In Love

In Love
Terungkap



"F*ck !!" Maki Alex sembari menekuk mukanya kesal. Ia kira Nadia lah yang berada di balik pintu itu.


Alex masih berdiri di ambang pintu. Sedikit ragu untuk melangkah maju. Ia amati rumahnya yang terasa kosong dan sepi. Tak ada suara centil gadis kecilnya yang biasanya menyambut pulang.


Walaupun berat, akhirnya Alex memasuki rumahnya itu. "Nadine mana ?" Tanya Alex.


" Non Nadine dijemput Maminya ( ibu Alex) tadi sore. Katanya mau menginap di sana,"


"Kok gak bilang saya dulu ?" Tanya Alex.


"Saya tidak tahu, Pak. Tadi Mami jemput Non Nadine pukul 4 sore. Ibu Nadia juga tahu,"


"Nadia ? Jam 4 Ibu udah pulang dari kantor ?"


Tanya Alex lagi.


"Ibu sudah pulang dari jam 3 sore,"


"Sekarang ibu dimana ?"


"Dikamar, sejak pulang kantor diam di dalam kamarnya. Keluar sebentar saat Mami anda menjemput Non Nadine," jawab si bibik takut-takut karena mimik wajah Alex berubah lebih serius saat bertanya tentang istrinya itu.


"Ibu sakit ?" Tanya Alex dengan wajahnya yang menegan, ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Ng-nggak tahu, Pak...," Asisten rumah tangga Alex belum selesai menjawab, tapi Alex sudah meninggalkannya. Ia berjalan tergesa menuju lantai 2 dimana kamanya dengan Nadia berada. Rasa khawatirnya pada sang istri mengalahkan rasa takutnya.


***


Sementara itu di dalam kamar, Nadia berdiam diri dalam sunyi juga gelap. Ia sengaja tak menyalakan lampu kamar karena merasa tak ingin saja.


Yang terdengar hanyalah isakkan tangisnya yang tak mau berhenti. Saat ini Nadia dudukkan tubuhnya di sofa kecil yang menghadap ke kaca besar hingga ia bisa melihat kedatangan Alex sejak tadi.


Mungkin orang-orang akan mengatakan jika sikapnya terlalu berlebihan. Nadia sadar jika para netizen pasti akan menyalahkannya atas salah paham yang terjadi dengan Alex.


Tapi Nadia tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Nadia pun tak ingin seperti itu, namun apa daya semua terjadi secara alami dan ia tak bisa mengendalikannya.


Nadia tak pernah ingin berjauhan dengan Alex. Lelaki itu adalah cinta matinya. Melihat Alex dengan wanita lain membuat hatinya meradang. Pikiran buruk terus menggelayuti kepalanya.


Disaat dirinya berjuang mencari jawaban dari segala yang terjadi, Alex malah pergi menemui wanita lain. Sungguh Nadia merasa marah dan patah hati.


Samar-samar terdengar derap langkah kaki dari arah luar. Nadia yakin yang datang adalah Alex. Cepat-cepat, Nadia usap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah menanti kedatangan lelaki itu dari balik pintu.


Nadia berdiri saat ia mendengar derap langkah kaki itu kian mendekat. Giginya gemeletuk karena menahan rasa cemburu yang membakar dirinya. Kedua tangannya terkepal kuat menahan rasa marahnya yang siap untuk meledak.


Gagang pintu pun bergerak dengan perlahan menandakan jika seseorang tengah berusaha membuka pintu yang tak terkunci itu.


"Nad...," Ucap Alex saat pintu itu terbuka dan mendapatkan gelap di dalamnya.


Nadia semakin kuat mengepalkan tangannya karena marah dan cemburu buta. Alex tak lagi menyapanya dengan kata 'sayang' membuat Nadia yakin jika lelaki itu habis bersenang-senang di luar sana.


Nadia berjalan mendekati, dan dengan sekuat tenaga menghambur pada tubuh Alex dan memukul-mukul dada suaminya itu dengan kepalan tangannya. "Dasar jahat !!! Bisa-bisanya kamu khianati aku yang cinta mati sama kamu !" Teriak Nadia dengan histeris. Membuat Alex terkejut dengan hebatnya.


Sekuat tenaga Alex menahan pukulan keoalan Nadia di tubuhnya. Bukan karena Alex kesakitan, ia tak ingin Nadia melukai dirinya sendiri.


"Sssttt.. tenanglah...," Bisik Alex saat ia bisa membawa tubuh Nadia dalam dekapannya. Pundak Nadia bergerak naik turun pertanda ia tengah menangis dengan hebatnya.


"Aku cinta kamu, Alex !! Aku cinta banget sama kamu !! Untuk apa kamu mencari wanita lain di luar sana ? Apa cintaku tak cukup untuk untuk mu ? Hu...hu...hu....," Nadia menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya. Dan anehnya ia tak merasa mual sama sekali. Rasa cemburunya yang mengalahkan itu semua.


"Demi Tuhan aku tak mengkhianati kamu," ucap Alex seraya memeluk erat Nadia dan memberikan banyak ciuman di puncak kepala istri yang sangat dirindukannya itu.


"Bohong ! Kamu bohong ! Kenapa kamu bertemu wanita lain padahal aku lah yang paling cinta sama kamu ! Ya Tuhan, Alex... Aku hampir gila karena terlalu mencintaimu," lanjut Nadia masih dengan menangis tersedu.


"Aku tahuz sikapku sangat menyebalkan tapi bukan berarti aku berhenti mencintai kamu. Hu..hu.hu..,"


Bukannya marah, Alex malah melengkungkan senyumnya. Pernyataan cinta Nadia menghilangkan semua rasa takutnya. Ia peluk istrinya itu kian erat saja.


"Maaf...," Bisik Alex.


"Tapi sumpah demi Tuhan, aku tak mengkhianati kamu karena hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cinta. Tak bisakah kamu rasakan jika aku sangat tergila-gila padamu ?" bisik Alex lagi.


"Bohong ! Kamu bohong !"


Belum juga Alex membela diri, tapi tiba-tiba saja kamarnya berubah terang karena seseorang telah menyalakan lampunya.


"Ada apa ini ? Kenapa bertengkar ?"


"Kami tak bertengkar," jawab Alex.


"Jangan ngeles bocah tengik ! Mami bisa mendengar keributan kalian dari luar dan lihatlah istrimu yang menangis itu ! Pasti gara-gara kamu yang berolahraga sama perempuan itu !" Tuduh snag Mami.


Mendengar sang Mami yang memaki Alex membuat Nadia merasa bersalah karena dirinya lah yang menjadi sumber masalah.


"A-aku yang bersalah, Mih," ucap Nadia.


"Jangan membelanya, Nadia !!"


"Serius, Mih.. Aku yang bersalah," ucap Nadia dan ia pun berjalan menuju ibu mertuanya.


***


Di sinilah ke tiganya berada. Duduk bersama di ruang keluarga dengan Mami Alex yang meminta penjelasan.


Sebenarnya ia merasa curiga saat Nadia memintanya untuk menjemput Nadine. Mami Alex yakin jika anak dan menantunya itu tengah berseteru. Oleh karena itulah ia memutuskan untuk kembali ke rumah Alex.


Nadia pun menceritakan semuanya, tak ada satupun yang ia tutup-tutupi. Bahkan Nadia mengakui jika dirinya lah yang bersalah dalam masalah ini dan tak seharusny mami menyalahkan Alex.


Selama itu terjadi, yang Alex lakukan hanyalah menatap Nadia penuh cinta. Pernyataan cinta yag tadi Nadia katakan membuat semua masalahnya menguap tak berarti. Bagi Alex, rasa cinta Nadia untuknya adalah yang paling penting.


Alex pun menjelaskan jika ia pergi berlatih fisik karena untuk menjaga bentuk tubuhnya agar Nadia tak berpaling pada lelaki lain. Dan hari ini hanya pelatih wanita lah yang bisa membantunya. Bahkan Alex menceritakan bagaimana ia tak bisa berkonsentrasi karena terlalu memikirkan istrinya itu.


"Masih merasa mual jika dekat-dekat, Alex ?" Tanya sang Mami.


Nadia melihat pada Alex yang sedari tadi terus-terusan menatapnya. "Tidak terlalu," jawab Nadia.


Mami Alex menarik nafasnya dalam-dalam. "Kalian ini ! Ayo cepat kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa Nadia," ajak sang Mami sambil berdiri.


"Ta-tapi aku nggak sakit, Mih," tolak Nadia.


"Ikut aja, percaya deh kata Mami !"


Mau tak mau Nadia pun menuruti apa kata mertuanya itu.


***


Mata Nadia dan Alex membola tak percaya saat mereka melihat pada layar yang menunjukkan kehadiran buah cinta mereka.


"Ya Tuhan..," gumam Nadia dengan mata berkaca-kaca karena rasa haru bahagia.


Alex yang melihat itu mencium puncak kepala istrinya berulang kali. "Terimakasih sayang, terima kasih... Aku semakin cinta kamu," ucapnya tanpa malu-malu padahal di sana ada dokter yang sedang memeriksa Nadia, seorang perawat dan juga Maminya yang ikut menemani.


"Jadi jelas ya... Perubahan yang terjadi pada istri anda karena beliau sedang mengandung. Hormonnya lagi kacau- kacaunya hingga membuat suasana hatinya berubah-ubah. Anda harus lebih bersabar menghadapinya," jelas sang dokter.


Alex mengangguk paham. "Aku akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih pengertian," Sahut Alex. Lalu ia kembali melihat pada layar dengan pandangan mata penuh rasa takjub. Alex merasa sangat bahagia karena kehamilan ke dua Nadia.


***


Sudah berjalan satu Minggu setelah kehamilan Nadia terungkap. Kini sikap Nadia pun berubah 180 derajat. Jika asalnya ia sangat tak mau berdekatan dengan suaminya, tapi yang kini terjadi adalah sebaliknya.


Semenjak merasakan cemburu yang luar biasa pada Alex, membuat Nadia tak ingin jauh dari suaminya itu. Ia akan terus menempel pada Alex bagai koala. Baik itu di rumah maupun di kantor dan sumpah demi apapun, Alex sangat menyukainya.


Seperti saat ini, jika biasanya Alex yang datang ke ruang kerjanya tapi pagi ini Nadia lah yang melakukannya. Ia memasuki ruang kerja Alex dan mengunci pintunya rapat-rapat.


Alex duduk bersandar di kursi kebesarannya, menatap sayu pada Nadia yang berjalan seduktif ke arahnya. Wajah lelaki itu dipenuhi dengan senyuman.


Tanpa diperintah, Nadia naik ke atas pangkuan suaminya dengan kedua kaki menjuntai di kanan dan kiri tubuh Alex. Kedua inti tubuh mereka bertemu dan bergesekan pelan membuat nafas Alex memburu tak karuan.


"Akan ku buat dirimu hamil terus menerus Nadia," bisik Alex parau sembari menghirup rakus aroma tubuh istrinya.


Bukannya menjawab, yang Nadia lakukan adalah meraih bibir Alex dengan bibirnya dan menyesapnya penuh tuntutan. Di bawah sana pinggulnya bergerak pelan, menekan inti tubuh Alex yang mulai menegang.


Tak tahan lagi, Alex pun memangku tubuh Nadia dan membawanya ke kamar pribadi tempatnya beristirahat. Ia akan mencumbu istrinya seperti tadi malam. Kehamilan Nadia kali ini membuat Alex semakin candu pada istrinya itu.


Tamat