
Siang ini Buna Laras serta ayah Seno dikejutkan dengan kedatangan dad Nara dan juga mama Anja yang tiba-tiba. Pasalnya mereka tidak memberikan kabar bahwa mereka akan berkunjung ke Surabaya.
"Kenapa nggak kasih kabar kalau mau datang?" Buna Laras memeluk mama Anja. Sedangkan ayah Seno berpelukan dengan dad Nara.
"Ini mas Nara, semalam mengigau menyebut-nyebut baby. Terus pagi tadi langsung ngajak terbang kesini." Sahut mama Anja.
Degh!
Buna Laras tersentak. Saking kuatnya ikatan batin antara Radha dan daddy-nya, daddy-nya itu sampe merasakan sesuatu terjadi kepada anaknya. Padahal tidak ada ikatan darah di antara mereka. Namun ikatan batin diantara mereka melebihi ikatan darah. Bagaimana tidak, sejak terlahir ke dunia, dad Nara lah yang telah mencurahkan kasih sayangnya kepada Radha. Bahkan saat mamanya tidak bisa memberikan kasih sayangnya karena terbaring koma.
"Apa baby baik-baik saja?" Tanya dad Nara setelah mengurai pelukannya dengan ayah Seno.
"I-iya, kakak baik-baik saja." Jawab Buna Laras berusaha menerbitkan senyumnya. Sungguh aura dad Nara sejak dulu tak pernah berubah kalau sedang serius begini. Berasa merinding siapapun yang berada di hadapannya.
"Ayo kita ke rumah saja!" Ujar Ayah Seno kemudian melangkah melewati pintu samping diikuti oleh dad Nara dan juga mama Anja serta Buna Laras yang mengekor di belakang mereka.
Dad Nara dan ayah Seno sudah duduk di ruang keluarga atau ruang TV. Sedangkan mama Anja dan Buna Laras langsung menuju kamar anaknya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang?" Teriak mama Anja dari depan pintu.
Radha yang berada di dalam kamar mengernyitkan alisnya saat mendengar suara yang memanggilnya. Itu bukan suara Buna Laras, melainkan suara Mama Anja. Ia hafal betul dengan suara itu. Tapi mana mungkin mamanya itu ada di sini sekarang? Apakah dia sedang bermimpi? Radha menepuk pipinya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya jika memang ia hanya bermimpi. Namun suara itu kembali terdengar dan seolah-olah nyata di telinganya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang, ini mama nak!" Teriak mama Anja sekali lagi.
Radha segera bangkit dari tempat tidur kemudian membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, mamanya itu benar-benar ada di depan pintu kamarnya.
"Mama!" Radha langsung berhambur memeluk mamanya. "Mama kok nggak bilang mau datang?"
"Hehe, mungkin Daddy mau buat kejutan buat Kakak."
"Mana Daddy?"
"Ada sama ayah, ayo temui Daddy mu." Mama Anja langsung menggandeng lengan putrinya itu. Putri kecilnya itu sekarang sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Itu artinya dirinya sebentar lagi juga akan menjadi seorang nenek.
"Daddy!" Seru Radha yang membuat dad Nara langsung menoleh. Dad Nara nampak terkejut lalu segera bangkit dari duduknya untuk menangkap sang anak yang berlari menghampirinya. Sepertinya Radha lupa kalau saat ini dirinya tengah mengandung.
"Kak!" (Ayah Seno)
"Sayang!" (Mama Anja & Buna Laras)
Mereka berempat serentak berteriak saat melihat Radha yang berlari ke arah daddy-nya. Beruntung dad Nara dengan sigap menangkap tubuh putrinya itu.
"Kenapa mesti lari-lari begitu?" Tegur dad Nara saat putrinya itu sudah berada di pelukannya.
"Hehe.... maaf lupa." Cengir Radha.
"Huuuft! Bagaimana keadaan mu baby?"
"Baik dad!"
"Cucu Daddy?" Dad Nara mengelus perut buncit anaknya.
"Alhamdulillah sehat." Radha ikut mengelus perutnya sendiri.
"Syukurlah, Daddy senang mendengarnya kalau kalian baik-baik saja." Akhirnya dad Nara bisa bernafas dengan lega. Mungkin mimpinya semalam hanyalah bunga tidur saja.
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil makan siang bersama. Untuk kali ini dad Nara dan mama Anja memilih menginap di rumah besannya. Mereka tidak ke apartemen seperti biasanya saat mereka datang ke Surabaya. Mereka nanti akan menempati kamar yang dulu ditempati oleh Wisnu. Kamar itu sekarang kosong, tidak ada yang menempatinya karena Wisnu dan Radha memilih menempati kamar mendiang Omanya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ