
Pukul sembilan malam, mereka baru tiba di rumah. Setelah dari rumah sakit, Nara mengajak mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka kembali ke kediaman Wijaya.
Semua orang langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Anja terlebih dahulu menuju ke kamar anaknya bersama sang putri, sedangkan Nara langsung masuk ke dalam kamar mereka. Dibukanya pintu kamar anaknya perlahan agar tidak mengganggu anaknya yang mungkin sudah tidur di dalam sana. Saat pintu terbuka, hanya ada baby Rendra yang sudah tertidur lelap dan juga Mbak Tini yang ternyata masih terjaga.
"Mbak, Oka dimana?" Tanya Anja dengan suara pelan. Anja melangkah mendekati anaknya kemudian mencium keningnya. "Good night sayang, maaf kalau mama perginya lama."
"Tadi sama ibu non." Jawab Mbak Tini pelan. "Mungkin dibawa masuk ke dalam kamar ibu." Anja mengangguk.
"Ayo sayang, bersih-bersih dulu. Baru setelah itu tidur." Radha pun menurut dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lama, Radha keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas tempat tidur seraya mendekap erat guling kesayangannya. Anja segera memposisikan dirinya berbaring di belakang sang Putri seraya mengelus lembut punggung anaknya hingga terlelap.
Setelah memastikan anaknya terlelap, Anja segera turun dari ranjang setelah membenamkan kecupan di kening anak perempuannya itu. Anja beralih ke ranjang yang ada di samping ranjang sang Putri. Anja membenamkan satu kecupan lagi di kepala baby Rendra.
"Ya sudah, Mbak Tini istirahat saja. Terimakasih ya mbak." Anja mengulas senyum. Rasanya kata terima kasih tak pernah cukup dia ucapkan kepada mbak Tini, orang yang telah membantunya merawat anak-anak selama ini. Meskipun sudah di bayar, tapi kasih sayang yang Mbak Tini berikan kepada anak-anaknya tidak dapat ditukar dengan uang sekalipun. Anja segera meninggalkan kamar anaknya dan beralih masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Mana Oka sayang?" Tanya Nara yang melihat istrinya masuk ke dalam kamar seorang diri tanpa anaknya. Nara sudah duduk bersandar di atas ranjang seraya memainkan ponselnya.
"Kata Mbak Tini, Oka sama mama. Aku mau ngetuk kamar mama nggak berani takutnya sudah istirahat."
"Ya sudah, kita istirahat saja. Nanti kalau Oka rewel pasti akan diantarkan ke atas oleh Mama." Anja mengangguk kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
*****
Keesokan paginya, ruang makan keluarga Wijaya nampak terlihat ramai lagi. Semua orang berkumpul menjadi satu di ruang makan tersebut untuk menikmati sarapan pagi mereka. Sedangkan anak-anak duduk di lesehan, di atas karpet yang digelar di samping meja makan.
"Kenapa gak nginep lagi aja?" Papa Hadi membuka obrolan.
"Kami ikut pulang bersama mama saja, mana mungkin kami tega membiarkan Mama pulang sendirian." Sahut Laras.
"Ya, bahaya itu. Nanti kalau tiba-tiba di tengah jalan digondol garangan gimana?" Canda mama Rosi yang membuat semua orang terkekeh.
"Garangan mana yang doyan sama nenek-nenek yang udah keriput begini?" Bu Mayang mencoba menimpali candaan Mama Rosi.
"Hey, jangan salah Bu, berondong zaman now sukanya sama yang sudah keriput dan peot." Mama Rosi tak mau kalah.
"Ahahaaaaa!" Semua orang tergelak mendengar candaan Mama Rosi dan Bu Mayang.
"Sudah-sudah, ayo lanjutkan sarapannya, nanti ketinggalan pesawat." Ujar Papa Hadi. Merekapun segera menyelesaikan sarapan mereka. Setelah itu mereka semua akan beramai-ramai mengantarkan rombongan dari Surabaya itu ke bandara internasional Soekarno-Hatta.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ