
Singkat Cerita....
Ellara Excel, gadis kecil berusia dua setengah tahun itu adalah buah cinta dari Exel Elmer Handoko dengan Clara Elvier. Sebuah kecelakaan maut yang menewaskan seorang supir yang menjemputnya dari bandara ketika akan berkunjung ke tempat maminya empat tahun yang lalu mengakibatkan Elmer koma selama tiga bulan, dan saat ia tersadar, dirinya dinyatakan amnesia.
Saat itu Elmer yang dalam keadaan amnesia di kenalkan oleh Daddy tirinya dengan anak sahabatnya. Merasa ada kecocokan di antara keduanya, mereka berdua memutuskan untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius. Kedua belah keluarga pun juga sangat mendukung keputusan mereka, karena usia keduanya juga sudah layak untuk menikah.
Tiga bulan kemudian mereka berdua melangsungkan pernikahannya. Dan pada bulan kedua pernikahannya, Clara dinyatakan hamil. Kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka saat itu. Apalagi sembilan bulan kemudian, Clara berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik yang diberi nama Ellara Excel. Bertambah sempurnalah kebahagiaan mereka hingga saat usia Ara menginjak dua tahun, tiba-tiba saja ingatan Elmer kembali saat ia hampir saja mengalami kecelakaan untuk yang kedua kalinya. Seketika itu potongan-potongan kejadian kecelakaan sebelumnya, dan juga potongan-potongan wajah seorang gadis cantik langsung memenuhi kepalanya hingga kepalanya berdenyut sakit.
Setelah ingatan Elmer benar-benar pulih sepenuhnya, ia berubah menjadi dingin kepada istrinya. Elmer yang merasa kecewa dengan keluarganya karena membiarkannya menikah di saat hilang ingatan, tanpa pikir panjang langsung mengajukan gugatan cerai kepada istrinya membuat keluarganya dan keluarga istrinya marah dan tidak terima dengan keputusan yang diambilnya itu. Apalagi mami Selena yang sangat murka dan tidak mau lagi menganggapnya sebagai anak.
Akhirnya setelah menunggu selama empat bulan lamanya, surat perceraiannya keluar dan ia langsung kembali ke Indonesia tanpa mempedulikan anaknya yang pasti membutuhkan kasih sayangnya sebagai orang tua. Dan di sinilah ia berada sekarang, ia harus menanggung kegagalan dalam pernikahannya yang kedua akibat ketidakjujurannya.
*****
Tidak ada satupun orang yang berani membuka suaranya, mereka hanya menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi di depan mata mereka.
Mama Anja masih memeluk suaminya yang nampak masih menahan amarahnya. Sedangkan Wisnu menatap sendu ke arah Radha yang sejak tadi tergugu dalam pelukan Buna Laras.
"Terus bagaimana ini pak? Apa acaranya dibatalkan?" Suara pak penghulu memecah keheningan. Sejenak suasana kembali hening lagi, menunggu dad Nara mengambil keputusan.
"Ba-" Baru saja dad Nara akan membuka suaranya sudah di potong oleh Wisnu.
"Lanjutkan pak!" Sontak saja semua orang yang ada di dalam ballroom hotel tersebut menatap ke arah Wisnu.
"Apa maksud kamu Wis?" Ayah Seno langsung menyanggah ucapan anaknya. "Mempelai prianya sudah tidak ada, jadi sebaiknya acara ini di ba-"
"Aku yang akan menjadi mempelai prianya!" Lagi, ucapan Wisnu barusan membuat orang-orang yang ada di sana semakin terkejut. "Bukankah di antara kita tidak ada ikatan darah?" Lanjut Wisnu, membuat semua orang terdiam. Seolah-olah membenarkan ucapan Wisnu.
"Dad, ma," Wisnu berjalan menghampiri dad Nara dan mama Anja. "Izinkan aku menikahi kak Radha." Dad Nara dan mama Anja saling pandang, kemudian mereka berdua menoleh ke arah anak gadisnya yang masih berada dalam pelukan Buna Laras.
"Mama merestui mu nak! Ayo kita lanjutkan acaranya." Mama Anja menepuk pelan bahu Wisnu seraya mengulas senyum.
"Ma!" Dad Nara meraih tangan istrinya yang baru saja melangkah.
"Mungkin ini memang sudah takdir dan jodoh kakak dad." Mama Anja kembali mengulas senyumnya untuk menenangkan sang suami, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dad Nara pun hanya bisa pasrah dan tidak menentang keputusan yang diambil oleh istrinya.
Wisnu segera mendudukkan tubuhnya di samping Radha yang masih nampak shok dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh tamu undangan yang hadir akhirnya kembali menundukkan tubuhnya di kursi masing-masing dan bersiap menyaksikan ijab kabul yang sempat terhenti.
"Baiklah, bisa kita mulai sekarang?" Tanya Pak penghulu saat keadaan sudah mulai kondusif.
"Mempelai pria sudah siap?"
"Sudah pak!" Jawab Wisnu dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.
"Apa sudah disiapkan maharnya?" Sejenak Wisnu nampak tertegun, karena ia tidak berfikir sampai kesitu.
"Eeem, uang di dalam dompet saya hanya tinggal satu juta pak, apa bisa dijadikan mahar?" Wisnu meringis mengingat isi dompetnya yang miris.
"Bisa mas, seorang perempuan memang berhak meminta mahar kepada calon suaminya. Namun sebaik-baiknya wanita sholehah adalah yang tidak memberatkan." Wisnu langsung mengeluarkan uang yang ada di dalam dompetnya sebagai mahar pernikahannya.
"Baik kalau begitu mari kita mulai!" Pak penghulu mengulurkan tangannya ke arah Wisnu yang langsung disambut oleh Wisnu.
"BISMILLAHIROHMANIROHIM, SAUDARA WISNU SETYAWAN BIN SENO SETYAWAN, SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN SAUDARI RADHANIA AZZURA ADITAMA WIJAYA BINTI ALMARHUM ZIAN ADITAMA YANG WALINYA DIWAKILKAN KEPADA SAYA SELAKU WALI HAKIM DENGAN MAS KAWIN UANG SENILAI SATU JUTA RUPIAH DI BAYAR TUNAI!"
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA, RADHANIA AZZURA ADITAMA WIJAYA BINTI ALMARHUM ZIAN ADITAMA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI!"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!"
"Saaaaaaaaahh!"
"Alhamdulillah barokalloh!"
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ