In Love

In Love
Kejutan



Happy weekend and happy reading ❤️


Lega...


Itulah yang mereka rasakan dalam hatinya karena beban cinta yang telah terpendam lama akhirnya terucapkan.


Alex memagut bibir Nadia dengan lembut, tangannya merengkuh tubuh sang istri agar padu dengannya.


Nadia membalas pelukan dan ciuman itu sama lembutnya. Ia melakukanya dengan penuh rasa cinta yang selama ini dipendamnya.


Keduanya memejamkan mata, menikmati percikan-percikan cinta yang menghangatkan hati mereka.


Nadia tersetawa samar ketika tautan bibir mereka terpisah. Begitu pun Alex dia tersenyum sembari merapikan rambut Nadia yang cukup berantakan.


"Kamu cantik banget," gumam Alex tanpa mampu mengalihkan pandangannya. Bahkan ia menahan nafasnya untuk sesaat, menikmati wajah cantik istrinya yang sangat ia rindukan.


"Boong," sahut Nadia sambil mencebikkan bibirnya. Ia tak percaya apa dengan yang Alex katakan saat ini, karena wajahnya pastilah terlihat kacau dengan mata sembab dan hidung yang merah karena tangis yang tak bisa ditahannya.


"Tak ada wanita yang paling cantik selain kamu," jawab Alex dengan mimik wajahnya yang serius.


"Tak hanya wajah, tapi hatimu pun sama cantiknya," lanjut Alex sembari memberikan ciumannya di seluruh wajah Nadia. " I ( cup, Alex mencium dahi Nadia dengan dalam ) am ( Alex mencium kedua kelopak mata Nadia ) in ( Alex mencium pipi kiri) love ( Alex mencium pipi kanan ) with ( Alex mencium puncak hidung Nadia ) you ( terakhir, Alex melabuhkan bibirnya di atas bibir Nadia dan kembali memagutnya).


Nadia meremas kain kemeja yang Alex kenakan sembari kembali memejamkan matanya, ia menikmati setiap ciuman yang Alex berikan padanya. Baru kali ini ia mendapatkan hal semanis ini dari seorang lelaki dan itu adalah suaminya sendiri yang telah membuatnya jatuh cinta dengan dalam.


"Sebaiknya kita makan siang, aku akan segera memesannya," lirih Alex ketika tautan bibir mereka terpisah.


Masih tak ingin diganggu oleh siapapun Alex meminjam ponsel Nadia untuk memesan makan siang mereka. Tak sekalipun Alex menghidupkan daya ponselnya ketika ia bersama Nadia saat ini.


Yang mereka lakukan kemudian adalah duduk berpelukan dengan kepala Nadia yang ia letakkan di atas dada Alex.


Dapat Nadia dengar dengan jelas debaran jantung Alex, dan itu membuatnya mengulum senyum. Dalam hati Nadia merasa bahagia dengan hebatnya, kini ia tak hanya memiliki tubuh Alex saja namun juga hati dan cintanya. Hal yang selalu Nadia impikan di setiap malamnya.


Sedangkan Alex beberapa kali memberikan ciuman gemas di puncak kepala istrinya. Euforia jatuh cinta tengah memenuhi hati dan pikirannya. Ia tak menyangka setelah bertahun-tahun mati rasa, akhirnya merasakan kembali rasa cinta yang menggelora dan itu pada istrinya sendiri. Sungguh Alex merasa bahagia saat ini.


Cukup lama menanti akhirnya makan siang yang dipesan datang juga. Keduanya menyiapkan makan siang itu bersama di dapur.


Gelak tawa terdengar ketika Alex mengajak bercanda Nadia dengan menggelitik tubuh istrinya itu penuh rasa sayang.


Makan siang kali ini adalah yang terbaik yang pernah mereka rasakan, meksipun bukan di hotel mewah atau restoran mahal namun keduanya benar-benar menikmati suasana yang tengah mereka rasakan saat ini.


Bahkan ketika keduanya harus membersihkan piring dan gelas pun diiringi gelak tawa dan diselingi ciuman yang terus Alex berikan.


Hingga tiba waktunya bagi Alex untuk kembali ke kantornya karena pekerjaannya siang ini tertunda selama 3 jam padahal volumenya lebih banyak dari sebelum-sebelumnya.


"Oh gosh... Kenapa ini terasa begitu berat ?" keluh Alex ketika ia kembali mengenakan jas nya.


"Apanya yang berat ?" Tanya Nadia.


"Meninggalkanmu," jawab Alex dengan mata hitamnya yang menatap Nadia tanpa jeda.


"Kamu hanya akan pergi ke kantor, bukan pergi dinas ke luar kota," sahut Nadia dengan terkekeh geli.


"Aku tahu, tapi rasanya berat banget. Masih belum rela ninggalin kamu," sahut Alex yang kini kembali mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah sang istri.


"Aku akan menunggumu pulang," sahut Nadia menenangkan. Sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama yaitu tak ingin berpisah dari Alex setelah pengakuan perasaan mereka, tapi ia tahu jika Alex sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya.


Alex menyalakan kembali ponselnya yang selama 3 jam terakhir ini ia matikan. Dan begitu ponselnya aktif kembali terdengar banyaknya notifikasi masuk hampir tanpa henti untuk beberapa menit.


"Tuh kan, kamu masih sibuk. Sebaiknya segera kembali ke kantor," ucap Nadia dan Alex menatap layar ponselnya dengan malas.


"Ikut aja yuk ? Kamu gak usah ngapa-ngapain, cukup temani aku saja," ucap Alex setengah membujuk.


"Pengen sih, tapi aku masih sedikit pusing," jawab Nadia dan itu membuat Alex tersadar jika beberapa jam yang lalu istrinya pingsan karena kelelahan dan berakhir dengan dugaan hamil padanya.


"Ah iya... Aku lupa," sahut Alex penuh sesal.


"I-iya," jawab Nadia terbata. Ia masih saja merasa gemetar jika berhadapan dengan Alex sedekat ini.


"Baiklah, aku pergi...," Alex pun kembali memagut bibir istrinya sebelum ia pergi ke kantor.


***


Malamnya...


Alex pulang terlambat karena pekerjaannya yang tertunda dan volumenya yang banyak. Beberapa kali ia menghubungi Nadia untuk memastikan istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Tidur duluan aja, aku masih banyak kerjaan," ucap Alex seraya menunjukkan banyaknya berkas yang menumpuk di atas mejanya. Saat ini ia sedang melakukan panggilan video pada Nadia.


"Hu'um baiklah, kamu hati-hati ya pulagnya nanti," sahut Nadia. Wajahnya saat ini memenuhi layar ponsel suaminya.


Alex yang mendengar itu tersenyum manis, ia tengah menikmati perhatian yang sedang diberikan istrinya.


"Iya pasti aku akan hati-hati, jangan lupa makan malamnya dimakan," ucap Alex mengingatkan dan tak lama panggilan video itu ia putuskan karena harus kembali larut dalam pekerjaannya.


Namun sebelum ia melakukan itu, terlebih dulu Alex meminta Joy sang sekretaris untuk membelikan satu ikat bunga mawar putih yang akan ia berikan pada istrinya Nadia.


***


Nadia terbangun dengan seseorang yang memeluknya erat. Nafas teratur dan dengkuran halus terdengar dengan jelas di telinganya. Nadia pun tersenyum menikmatinya.


Menikmati masa-masa indah penuh cinta bersama lelaki yang telah membuat dunianya tak lagi sama.


Semalam, entah jam berapa Alex pulang ke apartemen karena ia telah tertidur dengan lelap. Baru kali ini Nadia merasakan tidur dengan nyenyaknya tanpa beban perasaan juga beban pikiran. Semua terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.


Dengan perlahan Nadia geserkan tangan kekar dengan guratan urat tak berlebihan itu. Ia pun menatap wajah Alex yang tertidur lelap dan terlihat damai. Beberapa kali Nadia menyisir rambut Alex dengan jemarinya namun lelaki itu tak jua membuka matanya. Sepertinya Alex benar-benar kelelahan.


Nadia memutuskan untuk membersihkan dirinya, ia berjalan menuju toilet. Tubuhnya terasa lebih sehat pagi ini, tak lagi merasa lelah dan pusing seperti hari kemarin.


Ia berdiri di hadapan wastafel dan menutup mulutnya tak percaya ketika mendapati 2 tangkai mawar putih tepat di sebelah sikat gigi dan sabun cuci mukanya. Nadia pun meraih 2 kuntum bunga itu dan menghirup wanginya dalam.


Setelah itu Nadia pergi ke dapur dengan 2 kuntum bunga di tangannya dan kembali terkejut karena hal yang sama ia temukan di sana.


Beberapa kuntum bunga mawar putih terletak tepat di sebelah mug pavoritnya dan Nadia pun kembali meraih juga menghirupnya. Tak hanya di kedua tempat itu tapi Nadia juga mendapatkannya di beberapa tempat lain yang sering digunakannya seperti di atas meja rias dan pintu lemarinya hingga kini ia mendapatkan banyak bunga di tangannya dan ia pun tak sabar untuk segera membangunkan Alex dan bertanya tentang bunga-bunga itu.



Alex terbangun dan ia pun menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang dan tersenyum penuh arti ketika Nadia berdiri di hadapannya dengan banyak bunga yang sengaja Alex letakan di tempat yang biasanya istrinya itu gunakan.


"What are these ?" (Apa ini? ) Tanya Nadia tanpa bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat bahagia. Bahkan matanya mengembun ketika mengatakan itu.


"Roses for my lovely wife," ( mawar untuk istriku yang cantik ) jawab Alex dengan begitu jelasnya. Suaranya yang berat karena baru saja bangun tidur terdengar begitu menggoda di telinga Nadia.


Nadia pun segera meletakkan bunganya di atas nakas, dan ia segera naik ke atas ranjang atau tepatnya ke atas pangkuan Alex dengan kedua kakinya yang terbuka.



Ia membelai rambut Alex dengan jemarinya sedangkan Alex membalas pelukan itu dengan tangannya yang kekar.


"Suka bunganya ?" Tanya Alex sambil berbisik dan Nadia pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku tak tahu bunga kesukaanmu jadi aku pilih mawar," lanjut Alex.


"Sebenarnya aku sangat suka bunga forget me not seperti yang diberikan Fabian pada istrinya Renata di novel Terikat Dusta karya Meegorjes ( bisa di baca sampai tamat di profil aku. Mon maap iklan dulu 🤣) bunga yang menandakan sebuah kesetiaan. Tapi kini mawar putih pun menjadi pavoritku," jawab Nadia lirih.


Alex tersenyum samar mendengar jawaban istrinya. Apa yang Nadia lakukan membangunkan sesuatu yang telah lama tak melakukan aksinya namun ia sadar jika istrinya itu sedang dalam keadaan lemah karena tanda kehamilannya. Bukannya Alex tak ingin melepaskan hasratnya namun keadaan Nadia jauh lebih penting baginya. Hingga Alex hanya memeluknya kian erat saja.


To be continued ❤️


Thanks for reading ❤️