
Happy reading ❤️
Flashback satu jam yang lalu.
Alex yang baru saja menerima panggilan dari Lola berpikir keras. "Dia udah gila," desis Alex ketika ia memikirkan itu semua. Dengan tidak tahu malu Lola terus menghubungi dan membujuknya untuk kembali. Bahkan ia selalu mengingatkan Alex bahwa ia lah cinta pertamanya dan yang Alex rasakan pada Nadia hanya naf*u sesaat.
Semakin Lola mengatakan itu semakin Alex membencinya. Tapi Alex juga sadar jika berhubungan dengan Lola ia tak bisa sembarangan. Rasa ambisi yang Lola miliki mampu membuat wanita itu bertindak nekat hingga mencelakai orang-orang di sekitarnya.
"Pak Henry, sodara Nicky ingin berbicara secara pribadi dengan anda," ucap seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga lelaki itu.
Apa yang lelaki itu ucapkan menahan langkah kepergian Alex.
"Apa yang ingin dia bicarakan ?" Tanya Alex.
"Sesuatu tentang wanita bernama Lola," jawabnya.
Alex pun segera menghentikan langkahnya dan kembali memasuki kamar lelaki itu.
"Katakan dengan cepat, waktuku tak banyak," ucap Alex ketika ia berdiri di ujung ranjang tempat lelaki itu terduduk.
"Saya ingin pembicaraan ini secara pribadi," sahut Nicky.
Alex yang mengerti keinginan lelaki itu meminta para pengawalnya untuk keluar meninggalkan mereka berdua.
"Maaf saya tidak sengaja mendengarkan pembicaraan anda untuk bertemu dengan jal*ng itu, mmm maaf maksud saya Lola," ucap Nicky ketika mereka sudah berdua saja dalam kamar itu.
"Lalu ?" Tanya Alex.
"Untuk apa bertemu dengannya, sudah saya katakan dialah dalang semuanya. Saya bersumpah demi Tuhan. Wanita itu jahat, dia memanfaatkan saya untuk mencelakai istri anda dengan tujuan agar kalian berpisah. Percayalah... Wanita itu jahat," jelas Nicky.
"Terus ?" Tanya Alex lagi.
"Biarkan saya yang memberikan pelajaran padanya. Jujur, saya sangat ingin membalas dendam padanya karena telah menjebak saya seperti ini. Lagian sudah terlanjur basah bagi saya terlibat dalam suatu kejahatan," lanjut Nicky meyakinkan.
Alex tersenyum samar. "Binggo !" Batin Alex dalam hatinya. Sesungguhnya inilah yang Alex inginkan. Ia pun ingin memberikan pelajaran pada wanita jahat itu namun tak ingin mengotori tangannya sendiri.
Tak salah Alex bukan jika ia mempertemukan pemangsa dengan buruannya ? Walaupun ia dan Nicky memiliki buruan yang sama yaitu Lola, kali ini Alex akan dengan suka rela memberikan buruannya pada pemangsa lain.
"Kamu yakin ?" Tanya Alex.
"Sangat yakin, saya tak akan kabur kemana pun, saya hanya ingin memberikan pelajaran yang tak terlupakan pada wanita murahan itu," jawab Nicky tanpa ragu.
Alex terdiam sesaat seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Percayalah pada saya, saya tak akan kabur. Saya hanya ingin memberinya pelajaran. Jika Anda tak percaya silahkan buntuti saya," ucap Nicky berusaha untuk meyakinkan Alex.
"Baiklah, tapi saya ingin anda menggunakan alat perekam. Upayakan agar wanita ****** itu mengakui segala kejahatannya," sahut Alex.
"Baiklah saya setuju, akan saya lakukan syarat dari anda."
"Dan jangan sebut nama saya dalam rencana ini, anggaplah kamu berhasil kabur dengan caramu sendiri," ucap Alex lagi.
"Baiklah saya setuju," jawab Nicky tanpa ragu.
"Jangan sampai gagal !" Ucap Alex lagi mengingatkan.
"Percayalah... Akan saya lakukan sebaik mungkin karena saya pun ingin membawanya tenggelam bersama dalam masalah ini," jawab Nicky dengan yakinnya.
Lalu keduanya menyusun rencana agar lelaki itu bisa melarikan diri tanpa melibatkan nama Alex di dalamnya.
Sepertinya Tuhan memang memberikan pertolongan karena rencana itu berjalan dengan mudahnya. Nicky membawa alat perekam suara di balik kemejanya. Ia menggunakan bis umum menuju apartemennya sedangkan Alex menggunakan sebuah taxi untuk membuntuti lelaki itu dan menunggu Nicky melakukan aksinya.
***
"Aku datang, b!tch" gumam lelaki itu dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.
Lola menengadahkan kepalanya dan ia tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Mata Lola membulat sempurna dan tubuhnya bergetar seketika ketika melihat siapa yang datang padanya.
"Iya, ini gue. Lelaki yang dengan mudahnya percaya atas semua omong kosong mu," ucap lelaki itu seraya mendesak untuk masuk. Wajahnya masih dihiasi lebam dan beberapa luka jahitan. Ia berjalan mendekati, sementara Lola melangkah mundur menjauhi.
"A-aku selalu menunggu kedatangan mu untuk menjelaskan semua, a-aku sangat menghawatirkan kamu," ucap Lola terbata. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan mencari sesuatu untuk melindungi diri karena ia yakin lelaki dihadapannya datang untuk menyakiti.
"Kenapa takut huh ?" Tanya lelaki itu kian mendesak.
"Tenanglah Nicky, biar aku jelaskan semua, aku berusaha datang ke rumah sakit tapi kamarmu di jaga dengan ketat" ucap Lola yang kini terpojok karena tubuh belakangnya telah menabrak sebuah meja dan menandakan ia tak lagi bisa bergerak menjauh.
Nicky tak menanggapinya, yang ia lakukan adalah meremas leher Lola dengan kedua tangannya.
"Gue gak akan bodoh untuk percaya lagi semua omongan mu" ucap Nicky penuh penekanan. "Jal*ng murahan," lanjutnya lagi sembari mendekatkan wajahnya dan menatap Lola penuh kebencian. Sedangkan kedua tangan Lola berontak berusaha melepaskan remasan di lehernya yang kian mencengkeram erat.
Wajah Lola memerah karena sulit bernafas, dengan penuh tenaga ia menghantam kepala Nicky dengan kepalanya hingga lelaki itu hampir terjengkang dan Lola meraup udara dengan rakus meksipun kepalanya berdenyut karena kesakitan.
"Dasar wanita siallaan," desis Nicky kian emosi. Ia berusaha berdiri dengan sempurna untuk kembali menyerang Lola.
Lola yang melihat itu berjalan sempoyongan menuju kamar tidur lelaki itu. Iya selama ini Lola tinggal secara gratis di apartemen Nicky.
Ia memutar kunci pintu setelah berhasil memasuki kamar Nicky dan mencari sesuatu di bawah ranjangnya, sesuatu yang lelaki itu sembunyikan selama ini. Apalagi jika bukan sebuah pistol yang berisikan beberapa butir peluru.
'Braakkk !!' pintu kamar itu terbuka lebar karena Nicky menendangnya dengan sekuat tenaga.
"Diam di situ atau aku habisi kamu !" Ancam Lola sembari mengarahkan pistol itu pada Nicky yang masih terlihat begitu gusar.
"Lo tahu ? Gue beberapa kali datang ke rumah sakit buat habisin nyawa lo, tapi ternyata gue gak usah susah-susah datang kesana karena lo datang sendiri ke sini untuk mati," ucap Lola penuh ejekan.
"Oh ya ? Lalu tuduhan buat lo akan semakin banyak," sahut Nicky dengan sama-sama tersenyum mengejek.
"Gue bisa bilang polisi kalau gue berusaha membela diri sehingga gak sengaja buat lo mati, uppss," timpal Lola sembari kembali tertawa.
"Jangan lupa, Sayang. Aku ini bekas pengacara, sangat mudah buat gue untuk memberikan keterangan yang tak akan memberatkan. Dan Alex... Dia akan percaya padaku karena cinta butanya sejak dulu," lanjut Lola masih dengan nada suara penuh ejekan.
"Jal*ng...." Geram Nicky sembari mengepalkan tangannya menahan emosi yang kian memuncak.
"Ya... Dan jal*ng ini berhasil menipu mu. Hahahahahaha," suara tawa penuh ejekan memenuhi kamar itu dan membuat Nicky makin geram saja.
"Gue menipu dan memanfaatkan Lo untuk mencelakai wanita gila bernama Nadia hingga pernikahannya dengan Alex hancur. Tapi sayangnya Lo gak berhasil lakuin itu semua. Dasar lelaki tak berguna !!!" Teriak Lola hingga suaranya menggema.
"Wanita murahan siallannn," geram Nicky sambil mengepalkan tangannya hingga memutih.
"Tapi makasih loh udah bikin Nadia kehilangan anaknya, jadi kini tak ada lagi yang menghalangi aku dan Alex untuk bersatu," kini Lola mulai menarik pelatuk pistol untuk melenyapkan temannya itu
Tanpa aba-aba Nicky menerjang Lola. Berusaha untuk mengambil alih pistol itu dari tangan Lola. Pergumulan pun tak bisa dihindari, keduanya saling berusaha menguasai pistol yang masih Lola genggam dengan eratnya.
"Berikan padaku, jal*ng," desis Nicky penuh amarah.
Lola menendang juga berontak namun lelaki itu tak juga menjauh darinya. Tubuh Nicky yang jauh lebih besar darinya membuat Lola kesulitan. Pergumulan itu terus berlangsung beberapa puluh detik kemudian. Hingga bunyi 2 letusan pistol terdengar begitu nyaring.
'Dorr, Dorr !!'
Hening untuk sesaat...
"Siallaannn," desis dari salah satunya dan tak lama genangan air berwarna merah segar mulai menggenang di atas sprei berwarna putih itu hingga terlihat begitu kontras.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘