
H- 1
Bukan hanya Radha yang merasa deg-degan, tetapi juga seluruh keluarganya. Mereka semua seolah ikut merasakan suasana hati Radha saat ini. Semakin mendekati hari H, semakin kencang pula debaran di dalam dada mereka.
Hari ini seusai makan siang, mereka semua berangkat ke hotel Prasasti. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel tersebut mulai nanti malam, sekalian untuk mengecek persiapan acara untuk besok pagi. Ijab Kabul akan diselenggarakan pada pukul sembilan pagi, dan setelah itu lanjut acara resepsi pernikahannya.
Keluarga Shasa dan dokter Andrew juga akan tiba sore nanti. Dan mereka juga akan menginap di hotel tersebut. Acara pernikahan memang bisa disebut juga sebagai ajang reuni. Karena di acara itulah semua keluarga, sahabat dan juga kerabat bisa berkumpul menjadi satu dalam suasana yang berbahagia.
"Loh Ras, Wisnu mana? Nggak ikut?" Tanya mama Anja saat mereka semua tiba di lobby hotel. Mama Anja, dad Nara, Rendra dan Oka tadi di jemput dan diantar oleh Pak Selamet ke hotel. Sedangkan Radha dan Mbak Tini berangkat bersama ayah Seno dan Buna Laras.
"Wisnu nanti nyusul Nja, masih kuliah dia."
"Kenapa gak bolos saja?"
"Biarlah, kan besok juga sudah bolos."
"Ya sudah, ayo kita istirahat."
Semua orang menuju ke resepsionis untuk meminta kunci kamar mereka masing-masing. Setelah mendapatkan kunci kamar masing-masing, mereka semua bergegas menaiki lift untuk menuju ke kamar mereka.
Radha tetap menempati kamarnya semula yang berada di lantai paling atas. Dan salah satu dari kamar presiden suite tersebut sudah disulap menjadi kamar pengantin. Sedangkan yang lainnya menempati kamar satu lantai di bawah kamar Radha, termasuk mama Anja dan dad Nara. Mereka berdua sengaja tidak menempati salah satu kamar presiden suite, mereka memilih satu lantai dengan yang lainnya.
"Duh, kenapa dada ku rasanya mau meledak?" Radha mondar-mandir di dalam kamarnya. "El sedang apa ya? Kira-kira kalau aku telepon boleh nggak ya?" Radha mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. "Duh, tapi kan aku udah janji sama Mama buat nggak berkabar sama El." Radha meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas kemudian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Radha mencoba memejamkan matanya, namun hingga waktu menunjukkan pukul tiga sore ia tak kunjung bisa terlelap. Yang ada malah kepalanya terasa pusing. Akhirnya ia bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Seolah ada yang menuntunnya, perlahan kaki jenjangnya menaiki anak tangga satu persatu menuju ke rooftop. Saat sudah berada di pintu penghubung rooftop, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Dapat ia lihat dengan jelas punggung seorang laki-laki yang berdiri tegak di ujung rooftop.
Meskipun tak sekokoh punggung kekasihnya, tapi laki-laki pemilik punggung itulah yang selalu menjaga dan melindunginya selama empat tahun ini. Perlahan kakinya kembali melangkah mendekati pemilik punggung tersebut.
Pemilik punggung tersebut rupanya belum menyadari kehadirannya. Lama Radha berdiri di belakang punggung itu, ingin rasanya ia menubrukkan tubuhnya dan bersandar di punggung itu. Tapi Radha takut ada yang melihat mereka dan nantinya akan salah paham dengan mereka berdua.
"Ehem!" Radha memilih berdehem. Tak kuat rasanya jika ia harus berdiri lebih lama di belakang punggung itu, karena sepertinya sang pemilik punggung masih belum menyadari kehadirannya.
Perlahan Wisnu membalikkan tubuhnya saat Indra pendengarannya mengenali pemilik suara yang baru saja berdehem.
"Kenapa disini?" Radha membuka suaranya.
"Kakak hanya ingin mencari udara segar sore hari."
"Sama!" Balas Wisnu singkat kemudian membalikkan tubuhnya lagi membelakangi kakaknya.
"Kamu marah sama kakak Wis?"
"Marah? Kenapa aku harus marah? Memangnya kakak membuat ku marah?"
"Entahlah, kakak merasa akhir-akhir ini kamu menjauhi kakak."
"Bukannya seharusnya memang begitu? Sekarang kan kakak sudah ada yang menjaga dan melindungi. Jadi kakak sudah tidak membutuhkan aku lagi." Wisnu berbicara masih dengan membelakangi Radha.
Grep!
Tak kuasa Radha langsung menubruk punggung tegap itu dan memeluknya dengan erat serta menyandarkan kepalanya di sana.
"Maafkan kakak Wis, maaf jika selama ini kakak merepotkan kamu." Radha terisak di balik punggung Wisnu. Tak tahan saat melihat orang yang dicintainya menangis, Wisnu pun melepas tangan kakaknya yang melingkar di perutnya kemudian membalikkan tubuhnya dan langsung merengkuh kakaknya ke dalam pelukannya. Merubah posisi Radha yang tadinya bersandar di punggungnya sekarang bersandar di dadanya.
"Sudah jangan menangis, ini kan hari bahagia kakak. Harusnya kakak tersenyum bukannya malah menangis." Wisnu mengusap air mata kakaknya dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya ia gunakan untuk memeluk kakaknya. Sesekali ia benamkan kecupan sayang di puncak kepala kakaknya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya. Meskipun tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dari bahasa tubuh keduanya ia bisa menyimpulkan apa yang terjadi di antara mereka.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ