
"Alex ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Nadia pelan. Ia memutuskan untuk memberi tahukan suaminya itu. Terserah apa nanti tanggapan Alex tentangnya, yang penting ia telah terbuka dan yang lebih penting lagi adalah perasaan cintanya saat ini pada Alex memanglah sesuatu yang nyata.
"Apa ?" tanya Alex. Sebelum Nadia membuka mulutnya untuk berbicara, terdengar bunyi bel di pintu menandakan seseorang datang.
"Tunggu, aku harus buka pintu. Sepertinya itu seseorang yang membawakan koper kita," ucap Alex. Ia pun menguraikan pelukannya hingga Nadia terbebas dari dekapannya. Tepat seperti dugaan Alex, seorang laki-laki muda datang dengan banyaknya koper mereka, karena tadinya Alex berniat untuk ikut tinggal di Bandung seandainya Nadia tak ingin pulang ke Jakarta.
Lelaki itu akan berada di sana hingga istrinya mau untuk diajak kembali. Beruntung bagi Alex, tak membutuhkan waktu lama baginya untuk membawa kembali Nadia ke sisinya karena keduanya memiliki cinta yang sama besarnya.
Pada akhirnya Alex dan Nadia sibuk membereskan barang-barang mereka. Butuh waktu yang tidak sebentar hingga semua terlihat rapi. Untuk makan malam pun Alex memesannya secara online karena banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk berbenah tak memungkinkan Nadia untuk memasak dan Nadia pun tak sempat untuk berbicara dengan suaminya itu.
"Terimakasih," ucap Nadia pada seorang lelaki yang merupakan kurir pengantar makanan. Di dapur, Alex sedang menyediakan piring serta sendok yang digunakan. Tak lupa juga ia mengisikan air ke dalam mug milik Nadia juga miliknya. "Sudah ku katakan, aku akan membawa pasangan mu kembali," ucap Alex pada gelas mug miliknya. Ia tersenyum puas ketika meletakkan dua gelas mug yang kini saling berpasangan dan terukir nama Alex dan Nadia. "Kita memang sudah jodoh, nama kita cocok sekali jika disandingkan bersama," masih Alex berucap sambil tersenyum-senyum.
"Kenapa ?" tanya Nadia terheran. Ia meletakkan kantong plastik putih yang di dalamnya terdapat banyak jenis makanan yang dikemas.
"No, nothing...," jawab Alex setengah menahan malu. Ia menjadi salah tingkah saat ini.
"Bohong...," tuduh Nadia seraya menunjuk Alex dengan tersenyum jahil. Alex masih mengelak namun Nadia terus menggodanya. Gemas dengan godaan Nadia, Alex pun menarik telunjuk istrinya itu pelan dan memasukkannya ke dalam mulutnya lalu menghisapnya.
"Aleeexxhhh, lepas !" rintih Nadia terdengar lirih dan itu membuat Alex menatap sayu istrinya itu. Nadia sadar jika atmosfer diantara keduanya kini telah berubah seduktif. Tepat seperti dugaannya, Alex meraih pinggang Nadia lalu memangku istrinya itu bagaikan koala dan membawanya ke dalam kamar mereka. Nadia pun menginginkan hal yang sama, ia melingkarkan tangannya pada leher Alex dan mata mereka saling berpandangan dengan sayu.
***
Alex memasuki kamar dan melihat Nadia masih terbaring lemas ditutupi bedcover putih tebal miliknya. Sudah satu setengah jam sejak terakhir mereka melakukan kegiatan panas dan Nadia tertidur karena kelelahan. Makanan yang di pesan melalui aplikasi online pun sudah berubah dingin hingga Alex harus memasukkan nya ke dalam microwave sebelum ia dan Nadia bisa menikmatinya.
Alex pandangi wajah Nadia yang tidur dengan menelungkupkan tubuhnya. Ia teringat pembicaraan terakhir mereka tentang kesepakatan baru, "Jika kamu mengkhianati aku, maka anak-anak kita akan ikut denganku dan kamu tak boleh lagi menemui mereka," Alex pun menarik nafas dalam-dalam ketika ingat ucapannya sendiri.
"Maaf aku katakan hal itu," gumam Alex pada Nadia yang masih tertidur pulas. "Aku lakukan itu bukan untuk mengancam atau menyakitimu, aku hanya ingin kamu tahu jika aku tak ingin lagi kamu tinggalkan karena aku akan hancur tanpamu," batin Alex dalam hatinya.
"Aku mencintaimu, Nadia. sangat cinta kamu," gumam Alex lagi dan ia pun membelai rambut panjang Nadia untuk membangunkannya.
"Sayang, bangun... makan dulu," ucap Alex pelan.
"mmmhhh," lenguh Nadia sambil meregangkan tubuhnya yang masih polos di bawah bedcover.
"Sudah mau jam 12 malam, kita belum makan. Ayo aku tak mau kamu sakit," bujuk Alex karena Nadia masih saja memejamkan matanya padahal istrinya itu sudah terbangun dari tidurnya.
"A-akuuh gak mau makan, takut gendut," jawab Nadia yang kini membuka matanya.
"Ayo makan, kesehatanmu lebih penting !" titah Alex tak terbantahkan. Ia mengambil kaos hitam polos miliknya dan mengenakannya pada sang istri.
Nadia terlihat begitu berbeda di dalam balutan kaosnya sendiri. Dengan rambut tak beraturan, dan bibirnya yang sedikit membengkak karena ulahnya tadi membuat istrinya itu terlihat sangat seekksi.
"Nggak mau," rengek Nadia tapi Alex tak tinggal diam. Ia memangku Nadia ala bridal style dan membawanya keruang makan. "Aku akan tetap mencintaimu walaupun kamu kurus langsing atau gemoy seperti kucing anggora," ucap Alex dan itu membuat Nadia tertawa.
Alex mendudukkan Nadia di atas kursi dan membawa makanan yang telah dihangatkan sebelumnya. Mereka duduk saling berdekatan dan menikmati makan malam mereka yang sangat terlambat ditemani buliran air hujan yang menghiasi kaca jendela mereka.
"Sayang, aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu besok tapi ternyata Mr. Lee dari China akan datang berkunjung untuk menemui aku dan membahas beberapa hal tentang kerjasama yang baru kami tandatangani bersama," jelas Alex perlahan. Ia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya tapi ternyata keadaan berkata lain.
"Kalau kamu gak percaya, kamu bisa iku ke kantor denganku besok," lanjut Alex karena Nadia masih belum menanggapinya.
Nadia menelan makanan yang masih berada dalam mulutnya sebelum ia menimpali apa yang Alex ucapkan, "Its oke, kamu boleh pergi ke kantor karena sepertinya aku pun akan masuk kerja. Pak Adi sudah tahu jika aku sudah berada di Jakarta," sahut Nadia.
"Oh ya ? apa tak ingin istirahat dulu di apartemen ?" tanya Alex.
"Apa kamu ingin aku tinggal di apartemen ?" Nadia balik bertanya.
"Tidak juga, jika kamu ingin bekerja silahkan saja. Aku akan mengantar dan menjemputmu seperti biasa," jawab Alex dan Nadia pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Bukannya Nadia tak ingin berdiam diri dan beristirahat namun banyak hal yang harus ia selesaikan, hal utama yang ingin Nadia lakukan adalah menemui ibu mertuanya dan berbicara.
***
"Love you," ucap Alex pada Nadia ketika isterinya itu hendak turun dari mobilnya. Kini Alex mengantarnya hingga tepat di halaman depan kantor sang istri tak seperti sebelumnya secara sembunyi-sembunyi.
"Aku bilang, I love you," Alex mengulangi perkataannya. Mata hitamnya menatap tajam Nadia seolah menunggu sesuatu dari istrinya itu.
Nadia menyunggingkan senyum dan tersadar akan sesuatu. "Love you more, Sayang," ucap Nadia pada akhirnya dan itu membuat wajah Alex berubah cerah.
"Nakal," ucap Alex lagi dan ia pun menarik dagu Nadia dengan jempolnya kemudian memagut bibir istrinya dengan mesra sebagai hukuman.
Beruntung bagi Nadia karena saat ini ia mengenakan lip cream yang tidak mudah mentransfer kan warnanya hingga tidak mengenai bibir Alex.
Alex pun membuka kunci pintu mobilnya dan membiarkan Nadia keluar. "Aku jemput nanti sore, jangan nakal ya," ucap Alex sebelum Nadia keluar dengan sempurna dari mobilnya.
"Kamu juga jangan nakal, kecuali denganku," sahut Nadia sembari mengedipkan sebelah matanya penuh goda dan itu membuat Alex tertawa.
Nadia tatapi kendaraan Alex yang bergerak kian menjauh. Hatinya terasa hangat saat ini karena dipenuhi rasa cinta yang menggelora. Dengan penuh semangat ia melangkahkan kakinya memasuki kantor yang belum lama ini ditinggalkannya.
Banyak orang yang menganggukan kepalanya sebagai tanda penghormatan, ada juga yang menyapanya sok akrab padahal sebelumnya mereka tak pernah melakukan hal itu, dan beberapa orang yang pernah menggosipkannya menyapa dengan rasa terkejut dan menyambut kedatangan Nadia dan memeluknya erat hingga itu membuat Nadia muak. Inilah yang Nadia dapatkan setelah semua orang tahu jika ia adalah istri dari Alexander Henry Salim.
Nadia hanya menanggapinya sambil lalu, yang pertama kali ia lakukan adalah mendatangi bilik sahabatnya dan memberikan sebuah kejutan
" Hai zheyeenk, " ucap Nadia dan itu membuat Meta yang sedang terduduk langsung berdiri dan memeluknya erat. "Ya ampuuun kenapa gak bilang mau masuk ? kan aku bisa nunggu kamu di bawah," ucap Meta dengan mata berkaca-kaca.
"Kejutan !" sahut Nadia sembari mengeluarkan sebuah coklat berukuran besar sebagai hadiah untuk temannya itu.
"Adiiin jahat banget sih kamu gak ngasih kabar dulu, tapi dimaafin karena bawa ini," ucap Meta sambil menyambar coklat yang Nadia berikan.
"Huh dasar !" keluh Nadia dan ia pun tertawa melihatnya.
"Mbak ! Mbak Nadia ! senang bisa ketemu mbak lagi hu..hu..huh..," ucap Dian si anak magang yang datang setengah berlari menghampirinya. "Aku kira kita tidak akan bertemu lagi setelah Mbak Nadia pindah ke Bandung," ucapnya terisak. Ia sungguh merasa kehilangan sosok Nadia yang dianggapnya baik.
Nadia tersenyum samar, ia merasa terharu karena di kantornya ini masih ada yang peduli padanya selain Meta juga manajernya. "Ini buat kamu, terimakasih ya selama ini udah baik sama aku," ucap Nadia sambil menyerahkan coklat yang besarnya sama.
"Mbak inget sama aku ?" tanya Dian seraya meraih coklat itu dengan mata berbinar bahagia.
"tentu saja aku ingat sama kamu, bawel !" goda Nadia dan dian pun tertawa mendengarnya.
"Pak adi belum datang, mbak duduk sama aku aja yuk ?" ajak Dian dan Meta pun melotot padanya. "Nadia punya aku," sahut Meta tak ingin kalah.
Nadia tertawa melihat keduanya tapi dia lebih memilih untuk pergi bersama Dian karena gadis itu berada di divisi yang sama dengannya. "sampai ketemu nanti siang, bye zheyeenk," ucap Nadia pada temannya yang tengah mencebikkan bibirnya itu karena kesal.
Nadia dan Dian duduk saling berhadapan di meja anak magang itu. Kini ia sudah tidak memiliki bilik kerjanya sendiri. Tak lama, beberapa rekan kerjanya yang dulu ikut-ikutan berbuat jahat padanya, datang menghampiri sambil tersenyum ramah. "Nad, kamu bisa ikut di tempat aku dulu kalau mau. Gak pa-pa kok," ucap salah satunya. "Di tempat aku juga boleh," timpal yang lainnya. "udah sarapan belum ? kalau belum kebetulan aku bawa roti isi,"
"Thanks, tapi aku cukup di sini saja," jawab Nadia. Ia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak terpancing emosi.
"Ya udah, kalau begitu kita pergi ya. Kamu tahu kita berada dimana jika butuh sesuatu," ucap mereka sebelum pergi.
Nadia memutar bola matanya malas, beginilah sosok orang-orang yang bermuka dua dan ternyata tak sedikit ia temui di kantornya sendiri walaupun rekan kerja lain yang memang benar-benar baik pun banyak.
"mereka takut untuk diperkarakan karena beberapa orang yang kesalahannya fatal sudah ditindak tegas oleh bos," jelas Dian.
"Oh ya ?" tanya Nadia
"Iya, ada yang diturunkan gradenya dan ada juga yang dimutasi ke kota lain dan yang paling parah ada satu orang yang dipecat," jawab Dian.
"Suami mbak Nadia, yang meminta itu semua,"
To be continued ♥️
jangan lupa like komen, vote dan hadiah yaaa...
karena ada event di bulan Juni ini
terimakasih ♥️