
"Sssttt!" Desis Radha saat terbangun merasakan tubuhnya yang remuk redam, serta bagian bawah tubuhnya yang terasa ngilu dan perih luar biasa.
"Sayang, kenapa?" Wisnu yang mendengar desisan sang istri langsung terbangun.
"Aku laper, mau bersih-bersih dulu tapi sakit." Rengekan Radha membuat Wisnu merasa tak tega.
"Astaga!" Wisnu melirik jam digital besar yang menempel di dinding kamar hotel ternyata sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pantas saja istrinya itu kelaparan. Rupanya tadi sore setelah mereka berdua berbagi keringat, mereka langsung tepar karena kelelahan. "Aku bantu ya?" Wisnu langsung turun dari atas ranjang tanpa menyadari keadaan dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Aaaaaaa!" Radha langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa teriak begitu? Kan tadi udah lihat dan udah ngerasain keperkasaannya." Sontak saja bantal langsung melayang tepat di wajah Wisnu.
"Pakai dulu kolornya!" Radha mendelik ke arah suaminya.
"Nanti saja sekalian, ayo kita mandi dulu." Wisnu langsung mengangkat tubuh istrinya.
"Aaaaaa!" Radha langsung menjerit saat merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit suaminya. Mereka masih sama-sama polos tanpa selembar kain.
Wisnu dengan santainya melangkah masuk ke dalam kamar mandi seraya membopong tubuh istrinya dan mengabaikan keterkejutan sang istri. Apa yang perlu ditutupi? Toh di dalam kamar itu hanya ada mereka berdua, dan mereka sudah sama-sama saling melihat. Bukan hanya melihat, tetapi juga sudah merasakannya.
"Ish, aku tidak mau! Tadi kan sudah, masih perih ini." Tolak Radha yang sejak tadi merasa jengah dengan ulah suaminya yang usil. Bilangnya tadi cuma mau bantu gosok punggung, tapi tangannya merayap kemana-mana hingga membuat sang istri merengut.
"Sekali saja, oke! Aku menginginkan mu lagi sayang. Tuh lihat dia masih on!" Wisnu menunjuk miliknya yang tegak menantang membuat Radha seketika melotot.
"No! Aku lapar! Bisa pingsan di kamar mandi nanti aku."
"Please sayang sekali saja?" Mohon Wisnu memelas. Seketika itu Radha langsung teringat dengan nasihat mamanya.
"Tap-tapi cepet ya?"
"Siap nyonya!" Wisnu langsung tancap gas di bawah kucuran air shower.
"Aaahh! Pelan-pelan mas! Di bilang perih ini."
Sekitar sepuluh menit kemudian mereka berdua sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandi masing-masing.
"Aku telponin buat antar makanan ke atas aja ya?" Rasanya Wisnu tak tega jika harus mengajak istrinya makan ke restoran yang ada di bawah. Kalaupun ia ingin menggendong istrinya sampai ke bawah, istrinya itu belum tentu mau.
"Heem, aku juga males kalau harus turun." Radha memilih merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Sedangkan Wisnu langsung menghubungi koki yang ada di restoran untuk menyiapkan makan malamnya dengan sang istri. Setelah itu ia langsung ikut merebahkan dirinya di samping istrinya dan langsung memeluk tubuh sang istri. Rasa-rasanya ia tak mau jauh dari istrinya barang sejengkal pun. Jika bisa, ingin rasanya Ia memasukkan istrinya itu ke dalam tas ranselnya agar mudah dibawa ke mana saja.
Tak menunggu lama, pintu kamar mereka diketuk dari luar. Wisnu pun segera bangkit untuk membukanya. Dan benar saja, satu troli penuh makanan diantar oleh salah satu pelayan dari restoran. Wisnu segera membawa masuk troli tersebut setelah pelayan itu pergi.
"Bangunlah, ayo kita makan dulu. Bertempur juga butuh tenaga ekstra." Canda Wisnu yang langsung berhadiah delikan tajam dari sang istri. Namun begitu Radha tetap bangkit karena ia memang sudah kelaparan sejak tadi. Beruntung suaminya itu tadi melepaskannya, hingga ia tak sampai pingsan di kamar mandi. "Makan yang banyak sayang." Wisnu memindahkan beberapa lauk ke atas piring istrinya.
"Sudah, ini terlalu banyak mas. Aku gk akan habis."
"Tenang, kita akan menghabiskannya bersama." Wisnu segera meraih sendok kemudian menyendok nasinya lalu menyodorkannya ke depan mulut istrinya. Awalnya Radha nampak ragu, namun sesaat kemudian ia segera membuka mulutnya.
Setelah berhasil menyuapi istrinya, sekarang giliran Wisnu yang meminta untuk di suapi oleh sang istri. Akhirnya mereka menikmati makan malam mereka dengan saling menyuapi.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ