
Jalan demi jalan, gang demi gang yang berada di sekitar rumah makan milik Omanya itu sudah ia susuri dan ia putari sebanyak dua kali, namun Wisnu tidak juga menemukan keberadaan Radha hingga suara adzan Maghrib berkumandang lewat sebuah pengeras suara yang ada di masjid sekitar sana. Dan saat itu pula pikirannya tertuju pada satu-satunya tempat yang sempat tidak terpikir olehnya. Padahal tempat itu adalah tempat yang paling mungkin disinggahi oleh kakaknya.
Wisnu langsung saja melesatkan motornya menuju ke tempat tersebut. Dan benar saja, saat ia tiba di sana, dapat ia lihat dari kejauhan punggung seorang perempuan yang berjongkok di samping sebuah pusara yang ia yakini adalah makam Papa Zian. Meskipun hanya nampak punggungnya saja, Wisnu dapat mengenali pemilik punggung tersebut dengan baik.
Wisnu langsung berlari mendekati makam setelah menstandarkan motornya.
Pluk!
Satu tepukan pelan mendarat di bahu Radha yang sedang menunduk di samping pusara sang papa.
"Kak!"
Awalnya Radha sedikit terkejut, namun saat ia mengenali suara orang tersebut, Radha segera mendongakkan kepalanya guna melihat sang pemilik suara.
"Kenapa gak pulang? Ini sudah Maghrib." Wisnu mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Radha berdiri. Wajah sembab Radha membuat hatinya terasa ngilu, entah kenapa Wisnu sendiri tak tahu. Mungkin ia merasa kasihan dengan kakaknya itu.
"Kenapa kamu ada di sini? Kamu kok masih pakai seragam Wis?" Tanpa menjawab pertanyaan sang kakak, Wisnu langsung meraih tangan kakaknya kemudian membantunya berdiri. Radha pun menurut tanpa membantah sedikitpun.
"Apa kakak tidak mendengar suara adzan?"
"Hah! Adzan apa? Memangnya ini jam berapa?"
"Ini sudah Maghrib kak!"
"Astaghfirullah!" Saat itu juga kesadaran Radha langsung kembali setelah memperhatikan keadaan sekitar yang mulai terlihat remang-remang karena petang mulai menyambut.
"Ayo kita pulang!" Wisnu menggandeng tangan Radha kemudian melangkah terlebih dahulu.
"Sebentar Wis." Langkah Wisnu terhenti kemudian menoleh ke belakang.
"Ada apa?"
"Kakak belum pamitan sama papa." Wisnu pun segera melepas genggaman tangannya pada tangan kakaknya. Radha kembali berjongkok di samping pusara sang papa. "Pa, kakak pulang dulu ya. Nanti kakak pasti datang lagi untuk mengunjungi papa. Assalamualaikum papa." Radha langsung berdiri setelah mengucapkan salam. Radha mengulurkan tangannya ke arah Wisnu dan langsung diraih oleh Wisnu. Keduanya langsung melangkah beriringan meninggalkan area pemakaman.
"Kenapa masih pakai seragam sekolah?" Tanya Radha saat tiba di samping motor.
"Tadi aku baru saja tiba di rumah saat di warung heboh karena kakak hilang."
"Padahal tadi kakak sudah izin kalau mau jalan-jalan."
"Hehe, maaf! Saking asyiknya ngobrol sama Papa sampe lupa."
"Ya udah ayo naik!" Radha segera naik ke motor Wisnu. Wisnu pun langsung melesatkan motornya meninggalkan area pemakaman.
"Loh Wis, kita mau ke mana?" Tanya Radha saat motor yang dikemudikan oleh Wisnu berbelok berlawanan arah dengan jalan menuju ke rumah.
"Kita jalan-jalan sebentar cari makan." Sahut Wisnu sedikit keras karena suaranya beradu dengan suara kendaraan lain dan juga terpaan angin.
"Tapi kita nggak pakai helm."
"Kakak tenang saja, nggak jauh kok, deket-deket sini saja. Pegangan yang erat jangan sampai jatuh."
"iiihh, pelan-pelan!" Radha memukul punggung adiknya sedikit keras. Setelah itu ia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang adik hingga kedua tangannya tertaut di depan perut Wisnu.
Deg!
Jantung Wisnu berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya saat tangan kakaknya itu semakin erat melingkar di pinggangnya. Kepala Radha pun mulai bersandar di punggung sang adik. Jangan lupakan benda keramat yang ada di dadanya, sudah pasti melekat erat di punggung sang adik.
"Duh Gusti, ada apa ini? Kenapa jantung ku rasanya mau melompat? Plis kak, jangan terlalu mepet begini?" Namun semua itu hanya bisa Wisnu gumamkan di dalam hatinya. Radha pun sama sekali tidak tahu dan tidak terpikir bahwa apa yang dilakukannya saat ini membuat adiknya itu merasa tak nyaman.
*****
*****
*****
*****
*****
Maaf kemarin emak nggak bisa up karena lagi kondangan π€ Emak jadi Bridesmaids alias pegangin buntutnya pengantin ππ
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ