In Love

In Love
Kerjasama



Happy reading ❤️


Tanpa sabaran Alex memagut bibir ranum Nadia dan mengulumnya lembut.


"Kamu gak akan bisa ninggalin aku, Nadia.  Aku akan kejar ke manapun kamu pergi. Jadi jangan pernah pergi begitu saja dariku," ucap Alex ketika tautan bibir mereka terpisah.


"Kamu pasti tahu alasan aku pergi meninggalkanmu, tak mungkin aku pergi begitu saja," jawab Nadia dengan begitu jelasnya. Matanya menatap Alex dengan dalam dan penuh tuntutan hingga membuat Alex terdiam seketika.


"Ehemm," Alex berdehem gugup. "Ten-tentu saja aku tahu," lanjut Alex kemudian. Lalu ia memilih untuk menyalakan mesin mobilnya, dan mulai beranjak pergi.


Alex fokuskan matanya pada jalan, ia berusaha menghindari topik yang mungkin masih Nadia pikirkan.


"Jadi... Apa antara kamu dan dia sudah selesai ?" Tanya Nadia.


Tepat seperti dugaan Alex, jika Nadia masih berada dalam topik itu.


"Emmm... Sedang ku usahakan karena itu tak semudah membalikkan telapak tangan," jawab Alex. Ia tak mau berkata bohong pada istrinya itu dengan mengatakan jika ia dan Lola telah usai.


"Sebenarnya mudah, kalau kamu memang mau denganku maka lepaskan dia. Atau mungkin kamu memang tak berniat untuk melepaskannya," sahut Nadia dengan membuang pandangannya ke arah luar jendela. Ia menarik nafas dalam ketika mengatakan itu semua.


"Nad, aku bilang aku lagi berusaha. Lihatlah sekarang ini aku berada dimana ? Disini, sama kamu. Aku meminta dia pergi agar bisa bersamamu. Jadi bersabarlah sedikit lagi," kata Alex seraya menolehkan kepalanya melihat ke arah Nadia yang lebih memilih untuk melihat ke luar jendela daripada memandang wajah suaminya.


"Nad... Look at me, im here for you." (Lihat aku, aku di sini untukmu ) lanjut Alex. Ia pun meraih dagu sang istri agar melihatnya.


Mau tak mau Nadia melihatnya, menatap Alex dengan perasaan yang tak menentu. Senang karena Alex datang padanya tapi di waktu bersamaan ia merasa sedih karena Alex ternyata masih belum bisa melepaskan masa lalunya.


"Aku pasti pisah dia, beri aku waktu.,"


"Aku yang menjadi istrimu, tapi aku yang merasa jadi orang ketiga diantara kalian," ucap Nadia seraya tersenyum getir.


"Hei, kenapa ngomong begitu ? Kamu gak pernah jadi orang ketiga." Ucap Alex tak terima.


Tapi Nadia tak menanggapinya, ia memilih untuk kembali melihat ke arah luar jendela. Memperhatikan segala yang dilaluinya dengan kepala penuh dengan pikiran tentang suaminya.


"Apa ini yang membuat Alex sangat sulit mengatakan kata cinta ? Karena ia begitu sulit untuk melepaskan Lola. Pasti cinta yang Alex miliki untuk wanita itu sangatlah besar. Aahhh seandainya aku lah yang dicintainya seperti itu, pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia," pikir Nadia.


Konsentrasi Alex terpecah antara jalanan dan istrinya yang kini terlihat sendu. Sungguh ia tak suka itu.


"Nad... Apapun yang kamu pikirkan saat ini, aku gak suka. Please percaya sama aku. Perasaanku sama dia udah berubah dan kini hanya ada kamu, tapi ia masih sulit menerima untuk berpisah dariku," jelas Alex.


"Seandainya kita tak terbawa perasaan dan tetap mengikuti perjanjian pernikahan kita, mungkin semua tak kan menjadi sulit seperti ini," sahut Nadia sembari melihat ke arah Alex.


Mendengar apa yang Nadia ucapkan, Alex pun menepikan mobilnya. Ia menghentikan lajunya hanya untuk bisa berbicara dengan lebih serius. "Ngomong apa sih, Nad ? Buang semua pikiran buruk mu," ucap Alex dengan tatapan setajam elang yang mengunci target dalam pandangannya.


"Tahukah cuma kamu yang sekarang ada dalam mata dan pikiranku. Aku merasa menjadi diriku yang lain jika bersamamu. Aku selalu ingin menyentuhmu lagi dan lagi. Aku juga sangat takut kamu tinggalkan, dari setiap wanita yang aku temui hanya kamu yang bisa membuatku merasa seperti ini. Percayalah..." lanjut Alex yang kini pandangan matanya beralih pada bibir ranum Nadia yang sedikit terbuka dan ia mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat lagi, dan ia pun mengangkat dagu Nadia dengan jempolnya agar istrinya itu balas menatapnya.


"Beri aku waktu," lirih Alex tepat di atas bibir istrinya. "Aku akan selesaikan semuanya dengan dia, tapi beri aku sedikit waktu lagi," tatapan tajam itu berubah sayu nan sendu.


Nadia menelan salivanya seraya menganggukkan kepala pelan. Sungguh sikap Alex yang dominan dan perkataannya yang memabukkan membuatnya begitu lemah. Cinta yang Nadia rasakan terlalu besar pada Alex, hingga ia pun tak mampu untuk menuntut lebih.


***


"Joy batalkan semua jadwal hari ini. Saya dan istri akan mengerjakan tugas bersama. Dan satu lagi, saya tak terima tamu siapapun," ucap Alex pada sekretarisnya ketika mereka tiba di kantornya. Lelaki itu kini tak menutupi status pernikahannya pada beberapa orang terdekatnya.


"Ba-baik pak," sahut joy patuh. Ia menganggukkan kepala tak hanya pada Alex tapi juga pada Nadia sebagai tanda penghormatan pada istri atasannya itu.


Nadia membalas dengan tersenyum sungkan, ia belum terbiasa diperlakukan seperti itu. Apalagi Alex secara terang-terangan merangkul pinggangnya untuk sama-sama memasuki ruang kerjanya.


Nadia memilih untuk duduk di sofa tamu dan menyimpan semua tumpukan berkasnya yang dia bawa di atas meja sedangkan Alex duduk di kursi kebesarannya.


Tak lama seseorang membawakan minuman untuk keduanya  dan setelah itu mereka larut dalam pekerjaan masing-masing.


Tapi... Tanpa Nadia  ketahui beberapa kali Alex mencuri pandang pada istrinya yang sedang bekerja dengan serius itu. Ia tersenyum lega melihat Nadia duduk di sana, berada dalam jangkauan matanya.


Nadia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, beberapa kali ia menepuk-nepuk pundaknya karena terlalu lama menunduk larut dalam pekerjaannya.


"Alex, kalau tahu begini sebaiknya tadi aku kerja di kantorku saja gak usah ikut kemari," keluh Nadia karena pada akhirnya ia bekerja sendirian.


Alex yang mendengar itu segera berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati sang istri. Lalu dia duduk tepat di sebelah Nadia dengan jarak yang begitu dekat hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.


"Tapi aku senang kamu ada disini, jadi aku bisa melihatmu tanpa menahan rasa rindu," Jawab Alex seraya meraih ballpoint yang Nadia pegang dan menyimpannya di atas meja.


"Alex, ka-kamu ngapain ?" Tanya Nadia karena detik berikutnya yang lelaki itu lakukan adalah mendesak tubuh Nadia agar terbaring di atas sofa dan Alex pun menindihnya pelan.


"A-Alex ?" Tanya Nadia cemas.


Alex tak menjawab, yang ia lakukan adalah menatap sayu wajah Nadia yang berada di bawahnya dan begitu pula Nadia yang  balas menatapnya. Dengan tanpa sada bibir keduanya telah menyatu sempurna, saling mengulum dan menyesap satu sama lain dengan penuh tuntutan.


Sesekali ciuman itu berhenti namun kemudian berlanjut lagi dengan lu-matan yang kian menuntut bahkan lidah Alex telah ikut bermain dalam rongga mulut Nadia yang terbuka. Tangannya tak tinggal diam, ia memberikan rabaan-rabaan halus seringan bulu di balik blouse Nadia dan meremas gemas bagian sensitif istrinya itu.


Nadia melenguh dan memelantingkan tubuhnya karena ciuman dan juga sentuhan yang Alex berikan, tubuhnya sangat menikmati tapi kesadarannya membawa ia kembali dari buaian itu.


"Alex, berhenti... Kita tak mungkin melakukannya di sini," ucap Nadia lirih karena kini bibir Alex yang kenyal dan basah telah merambat turun menikmati leher Nadia yang jenjang.


"Kenapa tidak ?" Tanya Alex dengan suaranya yang telah berubah serak.


"Nan-nanti ada orang yang masuk," jawab Nadia.


"Sudah aku kunci pintunya," jawab Alex tanpa menyudahi kegiatannya.


"Kamera cctv...," Kata Nadia lagi, ia masih berusaha untuk menolak suaminya.


"Sudah aku matikan juga," jawab Alex masih dengan ciuman dan sentuhannya yang kian menuntut.


"Alexxhhh," lenguh Nadia bercampur des*h.


"Ya sayang... Panggil namaku," bisik Alex yang kini mulai menelusupkan tanganya kedalam rok sang istri dan bersusah payah melepaskan kain penutup bagian sensitif tubuh istrinya.


"Alexhh jangan," Nadia berusaha untuk berontak namun tubuh dan tenaga Alex yang lebih besar begitu sulit untuk ia imbangi.


Setelah berhasil melepaskan kain itu, tangan Alex pun sibuk membebaskan miliknya sendiri yang telah menegang hebat dan tak lama mereka pun melakukannya.


***


Di luar ruangan, Lola telah berdiri dengan membawakan makan siang ditangannya. Ia masih melakukan apa yang Alex perintahkan.


"Alex ada meeting sampai jam berapa?" Tanya Lola pada Joy yang merupakan sekretaris pribadi Alex.


"Saya kurang tahu, tapi bapak memerintahkan saya untuk membatalkan seluruh jadwalnya hari ini," jawab Joy.


"Seluruh kegiatannya ? Apa Alex akan terus mengurung diri dalam ruangannya seharian ini ?"


"Sepertinya begitu," jawab Joy singkat. Sungguh ia merasa tak suka pada Lola yang masih saja keras kepala untuk menunggu.


Lola tahu Alex pasti dengan seorang wanita di dalam sana. Tapi lagi-lagi, ia tak peduli akan hal itu. Ia sangat membutuhkan Alex saat ini, jika ia harus bersujud di kaki Alex pun akan Lola lakukan asal dirinya masih bisa menggantungkan hidupnya dan bersembunyi dari orang-orang yang mengejarnya.


To be continued ❤️


Terimakasih yang sudah baca.


Lop yu ❤️