkan banyak map yang bertumpuk di mejanya.
Daniel ikut tersenyum menanggapinya dan melihat tumpukan map yang Nadia tunjukkan tapi tak lama pandangan matanya beralih menatap mata Nadia yang menurut Daniel begitu indah.
"Bagaimana dengan kencan yang sesungguhnya ?" tanya Daniel lebih serius dari sebelumnya.
"Saya tak tertarik lagi untuk berkencan," jawab Nadia tanpa ragu.
"Sudah punya pacar ?" tanya Daniel lagi. Ia menyenderkan tubuhnya di kursi agar terlihat lebih relaks padahal hatinya berdebar cemas menanti sebuah jawaban
Nadia yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tak bisa menutupi rasa terkejutnya, Ia bayangkan wajah Alex ketika hendak menjawab pertanyaan Daniel. "Lebih dari itu," jawab Nadia sembari tersenyum penuh arti.
"Tunangan ?" tebak Daniel. Seperti sebelumnya, ia tadi sempat memergoki Nadia tengah memainkan cincin yang tergantung di leher jenjangnya.
"Bukan," jawab Nadia menggelengkan kepalanya pelan.
"Suami ?" tanya Daniel sambil berkerut dahi
"Lebih dari itu, dia segalanya bagi saya," jawab Nadia. Dan setiap kata-kata ia ucapkan dengan penuh kesadaran.
Tbc ❤️
Minggu up ? dobel lagi wkwkkwk
ini spesial untuk kalian yang setia baca ❤️
terimakasih banyak ❤️❤️❤️
Gak usah puji aku, nanti Gr 🤣🤣
Vote aja ya besok biar aku makin semangat nulisnya.
maaciwww Zheyenk ❤️