I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 33



Setelah menyelesaikan ritualnya selama hampir satu jam, Nara langsung membopong tubuh polos istrinya itu ke dalam kamar mandi. Sebab tubuh istrinya tersebut lemas lunglai tak berdaya karenanya. Bahkan tulang-tulangnya serasa dilolosi dari sendinya. Hingga hanya untuk sekedar berdiri saja, ia tidak mampu karena lututnya terasa gemetar.


Nara mendudukkan tubuh istrinya ke pinggiran bathtub terlebih dahulu, kemudian mengisi bathtub tersebut dengan air hangat. Setelah dirasa cukup, ia kembali mengangkat tubuh istrinya lalu memasukkannya ke dalam bathtub.


"Sssssttt!" Desis Anja menahan perih. Meskipun bukan perawan lagi, tetap saja akan terasa perih.


"Eh, kenapa? Apanya yang sakit?" Nara langsung ikut masuk ke dalam bathtub saat melihat sang istri kesakitan.


"Mas! Kenapa ikut masuk?" Anja sudah mendelik tajam ke arah Nara.


"Kita mandi bareng sayang, untuk mempersingkat waktu."


"Salah sendiri gak mau berhenti."


"Kan belum keluar, masak iya di suruh berhenti. Kan nanggung, bisa pusing tujuh hari tujuh malam kepala ku." Tangan Nara perlahan bergerak menggosok punggung istrinya.


"Heleh!" Anja memutar bola matanya malas. "Ya udah, mandi aja jangan macem-macem!"


"Iya sayang, mandi doank gak lebih."


"Awas aja kalau macem-macem!" Anja mengacungkan jari telunjuknya.


"Iya, udah hadap sana biar aku gosok punggungnya." Anja pun akhirnya menurut dan menikmati usapan lembut di punggungnya.


"Mas!"


"Heemb!"


"Nanti kalau aku langsung hamil gimana?"


"Ya gak gimana-gimana, malah bagus itu."


"Kasihan dedek mas, dedek masih kecil."


"Baby kan udah pinter sayang, apa yang kamu takutkan, heem?"


"Entahlah, rasanya seperti masih ada ketakutan dalam diri ku." Trauma adalah penyakit yang tidak ada obatnya, kecuali diri kita sendiri yang harus melawannya.


"Sssstt! Tenanglah, apa perlu kita ke psikiater lagi?" Anja menggeleng. Ya, selama dua tahun kebelakang memang Anja pernah beberapa kali mendatangi psikolog dengan diantar oleh Nara sendiri. Dan Anja juga sudah dinyatakan sembuh waktu itu. Mungkin sedikit-sedikit rasa takut itu pasti masih ada, karena ia mengalami kecelakaan tragis itu ketika sedang mengandung baby Radha usia delapan bulan.


"Aku akan mencoba untuk melawan ketakutan itu." Nara mengangguk kemudian memeluk erat istrinya itu dari belakang seraya menciumi puncak kepala sang istri.


"Ada aku, jadi jangan takut lagi!" Anja mengangguk.


Sekitar tiga puluh menit mereka berdua akhirnya keluar dari kamar mandi. Setelah bersiap, tepat pukul lima sore mereka meninggalkan hotel untuk mengunjungi Laras lagi di rumah sakit. Tadi sebelum mandi, Nara sempat mengirim pesan kepada Bima untuk mengantarkan mobilnya ke hotel. Bima pun langsung meluncur mengantarkan mobil pengantin baru tersebut dan menitipkan kunci mobilnya kepada scurity yang sudah biasa memarkirkan mobil Nara.


*****


Selepas dari rumah sakit, Nara membawa istrinya itu untuk makan malam terlebih dahulu ke sebuah restoran. Sebenarnya tadi Anja menolak karena ingin cepat sampai di rumah. Anja takut Radha rewel mencarinya atau daddy-nya. Namun Nara berhasil meyakinkan istrinya tersebut kalau mama Rosi dan mbak Tini bisa menenangkan Radha. Sebenarnya Radha bukan tipe anak yang susah dibujuk, hanya saat bangun tidur saja ia akan menangis jika tidak menemukan mamanya atau daddy-nya di sampingnya.


Tepat pukul delapan malam, Nara dan Anja tiba di rumah. Baby Radha yang saat itu sedang menonton film kartun kesukaannya pun langsung berlari saat mendengar suara daddy-nya.


"Daddy!" Teriak Radha langsung memeluk daddy-nya yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Daddy tama mama temana taja kok dak puyang-puyang?" Radha mencebikkan bibirnya.


"Anak Daddy yang cantik merajuk." Nara mencubit gemas bibir Radha. "Daddy sama mama dari rumah sakit jengukin Tante Laras sayang." Nara kembali mencubit gemas pipi anaknya.


"Kok dedek lada gak di ajak?"


"Hey, anak kecil nggak boleh lama-lama di rumah sakit. Rumah sakit itu sarangnya penyakit, dedek mau sakit?" Radha menggeleng.


"Nah pinter!" Nara mengacak rambut anaknya. "Udah makan?" Radha mengangguk. "Oke, sekarang berarti waktunya bobok. Let's go!" Nara membawa anaknya menaiki tangga diikuti oleh istrinya. Ya, mulai sekarang kamar baby Radha sudah dipindahkan di lantai atas tepat di samping kamar daddy-nya. Kamar kosong yang dulunya pernah Mama Rosi tawarkan untuk Anja, namun Anja menolaknya dan memilih tidur bersama anaknya.


Baru saja mereka menginjak beberapa anak tangga sudah terdengar sindiran dari mama Rosi.


"Heemm, memang benar adanya ya kalau jam itu terbuat dari karet, buktinya bisa molor, yang katanya tadi janji sore bakalan pulang, nyatanya sampai malam baru pulang." Nara dan Anja bersamaan menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar sindiran dari mama Rosi.


"Maaf ma!" Anja menunduk malu.


"Sudah, sana istirahat sayang." Mama Rosi berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri setelah berhasil menyindir anaknya.


*****


*****


*****


*****


*****


Nara-Anja ke rumah sakit masuk di novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 59 πŸ€—


Dikasih yang manis-manis dulu ya sebelum konflik 🀭 Eiiits tenang dulu, konfliknya di jamin gak berat kok. Kasihan Anja kalau konfliknya berat mulu, kapan donk bahagianya? πŸ€­πŸ˜…πŸ˜…


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚