
Setelah Radha terlelap, Mama Anja dan dad Nara segera keluar dari kamar putrinya agar putrinya itu bisa beristirahat dengan tenang.
"Maafin mama dad!" Anja langsung menubruk tubuh suaminya itu saat sudah berada di luar kamar anaknya. "Maaf karena tidak bisa menjaga kakak dengan baik."
"Sssstt! Sudahlah! Sekarang mama tahu kan, kenapa Daddy melarang baby berhubungan dengan Elmer?"
Anja mengangguk dalam pelukan suaminya. "Karena Elmer teryata laki-laki bajingan!" Geram mama Anja.
"Bukan hanya itu!" Sanggah dad Nara. Seketika itu Mama Anja langsung mengurai pelukannya dan langsung menatap suaminya. "Elmer adalah Excel! Mama pasti kenal dia!"
"Hah! Excel?" Beo Mama Anja terkejut.
"Ya! Dari awal Daddy melihatnya, Daddy sudah memiliki firasat itu. Dan firasat Daddy itu semakin kuat saat tadi titik lokasi keberadaan baby ada di kediaman almarhum Pak Handoko."
"Selena?" Lirih Anja. "Apakah Selena sudah bertemu dengan papinya Excel, terus mereka menikah dan menetap di luar negeri?"
"Daddy tidak tahu, dan tidak mau tahu!" Tegas Nara. "Sekarang tugas kita adalah menjaga baby dengan baik dan memastikannya agar tidak trauma dengan kejadian ini."
"Iya!"
Dad Nara dan mama Anja kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga satu persatu dan sudah di cegat oleh Oka yang berada di bawah tangga sambil menyandarkan tubuhnya ke pegangan tangga.
"Apa kakak baik-baik saja dad? Sebenarnya apa yang terjadi dengan kakak?" Todong Oka langsung yang ikut khawatir dengan keadaan kakaknya.
Mau tak mau akhirnya dad Nara pun menceritakan kejadian yang baru saja menimpa anak perempuannya itu. Oka yang sejak tadi menyimak penjelasan daddy-nya merasa geram. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya dan gigi-giginya juga beradu hingga menimbulkan bunyi gemerutuk.
"B@jin9@n! B@n9$@t!" Umpat Oka seraya melayangkan pukulannya ke udara. Ingin sekali rasanya ia menghabisi kekasih kakaknya itu yang mungkin sekarang sudah menjadi mantan.
"Astaghfirullah!" Barang belanjaan yang ditenteng oleh Mbak Tini di kedua tangannya seketika terjatuh dan berserakan di lantai saat mendengar penjelasan majikannya itu. Ya, saat dad Nara menceritakan kejadian yang menimpa anak perempuannya kepada Oka tadi, Mbak Tini baru saja masuk ke dalam rumah dan tidak sengaja mendengarnya. "Sekarang bagaimana keadaan kakak tuan?" Air mata mengalir begitu saja membasahi pipi yang sudah sedikit keriput itu. Mbak Tini melangkahkan kakinya mendekati mereka bertiga.
"Alhamdulillah!" Ucapan syukur terlantun dari bibir Mbak Tini. Mbak Tini segera mengusap air matanya.
"Sekarang tugas kamu adalah menjaga kakak. Pastikan b@jin9@n itu tidak mendekati kakak lagi!" Perintah dad Nara.
"Baik dad! Serahkan saja semua pada Oka!" Oka menepuk dadanya.
"Nah, begitu. Jadilah orang yang berguna untuk orang lain. Jangan seenaknya sendiri." Cibir mama Anja.
"Apa sih ma!" Oka merasa tak terima dengan cibiran mamanya.
Dad Nara melangkah memasuki kamarnya diikuti oleh Mama Anja. Dad Nara memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kantor karena ia merasa lelah dan juga emosinya masih belum stabil. Takutnya masalah pribadinya nanti terbawa hingga ke kantor.
Sedangkan Mbak Tini segera membereskan belanjaannya yang tercecer berserakan di dekat pintu masuk dibantu oleh Oka.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ