I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 111



"Loh Wis, mana kakak mu?" Todong Buna Laras saat Wisnu baru saja memasuki rumah.


"Masih ada kerjaan Bun." Sahut Wisnu cepat kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya hingga menimbulkan tanda tanya besar di kepala Bunanya.


Biasanya jika Wisnu menjemput Radha, mereka pasti akan pulang bareng meskipun dengan mengendarai kendaraan yang berbeda. Bahkan Wisnu akan menunggu kakaknya itu hingga pekerjaan kakaknya selesai. Tapi entah kenapa malam ini Buna Laras menangkap keganjilan dalam diri anak laki-lakinya itu. Apalagi saat melihat wajah sang Putra nampak terlihat kusut. Tak mau ambil pusing, Buna Laras memilih bergegas ke warung.


Pukul delapan malam Radha baru tiba di rumah. Radha langsung masuk melalui pintu depan rumah makan. Sedangkan pak Selamet langsung melesatkan mobilnya menuju ke rumah yang di tempatinya.


"Sayang, baru pulang?" Tanya Buna Laras saat melihat Radha menghampirinya.


"Iya Bun!" Radha langsung mencium tangan Buna Laras.


"Kayaknya lagi seneng banget, ada apa?" Selidik Buna Laras saat melihat raut wajah Radha yang nampak berseri-seri dan sejak tadi senyum juga nampak menghiasi bibirnya.


"Eeemm, gak ada." Elak Radha. "Kakak mau mandi dulu Bun."


"Baiklah, kalau ada apa-apa boleh cerita sama Buna. Jangan dipendam sendiri."


"Iya Bun, cup!" Radha mengecup pipi Buna Laras kemudian melesat meninggalkan warung. Buna Laras hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya itu. Buna Laras merasa bersyukur karena keponakannya itu sudah kembali ceria seperti dulu lagi.


Sekitar satu jam kemudian Radha sudah kembali lagi ke warung dengan menggunakan pakaian santai dan juga wajah yang terlihat lebih fresh.


"Sudah makan sayang?"


"Belum Bun!"


"Kenapa gak makan dulu, ini sudah malam."


"Iya, kakak mau makan di sini saja." Radha segera mengambil nasi beserta lauknya kemudian duduk di samping Bunanya.


"Apa tadi kakak nyuruh Wisnu pulang duluan?" Pertanyaan Buna Laras yang barusan terlontar berhasil menghentikan tangan Radha yang baru saja menyuap sesendok nasi ke depan mulutnya.


"Wisnu?"


"Iya Wisnu, tadi kata Wisnu kakak masih banyak pekerjaan makanya Wisnu pulang duluan."


"Berarti tadi Wisnu datang ke hotel? Tapi kenapa gak nemuin aku? Apa tadi Wisnu lihat aku sama El?" Batin Radha bertanya-tanya.


"Sayang, ada apa?" Sentuhan tangan Buna Laras di bahu Radha berhasil menyentaknya dari lamunan.


"Eh, enggak Bun." Radha kembali menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Ya sudah, habiskan dulu makannya setelah itu istirahat."


"Iya!" Radha segera menghabiskan makanannya agar ia bisa segera menemui Wisnu.


"Kakak ke belakang dulu ya Bun, Maaf malam ini kakak nggak bisa bantuin Buna."


"Iya gak papa, Buna tau kakak pasti capek."


Tok.. tok.. tok..


"Wis, ini kakak! Kakak boleh masuk?" Teriak Radha dari depan pintu kamar Wisnu.


"Masuk saja kak, pintunya nggak dikunci!" Wisnu balik berteriak dari dalam kamar.


Radha pun langsung membuka pintu kamar adiknya yang ternyata memang tidak dikunci. Nampak Wisnu sedang duduk di meja belajarnya dan terdapat buku tebal didepannya.


"Sedang belajar?"


"Ya!" Sahut Wisnu cepat tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Eeem, apa tadi kamu ke hotel?" Tanya Radha ragu-ragu.


"Owh itu," Wisnu perlahan memutar kursinya menghadap ke arah kakaknya. "Ya, tadi aku memang datang ke hotel."


"Terus kenapa nggak nemuin kakak?"


"Bukankah keberadaan ku sudah tidak dibutuhkan lagi?"


"Maksudnya?"


"Sudah, lupakan saja. Yang penting sekarang kakak sudah menemukan kebahagiaan kakak."


"Apa tadi kamu melihat kakak sama El?"


"Ya, dan aku senang akhirnya kakak bisa bertemu kembali dengan seseorang yang kakak rindukan selama empat tahun ini." Seperti ada sebongkah batu besar yang menghimpit dadanya, sesak!


Radha langsung menubruk tubuh adiknya itu. "Terimakasih Wis, terimakasih! Terimakasih karena selama ini sudah menjaga dan melindungi kakak."


Wisnu yang tadi sempat terkejut dengan pelukan tiba-tiba kakaknya sudah mulai bisa menguasai diri. Ia perlahan melingkarkan kedua tangannya di punggung sang kakak dan tanpa sadar membenamkan kecupan sayang di puncak kepala kakaknya. "Semoga kakak selalu bahagia." Ucapnya tulus dan semakin mengeratkan pelukannya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ