I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 105



"Aku mandi dulu ya kak, nanti setelah itu gantian aku yang jaga." Camelia berpamitan kepada Radha untuk mandi terlebih dahulu karena hari sudah sore.


"Iya, dah sana!" Radha mendorong pelan tubuh adiknya itu.


Setelah kepergian Camelia, Radha pun beranjak dari duduknya menghampiri Buk Sih yang juga sedang duduk sendirian tak jauh darinya. Mungkin Buk Ti sedang mandi, seperti halnya ia yang bergantian dengan Camelia.


"Buk Sih, kakak mau jalan-jalan sebentar ya, mumpung warung lagi sepi."


"Eh, jalan-jalan ke mana kak? Ini udah sore, nanti kalau Buna nyariin gimana?"


"Ya bilang aja kalau kakak lagi jalan-jalan sebentar, nggak jauh kok deket-deket sini saja. Kakak akan segera pulang." Radha langsung melesat keluar dari rumah makan.


Radha menyusuri jalan raya depan rumah makan kemudian masuk ke dalam gang yang menuju ke rumah almarhum papa Zian yang saat ini ditempati oleh pak selamet. Tapi tujuan utamanya bukan kesana. Radha membelokkan langkahnya menyusuri jalan menuju ke area pemakaman. Ya, Radha ingin ke makam papanya. Entah mengapa rasanya ia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya itu di makam sang papa.


"Assalamualaikum Papa, kakak datang!" Radha berjongkok di samping makam sang papa. "Maaf kalau kakak tidak menuruti ucapan Daddy untuk tidak berhubungan lagi dengan El." Radha menjeda sebentar ucapannya. "Kakak sudah mencobanya Pa, tapi kakak nggak bisa. Kakak juga bingung dengan hati kakak sendiri. Kakak benci sama El, Tapi kakak juga masih mencintainya. Dan sekarang kakak semakin benci sama El. Dia menyuruh kakak untuk menunggunya pa, tapi dia tidak memberi kabar sama sekali. Kakak harus bagaimana? Hiks.. hiks.." Radha menangis di samping pusara sang papa seraya menumpahkan segala keluh kesahnya.


*****


"Loh, Buk Ti, kakak kemana?" Camelia celingukan mencari Radha sekembalinya dari rumah belakang.


"Buk Ti juga nggak tahu Mel, soalnya tadi buk Ti lagi mandi. Tapi kata buk Sih tadi pamitnya mau jalan-jalan."


"Ada apa sayang?" Buna Laras menghampiri keduanya.


"Ini Bun kakak nggak ada, katanya lagi jalan-jalan."


"Jalan-jalan kemana? Ini udah sore." Buna Laras melihat jam yang menggantung di dinding rumah makan sudah menunjukkan pukul setengah lima.


"Ya udahlah Bun, biarin aja. Mungkin kakak butuh udara sore untuk menyegarkan pikiran. Palingan juga di sekitaran sini aja, gak akan kemana-mana." Camelia berusaha menghilangkan kekhawatiran Buna Laras yang nampak terlihat jelas di wajahnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih tapi Radha belum juga kembali. Seluruh penghuni rumah dan warung pun terlihat cemas. Apalagi Buna Laras yang sejak tadi mondar-mandir di dalam rumah makan.


"Ada apa ini?" Wisnu yang baru saja datang langsung menghampiri orang-orang yang nampak terlihat cemas.


"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang!" Ayah Seno mendelik ke arah anak laki-lakinya itu.


"Kak Radha hilang Wis!" Camelia menyahut.


"Hilang? Maksudnya apa?" Wisnu mengabaikan pelototan sang ayah.


"Tadi pamitnya mau jalan-jalan tapi sampai sekarang belum kembali." Jelas Camelia.


"Tadi ayah sudah cari muter-muter di sekitar sini tapi ayah tidak menemukannya." Sambung ayah Seno.


Wisnu langsung meletakkan tasnya ke sembarang meja kemudian berlari keluar dari warung. Wisnu segera menstarter motornya kembali dan melesatkan motornya meninggalkan pelataran rumah makan untuk mencari kak Radha, dengan masih memakai seragam putih abu-abunya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ