
Alex sandarkan tubuhnya di kursi penumpang, seperti hari kemarin ia masih menggunakan jasa seorang supir untuk menjemput dan mengantarnya kemana pun yang ia mau. Kepalanya masih dipenuhi oleh Nadia hingga ia sangat sulit untuk berkonsentrasi padahal hanya mengemudi saja tapi Alex tak sanggup.
Alex mainkan cincin yang tersemat dengan sempurna di jari manisnya, ia putar-putar dengan jarinya yang lain. Masih jelas dalam ingatannya ketika jemari Nadia yang gemetar menyematkannya dan ia pun terikat dengan wanita luar biasa yang kini memenuhi hati juga kepalanya.
Alex merogoh saku jas dan mengeluarkan ponselnya. Ia menggulir layar mencari nama kontak sang istri dan menatapi namanya untuk beberapa saat. Alex lakukan itu berulang kali, memainkan ponselnya hanya untuk melihat nama Nadia di sana.
Dadanya akan berdegup kencang ketika melihat status online pada aplikasi pesan Nadia tanpa berani untuk menghubunginya.
Bukannya tak ingin menghubungi istrinya itu, tapi Alex ingin memberikan kesempatan pada Nadia untuk menyendiri dahulu walaupun baru berpisah 2 hari saja sudah membuatnya tersiksa luar biasa.
Lagi-lagi Alex menggulir layar ponselnya dan melihat nama Nadia yang entah untuk ke berapa kalinya. Ia berdecak kesal dan melemparkan pandangannya ke arah luar jendela berusaha melenyapkan tentang Nadia untuk sekejap saja.
Cukup lama memperhatikan jalan yang dilaluinya, Alex pun menghubungi sekretarisnya. "Joy, kirimkan buket bunga mawar putih untuk Nadia manager perencanaan PT. XXX di jalan Asia-Afrika," ucap Alex ketika panggilan itu terhubung dan belum juga Joy menjawab pernyataan bossnya itu, Alex sudah menutup panggilan teleponnya.
Setelah panggilan itu, Alex kembali tenggelam dalam lamunannya. Semalam ia seperti mengalami lucid dream. Alex sadar jika dirinya tengah bermimpi dan ia tak berusaha untuk bangun. Dia bisa dengan jelas melihat bayangan Nadia berada di kamarnya menemani tidur sehingga hal pertama yang Alex lakukan ketika terbangun tadi pagi adalah mencari keberadaan istrinya itu.
Waktu berlalu terasa begitu lama dan menyiksa tanpa kehadiran Nadia di sisinya. Alex memejamkan matanya pelan, menikmati rasa ngilu di hatinya yang tak juga hilang.
"Kita sudah sampai," ucap sang supir sambil menolehkan kepala. Ia melihat Alex yang duduk dengan memejamkan matanya.
Alex tarik nafas dalam-dalam sebelum ia keluar dari mobilnya, meraba kembali cincin pernikahannya pelan "Ayo kita mulai hari, Sayang," kata Alex pelan dan ia pun keluar dari kendaraan yang membawanya.
***
Nadia berjalan sambil memainkan liontinnya yang berbentuk cincin dengan jemari, ia pun tak mengerti mengapa dirinya melakukan itu. Namun yang pasti, secara tak sadar tangannya selalu ingin menyentuh cincin itu.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Alex menyematkan cincin itu di jari manisnya. Netra matanya yang hitam atau tepatnya berwarna coklat tua menatap tajam ketika melakukan itu semua.
Lelaki itu menyematkannya tanpa ragu, padahal waktu itu jemari Nadia gemetar dan dadanya berdegup kencang. Ia tak menyangka pada akhirnya jatuh cinta dengan sangat pada Alex hingga tak menginginkan lelaki lain dalam hidupnya.
Waktu terus berlalu semenjak mereka resmi menjadi suami istri dan banyak hal yang terjadi diantara keduanya namun satu yang pasti bahwa Alex masih jadi pemilik hatinya.
"Ah Alex...," des*h Nadia lirih hampir tak terdengar. Di sepanjang perjalanannya dari rumah dinas kepala Nadia dipenuhi oleh Alex seorang saja. Ia sengaja berjalan kaki untuk membunuh rasa sepinya dan melenyapkan Alex dari kepalanya untuk sesaat namun ternyata sosok suaminya itu tak jua menghilang.
Nadia menengadahkan kepalanya menatap gedung tinggi yang kini menjadi tempat kerjanya, ia memicingkan mata karena terpaan sinar matahari yang mengenai wajahnya.
"Ayo Alex... kita mulai hari kita bersama," ucap Nadia sembari memainkan cincin yang tergantung di lehernya dan kemudian menyembunyikannya di balik kerah kemeja. Nadia menarik nafas dalam-dalam, kemudian melangkahkan kakinya memasuki gedung itu.
Ina menyambutnya dengan ramah dan Nadia pun melakukan hal yang sama. Menanggapi sapaan Ina dan pegawai yang lain sama ramahnya. Ia ingin menciptakan atmosfer kerja yang baik di tempat baru karena pengalaman buruk di tempat yang lalu akibat rumor yang tak benar tentang dirinya. Bahkan ia tak melakukan acara perpisahan dengan teman-temannya. Kata perpisahan pada orang-orang terdekatnya seperti Meta, pak Adi dan Dian si anak magang pun dilakukannya melalui pesan singkat.
Nadia memasuki ruangan kerjanya sendiri, walaupun tak besar dan mewah namun kini ia memiliki ruangannya sendiri karena promosi jabatan yang ia dapatkan.
***
Joy memasuki ruangan Alex karena lelaki itu memanggilnya. Alex sedang duduk di atas kursi kebesarannya ketika sekretarisnya itu masuk dengan buku agenda di tangannya. Ia mendapati Alex tengah memutar-mutar ballpoint dengan jemarinya.
Benda mengkilap yang menghiasi jemari Alex menjadi pusat perhatian Joy saat ini. Untuk pertama kalinya ia melihat Alex mengenakan cincin pernikahannya.
"Jadwal saya, Joy ?" tanya Alex karena sekretaris nya itu diam terpaku seperti kehabisan kata.
"Ah maaf... Jadwal anda hari ini....,"
Alex mendengarkan apa yang sedang sekretarisnya bacakan. Jadwal kerjanya untuk satu Minggu ke depan, Ia pun mengangguk-angguk kan kepalanya paham.
"Dan jadwal wawancara anda adalah 2 hari ke depan," ucap Joy mengakhiri penjelasannya.
"Oke terimakasih," sahut Alex.
Waktu pun berlalu, Alex berusaha sibukkan diri untuk sekedar melupakan Nadia meskipun hanya sekejap saja. Hari ini Alex bertemu beberapa kliennya, beberapa wanita rekan bisnisnya merasa patah hati ketika Alex tak lagi menutupi status pernikahannya.
***
Nadia tundukkan kepala karena ia tengah fokus pada beberapa lembar kertas yang sedang ia baca. Ketukan di pintu tak ia dengar hingga akhirnya seseorang di balik pintu itu membukanya tanpa Nadia berikan izin terlebih dahulu.
"Sibuk banget bu Nadia ?" Tanya nya sambil melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Nadia.
Nadia mengangkat wajahnya dan ia sangat terkejut ketika Pak Daniel yang merupakan atasannya yang baru memasuki ruangannya.
"Ah Maaf, seharusnya saya yang datang menghadap pada Anda," sahut Nadia seraya berdiri menyambutnya. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan seorang lelaki yang usianya tak jauh dari Alex. Wajahnya pun tampan berparas indo sama seperti Alex, tapi lelaki ini begitu ramah sangat berbeda dengan Alex yang menyebalkan ketika awal mereka bertemu.
"Anda baik-baik saja ?" tanya Daniel karena Nadia yang terbengong tak juga melepaskan jabatan tangannya.
"Ah maaf," sahut Nadia terlihat malu. Lagi-lagi bayangan Alex terus menghantuinya.
Daniel adalah anak dari pemimpin perusahaan Nadia di Jakarta, ia memegang jabatan sebagai pemimpin cabang untuk perusahaan yang berlokasi di Bandung. Seperti halnya Nadia, Daniel pun merupakan sarjana tehnik dari salah satu universitas ternama di kota Bandung.
Karena keduanya berasal dari jurusan dan bekerja di bidang yang sama membuat Nadia dan Daniel hanyut dalam obrolan mereka.
Daniel melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang, ia pun berinisiatif untuk mengajaknya makan siang.
"Bagaimana jika makan siang dulu ? Suka masakan Sunda ?" tanya Daniel.
"Saya ini orang Sunda loh," jawab Nadia terkekeh geli.
"Oh, maaf.. asik mengobrol soal kerjaan sampai lupa tanya soal pribadi," sahut Daniel.
"Its oke, saya lebih suka membahas masalah pekerjaan dari pada masalah pribadi," timpal Nadia.
Daniel tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui. "Ayo kita makan siang," ajaknya dan Nadia pun akhirnya menyetujui.
Keduanya makan siang di tempat yang tak jauh dari kantor tempat mereka bekerja. Daniel seseorang yang supel dan asik untuk diajak berbicara walaupun begitu tetap saja Nadia tak bisa melenyapkan Alex dari kepalanya.
Saat ini Nadia tengah menikmati makan siang sambil membicarakan banyak hal tapi dalam kepala ia memikirkan apa yang sedang dilakukan Alex saat ini, apa ia sudah makan ? sedang berada dan dimana ? dengan siapa ? apa yang sedang Alex pikirkan saat ini ? apakah Alex juga memikirkannya seperti Nadia yang terus mengingatnya ?
Tanpa Nadia sadari, jemarinya kembali meraba cincin pernikahan yang tergantung di lehernya dan memainkannya pelan.
Daniel dengan tak sengaja melihat itu semua, dalam pikiran Daniel menebak-nebak. Entah itu cincin pertunangan atau mungkin pernikahan tapi kini ia tahu jika Nadia telah terikat dengan seseorang.
Daniel tersenyum samar, ia merasa terheran dengan dirinya sendiri yang kini merasa sedikit kecewa ketika tahu ada lelaki lain yang telah mengisi hidup Nadia.
Daniel tak tahu masalah yang tengah Nadia hadapi yang ia tahu hanya Nadia pindah ke tempatnya karena promosi jabatan dan Daniel tak meragukan itu karena dari cara Nadia berbicara pun ia bisa tahu jika wanita itu memiliki kemampuan yang luar biasa.
"something wrong?" ( Apa ada yang salah ?) tanya Nadia karena dia mendapati atasan barunya itu tengah memperhatikannya.
"hah ? oh tidak... maaf," jawab Daniel yang kini tersadar dari lamunannya sendiri.
Keduanya tersenyum canggung dan meneruskan makan siangnya dalam sunyi.
***
"Terimakasih atas makan siangnya," ucap Nadia sungkan.
"Sama-sama," sahut Daniel dengan tersenyum hangat.
Keduanya berjalan beriringan memasuki kantor mereka, dan ketika harus berpisah di lorong kantor Ina yang kini menjadi bawahan Nadia datang membawakan buket bunga mawar putih yang begitu cantik.
"Untuk ibu Nadia, tadi kurir yang mengantarnya," ucap Ina seraya menyerahkan buket bunga itu pada Nadia.
Nadia menaikan alisnya karena terkejut, siapa yang mengiriminya bunga karena tak banyak yang tahu keberadaannya di sini. Ia raih buket bunga itu dan membuka kartu berwarna pink yang diletakkan di antara bunga-bunga, lalu kemudian membaca kata-kata yang tertulis di dalamnya.
"Semoga sukses di tempat yang baru,"
Penuh Cinta,
-Alex-
Nadia bergumam lirih membaca kartu itu dan mengulum senyum ketika tahu siapa yang mengiriminya. Ia sesap dengan dalam harumnya buket bunga itu dan segera membawanya ke dalam ruangan kerjanya.
Daniel amati lekat-lekat apa yang Nadia lakukan, mimik wajahnya yang sendu berubah 180 derajat ketika menerima buket bunga itu. Wanita itu terus-menerus menahan senyum di wajahnya hingga semburat merah menghiasi pipinya.
Nadia terus melangkahkan kakinya memasuki ruangannya sendiri tanpa peduli jika ada dua orang yang tengah memperhatikannya. Ia bagai hidup di dunianya yang berisikan Alex seorang saja.
Meraih ponselnya yang berada dalam tas dan mencari nama Alex yang tak pernah ia hapus dari daftar kontaknya.
"Terimakasih atas kiriman bunganya, sangat indah. Aku sangat menyukainya ❤️🤗," tulis Nadia dalam aplikasi pesan singkatnya.
Tak perlu menunggu lama karena detik itu juga Alex langsung membalas pesan yang Nadia kirimkan.
"Sama-sama, Sayang ❤️" balas Alex.
Keduanya sama-sama menatapi layar ponsel mereka masing-masing sambil mengulum senyum, membaca pesan singkat itu berulang-ulang.
Hati mereka sama-sama menghangat walaupun kini jarak memisahkan keduanya.