In Love

In Love
Hasil Pemeriksaan.



Happy Reading ❤️


Pagi ini Alex kedatangan tamu yang tak disangka-sangka. Seorang wanita menghadang langkahnya sebelum ia memasuki bangunan kantornya padahal ia sudah terlambat untuk menghadiri briefing pagi ini.


Siapa lagi jika bukan Lola. Wanita itu sudah kehabisan uangnya untuk bertahan hidup hingga ia harus mendatangi Alex ke kantornya dan mengemis bantuan pada mantan kekasihnya itu.


"Apa lo gak punya malu ?" Tanya Alex dengan suara meninggi.


"Alex, aku mohon... Apa kamu ingin aku jadi gelandangan ?" Tanya Lola dengan memelas.


"Dan lo pikir gue peduli ? Pergi, atau gue minta security buat ngusir lo dari sini ?" Tanya Alex yang kini  begitu muak melihatnya.


Belum juga urusan dengan Lola selesai, ponsel dalam sakunya berdering dan tertera nomor Heru sang asisten disana. Ia mencoba mengabaikan namun nomor itu terus menghubungi.


Alex pun menerima panggilan itu dengan wajah ditekuk karena rasa emosi pada wanita yang tak mau menyingkir dari hadapannya.


Wajah penuh amarah itu berganti cemas setelah Alex tahu maksud dari Heru kenapa menghubunginya. " Nadia ?? Saya akan kesana sekarang," ucap Alex dan ia pun segera berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan tak jauh dari tempatnya berdiri dan mengabaikan Lola begitu saja.


Lola amati lamat-lamat kekasihnya itu, ia tahu sesuatu telah terjadi pada Nadia hingga ia pun memutuskan untuk membuntuti Alex dengan sebuah taksi.


***


Alex berlari kecil menuju ruang instalasi gawat darurat rumah sakit yang cukup ternama di kota Jakarta. Ia akan segera menemui dokter Gibran Fahreza yang katanya baru saja menangani istrinya.


"Hah hah hah...," Deru nafas Alex terengah-engah. Ia sungguh tak sabaran untuk mengetahui bagaimana keadaan istrinya itu.


"Dok-dokter Gibran ?" Tanya Alex pada seorang dokter tampan namun terlihat dingin itu.


"Sayang, aku harus menemui pasien dulu. Nanti aku hubungi lagi," ucap dokter itu karena ia sedang berbicara ditelepon. Kemudian ia pun mengakhiri panggilan teleponnya.


"Dokter Gibran ? Saya Alex, suami Nadia Wirahma. Ta-tadi istri saya di bawa kesini karena pingsan," ucap Alex terbata dengan nafasnya yang menderu.


"Bisakah anda tenang dulu ?" Tanya Gibran sembari mempersilahkan Alex untuk duduk.


Alex pun menurutinya, ia duduk tepat di hadapan dokter itu walaupun ia masih merasa cemas luar biasa karena belum tahu bagaimana kondisi Nadia saat ini.


"Memang benar saya yang menangani istri anda beberapa menit yang lalu, tapi melihat kondisinya saya sarankan...,"


"Kenapa ? Nadia istri saya kenapa ? Anda sarankan apa padanya ?" Tanya Alex tak sabaran.


Gibran menatap dingin lelaki di hadapannya, sungguh dokter itu tak suka Alex memotong pembicaraannya.


"Sudah saya katakan tenang dulu," ucap dokter Gibran menenangkan.


"Saya merujuk istri anda ke bagian obgyn," lanjutnya lagi.


"Obgyn ?" Tanya Alex berkerut alis tak paham.


"Dokter spesialis kandungan," jawab dokter Gibran.


Alex terdiam seketika, ia tak bisa berkata-kata. "Apa istriku... ?" Tanya Alex dengan wajahnya yang terlihat begitu terkejut bahkan ia tak bisa meneruskan pertanyaannya.


"Belum bisa dipastikan, namun silahkan anda sendiri yang memastikannya di sana," jawab dokter Gibran.


"Dimana letaknya ?" Tanya Alex kembali tak sabaran.


"Mari saya antar,  kebetulan saya akan kembali ke ruangan saya yang letaknya tak jauh dari poli kandungan," jawab dokter Gibran masih dengan raut wajahnya yang dingin dan pelit senyum itu.


Alex berjalan mengikuti langkah dokter Gibran. Tak ada lagi pembicaraan yang mereka lakukan hingga ponsel dari dokter itu berdering dan ia pun menerima panggilan itu. "Bina sayang..," ucap dokter itu pelan seolah tak ingin ketahuan. Alex yang mendengar itu langsung menolehkan kepala ke arah sang dokter  karena ia begitu merasa terkejut mendengarnya. Dokter dingin itu berubah mencair ketika seseorang menelponnya. Wajahnya yang tegang pun berubah berseri dan suaranya pun lembut menenangkan.


Sepanjang perjalanan dokter itu berbicara melalui telepon dan bisa Alex simpulkan jika ia sedang berjauhan dengan istri juga anaknya."Peluk cium untukmu dan anak-anak nanti sore aku akan menyusul kalian," ucap dokter Gibran pelan, ia tak mau siapapun mendengarnya namun sayang Alex bisa dengan jelas mendengar itu semuanya dan ia pun tersenyum simpul.


"Disini tempatnya," ucap dokter Gibran seraya menunjukkan tempat yang dimaksud dan terlihat banyak ibu hamil disana menunggu untuk diperiksa.


"Terimakasih," jawab Alex dan ia pun segera mencari keberadaan istrinya Nadia.


Setelah mengedarkan pandangannya ia tak bisa menemukan istrinya itu tapi hanya ada Heru yang duduk di pojok sendirian dan terlihat salah tingkah.


"Heru !" Seru Alex dan ia pun segera berjalan mendekatinya.


"Pantas saja pak Henry bertingkah seperti orang gila ketika kami di Jogja. Yang bersamaku ternyata istrinya," batin Heru dalam hati. Ia pun memaksa mati rasa kagumnya pada Nadia yang ternyata istri dari bosnya.


"Ah, baiklah dimana ?" Tanya Alex dan Heru pun menunjukkan sebuah pintu berwarna coklat kayu  dan tertutup rapat.


Alex segera berjalan menuju pintu itu dan menemuimu seorang perawat yang berjaga di sana. Ia berbicara untuk beberapa saat,  menjelaskan siapa dirinya dan tujuan untuk datang kesana adalah untuk menemani istrinya Nadia. Hingga akhirnya perawat itu mengizinkan Alex untuk masuk.


Nadia  tengah duduk ditemani oleh Meta  di hadapan seorang dokter wanita paruh baya. Semua mata tertuju pada Alex ketika ia menampakkan dirinya di ruangan itu.


"Saya, suami dari Nadia Wirahma," ucap Alex dengan jelasnya.


"Alex sudah datang, aku kembali ke kantor ya," ucap Meta dan ia pun berdiri untuk undur diri dan kini Alex lah yang menemani Nadia sebagai pengganti Meta.


"A-Alex, aku.. nggak tahu.. aku...," Ucap Nadia cemas. 


"Ssstttt," sahut Alex berusaha menenangkan istrinya itu.


"Nah karena suami anda telah datang, sebaiknya kita periksa bagaimana kandungan anda. Apa seperti dugaan dokter Gibran tadi atau anda hanya kelelahan," ucap dokter kandungan itu ramah.


Nadia pun membaringkan tubuhnya diatas meja pasien dan Alex pun menemaninya.


Dokter kandungan bernama Dewi itu pun menuangkan gel di atas perut Nadia yang masih rata dan mengarahkan sebuah alat ke atasnya, sedangkan matanya tertuju pada layar di depannya yang menunjukkan bagaimana kondisi kandungan Nadia yang saat ini.


Nadia terlihat tegang begitu juga Alex, keduanya harap-harap cemas dengan hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan itu.


"Hmmm," gumam dokter Dewi.


"Bagaimana dok ?" Tanya Alex tak sabaran dan Nadia pun memperhatikan wajah suaminya yang menegang.


"Hasil dari pemeriksaan tes kehamilan menyatakan positif namun kantung hamilnya belum terlihat. Mungkin karena terlalu cepat, sebaiknya datang kembali dalam waktu 2 atau 3 Minggu ke depan untuk melakukan pemeriksaan ulang," jawab dokter Dewi.


"Apa itu kantung hamil ?" Tanya Nadia sedikit kecewa. Walaupun ia pernah berkata tidak siap tapi nyatanya saat ini ia sangat berharap buah cinta itu hadir dalam rahimnya.


"Kantung kehamilan adalah ‘rumah’ bagi janin yang sedang berkembang dan berisi cairan ketuban. Kantung yang terletak di dalam rahim ini umumnya terbentuk sekitar 5-7 minggu setelah periode menstruasi terakhir Anda," jelas dokter Dewi.


Nadia menarik nafas dalam sedangkan Alex tak banyak berkata-kata. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Perawat membantu dokter untuk membersihkan sisa gel dari atas perut Nadia dengan tissue dan kemudian mereka kembali duduk bersama untuk mendengarkan penjelasan dokter kandungan itu.


Setelah cukup mengerti dengan apa yang dokter Dewi jelaskan mereka pun keluar dari ruangan itu tanpa banyak berbicara dan berjalan menuju mobil Alex yang terparkir dengan sepasang mata yang terus-menerus menerus memperhatikan keduanya.


Alex memilih untuk mengantarkan Nadia ke apartemen mereka karena menurut dokter Dewi kondisi istrinya itu sedikit lemah dan itu sangat mempengaruhi pikiran Alex saat ini.


Alex membukakan pintu mobilnya untuk Nadia dan mempersilahkan istrinya itu untuk masuk. "Ayo, aku anterin ke apartemen, hari ini kamu istirahat dulu saja disana. Biar aku yang meminta izin pada atasanmu,"


Nadia pun menurutinya, yang menjadi pusat perhatiannya saat ini adalah kesehatan kandungannya ia sangat berharap buah cintanya hadir dan tumbuh dalam dirinya.


Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Alex dan itu membuat Nadia mengira jika Alex tak senang dengan berita kehamilannya.


"A-Alex... Maafkan aku... Aku tahu kamu tak mencintai aku dan mungkin juga tak menginginkan anak ini. Tapi aku... Aku sangat mencintainya, aku akan mempertahankannya apapun yang terjadi diantara kita." Ucap Nadia terbata hingga Alex pun mengalihkan pandangannya dari jalanan kepada sang istri yang duduk gelisah di sebelahnya.


"Tapi... Kamu jangan takut, aku tak akan memaksakan apapun padamu. Kamu boleh terlibat sejauh apapun yang kamu mau, atau jika kamu memilih untuk tidak terlibat sama sekali dengannya, itu pun tak akan menjadi masalah. Karena akulah yang akan menjaganya juga memberinya banyak cinta. Dia akan baik-baik saja denganku," lanjut Nadia dengan begitu jelasnya. Apa yang ia ucapkan membuat Alex segera menepikan mobilnya dan menghentikan lajunya dengan sempurna.


Alex membuka sabuk pengaman yang ia kenakan, dan mencondongkan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Nadia. "Dia anakku, Nad. Tentu saja aku pun menginginkannya," sahut Alex dengan begitu jelasnya.


"Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya tapi aku sudah tak bisa menahannya lagi." lanjut Alex. Ia terlihat lebih serius lagi.


"Aku jatuh cinta padamu, Nadia Wirahma... Aku cinta padamu hingga rasanya mau gila karena terus menahannya,"


To be continued ❤️


Mumpung Senin vote yu, hadiah juga boleh.


Terimakasih 🥰


Double up karena kemarin absen ya 😅