I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 37



Tok.. tok.. tok..


Bima mengetuk pelan pintu ruang presiden direktur yang berada satu tingkat di atas ruangannya dan juga ruangan Nara. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Bima langsung masuk.


"Permisi pak," Bima membungkuk hormat ketika memasuki ruangan papa Hadi selaku presiden direktur di perusahaan keluarga Wijaya.


"Ada apa Bim?" Papa Hadi menghentikan pekerjaannya sejenak dan beralih menatap Bima.


"Maaf pak, nanti pukul sebelas siang ada pertemuan dengan perwakilan dari perusahaan Pranata sekaligus makan siang, dan tuan Nara sepertinya tidak bisa menghadiri pertemuan tersebut." Papa Hadi mengernyitkan dahinya.


"Memangnya ada pertemuan lain di jam yang sama?" Tanya Papa Hadi menyerobot ucapan Bima yang belum selesai.


"Bukan pak, sejak pagi tuan Nara muntah-muntah saat mencium bau parfum saya." Bima sebenarnya malu mengatakan hal itu, karena ia tak merasa jika bau parfumnya semenyengat itu. Ingin rasanya ia menggetok kepala bossnya itu biar hidungnya kembali normal. Papa Hadi malah menyemburkan tawanya.


"Tapi bukan hanya saya pak, tadi pagi saat berpapasan dengan seorang karyawan perempuan, tuan Nara juga muntah-muntah." Bima langsung menyanggah saat atasannya tersebut menertawakan dirinya.


"Mungkin memang hidung Nara yang bermasalah Bim." Papa Hadi menyemburkan tawanya sekali lagi. "Coba saya lihat anak itu." Papa Hadi langsung keluar dari ruangannya menuju ke ruangan anaknya diikuti oleh Bima di belakangnya.


Sesampainya di ruangan anaknya, Nara nampak merebahkan tubuhnya di atas sofa seraya memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.


"Papa!" Nara langsung terduduk saat melihat papanya masuk ke dalam ruangannya bersama Bima asistennya.


"Kamu kenapa Ra?" Papa Hadi berdiri di dekat anaknya.


"Nara juga gak tau pa, bawaannya mual aja kalau dekat-dekat sama Bima." Seketika itu Bima melotot tajam ke arah Nara namun Nara hanya cuek aja tak peduli dengan sikap protes Bima.


"Apa kamu juga mencium bau menyengat dari parfum papa?"


"Kalau bau papa gak begitu menyengat." Ucap Nara jujur.


"Periksalah ke rumah sakit, Jangan lupa ajak istrimu." Nara mengernyit.


"Aku yang bermasalah, tapi kenapa harus bawa-bawa istri ku Pa?"


"Karena kemungkinan besar masalahnya ada pada istri mu. Pergilah, biar papa yang datang ke pertemuan kamu siang ini." Papa Hadi langsung melenggang keluar dari ruangan anaknya meninggalkan Nara yang semakin bingung dengan ucapan papanya.


"Ya mana aku tau boss." Bima mengedikkan bahunya. "Mau ke rumah sakit atau pulang?"


"Pulang aja, aku kangen sama istri ku." Nara langsung menyambar jasnya yang sejak datang tadi ia sampirkan di sandaran kursi kerjanya. Tak lupa ia juga meraih masker yang tergeletak di atas meja, kemudian melenggang keluar.


"Dasar bucin akut!" Gerutu Bima yang mengekor di belakang Nara.


*****


Tin.. tin..


Mendengar bunyi klakson yang dinyalakan dua kali, mama Rosi langsung keluar dari rumah karena sudah hafal dengan kode tersebut yang tak lain adalah ulah Bima. Mama Rossi mengernyit saat melihat Nara keluar dari mobil tersebut dan mobil tersebut langsung melesat meninggalkan kediaman Wijaya untuk kembali ke kantor. Nara berjalan gontai menghampiri Mama Rossi yang berdiri di teras rumah seperti tak memiliki tenaga.


"Tumben Ra, jam segini sudah pulang? Mau makan siang di rumah?" Mama Rosi keheranan pasalnya Ini baru jam sepuluh pagi dan anaknya itu sudah kembali ke rumah. "Kamu kenapa kok lesu begitu? Muka kamu juga sedikit pucat." Mama Rosi memperhatikan keadaan anaknya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Rambut acak-acakan, muka kucel, baju bagian dada basah. "Kamu habis ngapain? Main air?"


Nara yang mendengar rentetan pertanyaan dari mamanya pun semakin berdenyut kepalanya.


"Pusing ma!" Ucap Nara singkat kemudian melenggang masuk ke dalam rumah untuk mencari istri tercintanya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚