
"Apa nggak bisa besok-besok saja belanjanya? Aku hari ini sibuk banget di kampus." Wisnu berusaha menghentikan niat istrinya yang akan berbelanja perlengkapan bayi bersama mama Anja dan Buna Laras.
"Aku sih terserah saja mas. Tapi Mama mintanya sekarang mumpung Mama lagi ada di sini."
"Tapi kan aku jadi nggak bisa nganterin kalian sayang."
"Nggak papa, ada ayah Seno. Katanya Daddy juga bakalan nyusul kalau urusan di kantor sudah selesai."
"Huuuft, ya sudah lah. Jangan banyak-banyak belinya. Nanti kita bisa beli lagi. Aku juga ingin membelikan perlengkapan untuk anak ku."
"Iya sayang, cup!" Radha mengecup sekilas bibir suaminya yang manyun. Wisnu tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung meraih kepala istrinya dan memperdalam ciumannya. Mereka pun berpagutan sebentar sebelum akhirnya Wisnu berangkat kuliah.
Hari ini dengan di antar oleh ayah Seno, Radha pergi membeli perlengkapan bayi bersama mama Anja dan juga buna Laras. Bukan kemauan Radha sebenarnya, melainkan kemauan mama Anja. Mumpung ada disini, begitulah kata mama Anja. Padahal Buna Laras sudah bilang akan membelikannya perlengkapan bayi kalau waktunya sudah dekat dengan persalinan. Namun Mama Anja yang ngotot.
Dad Nara juga tidak bisa mengantarkan mereka karena harus mengecek kantor cabang Wijaya Group. Mumpung ada di Surabaya jadi menyempatkan diri untuk datang ke kantor.
Dengan diapit oleh mama Anja dan Buna Laras, Radha berjalan perlahan masuk ke dalam mall. Sedangkan ayah Seno mengekor di belakang mereka bertiga. Tadinya Ayah Seno tidak ingin ikut masuk ke dalam. Karena baginya itu adalah urusan perempuan. Namun karena paksaan dari istrinya, akhirnya Ayah Seno pun manut saja.
Kata Buna Laras, siapa nantinya yang akan membawa belanjaan kami? Begitulah. Jadi tugas ayah Seno di sini adalah sebagai pengawal. Sial bener memang. Tapi tak apalah, demi calon cucunya yang masih berada di dalam kandungan sang menantu yang sebenarnya sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
"Kita cari toko perlengkapan bayi terlengkap saja agar tidak perlu pindah-pindah tempat. Kasihan kakak nanti." Ujar mama Anja.
"Iya, memang sebaiknya begitu." Sahut Buna Laras.
Setelah tiba di lantai dua mall, mereka langsung mencari toko yang menjual perlengkapan bayi paling lengkap. Ayah Seno masih setia mengekor di belakang mereka.
"Ayah duduk di sini saja ya?" Ucap ayah Seno menunjuk kursi tunggu yang ada di dekat pintu masuk toko. Ketiganya mengangguk kemudian meninggalkan Ayah Seno sendirian.
"Gak usah pink semua lah ya, cewek pake biru juga cantik." Ujar mama Anja. Ya, bayi yang ada di dalam kandungan Radha berjenis kelamin perempuan.
"Iya, Buna juga setuju. Kita beli random aja, biar nanti bisa di buat gantian. Kesannya nggak itu-itu mulu. Meskipun berbeda model tapi kalau warnanya semuanya pink jadi kelihatan nggak pernah ganti." Ucap Buna Laras di akhiri gelak tawa.
"Iya, mama juga setuju." Sahut mama Anja.
"Kakak terserah saja." Radha memang tidak terlalu memikirkan warna apa yang cocok untuk calon bayi perempuannya. Tidak seperti mama Anja dulu yang semua harus serba pink. Bahkan dua troli penuh perlengkapan bayi semua berwarna pink. Hingga membuat almarhum Papa Zian sampai geleng-geleng kepala.
"Mama jadi ingat papa kalau begini." Mata mama Anja sudah berkaca-kaca mengingat almarhum suaminya yang pertama yaitu Papa Zian.
"Nanti kita pergi ke makam papa sama-sama ya Ma? Kakak juga udah kangen papa." Hibur Radha memeluk mamanya.
"Sudah, mama nggak papa. Ayo kita lanjutkan."
Mereka akhirnya melanjutkan memilih perlengkapan bayi lainnya. Sekitar dua jam lebih mereka baru selesai, hingga membuat Ayah Seno yang sejak tadi duduk seraya memainkan ponselnya merasa bosan dan berulang kali berdecak.
Mama Anja dan Buna Laras mendorong troli menuju kasir. Sedangkan Radha memilih menghampiri Ayah Seno kemudian duduk di sampingnya.
"Capek?"
"Iya yah, kaki kakak sakit." Radha menundukkan tubuhnya bermaksud untuk memijat betisnya. Namun ia merasa kesusahan karena terhalang perut buncitnya.
"Ini minum dulu." Ayah Seno menyodorkan air mineral kemasan botol kepada menantunya.
Setelah Radha meraih botol tersebut, Ayah Seno langsung berjongkok di depan menantunya kemudian memijat pelan betis sang menantu.
"Ayah!" Seru Radha yang terkejut. Tak menyangka kalau Ayah mertuanya akan melakukan hal itu. Radha pun menarik kakinya ke belakang.
"Sudah, tidak papa." Ayah Seno pun kembali meraih kaki menantunya kemudian memijatnya lagi. Sungguh ia tidak tega melihat menantunya itu terlihat kelelahan. Radha pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Ayah mertuanya memijat kakinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ