I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 28



Anja sedikit berjingkat saat membuka pintu kamar mandi, suaminya sudah berdiri tegak disana dengan senyum yang mengembang.


"Mau ke kamar mandi mas?" Nara yang tiba-tiba kikuk pun mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Anja berusaha menahan tawanya saat melihat tingkah suami perjakanya itu.


Anja merebahkan tubuhnya ke atas ranjang setelah membersihkan banyaknya kelopak bunga yang sengaja di tebarkan di atas ranjang. Bukannya ia tak menikmatinya bukan, ia hanya sedikit risih saja bila harus tidur dengan suasana seperti itu.


Sudah sekitar sepuluh menitan ia menunggu tapi suaminya tak kunjung keluar dari kamar mandi, hingga rasa kantuk menyerangnya dan ia pun mulai memejamkan matanya bersiap menjemput mimpi.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Nara terlihat mondar-mandir tak jelas. Kadang ia memegangi dadanya yang terasa berdebar-debar, kadang ia menghela nafas panjang. Sudah seperti gadis perawan yang mau menjalani ritual malam pertama saja. Tapi kan dia memang masih perawan! Oops, perjaka maksudnya.


Ceklek!


Perlahan Nara melangkahkan kakinya menuju ke ranjang dengan dada yang semakin berdebar-debar. Terlihat sang istri sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi miring membelakanginya. Nara pun ikut merebah di samping istrinya.


"Sayang," Perlahan tangan kanan Nara melingkar di perut sang istri. Merasa tidak ada sahutan serta pergerakan dari istrinya, Nara pun kembali memanggil sang istri dengan suara lembutnya.


"Sayang," Lagi, tapi tetap saja tidak ada respon dari istrinya tersebut. Nara pun hanya bisa menghembuskan nafas pelan.


"Nasib-nasib, malam pertama bukannya enak-enak malah di tinggal tidur. Udah susah-susah baby aku umpetin biar gak ada yang ganggu. Eh, sekarang malah di tinggal tidur." Gerutu Nara pelan. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut memejamkan mata seraya memeluk erat istrinya itu dari belakang. Berharap mereka akan dipertemukan di alam mimpi.


*****


"Hooooaamb!" Nara menguap lebar kemudian meraba ke sisi pembaringannya dan tidak menemukan istrinya di sana alias kosong. Nara pun langsung terduduk kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar hotel. Ketika telinganya samar-samar mendengarkan gemericik air dari arah kamar mandi, ia baru bisa bernafas lega. Diraihnya ponsel yang semalam ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Pukul enam lebih empat puluh delapan menit, itu artinya hampir jam tujuh. Nara segera bangkit dari tempat tidur saat mendengar pintu kamar mandi dibuka.


Anja nampak keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian rapinya dan juga dengan handuk yang dililitkan di kepalanya.


"Belum juga di gempur udah keramas!" Batin Nara sedikit kesal.


"Pagi mas, Anja menyapa suaminya itu dengan senyum mengembang. Sebenarnya ia ingin ketawa saat melihat wajah suaminya yang sedikit mendung. Bukannya ia tak tahu penyebabnya, hanya saja ia tidak mau membahasnya sekarang karena ia ingin segera ke rumah sakit untuk menjenguk Laras sahabatnya.


"Morning kiss." Ucapnya santai kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Anja yang masih syok hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya seolah mengurai kesadarannya. Tiba-tiba saja hawa panas menjalari permukaan wajahnya. Anja bergegas duduk di depan meja rias untuk menutupi rona merah di wajahnya dengan sedikit sapuan make-up.


Nara keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Perlahan kakinya melangkah menghampiri sang istri yang masih terduduk di depan meja rias. Sepertinya istrinya itu belum menyadari keberadaannya. Dipeluknya sang istri dari belakang hingga membuat Anja berteriak histeris saat melihat suaminya bertelanjang dada dan hanya menggunakan selembar handuk. Anja pun segera memejamkan kedua matanya.


"Sssstttt! Kenapa teriak begitu?"


"Mas Nara kenapa nggak pakai baju begitu?" Anja masih memejamkan matanya erat.


"Karena istriku belum menyiapkannya." Bisik Nara di telinga Anja, kemudian ia mengecupi tengkuk istrinya yang mulus seolah menggodanya.


"Mas!" Anja mendorong pelan kepala suaminya itu. "Sana, cepetan pakai baju. Kita harus segera ke rumah sakit. Pasti sebentar lagi dedek nyariin kita." Dan benar saja, terdengar ketukan pintu dan suara teriakan Mama Rosi memanggil Anja dan Nara.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚