In Love

In Love
Sakit



Happy reading ❤️


"F*ck Nadia ! Kamu dimana ?" Maki Alex frustasi.


"Siapa Nadia ?" Tanya Lola yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka.


Joy pun sama penasarannya dengan Lola. Sudah 2 bulan ini ia selalu mengirimkan makan siang untuk wanita bernama Nadia dan yang uniknya nama Nadia akan berubah tergantung mood Alex saat mengirimnya.


"Mmm, Nadia itu...,"


"Pak Henry, ini kekurangan data yang anda minta." Datang seorang laki-laki yang merupakan asisten pribadi kliennya yang belum lama ini ia temui. Menyelamatkan Alex dari 2 wanita yang tengah kepo ini.


"Ah terimakasih. Saya sangat membutuhkannya," sahut Alex berusaha mengalihkan perhatian Lola juga Joy sahabatnya.


Dalam dunia usaha Alex menggunakan nama tengahnya yaitu Henry, itu ia gunakan sejak pertama kali terjun ke dalam dunia bisnis dan yang memanggilnya Alex hanya orang-orang terdekat saja.


"Lola, bisakah kita bertemu lagi nanti ? Aku benar-benar sedang sibuk sekarang ini," ucap Alex berusaha meminta mantan kekasihnya itu untuk pergi.


Keberadaan Nadia yang entah berada di mana membuatnya sedikit frustasi. Bukan karena ia kehilangan tentunya, tapi saat ini Nadia sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Kamu mengusir aku ?" Tanya Lola dengan matanya yang dingin dan selalu bisa membuat Alex menjadi lemah.


"Bukan, bukan begitu... Aku sedang banyak sekali pekerjaan dan ini deadline. Jika kamu berada disini sekarang aku tak akan bisa menemanimu dan aku pun tak akan berkonsentrasi dalam bekerja jika kamu diam di sini. Tinggallah di hotel, setelah semua pekerjaan ini selesai aku akan segera menemui mu, ya ?" Bujuk Alex.


Lola tak menjawab, yang ia lakukan adalah berjalan keluar dari ruangan Alex dengan dagu terangkat dan langkah yang penuh percaya diri. Bahkan Joy pun menundukkan kepalanya seolah terhipnotis oleh pesona Lola. Sedangkan Alex masuk ke ruangannya meninggalkan Joy yang masih penasaran dengan wanita bernama Nadia juga Lola yang sudah 2 hari ini selalu mendatangi kantor Alex.


"Wajarlah pak Henry dikejar banyak perempuan, seandainya aku belum menikah juga pasti akan terpesona," batin Joy dalam hatinya.


Lola berjalan dengan banyak pertanyaan dalam hatinya tentang wanita bernama Nadia karena bisa ia lihat Alex begitu cemas dan emosional ketika membahasnya dengan sang sekretaris.


Reaksi yang dulu hanya ditujukan Alex untuknya. Namun kini lihatlah, lelaki yang dulu memujanya bak seorang dewi berani memintanya untuk pergi padahal dulu Alex selalu ada di bawah telunjuknya. Selalu menjadikannya nomor satu. Ia tahu Alex selalu mencintainya dan tak mungkin berpaling karena tak ada satupun wanita yang sepadan untuk menjadi pasangan Alex selain dirinya.


Sementara itu di dalam ruangannya, Alex meletakkan semua pekerjaannya di atas meja dan merogoh ponselnya yang berada dalam saku celananya dan mulai mencari kontak orang-orang yang berhubungan dengan istrinya.


Yang pertama ia hubungi adalah kantor di mana Nadia bekerja dan seperti yang Joy katakan, istrinya itu benar tak masuk kerja hari ini dan mereka tak memberikan kejelasan alasan ketidakhadiran Nadia.


Yang kedua ia hubungi adalah Meta sahabat Nadia di kantor. Temannya itu juga mengatakan tak tahu akan keberadaan Nadia, malah ia mengira Nadia tak masuk karena kelelahan setelah merayakan ulangtahun Alex semalam membuat Alex tak bisa menjawab pernyataan Meta dan memilih untuk memutuskan hubungan telepon itu .


Yang ketiga, Alex menghubungi orang tua Nadia di Bogor. Namun belum juga menanyakan keberadaan Nadia. Ibu mertuanya lebih dulu menanyakan kabar putrinya dan itu menandakan jika Nadia juga tak pulang ke rumah orangtuanya membuat Alex semakin cemas saja.


Ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi dan meraup wajahnya frustasi, "kemana kamu ? Nyusahin aja bisanya," keluh Alex walaupun yang sebenarnya ia rasakan adalah cemas luar biasa.


Alex berusaha untuk kembali pada pekerjaannya dan mencoba mengenyahkan segala pikirannya tentang Nadia.


***


Meta langsung menutup teleponnya dengan berbagai kata kutukan untuk Alex. Saat ini ia tengah menemani Nadia yang tengah terbaring di kamar kosnya karena demam tinggi yang dialaminya.


"Kamu belum makan apa-apa udah ngabisin banyak es krim, nanti tambah sakit. Patah hati boleh, tapi gak gini juga," ucap Meta seraya memberikan usapan-usapan halus si puncak kepala sahabatnya itu.


Tadi pagi Nadia memilih untuk menenangkan diri di tempat kosnya yang letaknya tak jauh dari kantor dan segera memberi tahu manager nya jika ia tak bisa masuk karena sakit. Beruntung bagi Nadia karena sewa kosnya itu telah dibayar dimuka untuk satu tahun ke depan jadi ia masih berhak untuk tinggal di sana.


"Cinta itu sakit ya...," Lirih Nadia.


"Maaf ya sayang, aku tak menyangka akan berakhir seperti ini," ucap Meta penuh sesal.


"Bukan salah kalian, salah aku yang mencintai Alex dan salah mengartikan segala sikapnya,"


"Sayang...," Meta pun memeluk temannya itu untuk menenangkan.


Tak lama Bimo pun datang dengan membawa bubur ayam dan obat penurun panas. Ia begitu merasa prihatin dan sedih setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mantan kekasihnya itu.


Bimo tahu ini pertama kalinya Nadia benar-benar merasakan jatuh cinta dan kemudian patah hati. Tapi yang membuatnya merasa kasihan yaitu karena lelaki itu adalah suaminya sendiri.


"Adin sayang, ayo makan," bujuk Bimo


Adin adalah panggilan kesayangan Nadia dari Bimo dan 4 sahabatnya yang lain.


"Nggak mau," Nadia menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan sayang dan minum obat setelah itu bangkit. Masih banyak cowok ganteng di luar sana," bujuk Meta.


"Kita gak akan pergi sebelum kamu makan dan minum obatnya,"


"Tapi sebentar lagi jam istirahat kalian habis," ucap Nadia.


Bimo memberinya obat penurun panas sebelum mereka meninggalkan Nadia di kamar kostnya.


"Nanti sore, pulang kantor aku kesini ya. Kalau kamu masih demam kita pergi ke dokter," ucap Bimo lagi sebelum mereka pergi dan Nadia menganggukan kepalanya.


Nadia masih menikmati patah hatinya, wajah Alex yang gusar terus terbayang di benaknya. "Hai hati...kenapa kita jatuh cinta pada orang yang salah ?" Gumam Nadia seraya mengusap air matanya.


***


Pukul 4 sore Bimo meminta izin pulang lebih awal dengan alasan jika dirinya kurang enak badan padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia membawa Nadia untuk pergi ke dokter. Lelaki itu dengan setia menjadi tempat bersandar Nadia yang tengah patah hati.


"Bim, pacar kamu gak marah nih kita disini berdua ?" Tanya Nadia.


"Gak lah, dia kan gak tahu," kekeh Bimo.


"Lagian its complicated," lanjut Bimo sembari menarik nafasnya dalam.


"Apa karena dia anak bos kamu ?" Tanya Nadia dan Bimo pun menganggukkan kepalanya.


Ternyata wanita yang Bimo temui di pesawat yang membawanya pulang dari Jerman adalah anak dari pemimpin perusahaannya. Meskipun keduanya saling tertarik namun Bimo sedikit ragu karena ia status sosial mereka yang berbeda.


"Kamu lelaki yang baik, Bim. Aku rasa boss mu akan suka menjadikan kamu menantu." Bimo tersenyum mendengar apa yang Nadia ucapkan.


"Kamu lagi patah hati tapi masih bisa hibur aku, makasih Adin," Bimo pun mencium puncak kepala Nadia.


Tak lama Nadia pun diperiksa oleh dokter dan menurut diagnosanya Nadia demam karena makan tak teratur dan juga ada sedikit radang tenggorokan.


Bimo terus menemani, bahkan ia yang mengurusi semua. Nadia hanya duduk di ruang tunggu masih dengan pikirannya yang sibuk tentang Alex dan sikap apa yang akan ia ambil.


"Ayo, semuanya sudah selesai. Ini obatnya," ucap Alex seraya menyerahkan paper bag berisikan obat-obatan.


"Aku anterin ke apartemen ya,"


"Gak mau, aku gak mau pulang kesana," rengek Nadia.


"Adin, kamu ini udah nikah. Alex pasti khawatir sama kamu," bujuk Bimo.


"Dia gak akan mikirin aku, Bim. Dia sibuk sama pacarnya," sahut Nadia dengan tersenyum masam.


"Tapi tetap kamu harus pulang padanya, seandainya kamu belum menikah akan ku bawa ke apartemen aku. Ingat kata dokter tadi, obatnya diminum 4 jam sekali kalau kamu demam tinggi dan aku gak bisa ninggalin kamu sendirian di kosan," bujuk Bimo.


"Dia juga belum tentu pulang ke apartemen kok,"


"Pasti pulang, percayalah... Aku rasa Alex pun merasakan rasa yang sama denganmu tapi dia belum sadar aja, trust me.. aku kan juga laki-laki,"


"Iya tapi gak se-brengsek dia," timpal Nadia dan itu membuat Bimo tertawa.


"Gini aja, kalau dia nyakitin kamu lagi. Jam berapapun itu telepon aku, karena aku akang langsung datang buat jemput kamu. Gimana ?"


Nadia menatap Bimo dengan penuh rasa haru, lelaki ini memang sangat baik dan tak pernah berubah.


"Baiklah," jawab Nadia dan Bimo pun mengantarkannya ke apartemen Alex.


Pukul 10 malam mereka sampai di apartemen Alex. Bimo pun mengantarkan Nadia hanya sampai lobi karena ia tak mau jika Alex melihat mereka berdua dan menjadi salah paham.


"Ingat telepon aku kapanpun jika terjadi hal buruk, aku akan langsung datang," kata Bimo mengingatkan.


Nadia menganggukan kepala dan memeluk sahabat yang dulu pernah jadi kekasihnya itu.



"Makasih Bimo, kamu baik banget sih," ucap Nadia sembari memeluk Bimo dengan eratnya dan Bimo mengusap lengan Nadia untuk menenangkan. Seandainya saja ia dan Bimo memiliki cinta yang menggebu sebagai kekasih bukannya sebagai teman tentu nasibnya tak akan seperti ini. Tapi hati tak bisa diperuntukkan bagi siapa, hati memilih sendiri siapa yang dicintainya.


"Aku pulang ya," ucap Bimo dan Nadia pun mengizinkannya.


Tanpa keduanya sadari, seseorang melihat itu semua dengan hati sesak dan juga lelah. Lelah karena mencari istrinya yang menghilang, bahkan ia harus membatalkan janji temu dengan kekasihnya yang telah lama pergi hanya untuk mencari sang istri yang katanya tak dicintainya.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘


Jangan lupa like dan komen yaaa


Hadiah dan vote juga boleh 😚😚