
Setelah makan siang bersama di kediaman Laras, dad Nara dan mama Anja memilih untuk beristirahat di apartemen mereka saja dan meninggalkan Radha disana. "Dad ingin bulan madu sama mama!" Begitulah alasan dad Nara saat Radha meminta ikut dengan mereka. Ada-ada saja kelakuan dad Nara itu, padahal umur sudah kepala lima.
Rencananya nanti setelah ashar, mereka semua akan pergi berziarah ke makam almarhum Zian. Radha sudah tau kalau sebenarnya dia bukan anak kandung dari dad Nara, melainkan anak kandung dari papa Zian yang sudah meninggal. Namun meskipun begitu, ia tidak pernah meragukan kasih sayang daddy-nya itu. Di banding kasih sayang daddy-nya kepada kedua adik laki-lakinya, kasih sayang dad Nara jauh lebih besar kepadanya. Radha dapat merasakan itu.
Radha nampak duduk di balik meja kasir menggantikan Buna Laras yang sedang beristirahat. Jangan lupakan Wisnu yang sejak tadi tidak boleh beranjak dari sisinya.
"Kak, bosen ini, aku ke kamar aja lah." Sejak tadi Wisnu hanya duduk seraya memainkan ponselnya. Ingin rasanya ia menempelkan punggungnya ke atas kasur empuknya. Namun sedikit saja ia beranjak, Radha sudah memelototkan matanya. Membuat Wisnu kembali menempelkan p@nt@tnya ke kursi.
"Ish, nanti siapa yang nemenin kakak di sini?"
"Kan ada Bu Sih sama Bu Ti." Wisnu menunjuk karyawan lama Omanya itu dengan dagunya.
"Assalamualaikum!"
Terdengar ucapan salam dari pintu samping, kemudian disusul dengan munculnya seorang gadis cantik yang tak lain adalah Camelia.
"Waalaikum salam!" Jawab semuanya kompak.
"Loh, kak Radha kapan datang?" Pekik Camelia seraya berlari menghampiri Radha dan langsung memeluknya.
"Tadi pas menjelang makan siang. Baru pulang Mel?"
"Iya kak!"
"Kalau begitu aku ke kamar dulu kak, kan udah ada kak Camel." Wisnu langsung melesat meninggalkan rumah makan sebelum Radha kembali menarik bajunya.
"Gimana kuliahnya?"
"Ya gak gimana-gimana, biasa aja."
"Tahun depan udah mau lulus ya?"
"Insyaallah!"
"Kakak kenapa datang nggak ngasih kabar dulu? Kakak sendirian?"
"Tadi dianterin sama Mama sama Daddy. Tapi mereka lagi bulan madu di apartemen dan kakak nggak boleh ikut." Ucap Radha cemberut.
"Hahaha..... mungkin Mama sama Daddy butuh waktu berdua Kak. Ya sudah kak, aku mau ke belakang dulu ganti baju. Nanti aku temenin buat jaga warung." Camelia langsung beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Radha.
*****
"Radha mau tidur sendiri atau mau sama Camel?" Tanya Buna Laras. Setelah kepergian Mama Anja dan dad Nara tadi, mereka langsung pindah ke ruang televisi.
"Sama aku aja ya kak, nanti kita bisa nonton drakor bersama." Bujuk Camelia. Kamar yang ditempati oleh Camel adalah kamar mendiang Oma Mayang, karena sejak kecil Camel memang tidur bersama Omanya bahkan hingga dewasa.
"Baiklah, kita tidur bersama saja!" Putus Radha. "Sebenarnya kakak pengen mandiri. Tapi sama Daddy tidak di izinin tinggal sendiri di apartemen."
"Hey, bukan hanya Daddy, ayah juga nggak bakalan izinin kalau kamu mau tinggal sendiri di apartemen." Sahut ayah Seno sedikit ngegas.
"Iya yah, kakak tau. Tapi boleh ya, sekali-kali kakak nginap di apartemen?" Mohon Radha. "Kan bisa sama Camel pas Camel lagi libur, atau sama Wisnu."
"Ya, kalau begitu ayah izinkan, yang penting tidak sendirian."
"Terimakasih yah!" Radha langsung memeluk ayah Seno yang duduk di sampingnya. "Ayah the best!"
Malam semakin larut, semua orang sudah masuk ke dalam peraduannya masing-masing. Warung pun sudah tutup sejak jam sepuluh tadi. Namun di dalam salah satu kamar yang ada di kediaman Laras, lampunya masih terlihat berpijar. Pertanda bahwa penghuninya belum tertidur.
Radha dan Camel masih memandangi benda kotak persegi yang menampilkan wajah-wajah plastik dengan posisi menelungkupkan tubuhnya ke atas kasur.
Entah jam berapa semalam mereka tertidur. Yang pasti, saat bangun tidur mereka masih dalam posisi yang sama.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ