
Happy reading ❤️
Nadia yang mendengar itu tersenyum muak, "Makan siangmu sudah datang, sebaiknya aku pergi," ucapnya sembari mengusap bibirnya yang basah karena lumataan yang Alex berikan.
"Saya harap, anda bisa melupakan apa yang anda lihat," ucap Nadia sungkan pada Joy.
"Nad, tunggu." Alex masih menahan lengan istrinya tapi Nadia menepisnya kasar.
"Baik banget rekan kerja kamu yang dari Surabaya, kirimin makan siang segala. Eh tapi kamu yang meminta padanya ya ? Kerjasama kalian di sana pasti sangat mengesankan," ucap Nadia sambil tertawa padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia menahan tangis dalam dadanya.
Wajah Alex berubah merah padam dan terasa panas. Perkataan Nadia membuatnya terasa tertampar.
"Aku gak ke Surabaya sama dia, salah kalau kamu berpikir seperti itu," desis Alex tak terima dan ia masih menahan lengan Nadia untuk pergi.
"Sumpah aku gak ngapa-ngapain sama dia," lanjutnya lagi.
"Just cut it out (hentikan) itu bukan urusan saya, Pak Henry. Dan saya tak peduli anda bertemu siapapun juga," jawab Nadia seraya mencoba melepaskan cekalan tangan Alex dengan perlahan.
"Nadia !!!" Hardik Alex. Nafasnya memburu mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Saya permisi pak Henry," ucap Nadia sembari setengah membungkukkan tubuhnya dan ia pun melakukan hal yang sama pada Joy sekretaris Alex.
Namun lagi-lagi Alex menahannya, kali ini tak mencekal lengan namun kembali merengkuh pinggangnya dengan erat. Membuat Joy yang melihatnya kian terheran.
"Dengerin aku, Nad," kata Alex tak sabaran.
"Lepas... apa anda tak malu dengan karyawati anda sendiri ?" Nadia masih berontak untuk melepaskan diri.
"Buat apa malu memeluk istri sendiri" desis Alex dengan kian mengeratkan rengkuhannya
"Alex !!" Sentak Nadia.
"Perkenalkan ini istri saya, Joy. Maaf harus berkenalan dengan cara seperti ini karena dia wanita yang bawel dan keras kepala," ucap Alex tanpa melepaskan belitan tangannya.
Joy menutup mulutnya tak percaya. "Nadia si bawel ?" Gumam Joy hampir tak terdengar.
"Iya, dan dia ini istri saya," jawab Alex.
"Jangan percaya, aku bukan siapa-siapanya. No ring on it," ( tak ada cincin di sini ) ucap Nadia seraya menunjukkan jari manisnya.
"Apa perlu aku telanjangi kamu dan berciinta di depannya agar sekretarisku ini percaya jika kamu ini benar istriku, huh ?"
Joy yang mendengar itu seketika tersadar berada di situasi yang tidak tepat ia pun memilih untuk pergi setelah meninggalkan kotak makan siang yang ditujukan untuk Alex.
"Ma-maaf sebaiknya saya pergi," ucap Joy dengan kepala tertunduk meninggalkan Alex dan Nadia yang masih berseteru.
Setelah kepergian Joy rengkuhan tangan Alex melonggar dan lebih lembut dari sebelumnya namun ia belum juga melepaskan tubuh Nadia dari dekapannya.
"Maaf," bisik Alex tepat di telinga Nadia.
"Maaf karena udah ketahuan ? Seperti yang aku bilang, aku tak peduli. Asal kamu jangan tidur dengannya karena aku sangat jijik dengan itu semua," sahut Nadia dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Demi Tuhan aku gak tidur sama dia !" Alex begitu frustasi.
"Setelah kebohongan yang kamu lakukan, apa kamu pikir aku akan percaya ?" Tanya Nadia.
"Jangan pernah sentuh aku lagi, Alex," desis Nadia dengan jelasnya. "Jangan pernah sentuh aku lagi...," Lanjutnya lagi seraya berusaha melepaskan belitan tangan Alex dari tubuhnya.
"Im so sorry," gumam Alex lirih.
"Aku menyesal karena telah berbohong soal semalam, tapi percayalah aku gak nyentuh dia sama sekali. Im so sorry...," rasa sesal dan bersalah tengah menggelayuti hati Alex saat ini.
"Dont tell me you're sorry cause you're not." ( Jangan katakan kamu menyesal karena kamu tidak )
"Nad !"
"Berulang kali kamu melakukan ini padaku, Alex." Nadia menahan tangis ketika mengatakan itu.
"Berulang kali ?" Alex berkerut alis tak paham.
"You don't understand me. You never try to do that," ( kamu tak mengerti aku, kamu tak pernah berusaha untuk melakukannya ) ucap Nadia seraya menatap mata Alex dalam. Ia berharap Alex bisa mengerti perasaannya. Nadia ingin Alex sadar jika dirinya telah membuat Nadia patah hati berulang kali.
Alex tak bergeming, ia tak mengatakan apapun walaupun matanya terus menatap mata Nadia yang mulai mengembun hingga akhirnya Nadia berhasil melepaskan belitan tangannya.
"Sepertinya kamu memang tak kan pernah bisa mengerti," lirih Nadia dengan menelan salivanya sendiri. Sungguh ia merasakan kecewa yang luar biasa.
Ia pun mengusap pipi dan pergi keluar meninggalkan Alex yang berdiri terdiam membeku.
Joy membungkukkan tubuhnya ketika Nadia keluar dari ruang kerja Alex, ia memberikan penghormatan pada istri bosnya itu.
Nadia menganggukan kepala menanggapinya, masih dengan hati yang ngilu menahan sakit ia memasuki lift dan berpegangan pada tepiannya untuk menahan tubuhnya yang mulai limbung.
Setelah keluar dari lift, yang Nadia lakukan adalah memasuki toilet wanita dan menangis hebat di salah satu biliknya.
Ia ingin sekali menyatakan cintanya pada lelaki yang menjadi suaminya. Namun Nadia takut jika Alex akan menolak perasaannya apalagi kenyataan bahwa Alex masih menemui mantan kekasihnya itu membuatnya semakin ragu.
"Kenapa aku menjadi seorang pengecut seperti sekarang ini ?" Tanya Nadia pada dirinya sendiri.
Dulu ia adalah seorang yang berani dan tegas dalam hal apapun namun kini berhadapan dengan perasaan cintanya pada Alex membuat Nadia menjadi seorang yang lemah.
Tangisnya pecah ketika Nadia menyadari itu semua. Sepertinya Alex tak kan pernah mengerti jika ia sangat membutuhkan cintanya.
"Katakan padaku kenapa semua kian sulit saja ? Apa tak bisa kamu rasakan di setiap sentuhan dan ciuman yang aku berikan ada cinta di dalamnya ? Tak bisakah kamu lihat di mataku ini ada
rasa rindu yang membuncah yang hanya untukmu ? Tak bisakah kamu lihat patah hati yang aku rasakan dari setiap air mata yang ku tumpahkan? Apa yang harus aku lakukan padamu, Alex ?" Begitu sakit rasanya mencintaimu, tapi aku pun tak kan sanggup bila harus berpisah darimu," batin Nadia dalam hati. Ia menangis tersedu ketika memikirkan itu semua.
"Ya Tuhan," gumam Nadia ketika ia ingat para rekan kerjanya sedang menunggu kedatangannya.
Nadia mengusap pipi dan keluar dari bilik itu seraya merapikan bajunya. Ia bercermin dan berusaha menutupi jejak air matanya.
Menarik nafas dalam sebelum ia keluar dari toilet. Langkah Nadia terhenti dan segera ia menyembunyikan tubuhnya di balik dinding ketika ia lihat Alex tengah berlari kecil di lobby kantor seolah sedang mencari seseorang.
Setelah yakin Alex pergi, Nadia pun berjalan tergesa menemui teman dan juga atasannya yang menunggu dalam mobil untuk kembali ke kantor tempatnya bekerja.
"Udah, Nad ?" Tanya pak Adi sang manager.
"Udah, Pak. Maaf telah membuat semuanya menunggu lama," jawab Nadia dan ia pun memalingkan wajahnya menatap luar jendela agar semua orang yang ada dalam mobil tak melihatnya habis menangis.
***
Flashback ketika Alex ditinggalkan Nadia di ruang kantornya.
"Berulang kali kamu melakukan ini padaku, Alex."
"You don't understand me. You never try to do that,"
Ucapan-ucapan Nadia terngiang dalam kepalanya, dan tatapan nanar istrinya itu membuat hati Alex bergetar. Ada gelenyar aneh merasuki relung hatinya.
Alex melihat kesedihan yang mendalam dalam diri Nadia ketika ia tu mengatakan itu semua. Bibir Nadia lalu membisu namun Alex tahu dalam hatinya pasti banyak kata terucap namun bibir Nadia kelu untuk mengatakannya.
"Apa pertemuanku dengan Lola begitu menyakiti hatimu ? Seperti aku yang sakit ketika kamu bersama laki-laki lain," batin Alex dalam hatinya.
"Apa yang terjadi pada kita, Nadia ?" Gumam Alex lirih.
"Aku tak tahu apakah ini cinta atau bukan, tapi aku tak bisa jauh darimu. Aku akan merasakan rindu yang menggebu jika kamu tak ada di sisiku, aku merasakan cemburu pada setiap lelaki yang dekat denganmu dan satu yang pasti aku tak pernah mau berpisah darimu," ucap Alex dalam hatinya.
"Tapi aku tak bisa mengatakan semuanya padamu, Nadia. Aku takut.... aku takut, kamu tinggalkan aku setelah tahu apa yang aku rasakan. Aku tak mau hancur untuk yang kedua kalinya," lirih Alex seraya meraup wajahnya frustasi.
"Tapi demi Tuhan... Aku tak menyentuh Lola sedikitpun, aku sudah tak menginginkannya lagi. Aku datang padanya agar dia tak datang menganggu mu," batin Alex dalam hati.
"Kamu harus mendengarkan penjelasan aku, Nad." Alex bicara pada dirinya sendiri dan ia pun berdiri dan berlari kecil berusaha mencari istrinya. Ia ingin menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi semalam.
Alex hubungi Nadia dengan ponselnya namun tak terhubung juga hingga Alex memutuskan untuk mencarinya sampai lobi kantor, berharap Nadia belum pergi namun ternyata istrinya itu tak ada disana. Akhirnya Alex kembali ke ruangannya dengan rasa kecewa.
Ia buka kiriman makan siang dari Lola dan tertawa muak melihatnya. "Joy, kembalikan makan siang ini pada pengirimnya," titah Alex pada joy melalui sambungan telepon.
to be continued ❤️
thanks for reading 😘