I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 135



Hari ini hotel sudah kembali lagi dibuka untuk umum. Setelah menyelesaikan sarapan mereka di dalam kamar, Wisnu langsung bersiap untuk berangkat kuliah.


"Mau ikut pulang sekarang?" Wisnu melangkah mendekati sang istri yang sedang duduk di depan meja rias.


Gerakan tangan Radha yang sedang menyisir rambut pun terhenti kemudian menoleh ke belakang. "Aku malu, lihat jalan ku, pasti nanti di warung diledekin sama Bu Sih dan Bu Ti." Radha cemberut. Wisnu langsung merengkuh istrinya dari belakang. Kepalanya ia sandarkan di atas kepala sang istri sedangkan tangannya ia lingkarkan di perut istrinya.


"Memangnya kenapa? Bukannya itu hal yang wajar, kenapa harus malu?" Ia kecup berkali-kali kepala sang istri. "Nanti di rumah saja gak usah ke warung kalau takut diledekin sama mereka."


"Baiklah, tapi aku gak mau naik motor. Di buat gerak aja masih sakit, apalagi di buat ngangkang." Hampir saja Wisnu menyemburkan tawanya mendengar ucapan sang istri.


"Iya sayang, aku ngerti. Kamu sama pak Selamet saja, biar aku pake motor."


Akhirnya keduanya meninggalkan hotel pagi ini untuk kembali ke rumah. Dan benar saja, saat Radha dan Wisnu baru saja akan membuka pintu rumah, suara Bu Ti membuat keduanya menoleh. Nampak Bu Ti berdiri di pintu samping warung.


"Ciyeee pengantin baru, bawaannya pengen nempel mulu." Pipi Radha langsung bersemu merah dan ia langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan sang suami. "Tidak papa kak, kan sudah halal." Lanjut Bu Ti lagi kemudian masuk ke dalam warung.


"Sudah, gak usah ngurusin Bu Ti." Wisnu kembali meraih tangan sang istri kemudian membawanya masuk ke dalam rumah. Saat Wisnu ingin membawa istrinya itu masuk ke dalam kamarnya, Radha menolak.


"Kenapa? Sekarang kamu istri ku, jadi harus tidur di kamar ku."


"Apa kita tidak bisa tidur di kamar ku saja?" Alis Wisnu terangkat, ia mencoba mencerna ucapan sang istri. Kita? Berarti istrinya itu bukan menolak untuk tidur sekamar dengannya, melainkan ingin tidur di kamarnya bersamanya.


"Baiklah, apa pun untuk mu sayang. Cup!" Wisnu mengecup sekilas bibir sang istri.


"Ehem!" Suara deheman yang sedikit agak keras membuat Radha terlonjak. Seketika ia langsung menundukkan kepalanya karena malu. Rupanya, aksi suaminya yang tadi mengecup bibirnya tertangkap basah oleh ayah Seno. "Kalau mau kecup-kecupan itu di dalam kamar, jangan menodai mata suci ayah." Ayah Seno langsung melesat keluar dari rumah untuk menyusul buna Laras ke warung.


Plak!


"Aduh!" Bukannya kesakitan, hanya saja Wisnu kaget karena tiba-tiba saja istrinya itu memukul bahunya.


"Kamu sih, bikin malu saja!" Radha langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkan suaminya yang masih mengelus-ngelus bahunya lebay. Padahal geplakan Radha tadi tidak terlalu kuat. Wisnu langsung menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.


"Mas kuliah jam berapa?" Radha meletakkan tasnya ke atas meja rias.


"Ish, sesak tau. Udah sana berangkat kuliah, nanti telat." Radha berusaha mengurai pelukan suaminya.


"Masih ada waktu satu jam sayang. Satu ronde ya, habis itu aku berangkat." Wisnu mencoba merayu istrinya.


"Ish gak keburu, kamunya lama keluarnya."


"Iya janji, kali ini aku usahain cepat."


"Ogah, badan ku rasanya masih remuk."


"Aku akan pelan-pelan sayang."


"Kalau pelan-pelan tambah lama keluarnya."


"Ya sudah aku cepetin saja kalau begitu biar cepat keluar."


"Ish gak mau, sakit! Dah sana berangkat." Radha mendorong tubuh suaminya hingga keluar dari kamarnya kemudian mengunci pintunya. Biarlah ia dikatain istri durhaka kali ini saja, karena tubuhnya terasa remuk akibat semalaman digempur oleh suaminya itu. Sedangkan Wisnu hanya bisa menghela nafasnya panjang. Wisnu kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk bersiap berangkat kuliah. Biarlah istrinya itu beristirahat dahulu untuk memulihkan tenaganya, sebelum nanti sepulang kuliah ia kembali menggempurnya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ