
Happy reading ❤️
Telah berjalan hampir 2 bulan sejak mereka menikah dan keduanya masih tidur di kamar yang terpisah.
Pembagian tugas berjalan dengan baik hingga sekarang dan dan tak ada seorangpun dari keluarga mereka yang curiga jika pernikahan mereka sebenarnya jauh dari kata sempurna.
Terlebih lagi ketika mama Alex memergoki keduanya tengah berciuman, ia kira pernikahan anaknya itu berjalan dengan baik.
Begitu juga orang tua Nadia tak tahu jika pernikahan anaknya sebenarnya tidak berjalan seperti pernikahan lain pada umumnya. Mereka tak tahu jika Nadia dan suaminya itu tidur terpisah karena setiap Nadia pulang ke Bogor Alex selalu ikut dengannya hingga mereka tak curiga jika anak dan menantunya itu sebenarnya hanya 2 orang manusia yang tinggal bersama tanpa cinta.
Alex masih dengan mengandalkan logikanya yaitu memberikan batasannya pada Nadia agar mereka tak saling jatuh cinta yang hanya berujung rasa sakit karena Alex yakin dirinya masih mencintai masa lalunya.
Namun...
Semakin ia mengandalkan logika semakin hatinya berontak. Hatinya selalu merasa ingin lebih dekat dan lebih memperhatikan istrinya itu. Bahkan ia tak suka jika Nadia masih bertemu Bimo yang kini hanya sebatas sahabat bagi istrinya. Namun Alex tak bisa mengatakannya, ia tak mau Nadia menjadi salah paham dan mengira ia memiliki perasaan lebih padanya.
Apa Alex masih tertarik secara fisik pada istrinya ? Tentu saja ! Hampir setiap melakukan olahraga tangan untuk memuaskan kebutuhan biologisnya ia membayangkan wajah istrinya itu. Tapi sebisa mungkin ia menutupi semua, lagi-lagi logikanya yang menyuruhnya untuk melakukan itu.
Begitu juga Nadia, ia mencoba mengandalkan logikanya untuk tidak berharap pada Alex. Ia selalu mengatakan jika Alex tetaplah Alex, lelaki yang mencintai wanita masa lalunya dan tak mungkin jatuh cinta padanya.
Namun...
Hatinya berkata lain, ia semakin terbawa perasaan karena perhatian dan kebaikan Alex yang semakin menjadi.
Contoh kecilnya saja, hampir setiap waktu Alex selalu mengirimkannya makan siang dan tak hanya itu setiap akhir pekan mereka lalui berdua. Bahkan Alex mengajarkan dirinya untuk berenang. Tak seperti dulu ketika Alex pernah menceburkannya, tapi kini lelaki itu mengajarinya dengan benar.
Minggu lalu Alex mengajaknya untuk berlibur ke pantai dan mereka habiskan waktu berdua penuh tawa. Alex merangkul pundaknya ketika mereka melihat matahari terbenam dan sebagai wanita tentunya Nadia merasakan debaran setiap Alex berlaku manis padanya.
Tak hanya itu saja, Alex pun sering mengajaknya berkeliling kota dengan motor besarnya. Dan makan di tempat yang kini menjadi pavorit mereka berdua. Meskipun Alex tak pernah lagi mencoba untuk menciumnya namun kedekatannya dengan sang suami membuat Nadia nyaman.
Tak hanya di akhir pekan namun malam-malam biasa pun mereka habiskan bersama. Proyek besar yang sedang Alex kerjakan membuatnya membawa pekerjaan itu ke rumah dan Nadia sering kali membantu dan menemaninya untuk mengerjakannya. Dan sering kali ia menunggu Alex bekerja hingga tertidur di kursi dan terbangun si tempat tidurnya karena Alex memindahkannya dengan cara menggendongnya.
Ah bagaimana hati Nadia tak terbawa perasaan jika setiap hari mereka lalui seperti itu.
Seperti saat ini Nadia tengah menunggu Alex di bioskop karena mereka berjanji untuk menghabiskan akhir pekan ini dengan menonton film, ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan jika Alex telah terlambat 10 menit.
Sabtu pagi Nadia harus pergi ke kantornya karena ada suatu pekerjaan yang harus diselesaikan, oleh karena itulah mereka pergi dengan terpisah dan memutuskan untuk bertemu di bioskop saja.
Ia sengaja datang tepat waktu karena tak mau membuat Alex menunggu tapi pada kenyataannya lelaki itu yang datang terlambat. Meskipun begitu Nadia tak khawatir karena Alex tak pernah ingkar dengan janjinya.
"Maaf telat," ujar Alex seraya menarik rambut Nadia yang di kuncir kuda, membuat istrinya itu mengaduh karena sakit.
"Awwww," pekik Nadia pelan dan Alex tertawa karenanya.
"Udah beli tiketnya ?" Tanya Alex.
"Udah,"
"Oh... Ya udah aku yang beli makanannya," ujar Alex sembari berdiri.
"Aku....," Gumam Nadia menirukan ucapan suaminya.
Ia tersenyum samar karena kini Alex tak lagi memanggilnya dengan panggilan 'Lo' dan 'gue' tapi kini ia menggunakan panggilan aku dan kamu, itu terjadi ketika beberapa waktu lalu saat Nadia dengan tidak sengaja memanggil Alex dengan panggilan 'Lo' pada suaminya itu dan pada saat itu juga Alex protes tak suka.
"Apa Nad ? Lo ?" Tanya Alex waktu itu.
Alex langsung berdiri dan menggelitik Nadia hingga istrinya itu kegelian dan tak bisa melawan karena Alex terus melakukan itu.
"Gak mau ! Kamu biasanya panggil aku kamu," protes Alex tak suka.
"Lah apa salahnya kamu juga manggil aku 'lo' dan 'gue'. Aku gak pernah protes loh." Sahut Nadia seraya menahan tangan Alex agar berhenti menggelitiknya.
"Gak mau, Nad. Aku gak suka." Jawab Alex dan tawa Nadia pecah ketika untuk pertama kalinya Alex mengunakan kata 'aku'.
"Hahahahaha gak cocok !" Tawa Nadia dan disitulah insiden itu terjadi.
Alex menindih tubuh Nadia diatas sofa dan menahan istrinya itu agar tak berontak, tubuh mereka menempel satu sama lain dan wajah keduanya hanya terpisah jarak 5 cm saja.
"Dengar Nadia, jangan pernah panggil aku dengan kata 'lo' karena aku juga gak akan menggunakan kata-kata itu lagi sama kamu. Ngerti ?" Tanya Alex tepat di wajah istrinya.
"Good girl," bisik Alex dan ia pun menarik tubuhnya dari atas tubuh Nadia dan kembali berjibaku dengan pekerjaannya. Meninggalkan Nadia yang terduduk dengan tubuh bergetar dan dada berdebar-debar lebih kencang karena ini adalah pengalaman untuk pertama kalinya dekat dengan begitu intimnya dengan seorang lelaki.
Sejak saat itulah panggilan diantara keduanya berubah, itu terjadi sekitar 2 minggu lalu dan semenjak itu juga hati Nadia semakin terbawa perasaan.
Hatinya selalu berdebar lebih kencang setiap Alex menggunakan kata aku dan kamu.
"Nih," Alex menyerahkan satu box popcorn extra butter yang sangat Nadia sukai juga satu gelas es kopi.
Alex tahu sekali semua kesukaan istrinya itu, bahkan pernah suatu hari Nadia terkejut karena di meja makan mereka terdapat satu toples besar berisikan kerupuk. Alex yang melakukan itu, karena ia tahu Nadia sangat menyukainya.
"Kamu ngelamunin apa sih ? Kerjaannya udah beres ?" Tanya Alex sembari menyeruput minuman yang ia beli. Kini keduanya tengah duduk di kursi tempat tunggu para pengunjung.
"Udah, gak ngelamunin apa-apa kok," jawab Nadia. Tak mungkin kan ia mengatakan jika ia sedang memikirkan segala kebaikan suaminya itu yang memengaruhi hatinya.
"Kamu tadi kesini naik apa ?" Tanya Alex mencari tahu. Ia ingin tahu apa Nadia diantarkan Bimo atau tidak karena jarak kantor mereka yang berdekatan.
"Ojol," jawab Nadia singkat dan Alex tersenyum lega karenanya.
"Kenapa ?" Nadia balik bertanya.
"Gak papa.. yuk masuk, studionya udah dibuka." Ajak Alex dan Nadia menurutinya.
"Kamu pilih film apa, Nad ?" Tanya Alex seraya mendudukkan tubuhnya.
"Film thriller pembunuhan." Jawab Nadia.
"Oh Gosh, romantis sekali." Sindir Alex. Ia mengira Nadia akan membeli tiket film romantis yang nantinya akan membuat istrinya itu menyenderkan kepala pada bahunya tapi yang Alex pikirkan tak sesuai kenyataannya.
Dari awal film itu diputar sudah menayangkan adegan menegangkan dan Nadia tak merasa takut sedikitpun, ia fokus menonton film tanpa tahu jika Alex asik memperhatikannya.
"Kamu emang beda," ucap Alex lirih namun Nadia masih bisa mendengarnya.
"Apa ? Kamu ngomong sama aku ?" Tanya Nadia seraya menolehkan kepala.
"No, enggak kok." Jawab Alex bohong dan ia pun kembali menatap layar begitupun Nadia.
Alex tersenyum ketika ia kembali memperhatikan istrinya itu yang tak merasa takut sedikitpun dengan apa yang mereka tonton padahal film itu cukup menegangkan.
***
Rintik hujan turun ketika mereka keluar dari gedung pusat perbelanjaan itu dan kebetulan Alex memarkirkan mobilnya tepat di luar gedung bukannya di lantai basement.
"Kita lari aja yuk, hujannya gak gede kok, lagian mobil kamu juga gak jauh letaknya," ajak Nadia pada suaminya itu.
Nadia mulai berlari kecil namun tangan Alex mencekal lengannya.
"Tunggu, Nad."
Alex meletakkan telapak tangannya yang besar itu tepat di puncak kepala istrinya.
"Jangan lari, jalan cepat aja. Biar aku tutupin kepala kamu agar gak terlalu kehujanan." Ucapnya lagi dan itu membuat Nadia kembali terbawa perasaan.
"Ih gak papa, Alex." Nadia berusaha melepaskan tangan Alex dari puncak kepalanya.
"Nurut, Nad. Aku gak mau kamu sakit," sahut Alex dan akhirnya Nadia pun menurutinya.
Nadia menjadi lebih diam ketika mereka memasuki mobil dan Alex sadar akan hal itu.
"Kalau kamu sakit siapa yang mau ngurusin di apartemen ? Kan aku harus kerja." Ucap Alex beralasan. Lagi-lagi ia tak mau Nadia beranggapan lebih tentangnya namun sepertinya itu terlambat karena saat ini Nadia merasakan gelenyar aneh dalam hatinya.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
like dan komen ya... hadiah dan vote juga boleh, aku gak nolak kok 😋